Thursday, 7 June 2018

Time to Say Goodbye

Thursday, June 07, 2018 1 Comments




I can't describe my feeling right now. I used to live in this city for past five years. I struggled a lot in the earlier years. I passed many things here, the ups and down. Writing down these sentences, I'm literally in tears now. 

I worked in an English course as a full timer for more than three years, then I applied as an English teacher in a private Islamic school. Started from that day, I turned into a part-timer in the previous English course. So, from Monday up to Thursday, I worked in two places in turn. Before being pregnant, I worked in three different places everyday; school, English Course and private course. I worked from early morning till night. I enjoyed it a lot since I like teaching and working a lot. People called me "a workaholic person". 

After being pregnant and my husband had to move to Aussie for studying, I omitted all the private courses so I only worked in two different places.  At that time, my concerns were not only about how much I can earn but how well I grow this little bundle of joy. 

But, as my belly getting bigger, I have to prepare for delivering the baby. It means I have to move to my hometown and give birth there; Semarang. I asked for 6 months off to my school since it would be so difficult for me if I have to go back to the city after Idul Fitr with this big belly and move back to the hometown afterwards right before the delivery. I also have a plan to follow my husband to Aussie next year if nothing goes wrong. I like a new adventure afterall.

But I don't like staying at home doing nothing, leaving everything that I love behind. I don't get any peace inside of doing that because there's no peace there afterall. 

As I imagine, I'll do nothing; no teaching, no friends, no students, no target, no mall. It's too quiet there. It drives me crazy. I haven't found the ways on how to deal with that yet.

But after all, this  is how life works. This is the consequences I have to take. Life is dinamic, it should be.

And the thing I can't forget is I'm waiting for my son to see the world. That's my miracle, my strength. I have to be so grateful no matter what consequence I have to take for that. As my son comes, my life will be whole different!!! And I'll begin the whole new adventure as a newbie Mom. 
It's OK to be sad now. People need to feel sad somehow.

But life keeps going and everything will be fine.

Right?

Tuesday, 5 June 2018

10 Tips Memenangkan Lomba Storytelling

Tuesday, June 05, 2018 0 Comments


Bukan cerita biasa. Story telling lebih dari sekedar menceritakan mitos, legenda, cerita rakyat atau fabel. Dalam kompetisi story telling, ternyata banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa keluar dengan menyabet juara 1 atau at least ambil bagian menjadi salah satu pemenangnya. 

Tahun ini (Tahun ajaran 2017/2018) saya berkesempatan untuk melatih dan mendampingi anak anak SD Islam, Alam dan Sains Al Jannah untuk berkompetisi dalam lomba Story Telling. Ada empat kompetisi yang kami ikuti, yaitu : LIA Cibubur English Competition 2017, Margonda Fest 2017, Al Ma'ruf  Story Telling Competition 2017 dan yang keeempat adalah Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.
Alhamdulillah, dari keempat kompetisi, Al Jannah mampu menjadi juara kedua di LIA Cibubur English Competition 2017 dan menjadi juara pertama di tiga kompetisi lainnya, yaitu Margonda Fest, Al Ma'ruf Story Telling Competition dan Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.



Penampilan Nevan di LIA English Competition dan merebut juara 2 


Penampilan Ahna di LIA English Competition dan merebut juara ke-3

Dan dari pengalaman pengalaman yang ada, ternyata berlomba Story Telling tidak sebatas hanya menghafal narasi lalu bercerita di depan juri dan penonton. Lebih dari itu lho, bu. Ada banyak hal yang harus diperhatikan supaya anak murid kita bisa tampil memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik.

Nah, kali ini saya akan menulis tentang tips/ hal hal yang harus diperhatikan dalam kompetisi story telling. Check this out!

1. Memilih murid

Agak sulit menentukan siapa yang akan maju untuk kompetisi story telling, terlebih biasanya ada kuota tertentu dari masing masing kompetisi. Atau bila berbayar, sekolah hanya menentukan jumlah tertentu untuk lomba itu. Misalnya untuk lomba di MTS N 7 Model Jakarta, sekolah hanya menunjuk satu perwakilan saja. Artinya, kita hanya punya satu peluang saja tanpa cadangan. Alhamdulillah, kita tetap bisa membawa piala kemenangan. Ada beberapa kriteria dalam memilih kandidat lomba ; kemampuan Bahasa Inggris, level percaya diri anak, antusias mengikuti lomba, kerja keras dalam berlatih dan peran orang tuanya. 

Di lomba lomba seeprti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan, terlebih orang tua yang juga mampu menguasai Bahasa Inggris. Latihan bisa lebih maksimal di rumah, bukan? Dan juga orang tua yang bisa diajak kerjasama perihal kostum. Dari keempat lomba itu, semua kostum dibeli atau dipinjam oleh orang tuanya masing masing. Dukungan moril dari mengantar anak dan ikut mengabadikan momen juga teramat berarti karena anak menjadi lebih percaya diri dan semangat. Alhasil, bisa menang deh :)

2. Memilih Cerita. 

Yang paling penting dalam story telling adalah cerita yang dibawakan. Sebelum kita menentukan judul cerita, kita harus menjawab pertanyaan pertanyaan berikut ini.

- Apakah cerita kita sesuai dengan tema?

- Apakah ide cerita kita menarik/spesial/tidak pasaran?

- Apakah cerita kita mengandung moral value?

Hal pertama yang kita perhatikan adalah tema dari lomba. Kita harus teliti benar benar saat membaca syarat lomba, terutama dengan tema. Biasanya setiap lomba akan mengusung tema yang berbeda, misalnya lomba di LIA Cibubur tentang makanan tradisional, berbeda dengan tema di MTS N 7 Model Jakarta tentang fabel, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga kompetisi dengan tema yang lebih dari satu, semisal folklore, fable dan fairytale.

Pernah saat mengikuti Technical Meeting di salah satu lomba ada salah satu guru dari sekolah lain protes perihal tema. Tema yang telah ditentukan adalah folklore (dan sudah dituliskan di website pendaftaran) , tetapi beliau sudah terlanjur berlatih bersama murid muridnya cerita bertemakan fabel. Jadi, jangan sampai salah ya, pak karena kesesuaian tema juga menjadi salah satu kriteria penilaian.

3. Teknik dan gaya bercerita

Teknik dan gaya bercerita berkaitan dengan gerakan tubuh (gesture) selama membawakan cerita seperti gerakan tangan, kaki, dll.

Selama mengikuti dan mengamati para peserta lomba, ada dua teknik yang bisa digunakan saat bercerita. Yang pertama adalah dengan menggunakan puppet atau boneka dan yang kedua adalah bermain peran atau si pencerita sendiri yang menjadi puppetnya. Ada juga yang menggunakan kedua duanya.

Tapi, saya pribadi lebih suka bercerita dengan memerankan peran itu sendiri daripada hanya menggunakan puppet. Mengapa? Karena dengan memerankan peran itu sendiri, gerakan tangan dan kaki pasti akan lebih bebas da ekspresi wajah akan lebih terlihat. Dan jelas ini menjadi kekuatan dari story telling itu sendiri. Ambil contoh Diajeng saat dia memerankan Owl dalam ceritanya yang berjudul "The seven witted fox and the one witted owl". Alih alih menggunakan dua puppet berbentuk burung hantu dan serigala, dia memilih menjadi owl (dengan kostum yang sesuai). Dia juga bisa menggunakan atribut lain seperti senjata mainan saat dia berganti peran menjadi para pemburu. Nah, Diajeng bisa mengeksplorasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan lebih baik.

Penampilan Diajeng di Story Telling Competition SD Islam Al Ma'ruf dan berhasil menjadi juara 1

4. Intonasi

Intonasi berkaitan dengan cepat lambatnya pembawaan cerita. Intonasi juga berperan mengundang penonton untuk tertarik dengan cerita yang dibawakan. Dengan intonasi yang sesuai; tidak terlalu lambat dan terburu buru, para penonton bisa mengerti isi cerita dan tidak bosan mendengarkannya. Jelas intonasi saat story telling sangat berbeda dengan intonasi saat membaca buku atau membaca UUD 1945, bukan? Intonasi yang pas, lalu dikolaborasikan dengan gerakan tubuh akan mampu menarik perhatian penonton.

Ini adalah contoh intonasi yang digunakan oleh Ahna dan mampu menjadi juara Harapan 1.

Baca juga : All About The Three Storyteller Winners (Part 1)

Penampilan Ahna di Al Ma'ruf Story Telling Competition dan mampu membawa pulang juara Harapan 1

5. Interaksi dengan Audiens

Ini berkaitan dengan bagaimana peserta mampu menarik perhatian penonton selama membawakan cerita. Untuk berinteraksi dengan penonton, kita bisa menggunakan sapaan dan pertanyaan. Sapaan yang paling umum misalnya,

"Assalamualaikum wr wb."

"How are you today? Now I'd like to tell you about the Legend of Roro Jonggrang."

Nah, bisa juga kita memberi pertanyaan seperti yang dilakukan oleh Nevan dan Diajeng, semisal

"Have you ever heard about Roro Jonggrang?" atau bisa jadi dengan menanyakan tempat folklore itu terjadi.

"Have you been to Jogjakarta?"

Dengan melibatkan penonton, story telling menjadi lebih interaktif deh :)

6. Suara

Ini adalah salah satu unsur paling penting ya, Pak. Suara berkaitan dengan jangkauan suara peserta selama membawakan cerita, apakah mampu didengar audien atau tidak. Bagaimana penonton bisa megerti isi cerita kalau suaranya saja tidak terdengar, iya kan? Tapi bukan berarti harus teriak teriak juga karena bisa ngos ngosan dan nafas jadi tidak beraturan. Akibatnya, intonasi menjadi tidak terkendali.

Tapi untuk yang bersuara kecil, jangan khawatir. Ada beberapa perlombaan yang memakai speaker untuk para pencerita, kok. Jadi, kita bisa save energi deh. Tapi, kalau kebetulan tidak ada speaker (biasanya dilakukan di dalam ruangan), kita harus bersuara dengan lebih lantang dan keras.

7. Penampilan dan atribut

Salah satu unsur yang paling penting dalam kompetisi yang saya amati adalah kostum. Kostum sangat mampu mendukung kelekatan cerita itu sendiri. Misalnya Nevan memakai kostum tradisional saat bercerita tentang makanan tradisional ; Rendang.

Atau ambil contoh pengalaman Diajeng. Saat mengikuti lomba di Margonda Fest, tidak ada yang spesial dengan kostumnya. Pada saat itu dia membawakan cerita berjudul "Roro Jonggrang". Padahal saat itu kualitas berceritanya menurut saya lebih bagus dari peserta lain. Tetapi kostum yang dipakai hanya baju batik dan kurang mendukung isi cerita. Nah, di kesempatan kedua, yaitu di Al Ma'ruf Story Telling Competition, mama Diajeng bela belain membeli sayap burung hantu berikut topengnya di online shop dan bahkan di hari H, Diajeng memakai make up dan tampil sangat menawan. Serupa ini.

Dengan kualitas story telling yang sama tapi berpenampilan yang lebih niat, Diajeng mampu meraih juara 1!
Baca juga : All About the Three Story Teller Winners (Part 2)
Atribut juga menjadi faktor pendukung yang membuat cerita menjadi semakin hidup. Atribut yang digunakan bisa jadi senjata (yang tampak di bawah kaki Diajeng di atas) untuk peran pemburu, bisa juga puppet atau boneka, jaring jaring dan poster.

Selain itu, kita juga bisa menggunakan backsound lho, Bu. Untuk membuat situasi lebih dramatis dan lebih hidup, Nevan menggunakan backsound saat berlomba di MTS N 7 Model Jakarta (videonya ada di bawah). Karena dia bercerita tentang Lutung Kasarung; cerita rakyat Sunda dari Jawa Barat, dia menggunakan backsound musik tradisional Sunda. Alhasil, situasi menjadi lebih dramatis.

8. Ekspresi

Pencerita yang baik adalah pencerita yang mampu menghidupkan masing masing karakter dalam ceritanya. Dan salah satunya adalah dengan memainkan berbagai macam ekspresi; untuk meyakinkan audien selama membawakan cerita. Misalnya, muka menjadi garang saat adegan marah, atau muka menjadi sedih saat adegan serupa.

Ingat, bercerita bukan hanya menghafal dialog dan naskah semata, tetapi juga menghidupkan cerita seolah olah itu benar benar terjadi. Tidak mungkin kita bercerita tentang Malin Kundang yang dikutuk oleh Ibunya dengan wajah berseri seri, bukan?

Ini adalah contoh saat Nevan bermain ekspresi saat menceritakan Lutung Kasarung dan berhasil membawa pulang juara 1 :)


Penampilan Nevan di Story Telling Competition in MTS N Model 7 Jakarta dan berhasil menjadi juara 1

9. Ketepatan Waktu

Ini berkaitan dengan lama waktu yang dihabiskan selama pembawaan cerita, apakah melebihi batas maksimal atau tidak. Ini juga faktor yang harus diperhatikan ya, Pak. Hampir semua lomba mengatur waktu story telling dari 5 menit sampai 7 menit. Bila peserta menghabiskan waktu kurang dari batas waktu atau melebih batas waktu, maka akan diberikan pinalti yang biasanya berupa pengurangan nilai. Time keeper juga akan berjaga untuk memberikan kode warna sesuai waktu yang sudah dihabiskan.

Misalnya,

a. Rambu warna hijau untuk mulai bercerita
b. Rambu warna kuning setelah waktu mencapai lima menit
c. Rambu warna meraha setelah waktu 7 menit.

Bisa jadi bila waktu sudah habis, panitia akan menghentikan peserta. Widihhh...

Nah, cara yang paling efektif dan sudah terbukti adalah kita harus berlatih dengan merekam murid kita. Dengan begitu kita bisa tahu berapa menit yang dia habiskan untuk bercerita sekaligus bisa menjadi bahan koreksi bila masih ada kekurangan.

10. Rajin berlatih dan Berdoa

 Dan ini adalah cara yang paling mutakhir. Tak ada juara tanpa latihan ya, Bu. Saat lomba kemarin, kami berlatih hampir setiap pagi. Tetapi ada juga yang agak kurang berlatih karena waktu yang mepet. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan karena mereka bisa berlatih dengan lebih bebas di rumah. Biasanya saya akan merekam mereka untuk mengetahui waktu yang dihabiskan sekaligus mengkoreksi hal hal yang dianggap masih kurang atau gerakan yang masih bisa dielaborasi. Video itu nanti saya kirim ke orang tua dan orang tua bisa membantu memberikan penilaian.

Yang terakhir adalah berdoa. Doa mampu menguatkan hati yang rapuh dan melancarkan segala harapan yang ada. Jadi, terus berdoa dan berusaha ya, Pak. InshaAllah usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Itu tadi adalah 10 cara/tips untuk bisa memenangkan Lomba Story Telling. Semoga berguna untuk persiapan kompetisi berikutnya ya :)





Friday, 25 May 2018

[ODOP 2018 #9 : 5 Tips Tidur Nyaman Untuk Ibu Hamil

Friday, May 25, 2018 2 Comments

Nyaman tidur saat hamil. 


Sepertinya ini menjadi impian para ibu hamil, terlebih saat memasuki trimester kedua dan ketiga. Maklum, di trimester itu perut sudah mulai membesar. Kadang kalau terlentang, perut jadi sakit, mau miring ke kanan kadang macam ada yang tertekan di bagian perut bawah, sedangkan kalau mau tengkurap malah kayak timbangan. Serba salah! Tapi, kalau kita mau cari tahu, sebenarnya untuk bisa tidur nyaman itu ada ilmunya kok, bumil. 

1. Tidur miring ke kiri.


Dari banyak artikel dan juga instagram @bidankita plus buku "Siapa Takut Melahirkan" dan "Siapa Bilang Melahirkan itu Sakit?" karya Bidan Yessi Aprilia yang juga penulis website Bidankita.com yang saya pantengin tiap hari, posisi tidur miring ke kiri adalah posisi paling nyaman, aman dan menyehatkan untuk ibu hamil di trimester pertama, kedua atau pun ketiga. Mengapa? Karena tidur dengan posisi ini bisa mendukung aliran darah yang lebih baik dari pembuluh vena di jantung dan menyalurkan oksigen dan gizi ibu hamil ke janin. Janin pada masa trimester pertama memang harus mendapatkan perlindungan terutama untuk kecukupan jumlah oksigen. Sedangkan untuk trimester kedua, tidur miring ke kiri juga bisa membuat janin menjadi lebih leluasa bergerak lho, bumil.

Tapi, jangan terus merasa berdosa kalau kalau pas bangun ternyata sudah miring ke kanan, begitu. Boleh juga kok miring ke kiri, kadang miring ke kanan kalau kaki mulai pegal. 

2. Ganjal kaki dengan bantal dan pastikan kaki terbuka. 


Selain tidur miring, kita juga perlu membuka kedua kaki kita dengan cara mengganjalnya dengan menggunakan guling atau bantal di antara dua paha. Posisi tidur miring ke kiri dengan posisi S adalah yang terbaik, bumil. Nah, terlebih lagi dengan mengganjal lutut kita dengan bantal. Tapi, jangan mengapitnya bantal dengan dua kaki yang sama sama ditekuk supaya tidak cepat pegal. Kaki kiri sebaiknya lurus di bawah bantal dan kaki kanan ditekuk di atas bantal. Yeyyy, tidur jadi lebih nyaman deh. Akan lebih nyaman lagi kalau guling/bantal itu diganti dengan suami kita. Bisa dikasih bonus berupa kelon/cuddling. Oke sip!!

3. Jangan tidur dengan posisi terlentang


Terlentang sih boleh saja ya, bumil. Apalagi untuk menikmati gerakan dedek bayi yang gemes gemes geli gimana gitu. Cuman, jangan sampai kita tertidur dengan posisi terlentang, khususnya selama trimester kedua dan ketiga. 

Mengapa?

Karena selama trimester kedua dan ketiga, pertumbuhan rahim dapat menyebabkan penurunan sirkulasi udara di kaki bagian bawah. Hal ini terjadi karena adanya tekanan pada vena kaya inferior (vena besar yang mengembalikan darah dari bagian bawah tubuh ke jantung) dan vena panggul.

Nah, ketika kita terlentang dalam waktu lama, itu bisa memperburuk masalah. Bisa jadi kita mengemangkan kondisi yang disebut ddengan sindrom telentang hypotensive; kondisi dimana telentang untuk jangka waktu lama dapat mengakibatkan peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah yang menyebabkan gejala kegelisahan, mual, sakit kepala dan sebagainya. 

4. Gunakan banyak bantal atau bantal U khusus bumil (Maternity Pillow)


Teman saya yang juga sedang hamil 8 bulan pernah curhat,

"Pas tidur mah, gue lebih butuh banyak bantal daripada suami."

Dan mungkin memang benar adanya. Saat tidur kita lebih butuh banyak bantal untuk bisa mengganjal bagian bagian tubuh seperti pinggang, panggul, punggung sampai kaki. Banyak menempatkan bantal di sekitar kita sangat membantu mengoptimalkan posisi tidur miring ke kiri tanpa pegal. Bisa juga mencoba maternity pillow yang banyak dijual di online shop seperti Tokopedia dan Instagram. Harganya berkisar dari 250ribu sampai 500ribuan tergantung jenis busa dan jenis kain yang digunakan. Macam begini :

Image result for bantal bumil
source

"Cobain Mey, it works a lot! Gue sekarang jadi bisa tidur nyaman tiap malam." Ucap teman saya yang lebih butuh bantal daripada suami tadi. Dan gue berencana untuk beli bantal ini setelah pindahan ke kampung halaman bulan depan. Bantal ini selain untuk masa kehamilan juga bisa dipakai untuk breastfeeding/menyusui menjadi lebih nyaman. Jadi, bisa dipakai dalam jangka panjang ya, bumil.

5. Berdoa sebelum tidur.


Yang terakhir dan yang paling penting adalah berdoa sebelum tidur ya, bumil. Karena yang memberikan kita kenyamanan dan kemanan adalah Allah SWT. Kita bisa berdoa dan terus berpikir positif. 

Selain berdoa, kita juga harus mengatur jam tidur kita. Idealnya bumil butuh waktu untuk istirahat selama 8 jam. Dan itu yang paling susah saya lakukan. Contohnya sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 23.11 dan saya masih sibuk nulis ini daripada tidur. Tapi, diusahakan banget ya bumil untuk bisa istirahat cukup dan tidur siang saat punya waktu luang. 

Plus jangan minum kopi/minuman berkafein supaya tidak semakin memperparah insomnia kita. Yang perlu diperhatikan untuk kita para bumil adalah jangan terlalu banyak minum di malam hari. At least, 2 jam sebelum tidur diusahakan untuk berhenti minum. Nggak enak banget kalau kita lagi enak enaknya tidur tapi harus berkali kali ke kamar kecil karena kebelet pipis. It's so annoying, bumil!

Nah, itu tadi 5 tips tidur nyaman untuk bumil. Ingat, istirahat adalah salah satu aspek penting untuk menjaga kesehatan bumil. Suami juga hendaknya mengerti kerempongan para bumil dengan cara memijat, menggosok punggung, mengelus perut atau sekedar membisikkan kata kata cinta. Untuk bumil yang sedang berjauhan dengan suami macam saya, ini bisa dilakukan dengan menjaga keharmonisan komunikasi suami istri. Kita bisa video call sebelum tidur, mengucapkan yang baik baik atau mengirimkan pesan penuh kasih sayang, bisa dibumbui dengan sedikit kata kata gombal.

Ini semua demi si buah hati yang tumbuh dengan penuh cinta dan kualitas tidur yang terus terjaga ya, Bumil. Ini penting ini...

Untuk para Bumil, kuatkan hati dan diri. Semoga kita semua bisa menjalani fase penuh keajaiban ini dengan penuh semangat dan penuh dukungan dari suami tercinta dan keluarga tersayang.

Selamat tidur! :)

#RWCODOP2018 #onedayonepost

Thursday, 24 May 2018

[ODOP 2018 #8] : 8 Tips Berbelanja Hemat dan Nyaman di PRJ (Pekan Raya Jakarta)

Thursday, May 24, 2018 2 Comments

Assalamualaikum wr wb, 

Belanja adalah satu kata yang langsung nancep di pikiran kita begitu kita mendengar nama Pekan Raya Jakarta. Yapp, Pekan Raya Jakarta baru saja dibuka dan tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, pas banget orang orang berbondong bondong untuk tampil menarik di hari kemenangan nanti. Tepatnya, PRJ akan resmi dibuka mulai tanggal 23 Mei sampai 1 Juli 2018, lebih dari satu bulan di Arena JIExpo Kemayoran.

Bertabur diskon, lengkap dan seru!! Dari tahun ke tahun saya tidak pernah melewatkan PRJ. Di beberapa kesempatan saya juga menunggu PRJ untuk membeli barang impian, macam tas carrier, koper bahkan barang barang printilan macam flashdisk dan baju baju. Tapi, ternyata PRJ juga butuh tips dan, lho. Ya khan demi kenyamanan, belanja yang terarah dan tidak mendatangkan penyesalan di kemudian hari. 

1. Tentukan budget pengeluaran

Saya selalu menetapkan budget pengeluaran sebelum pergi ke PRJ sesuai dengan keadaan finansial dan barang prioriti yang ingin saya beli. Takutnya cuman bermodal debit card tanpa anggaran, pulang pulang uang di ATM ludes. Eh, cuman bisa makan rendang, soto ayam, sate dan kari ayam tapi dalam bentuk mie instan. Jangan ya, ladies. 

Seperti tahun yang lalu karena saya ingin membeli barang prioriti berupa tas carrier yang harganya lumayan mahal plus belanja lainnya, saya menabung dan menetapkan anggaran sebesar 1juta. Nah, bisa nih kalian tentukan dulu budget yang ingin kalian pakai sebanyak apa.


2. Membuat daftar belanja

Bersamaan dengan menetapkan budget pengeluaran, kita juga bisa banget bikin daftar belanja dengan skali prioriti. Misalnya, 

1. tas carrier
2. gamis
3. jaket jeans
4. underwear

Ya namanya juga list belanjaan bisalah nge-list apa aja. Dan saya emang suka banget beli underwear di PRJ karena di saat itu semua underwear diskon besar besaraaann!!! Justru tiap ke PRJ saya nggak pernah absen beli underwear. Hahaha..
Daftar belanja ini yang akan membuat belanja kita menjadi terarah, nggak cuman window shopping di semua toko tanpa tujuan begitu. Yuk, mulai tulis apa saja kebutuhanmu!

3. Membawa uang tunai

Ini sebenarnya tergantung pribadi orang masing masing sih. Ada yang dari budget pengeluaran dijadikan uang tunai biar nggak melebihi budget, ada juga yang tetap memakai debit card dengan alasan mendukung pemerintah dalam Gerakan Nasional Non Tunai atau CashLess Society. Belakangan juga setiap store pasti mempunyai alat pembayaran non tunai. Yang penting pastikan debit card yang kita punya termasuk dalam debit card yang paling umum digunakan jadi available untuk alat pembayaran mereka.

Tapi, kalau nggak mau kelewat batas, bisa membawa uang cash saja.

4. Pergi bersama teman/keluarga/pasangan

Image result for belanja bersama teman
source
Masa iya ke PRJ kok sendirian gitu kayaknya nggak begitu seru ya, Ladies. Lebih enak kalau kita punya teman berbagi pendapat saat kita berbelanja. Mengajak teman pun kita harus lihat lihat dulu. Lebih enak kalau mengajak teman yang memang gemar jalan jauh. Khan nggak seru kitanya semangat jalan eh, dianya manyun karena pingin cepat cepet pulang. Maklum, PRJ itu aduh luas sekali dari ujung sampai ujung. Tapi jangan khawatir juga karena kita bisa memanfaatkan mobil Wara Wiri; mobil yang mengelilingi wilayah PRJ berbayar.


Enak lagi kalau kita punya teman yang bijaksana dan hemat. Kita bisa ketularan hemat juga dan mencegah terjadinya kalap mata. 

"Waah, ini bajunya bagus bagus. Cuman 50ribuan aja. Beli 5 atau 10 sekalian kali ya?"

"Istighfar, Mey. Ingat baju di rumah masih selemari. Manusia itu tidak dinilai dari bajunya, tapi dari akhlaknya."

MasyaAllah, ini teman edisi Ramadhan. Nah, nggak jadi kalap deh.

5. Berbekal peta PRJ

Sungguh, PRJ itu luas sekali. Jadi, kita harus kayak Dora. Kita butuh peta. Peta bisa diminta di beberapa spot resepsionis yang tersebar di dekat dekat loket masuk gitu. Nah, dengan peta itu kita bisa tahu letak/posisi store yang kita tuju berdasarkan list belanja yang kita punya. Kita juga jadi nggak buta arah dan punya tujuan yang jelas. 

Pekan Raya Jakarta ini dibagi menjadi beberapa zona yang tersebar di beberapa gedung berdasarkan jenis barang yang dijual. Dengan peta, semuanya jadi mudah dan jelas.

6. Berkunjung di Weekdays.


Ladies, supaya tidak terlalu lelah berhimpit himpitan dengan pengunjung lain, kita juga harus memperhatikan hari berkunjung. Diusahakan untuk datang ke sana pada hari kerja saja dan menghindari Malam Minggu. Alasannya jelas, kalau kita datang pas hari libur yang ada kita disuguhkan oleh lautan manusia. Jalan aja susah, apalagi mau puas window shopping. Melelahkan.......

7. Membawa bekal minum sendiri.

Image result for bekal minum
source
Nah, ini yang nggak kalah penting. Biasanya minum yang dijual di kedai kedai sepanjang PRJ adalah kopi, teh dan minuman berasa lainnya. Padahal yang kita butuhkan adalah air putih demi menghindari dehidrasi. Jadi, yang paling aman adalah membawa minuman sendiri ya, Ladies. Kita bisa minum kapan saja kita butuh, gratis dan efisien.

Berhubung kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, bisa juga lho kita membawa bekal makanan supaya tidak perlu antri membeli makanan. Wah, uang jatah makan bisa untuk belanja juga, dong! Yippie!!

8. Memakai baju, sepatu dan tas yang nyaman.


Ini juga hal sepele yang bisa berimbas fatal. Jangan sampai ke sana pakenya wedges atau malah stiletto. Yang ada kaki kita kaku kaku nanti. Pakai baju longgar nan nyaman yang bisa menyerap keringat dan nggak bikin bau. Pakai sepatu rasa rasanya lebih baik karena kita jadi nggak mudah capek saat menjelajah PRJ. Tas pun kalau saya pribadi lebih menyarankan pakai backpack karena lebih ringan dan barang belanjaanpun nantinya bisa muat di dalamnya. Nggak perlu lagi repot bawa  plastik sana sini, khan? Tapi, tetap waspada dan berhati hati ya. Jangan lupa menaruh backpack di depan badan kalau berjalan di kerumunan orang orang. Takut kena jambret!

Fiuhhh, semua tips InshaAllah sudah  dikantongi ya, Ladies. InshaAllah nanti bisa berburu barang barang impian bertabur diskon bisa jauh lebih mudah. FYI, ini adalah harga tiket dan jadwal buka Pekan Raya Jakarta ya...

Harga Tiket Masuk PRJ 2018

Senin : Rp. 20.000
Selasa - Kamis : Rp. 25.000
Jumat - Minggu : Rp. 30.000
Lansia >60 thn : GRATIS

Jam Buka Pameran PRJ 2018

Senin - Kamis : 15.30 - 22.00 WIB
Jumat : 15.30 - 23.00 WIB
Sabtu dan Minggu : 10.00 - 23.00 WIB
Hari Libur  : 10.00 - 23.00 WIB

Yuk segera agendakan waktu untuk berbelanja di Pekan Raya Jakarta :)

#RWCODOP2018 #onedayonepost

Tuesday, 22 May 2018

[ODOP 2018 #6] : Tarawih Ala Anak 90-an

Tuesday, May 22, 2018 0 Comments


Kalau cuman berangkat tarawih bareng Mama/Papa lalu sholat, denger ceramah dan pulang itu berarti masa kecil kalian cupu. Kalau gue dulu, pantang banget berangkat tarawih bareng Ibu gue. Dengan jiwa kesetiakawanan yang tinggi, gue berangkat tarawih bareng temen temen gue. Kita akan ngecup tempat di paling belakang, dekat jendela yang mengarah ke teras mesjid. Biarkan Ibu-ibu di barisan depan. Gue dan teman teman itu menganut faham,

"All things will just fall into places."

Semua ada waktunya. Akan ada saatnya kita juga di shaf depan. Ya, saat kita jadi Ibu Ibu. Makanya kemarin waktu gue pulang kampung dan sempat tarawih di mesjid, gue duduk di belakang dan gue kaget.

"Mana nih teman teman gue dulu???"

Gue lihat ke depan,teman teman gue duduk berjejeran.

"Ngapain di situ?? Sini..."

"Maap, udah nggak level."

Gue baru inget, ternyata temen temen gue sekarang udah jadi Ibu Ibu. Sial, gue ditinggalin.

"Kapan nyusul?"

"Maap, aku mau sholat Tahiyatul Mesjid dulu. Assalamualaikum..." Emang kadang cuman mau tarawih aja banyak godaannya, gaes.

Dulu, saat Ibu Ibu itu masih kecil kecil, begitu kita ngecup tempat, kita akan kompakan. Kompakan istirahat!! Beda dengan tarawih di mesjid yang sekarang buat tarawih gue di Jakarta yang puas dengan 11 rakaat, di desa gue tarawih itu nggak mantep kalau nggak 23 rakaat!! Bayangin gue tiap buka makan kolak kolang kaling sama pisang, terus beli lothek (pecel bahasa nasionalnya), masih tambah ke rumah nenek gue bisa jadi makan opor, masih ada sup buah dan roti. Lalu, gue sholat 23 rakaat. Blingsatan gue.

Biasanya di rakaat kedua gue masih seterong, rakaat ketiga dan keempat tanpa hambatan, berlanjut rakaat kelima dan keenam perut gue bergejolak, rakaat ketujuh dan kedelapan gue mulai keliyengan, rakaat kesembilan gue jadi belingsatan dan rakaat ke-11 gue mohon ampunan. Lalu gue khilaf dan malah mainan sama temen temen gue.

"Sholat kok ngge dolanan!! Ora elok!"

Subtitle : "Sholat kok buat mainan! Nggak pantes!"

Ibu ibu di depan emang kadang galaknya nggak ketulungan. Kalau kita yang masih SD ini bukannya sholat malah mainan, pastilah dimarahin. Ibu gue yang ada di antara Ibu Ibu itu cuman geleng geleng kepala.

"Anake sopo iki jane?"

Subtitle : "Anak siapa sih ini?"

Ibu gue tiba tiba dzikir, pura pura nggak kenal.

Jadi, biar nggak ketahuan kalau kita nggak sholat, tiap tahiyatul akhir kita ambil kuda kuda, dan begitu Imam mengucap salam,

"Assalamualaikum warrahmatullah wa barakatuh.."

Gue dan temen gue kompakan hadap kanan dan hadap kiri dengan begitu khusyu..

"Assalamualaikum...alhamdulillah.."

"Loh, perasaan tadi berisik. Siapa yang berisik tadi?" Kita pura pura dzikir. Begitu takbiratul ikhram kita mainan lagi. Begitu Imam mengucap salam, kita langsung duduk dan ikutan mengucap salam. Gitu mulu sampai lebaran. 

Maapkeun Ibu Ibu...sekarang mah boro boro mau mainan di mesjid. Bawaannya kalau di mesjid itu cuman mau nglakuin dua hal. Mohon ampun sama mohon petunjuk karena terkadang idup nggak selucu itu.

Nggak sampai di situ aja dulu gue juga jadi backing vocal mesjid! Bidih!! Tugas yang teramat berat ini, gaes. Begitu sholat witir katam dilanjutkan dzikir dan berdoa bersama sama niat puasa, maka kita semua akan sholawatan. Nah, di momen itu dengan cekatan gue dan teman teman ke teras mesjid. Kita berbagi tugas. Yang cowok serta merta akan menabuh drum bekas bensin, yang lainnya menabuh kentongan dan yang lainnya lagi memukul mukul botol sirup Marjan rasa Melon susu dengan hati hati hingga tercipta alunan musik pengiring sholawatan yang indah aduhai.

Lalu, tugas gue dan temen temen yang lain adalah.............nyanyi sholawatan, lalu suara kita semua plus suara pak Imam akan mengudara seantero desa. Dan memang tradisi ini nggak cuman mesjid kita aja yang punya, tapi hampir semua mesjid. Dan desa gue yang terdiri dari 6 RT (Rukun warga) terdapat berapa mesjid/mushola kah? LIMA!! Bayangkan saat tarawih betapa syahdunya desa gue dengan sholawat bersahut sahutan. Saking semangatnya tiap gue nyanyi otot otot dileher sampe kelenjar air liur keliatan semua. Gue menamakannya dengan masa kecil kurang teramat bahagia.

Sayangnya jaman sekarang mah anak kecil mana mau kaya begitu. Yang ada pak Imam ngasih ceramah, dianya selfie pake mukena. Masukin ke PATH.

"Alhamdulillah, tarawih pertama. Semoga berkah..."
At Mesjid Baiturrahman

Dulu tiap selesai tarawih juga nggak langsung pulang kita. Di teras mesjid; tempat kita ngaji dulu kita akan berjejeran mengular dari pojok satu ke pojok lainnya. Lalu, bapak bapak dan Ibu Ibu akan datang membawa banyak plastik berisi jajanan. YAK!! Dulu tiap habis tarawih, mesjid akan membagikan JABURAN; makanan kecil/snack seperti ciki, kue, krupuk dan lainnya kepada anak anak yang tarawih. Lalu kita akan berkerumun dan antri dibagiin makanan kecil. Khan lumayan nggak Lalu, darimana asalnya jaburan itu??

Pak RT setempat akan membuat jadwal donatur jaburan di tiap tiap rumah. Dan tugas anak adalah untuk menentukan jenis jaburan.

"Buk, beli coklat TOP aja buk! Nanti aku bilang sama temen temen aku."

"Udah ke, krupuk aja. Yaelah Ibu cupu banget jaburan pake kerupuk. Pokoknya coklat TOP!"

Malamnya temen temen gue dapet jaburan, di antaranya adalah coklat TOP. 
Dulu gue pernah nanya ke sesepuh mesjid tentang alasan diadakannya jaburan.

"Jaburan itu biar buat penyemangat anak anak kecil pergi tarawih. Biar mesjid ini rame sama anak anak kecil. Nanti mereka juga yang bakalan nerusin sholat tarawih tiap Ramadhan." Dan buat gue juga nggak masalah sih jaburan buat pemacu anak anak pergi tarawih. Bukan mendidik mereka untuk melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan. Bukankah kita juga kerap dikasih reward atau hadiah saat kita melakukan sesuatu yang baik? Kayak orang tua ngasih hadiah kalau anaknya pinter di sekolah? Atau bos ngasih bonus tambahan kalau kinerja kita bagus? Atau Alloh ngasih pahala saat kita melakukan hal hal yang diperintahkan-Nya?

Dan jaburan ikut meramaikan masa kecil gue. Masa kecil yang nggak semua anak bisa menikmati. Sekarang aja anak kecil jarang membiasakan diri ke mesjid. Apalagi di Jakarta yang tinggal di perumahan. Sebut saja sepupu gue. Untuk ke mesjid aja dia harus naik motor/mobil. 

"Lu mau tarawih kagak?"

"Ah, jauh.."

Jaman dulu, tiap tarawih gue semangat. Bahkan dari rumah gue udah pake mukena, mana nglewatin kuburan lagi tiap mau ke mesjid. Dan semua orang yang ke mesjid juga udah pada pake mukena biar simpel. Kan gue jadi susah bedain. Kalau tiba tiba salah satu daripadanya jalannya loncat loncat kan gue ngeri.

Tapi emang semakin berkembangnya jaman, semakin 'mudah' menjalani hidup dengan banyak gadget itu membuat orang semakin males. Bisa jadi mereka lebih pilh yutupan di rumah daripada tarawih, atau nonton sinetron Anak Jalanan yang beda banget dari anak jalanan yang sebenernya, atau malah pacaran! Secara sekarang anak SD pacaran udah berani ngasih bunga sama peluk pelukan. Dia ntaranya foto sambil ciuman. Dulu gue naksir temen cuman berani ngintip dia makan gorengan di kantin sekolah.

Semua udah berubah, bro. Dan tetep, masa kecil anak 90anlah yang paling SERU!

#RWCODOP2018 #onedayonepost

Monday, 21 May 2018

[ODOP 2018 #5] : Tadarus Di Masjid Ala Anak 90-an

Monday, May 21, 2018 5 Comments


Jam setengah tiga, begitu gue bangun tidur gue langsung mandi. Gue pake baju muslim satu set. Ibu gue dulu paling demen beliin baju muslim satu set dari celana, atasan dan kerudungnya. Jadi, kalau gue pake baju muslim ijo, kerudung gue juga ijo. Pake baju muslim kuning,semuanya kuning. Kadang sampai sendal jepit juga kuning. Gue bedakan pake Talc dan gue pamit ke Ibu yang lagi masak di dapur.

"Bu, Ike ke mesjid dulu ya. Nanti jangan lupa dengerin tadarus aku ya Bu."

"Yo..."

Kalau lagi hari Minggu dan Bapak gue lagi leyeh leyeh di ruang tamu, tak lupa gue pamit juga. 

"Pak, Ike tadarus nanti dengerin suaranya ya..."

"Yo.."

Ada adek gue yang masih kecil lagi mainan.

"Ken, mbak Ike tadarus nanti dengerin ya."

"Emoh."

Tapi, karena gue lagi puasa gue terima jawaban adek gue yang saat itu masih berumur lima tahun dengan hati terbuka.

"Kalau udah gede awas aja."

---

Di mesjid, temen temen gue udah mengerubuti dompal; meja kayu yang memanjang yang fungsinya untuk antri baca iqro' / Al-Qur'an. Biasanya guru ngaji akan duduk di belakang ujung dompal, dan kita berbaris di tiap tiap sisi dompal,menunggu giliran.

Tapi,dulu tiap kali gue melangkah masuk mesjid gue mulai jiper. Kenapa?? Karena temen temen gue itu belajar di Pesantren. Ada temen gue namanya Mbak Siti. Dia sudah senior dan jebolan Pesantren yang bacaannya bagus banget. Dia memperhatikan makhrojul huruf/tempat keluarnya huruf, sifat sifat huruf yang mempengaruhi pelafalannya sampai hukum tajwid serupa igham mimi, ikhfa syafawi sampai idzhar. Tiap kali dia mulai menyebutkan hukum hukum bacaan gue cuman bisa melongo sambil remes remes baju muslim satu set.

Maklum, kalau mbak Siti lulusan pesantren,gue paling banter cuma katam pesantren kilat di sekolah. Yang kalau gue artikan adalah "bobok bersama teman teman di sekolah."

"Yes, besok kita ada pesantren kilat!!"

"Iya, YEES!! Kamu boboknya di samping aku ya?"

"Tapi kamu nggak ngiler kan?"

"Nggak kok.....cuman dikit."

"Berapa?"

"Paling dua tetes.."

"Aku satu tetes."

"OKE!"

Kalau udah giliran gue,gue mendadak gagap. Mbak Siti duduk disamping gue,mengambil posisi kuda kuda buat benerin kesalahan gue. Walau pun gue ngaji pake toa dan didengarkan oleh banyak pasang telinga, mbak Siti pasti bakalan benerin pengucapan/pelafalan gue tanpa tanggung tanggung. Padahal jauh di ujung sana, Ibu gue lagi masak dan bapak gue lagi leyeh leyeh udah siap sedia dengerin anaknya tadarus.

"Bismilahirohmaniroh.."

"Bukan. Bismillahirrahmanirrahim.."

Cuman mau bilang bismillah aja gue udah disalahin. Keringet gue langsung segede gede biji jagung super. Tapi, gue nggak pantang menyerah. Gue tetap melanjutkan bacaan walaupun dengan terbata bata sambil terus fokus kehuruf huruf hijaiyah walau gue nggakboleh minumAqua saat itu. Dan di saat itulah suara gue menggema di sepanjang jalan beraspal, di sela sela pohon sukun depan mesjid, di gemerisik ilalang yang tumbuh menggerumuti lahan belakang mesjid, di celeh celah jendela, dan sepasang telinga Bapak dan Ibu. Nicken nggak usah.

Dengan tertatih tatih akhirnya gue bisa menyelesaikan bacaan sebanyak satu halaman (saja). Sekarang gantian temen gue yang baca. Dan karena dia juga belajar di pesantren, temen gue ini bisa membaca dengan mulu semulus paha Astaghfirullohaladzim, lagi puasa nggak boleh ngomongin paha orang, apalagi paha KFC. Buka puasa masih lama. Mbak Siti cuman bisa manggut manggut dengan muka berseri seri dan temen gue bisa menyelesaikan tadarus sebanyak tiga halaman. Emang temen gue ini bacaannya bagus, malahan suaranya juga mendayu dayu mengikuti panjang pendek bacaan. Apalah gue ini yang baru bilang bismillah udah salah.

Gue cuman remah remah cat dompal.

"Gimana Bu tadi suara aku? Bagus nggak?" Gue masih ingin komentar dari Ibu gue yang sekarang udah siap sedia menghadapi buka puasa. Gue liat di meja makan udah ada sayur sup plus bakso, tempe goreng kriuk, sambal dan kolak pisang campur kolang kaling.

"Suara kamu nggak jelas yang mana, nduk. Tadi Ibu cuma denger suara yang alus gitu kayak meliuk liuk, terus ada juga suara yang bacaanya cepet banget. Oh, tadi Ibu juga denger temen kamu suaranya udah kayak tikus sawah kecepit roda kereta ekonomi."

Gue berdebar debar."Yang mana, Bu?"

"Cempreng banget! Yang habis suara bagus meliuk liuk gitu. Urutan kedua kalau nggak salah"

"Yang pas baca bismillah salah bukan bu?"

"Iya kayaknya, nduk. Itu suara siapa??"

"ANAKMU BUUU...." Hati gue berteriak,tersayat sayat.

"Ike." Ibu gue keselek.

"Waduh, tapi setelah didenger dengerin sih bagus kok, nduk. Besok uang jajan Ibu tambain..."

"Dua kali lipat, Bu."

"Yo.."

Gue disuap, gaes.

Tapi, walaupun suara gue kayak tikus sawah kecepit roda kereta ekonomi, gue tetap bersikukuh buat tadarus di mesjid. Karena di sana teman gue banyak. Setelah tadarus juga kita akan menyenandungkan Ya Robibil Mustofa. Gue juga bisa cakap cakap sama temen temen gue. Dan karena di desa gue terdapat 5 mesjid/mushola, tiap sore desa gue ramai oleh suara tadarus yang menggema di sepanjang penjuru. Syahdu bangettt!!

Makanya,gimana gue bisa move on dari masa lalu kalau kayak gitu caranya?? 

Tell me how to move on? I can move on from you, but not from my childhood memory, because it was too sweet to forget. 

Dan gue baru sadar kalau dari Ike kelas 5 SD lah gue belajar sesuatu. Pelajaran hidup nomor 2!
"Jangan Menyerah"


#RWCODOP2018 #onedayonepost