Sunday, 20 May 2018

[ODOP 2018 #4] : Sahur Seru Jaman Dulu

Sunday, May 20, 2018 0 Comments

Assalamualaikum wr wb, 

Sahur kali ini adalah sahur kedua sebagai seorang istri. Yes, Tahun ini adalah tahun kedua saya menjalani ibadah puasa sebagai seorang istri, plus tahun pertama beribadah puasa tanpa suami. Loh loh? Kok biasa?? Suaminya kemana??

Tenang tenang, suami saya sedang mencari kitab suci di benua seberang, demi masa depan cerah ceria milik kami berdua InshaAllah. Tahun ini juga menjadi Ramadhan spesial karena saya punya kemampuan spesial tahun ini. Jadi, kalau orang ada yang nanya,

"Do you have a special power?"

"Yes."

"What is that?"

"I grow a human."

Yes, true. Alhamdulillah tiga bulan lagi saya akan menjadi seorang Ibu. Sayang seribu sayang, baru mau ikut puasa eh udah kena radang tenggorokan. Akhirnya saya harus skip puasa kali ini dan otomatis tidak ikut sahur bersama Bulek dan sepupu saya. 

Nah, ngomong ngmong soal sahur, mengingatkan saya tentang kejadian kejadian seru saat sahur dulu, sekitar 3 tahun lalu. Saya masih tinggal di kost lama bersama teman teman di awal awal saya merantau di Jakarta. Dan kali ini saya ingin copy-paste lagi versi tulisan saya jaman belia saat masih pake gue-elo. Hahaha... I miss that moment though :)

HAL TERNGENES SAAT GUE PUASA : TELAT BANGUN!

Ini adalah penyakit nomor satu yang susah sekali gue hilangkan dulu. Dulu, teman kost gue masih sangat individualis. Beberapa di antara mereka juga nggak menunaikan ibadah puasa. Gue cuman punya temen satu. Yuli namanya. Tetapi, saat dia nggak puasa karena lagi datang bulan, kegalauan mendatangi gue. Karena gue susah bangun! Misalnya nih alarm bunyi.

“Kukuruyuuuukkkk!! Kukuruyuuuukkkk!!” Emang alarm gue bunyinya begitu. Maksut gue buat ngingetin aja kalau sekarang udah pagi. Tau sendiri di sini nggak bakal ada ayam berkokok karena ayamnya udah keburu mangkal di Restoran Masakan Padang. Begitu gue denger tuh alarm, entah kenapa gue langsung meraba raba di tengah kegelapan. TUTTT!! Jari gue dengan lincahnya akan menekan tombol “MATIKAN!” Dan gue akan tertidur. Bahkan, itu gue lakukan tanpa sadar. Begitu gue bangun, gue nggak inget kalau gue yang matiin tuh alarm.

Pernah gue melakukan uji coba. Sebelum tidur, HP gue taruh di atas lemari baju nan jauh di atas sana. Maksut gue, begitu alarm bunyi, gue harus bangun dan jalan buat matiinnya. Begitu gue berdiri, bisa jadi gue sadar dan gue terbangun.

“Kukuruyuuuuuukkk!!Kukuruyuuuuukkk!!Kukuruyuuuuuukkk!! KUKURUYUUUUKKK!! WOYYY KUKURUYUUUK WOYYYYYYYY! ASTAGHFIRULLOHALADZIIIIMM!!”

Keesokan harinya temen kamar sebelah gue ngomel.

“Mey, tadi malam yang kukuruyuk itu dari kamar lo ya?”

“Owh, emang bunyi?”

“Nggak cuman BUNYI, tapi BERISSSSIIIK tauuuuk!! Masak masih tengah malam udah kukuruyuk.”

“Maapin mbak...”

Ternyata, karena kejauhan, gue nggak denger. Gue cuman ngelus dada sambil nelen ludah karena semalam pas sahur gue nggak sempat nelen apa apa. Di situ kadang gue merasa mikir. Coba ada alarm kejut. Iye, alarm kejuuut!! Jadi tuh alarm lo taruh di bawah telapak kaki. Begitu alarm itu bunyi, lo dikasih waktu semenit buat ngumpulin nyawa. Kalo selama semenit lo nggak ada tanda tanda bangun, alarm bakalan NYETRUM lo!! Dijamin gue pasti bangun!

Itu mengapa telat bangun adalah hal paling ngenes yang pernah gue alami selama menunaikan puasa tahun lalu.


Begitu deh masa muda saya yang teramat serrruuuu....Kalau kamu, punya cerita sahur ngenes nggak nih??

Wassalamualaikum wr wb,

#RWCODOP2018 #onedayonepost 

Saturday, 19 May 2018

[ODOP 2018 #3] : Kolak Labu Hangat Suam Suam Kuku

Saturday, May 19, 2018 1 Comments

"Sayang, can you help Ibu please?"

"Yes, Ibu?"

"Ambilkan mangkuk plastik untuk Julio dan Ayah, ok?"

"Okay, Ibu."

Lalu, anak periang empat tahun itu dengan langkah ringannya mulai berjalan menuju dish rack dan mengambil tiga mangkuk plastik plus tiga sendok. Dengan hati hati dia kemudian meletakkan tiga piring itu di atas meja makan, sejajar dengan kursi yang sering kami duduki tiap kali makan bersama.

"Sayang, kok tiga mangkuk?"

"Another one is for you, Ibu.."

Aku hanya tersenyum sambil mematikan kompor dan memindahkan satu panci ukuran sedang dari atas kompor ke atas meja makan.

"Ibu dan Ayah hanya butuh satu mangkuk, sayang..."

Sejak Julio masih di kandung badan, bahkan jauh sebelum tanda tanda kehadiran Julio muncul lewat garis merah berjumlah dua, suamiku selalu gemar makan di satu piring saja untuk berdua. Seringkali suamiku tanpa canggung memberikan suapan demi suapan, semata mata agar istrinya yang tubuh macam papan gilasan baju ini sedikit lebih berisi. Hehehe...

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan itu artinya Ayah Julio; suamiku akan segera pulang dari kampus. Aku melirik ke layar HPku. Widih, 16 derajat di luar. Ayah Julio pasti sedang jalan kaki pulang dari kampusnya di Bedford Park. Sebentar, Bedford Park? Terdengar asing, bukan?

Sudah hampir dua tahun ini kami sekeluarga menetap di Adelaide; kota kosmopolitan Australia Selatan sekaligus menjadi kota paling terkenal nomor 5 se-Australia. Aku dan anak laki laki pertama kami sedang bertugas menemani Ayah tercinta; Ayah Julio selama dia menempuh S2 di salah satu kampus di Adelaide.

"Assalamualaikum..."

Tuh khan, suamiku datang. Baru juga diomongin.

"Ayah is comiiiiing.. Waalaikumsalam Ayah.." dengan serta merta Julio berlari ke arah pintu dan memutar kunci dua kali.

"Julioo....Ibu masak apa hari ini, sayang?" Julio langsung memeluk ayahnya dan sekarang dia sudah diapit oleh kedua lengan Ayahnya. Mereka segera melangkah masuk.

"Ibu is cooking a special food for you, Ayah..." Mereka berdua sudah berdiri di samping meja makan.

"Wah, ta'jil hari ini apa Ibu?"

"Hmm...pokoknya pas banget buat menghangatkan badan Ayah. Ini diaaaa...." 

"Ayo ayo Julio, kita siap siap. Sekarang sudah pukul 5.15 pm. Lima menit lagi kita akan berbuka puasa..." Ayah mendaratkan Julio di kursinya lalu membuka tutup panci.

"Waaaah...kolak labu kuning...Ini kesukaan siapa Julio?"

"Ayaaaaaah...."

"Iya, benarr....sekarang Ayah ambilin buat Julio dulu yaaa... Makan yang cukup biar sehat, sayang."

Lima menit kemudian alarm waktu berbuka untuk Adelaide berbunyi dan itu tandanya kami bisa segera menikmati ta'jil bersama.

"Ayah, pray first...ok?"

"Sure, Julio...."

Kami segera duduk, mengitari meja makan, saling berhadapan dan merapalkan doa bersama. Di sela sela berdoa, rasa bersyukur terus membumbung. Rasa syukur untuk selalu menikmati momentum puasa bersama dengan orang orang terdekat, orang orang tersayang yang Allah titipkan untuk melengkapi hidupku. Rasa syukur akan suami yang terus mengayomi dan memberi tauladan yang baik untukku dan anak kami, rasa syukur untuk kehadiran buah hati yang menjadi pelengkap rumah tangga kami, sumber kebahagiaan  dan penambah rasa syukur yang kian meletup letup.

"Let's eat Ibu, Julio..."

"Yes, Ayah...."

Udara super dingin di luar terbayar sudah dengan kolak labu hangat yang langsung disantap oleh suami dan anakku. Ta'jil kali ini aku namakan "Kolak Labu Hangat Suam Suam Kuku".

Kehangatan tidak hanya tercipta dari kolak labu buatanku, tapi juga dari dapur kecil ini.

"Ayah Julio, I love you.."

#RWCODOP2018 #onedayonepost 





Friday, 18 May 2018

[ODOP 2018 #2] : 7 Tips Praktis Berbukber Ria

Friday, May 18, 2018 4 Comments

"Pace, aku nanti bukber ya sama temen temen guru?"

"Iya, sayang. Hati hati ya..."

Tanpa komentar macam,

"Lah, baru juga puasa hari pertama kok udah bukber?"

Suami langsung memberikan ijin. Maka berangkatlah saya dengan hati riang menuju salah satu Dessert House and Cafe yang menawarkan macam macam dessert berbahan es krim bercampur kacang kacangan dengan bertabur banyak topping bernama Fat Bubble.

Sesampainya di sana, saya langsung bertemu dengan teman teman guru yang lain. Kami lalu memesan makanan dan menunggu berbuka puasa sembari bercerita tentang banyak hal.

Bukber di hari pertama puasa lho gaes :D

Ah, ngomong ngomong soal bukber membuat ingatan saya langsung terlempar ke beberapa tahun yang lalu. Dulu tiap kali pulang kampung mendekati Lebaran, ada saja undangan bukber. Mulai dari bukber dengan teman SD, teman SMP, teman SMA, genk teman SMA, teman kuliah, dan teman teman lainnya. 

Dan bukber ini nggak hanya menyoal buka bersama saja, lho. Buka bersama ini mengandung perjalinan silaturahmi dan pengabadian momen. Dan untuk bisa mempunyai pengalaman bukber yang asik, kita harus punya TIPS.

Ini dia TIPS PRAKTIS Berbukber Ria!

1. Memakai baju yang nyaman.

Nggak mungkin kan kita bukber pake baju beginian?

Image result for kebaya
source

Cantik sih cantik, gaes. Tapi sumuk yes. Yang ada pas kita sholat maghrib kita nggak bisa duduk tahiyatul awal. Jadi, pastikan saat kita bukber, kita memakai baju yang nyaman. Bisa pake gamis saja. Sudah manis, lebar dan bisa ganti posisi pas foto dengan mudahnya. Wow, kereeeeeeen!!

2. Ucapkan sapaan yang menyenangkan.

"Haiiii beeeb, udah lama nggak ketemu. Ih, kamu kok makin gendut sih?"

"Waaah, makin kurus aja nih. Jangan jangan banyak pikiran nih?"

"Kok sekarang putihan sih, abis suntik vitamin C ya?"

Naudzubillah min dzalik. Bukannya mempererat tali silaturahmi tapi yang ada malah menimbulkan dendam pribadi. Come on, jangan sekarang kata sapaan kayak gitu tuh udah basi abis!! Puasa puasa kurangin nyinyir ya bu ibu. Cobalah pakai sapaan dengan kalimat yang positif...

"Haiiiiii beeeb, apa kabar nih? Sekarang lagi sibuk ngapain?"

"Waaaah, alhamdulillah makin kelihatan segar dan sehat"

Atau kalau emang malas memuji orang, bisalah tinggal tanya kabar saja tanpa menyebutkan gendutlah, kuruslah atau personal appearance yang kadang bikin sakit hati dan basi abis.

3. Pesan dan makan secukupnya

Dari pengalaman saya sih biasanya kalau orangnya banyak, maka pilihan makanan kita seragamin aja biar mudah, macam nasi ayam goreng dan lalapas plus es teh begitu. Cuman kadang kita juga bisa menentukan menu makanan kita sendiri. Nah, kalau sudah menentukan sendiri, jangan lah kita malah kalap mata dan makan kebanyakan.

Bukber kan sebenarnya esensinya berkumpul dan bertukar kabar dengan teman yang lain. Kalau makannya banyak, yang ada nanti sibuk sendiri sama makanannya. Momen indah terlewatkan deh!

4. Jika ajak pasangan, libatkan pasangan dalam pembicaraan.

Nah, bagi yang ajak pasangan nih, jangan sampai pasangan merasa dicuekin. Ada khan yang girang banget ketemu teman teman lama terus bernostagia sampai lupa kalau dia sedang bawa pasangan. Begitu bertemu dengan teman teman, perkenalkan pasangan kita (Kalau belum pada kenal), lalu libatkan dia ke dalam lingkaran percakapan teman temanmu, misalkan dengan meminta pendapatnya atau menyuruh dia menceritakan sesuatu.

5. Bawa mukena

Walau agak sepele, sebenarnya poin ini sangat penting. Selain kita lebih khusyu sholat karena kita yakin mukena yang kita pakai bersih, membawa mukena sendiri juga bisa mempercepat waktu. Coba bayangkan kalau kita mengandalkan mukena mushola yang hanya beberapa potong saja, bisa bisa kita nggak bisa sholat Maghrib berjamaah dan ngabisin waktu buat nunggu doang. Big no no!

6. Bawa uang pecahan.

Ini memudahkan kita untuk membayar tagihan menu kita jadi nggak usah bingung bingung deh. Tinggal bayar dengan uang pas saja.

7. Kosongkan memori HP

Nah, ini juga penting, lho. Bukber ini identik dengan mengabadikan momen kebersamaan. Nggak ada salahnya kalau kita mengurangi foto2/mengosongkan memori HP biar bisa buat foto foto lebih puas.

Itu dia TIPS PRAKTIS berbukber ria, teman teman. Semoga bukber teman teman bisa mempererat silaturahmi dan membawa kebaikan bagi kita semua yaaaaa...

Selamat Menjalan Ibadah Puasa,

Mohon maaf lahir dan batin :)

#RWCODOP2018 #onedayonepost 

Thursday, 17 May 2018

[ODOP 2018 #1] : SIRUP LEGENDARIS

Thursday, May 17, 2018 1 Comments
Related image
source
Assalamualaikum wr wb,

Alhamdulillah Ramadhan sebentar lagi!! Ngomong ngomong soal Ramadhan jadi ingat jaman dulu waktu masih SD. Yang paling diingat jaman dulu saat Ramadhan tiba adalah sirup. Indikasi Ramadhan di depan mata adalah adanya iklan sirup beraneka merk bersliweran di tipi. Dan karena Ibu cuma beli sirup saat puasa.

Di kampung, dua hari sebelum Ramadhan pasar selalu penuh sesak para pembeli yang sedang semangat semangatnya belanja bahan makanan untuk menyambut Ramadhan. Salah satunya adalah Ibu. Dia juga akan ikut berdesak desakan dan membeli daging ayam, sayuran, buah, dan tentu saja : SIRUP.

"Ke, mau sirup rasa apa?" Ibu minta pendapat.

"Fresh yang merah atau Marjan rasa Melon, bu!"

OKE. Bukan tanpa sebab saya memilih dua jenis sirup itu. Dari kecil Ibu memang selalu langganan membeli sirup FRESH warna merah rasa Frambozen. Bisa dibayangkan betapa enaknya air sirup merah segar bercampur dengan potongan buah atau serutan melon ditambah beberapa blok es batu dan dihidangkan dengan susu kental manis rasa vanila . Tiap kali saya lihat iklannya di TV sebelum bedug berkumandang, saya jadi berdoa,

"Ya Allah, cepatkan waktunya..ini kapan maghribnya.."

Lalu, muncullah sirup merk baru saat itu yang langsung booming, yaitu sirup MARJAN. Bahkan, dia datang dengan beberapa varian rasa; ada rasa vanila, cocopandan, pisang, melon, bahkan bunga mawar/rose. Dan saya langsung jatuh cinta dengan Marjan rasa Melon. Rasanya manis tapi tidak terlalu manis, rasa melonnya juga menyegarkan dan tidak memberikan sensasi tercekat di kerongkongan. Tapi, ada satu yang paling saya suka, yaitu sirup Marjan rasa Melon with Milk. Jadi rasa melon susu gitu. Aduh, itu makin enak karena rasa melon yang sehar bercampur dengan rasa susu yang gurih dan manis. 

Ah, Jadi pingin cepat cepat pulang kampung, berkumpul bersama keluarga dan bersama menikmati es buah sirup Marjan saat berbuka.

Buat saya, sirup tidak hanya hidangan pembuka saat berbuka, tetapi juga menjadi pemanis kenangan di kala anak anak bersama keluarga. 
Dan tidak terasa hari ini kita sudah mulai berpuasa ya. Jangan lupa beli sirup kesukaan. Di puasa hari pertama ini juga saya ingin mengucapkan,

Image result for marhaban ya ramadhan
source

Pasti ada masanya lidah terpeleset dan melukai hati yang lain, tindak tanduk kadang kelewatan dan menyakiti hati sesama dan muka masam kadang terlihat dan membuat orang lain tak nyaman.
Mohon maaf lahir dan batin, dan SELAMAT BERPUASA! 



Jadi, sirup apa yang paling kamu suka?? 


Wednesday, 16 May 2018

Pertanyaan Untuk Ramadhan Terakhir

Wednesday, May 16, 2018 6 Comments

Assalamualaikum wr wb,

Ramadhan kembali datang. Ah, waktu cepat sekali berlalu ya. Dan bagiku, Ramadhan selalu membawa cerita di masing masing tahunnya.

Tahun kemarin adalah Ramadhan pertama yang aku lalui bersama suami. Ya, itu adalah Ramadhan pertama kami sebagai pasangan suami istri. Banyak drama yang terjadi dan  mengajarkan banyak hal tentang rumah tangga, terutama untukku yang masih jauh dari predikat istri yang baik.

Dan Ramadhan kali ini menyodorkan kisah yang berbeda. Tahun ini adalah Ramadhan yang harus aku lalui tanpa suami karena dia harus melanjutkan S2nya di Australia. Bila Ramadhan tahun lalu aku dan suami selalu menjalankan sahur dan berbuka bersama sama, tahun ini tak ada satu hari pun yang bisa kami habiskan berdua untuk sekedar menikmati sahur atau melepas dahaga bersama. Kami juga tidak akan bisa bermaaf maafan sambil mengaitkan lengan satu sama lain dan mencium punggung tangannya seperti tahun lalu karena kami ada di benua yang berbeda. 

Tapi, di balik itu Ramadhan kali ini adalah Ramadhan paling spesial untuk kami berdua. Buntelan cinta, investasi masa depan kami sedang berjuang untuk terus tumbuh di kandungan. Kami sedang menanti buah hati pertama. Titipan Allah ini adalah rejeki terbesar untuk kami berdua, sekaligus kekuatan baru untuk terus menjalani hari dengan penuh kesyukuran dan semangat yang meletup letup.

Namun, bila dihadapkan dengan pertanyaan,

"Bagaimana bila ternyata ini adalah Ramadhan terakhirku?"

Apa yang sudah aku persiapkan? Banyak pertanyaan yang kemudian berkelebat di benakku.

"Apakah aku sudah menjadi istri yang solehah, yang menyenangkan hati suami dan selalu menurut apa apa saja yang dikatakannya?"

"Apakah aku sudah bisa dianggap menjadi anak solehah untuk kedua orang tua, yang sudah mampu membahagiakan mereka dan menjadi kebanggaan keluarga?"

"Apakah aku sudah bisa menjadi teladan yang baik yang mampu membimbing adek adekku?"

"Apakah aku sudah menjadi guru, seseorang yang di'gugu' dan di'tiru' oleh murid murid tercintaku?"

"Apakah aku sudah cukup berguna untuk sesama, memberikan manfaat kepada orang orang terdekat dan sesama?'

Dan jawabanku adalah BELUM.

Menjadi istri yang baik untuk suamiku yang begitu baik dan pengertian, aku masih harus banyak belajar. Lisan ini masih banyak membangkang, tindak tanduk ini masih banyak menyakiti hati, dan bahkan kadang hati ini masih penuh prasangka buruk yang tak jarang mematikan naluri. Aku bersyukur dipertemukan olehnya dan merapalkan doa untuk bisa menjalani masa depan bergenggaman tangan dengan lengan yang saling berkaitan dan hati yang terus bertautan, bersama anak anak soleh solehah InshaAllah.

Untuk bisa menjadi anak yang berbakti dan membanggakan pun rasanya masih jauh perjalanan yang harus aku tempuh. Begitu juga dengan peranku ebagai seorang kakak yang belum mampu menjadi teladan yang baik.

Sebagai seorang guru, mulut ini masih sering meracau, hati ini masih sering tak sabar. Ah, sumbangsih apa yang sudah aku berikan untuk orang orang di sekitarku, untuk negaraku?

Ramadhan selalu membawa pertanyaan serupa,

"Bagaimana andai ini adalah Ramadhan terakhirku? Bekal apa yang bisa aku bawa? Apa saja yang sudah aku lakukan untuk apa apa yang aku tinggalkan? Sudahkah aku menjalani peranku dengan baik?"

Pertanyaan itu kemudian bersambung dengan doa yang terapal panjang. Doa untuk umur yang panjang dan berkah, doa untuk bisa menjadi istri yang menyenangkan dan solehah bagi suami, doa untuk kesempatan menjadi seorang ibu yang melahirkan anak soleh solehah. Doa untuk bisa membawa manfaat kepada sesama. Karena,

Image result for sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat
source
Doaku, semoga aku masih dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya, bersama dengan suami tercinta, anakku yang tumbuh sehat dan soleh, keluarga besar, dan orang orang yang aku cintai.

Marhaban ya Ramadhan, teman teman.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga puasa kita nanti bisa membawa kita ke keberkahan hidup.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa
Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik
#PostemSpecialRamadhan
#BloggerMuslimahIndonesia

Wassalamualaikum wr wb,






Monday, 14 May 2018

Cara Kreatif Mengajar Bahasa Inggris Edisi 19 : "The Words' Branches"

Monday, May 14, 2018 4 Comments

Assalamualaikum wr wb,

Selamat hari Senin!! Sekarang setiap hari Senin inshaAllah akan ada post baru yang mengulas tentang ide ide mengajar di blog saya. Dan Senin ini saya akan membahas tentang game Bahasa inggris yang super simple dan bisa diaplikasikan sebagai ice-breaker atau pendahuluan sebelum belajar di kelas. Saking super simplenya, kita hanya butuh