Saturday, 23 June 2018

Berburu Foto di Museum Macan (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) karya Yayoi Kusuma

Saturday, June 23, 2018 0 Comments


"20 detik ya mbak..."

Itu adalah yang paling saya ingat tentang Museum Macan. Tapi sebelum membahas tentang detik detikan, yuk kita cari tahu dulu apa itu Museum Macan. Apakah isinya patung patung macan?

Apa itu museum Macan?


Saat sepupu saya yang juga adalah sponsor saya mengajak saya untuk berkunjung ke Museum Macan, saya bertanya tanya. Museum macam apa lagi ini? Apakah banyak patung macan, gambar macan, macan yang diawetkan?

Oh, ternyata bukan. Museum Macan sebenarnya singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum ini merupakan museum pertama di Indonesia yang memiliki koleksi seni modern dan kontemporer Indonesia serta internasional. 

Museum ini sendiri adalah sebuah pameran 130 seni yang diciptakan oleh Yayoi Kusuma dan diberi judul Life is The Heart of a Rainbow. Pamerannya dibagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dijadikan sebagai spot berfoto ria lho, genks. Dan di setiap ruangan ada judulnya sendiri sendiri dengan tema yang beraneka ragam, misalnya Great Gigantic Pumpkin, Dots Obsessions, Narcissus Garden, The spirit of the pumpkins descended into the heavens, I want to love on the festival night sampai pameran yang paling diminati para pengunjung; Infinity Mirrored Room!

Wow, ruangan macam apakah itu? Sebentar dulu...

Kayaknya kurang afdol kalau kita belum mengenal si pencipta karya seni ini, yaitu Yayoi Kusuma. Karena jujur saja saat saya masuk ke pameran itu pun pengetahuan saya akan Yayoi Kusuma sebatas bentukan telur ayam; nol besar.

Siapakah Yayoi Kusuma?

Image result for yayoi kusama
Yayoi Kusuma: Life is the Hearts of a Rainbow

Yayoi Kusuma dalah salah satu seniman paling ternama di dunia yang masih hidip saat ini. Lukisan, patung, video dan Infinity Mirrored Rooms ciptaannya telah merambah budaya pop global. Pameran ini menelusuri perkembangan sang seniman selama tujuh dekade, dimulai di Jepang pada awal 1950an, kemudian berpindah ke New York pada 1960an, dan kembali ke Jepang pada 1973, dimana Kusama hidup dan berkarya hingga kini.

Nah, Life is the Heart of a Rainbow adalah sebuah pameran survei yang berfokus pada keeluaran Kusama yang berjumlah besar. Termasuk di dalam pameeran ini adalah eksperimen lukis Kusama di awal kiprahnya pada 1950an yang menunjukkan kemunculan dari penggunaan polkadot, jaring dan labu yang khas; serpihan lukisan Infinity Nets yang tersohor; dokumentasi performanss publik dan happenings; instalasi berukuran besar dan lukisan lukisan baru yang mendemonstrasikan pendekatan Kusama yang memikat terhadap ruang.

Bagaimana pengalaman berkunjung ke museum Macan versiku?


Antrian sudah mengular sejak di konter pembelian tiket nih, gaes. Maklum, kami ke sana di saat hari libur yaitu Minggu, 27 Mei 2018. Tapi jangan khawatir yang belum sempat ke sana karena pameran ini dibuka sampai tanggal 9 September. Hanya saja karena saya ke sana di awal pembukaan jadi orang orang masih dipenuhi antusiasme untuk berkunjung dan merapikan feed instagram dengan serangkaian foto di depan maha karya Yayoi Kusuma.

Nah, tips untuk kalian yang belum sempat ke sana, supaya tidak terlalu lama mengantri boleh banget memanfaatkan online ticketing. Jadi, beli tiket dulu secara online dan di sana tinggal ditukarkan dengan tiket aslinya. Nggak perlu lama lama antri deh! Tiket online bisa didapat di website resmi Museum Macan. 

Tapi ingat ya, tiketnya hanya berlaku 2 jam saja, jadi semisal kita memilih periode pukul 12.00-14.00, kita nggak boleh masuk kurang dari pukul 12.00 dan lebih dari pukul 14.00
tiket seharga 100 ribu per orang

Hall utama sebelum kita bisa masuk ke ruangan pameran 

Hall utama adalah hall super luas dengan banyak bola bola kuning berpolkadot karya khas empunya karya. Naik satu lantai kita bisa masuk ke sebuah ruangan penuh polkadot berwarna bernama "The Obligation Room"; ruangan dengan dinding dan seluruh furniture berwarna putih bersih. Nah, Yayoi Kusuma mengundang para pengunjung untuk bergabung dan bersenang senang dengan menutupi seluruh mebel dan dinding di ruangan ini dengan polkadot warna warni. Macam ni.

Saat masuk, kita dapat sticker yang bisa kita gunakan untuk tempel tempel di sepanjang ruangan. Tapi, begitu keluar kalau masih ada sisa harus dikembalikan.

Untuk bisa berfoto macam ni kita hanya diberikan waktu 3 menit saja, gaes dengan 25 orang per giliran masuk. 

Dan masih banyak ruangan ruangan lain dan lukisan yang menurut gue sebagai orang yang teramat awam dengan seni rupa jadi bingung sendiri,

"Ini karya macam apa sebenarnya? Kok ruangan penuh dengan dot? Lalu ruangan penuh dengan bola macam bola besi buat bowling, lalu ruangan dengan pumpkin pumpkin raksasa, ada lagi ruangan kecil yang hanya bisa ditengok sebatas kepala lalu di dalamnya berisi polkadot sinar yang bisa berganti warna. dan masih banyak karya ruang yang lainnya."

Apa saja karya yang ditampilkan?



Sebelum saya ke sini,  ada beberapa teman yang upload foto semacam ini di instagram dan membuat saya berpikir keras, "Foto gaya apa ini sebenarnya?" Oh, ternyata baru tahu kalau ini namanya The Spirits of The Pumpkins Descended into The Heavens. Panjang bener namanya, gaes. Lita in frame!

Kita juga bisa menikmati beragam lukisan yang tertempel di sepanjang dinding antar ruangan.

Kalau kumpulan bola 'bowling' ini disebut dengan Narcissus Garden.

Untuk bisa berfoto di sini, kita harus antri dan diberikan waktu 1 atau 3 menit saja begitu untuk mengambil gambar di dalamnya. 



Berpose di ruangan penuh lukisan hitam putih bernama Love Forever.

Ruangan paling favorit nih gaes! Antrinya paling panjang kayak ular tapi kita hanya diberi waktu 20 detik saja untuk berpose di dalam dengan jumlah maksimal 2 orang mengingat tempatnya memang super sempit!! Ingat, 20 detik saja. Kalau HP pake acara nge-hank, sia sia sudah antri 45 menit. Ruangan ini bernama "Infinity Mirrored Room"

Kesimpulan


Begitu masuk, museum ini macam museum di luar negeri, gaes. Super bersih dan tertata, banyak sekali museum guide yang berjaga untuk memberikan petunjuk atau sekedar mengingatkan peraturan yang berlaku di museum ini. Eits, kita nggak boleh membawa makanan dan minuman, kamera dan tas. Jadi, sebelum masuk kita harus menitipkan tas dan kamera terlebih dahulu. Alhamdulillah bagi kalian yang HPnya sudah difasilitasi dengan kamera berkualitas bagus ya, gaes. 


Penataan ruangan dan lukisan lukisannya pun ciamik dengan space yang tidak terlalu sempit. Kita bisa leluasa menikmati banyak karya plus berfoto ria. Untuk bisa masuk ke masing masing ruangan, kita juga wajib masuk bergiliran dan mengantri. Masuknya pun tidak boleh sembarangan karena kita harus mematuhi durasi yang diberikan. Yang paling gila adalah durasi untuk bisa berpose di Infinity Mirrored Room yaitu 20 detik saja, padahal antrinya bisa sampai 45 menit!! Oh God! 

Menurut saya, durasi yang diberikan di masing masing ruangan terlalu pendek/sempit. Jadi kita cuma asal jepret dan tidak memperhatikan kaidah pemotretan yang baik dan benar. Huhuhu...

Nah, buat kalian yang masih ingin berlibur dengan mengunjungi musum ini, museum ini dibuka sejak 12 Mei sampai 9 September 2018, setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 10.00 - 20.00 WIB. Lokasinya sendiri ada di Wisma Akr, Jl. Panjang No.5, RT.11/RW.10, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Selamat bersenang senang dan berburu foto ciamik ya gaes,


Sponsor saya : Bulek Wiwik dan Lita

Thursday, 7 June 2018

Time to Say Goodbye

Thursday, June 07, 2018 2 Comments




I can't describe my feeling right now. I used to live in this city for past five years. I struggled a lot in the earlier years. I passed many things here, the ups and down. Writing down these sentences, I'm literally in tears now. 

I worked in an English course as a full timer for more than three years, then I applied as an English teacher in a private Islamic school. Started from that day, I turned into a part-timer in the previous English course. So, from Monday up to Thursday, I worked in two places in turn. Before being pregnant, I worked in three different places everyday; school, English Course and private course. I worked from early morning till night. I enjoyed it a lot since I like teaching and working a lot. People called me "a workaholic person". 

After being pregnant and my husband had to move to Aussie for studying, I omitted all the private courses so I only worked in two different places.  At that time, my concerns were not only about how much I can earn but how well I grow this little bundle of joy. 

But, as my belly getting bigger, I have to prepare for delivering the baby. It means I have to move to my hometown and give birth there; Semarang. I asked for 6 months off to my school since it would be so difficult for me if I have to go back to the city after Idul Fitr with this big belly and move back to the hometown afterwards right before the delivery. I also have a plan to follow my husband to Aussie next year if nothing goes wrong. I like a new adventure afterall.

But I don't like staying at home doing nothing, leaving everything that I love behind. I don't get any peace inside of doing that because there's no peace there afterall. 

As I imagine, I'll do nothing; no teaching, no friends, no students, no target, no mall. It's too quiet there. It drives me crazy. I haven't found the ways on how to deal with that yet.

But after all, this  is how life works. This is the consequences I have to take. Life is dinamic, it should be.

And the thing I can't forget is I'm waiting for my son to see the world. That's my miracle, my strength. I have to be so grateful no matter what consequence I have to take for that. As my son comes, my life will be whole different!!! And I'll begin the whole new adventure as a newbie Mom. 
It's OK to be sad now. People need to feel sad somehow.

But life keeps going and everything will be fine.

Right?

Tuesday, 5 June 2018

10 Tips Memenangkan Lomba Storytelling

Tuesday, June 05, 2018 4 Comments


Bukan cerita biasa. Story telling lebih dari sekedar menceritakan mitos, legenda, cerita rakyat atau fabel. Dalam kompetisi story telling, ternyata banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa keluar dengan menyabet juara 1 atau at least ambil bagian menjadi salah satu pemenangnya. 

Tahun ini (Tahun ajaran 2017/2018) saya berkesempatan untuk melatih dan mendampingi anak anak SD Islam, Alam dan Sains Al Jannah untuk berkompetisi dalam lomba Story Telling. Ada empat kompetisi yang kami ikuti, yaitu : LIA Cibubur English Competition 2017, Margonda Fest 2017, Al Ma'ruf  Story Telling Competition 2017 dan yang keeempat adalah Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.
Alhamdulillah, dari keempat kompetisi, Al Jannah mampu menjadi juara kedua di LIA Cibubur English Competition 2017 dan menjadi juara pertama di tiga kompetisi lainnya, yaitu Margonda Fest, Al Ma'ruf Story Telling Competition dan Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.



Penampilan Nevan di LIA English Competition dan merebut juara 2 


Penampilan Ahna di LIA English Competition dan merebut juara ke-3

Dan dari pengalaman pengalaman yang ada, ternyata berlomba Story Telling tidak sebatas hanya menghafal narasi lalu bercerita di depan juri dan penonton. Lebih dari itu lho, bu. Ada banyak hal yang harus diperhatikan supaya anak murid kita bisa tampil memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik.

Nah, kali ini saya akan menulis tentang tips/ hal hal yang harus diperhatikan dalam kompetisi story telling. Check this out!

1. Memilih murid

Agak sulit menentukan siapa yang akan maju untuk kompetisi story telling, terlebih biasanya ada kuota tertentu dari masing masing kompetisi. Atau bila berbayar, sekolah hanya menentukan jumlah tertentu untuk lomba itu. Misalnya untuk lomba di MTS N 7 Model Jakarta, sekolah hanya menunjuk satu perwakilan saja. Artinya, kita hanya punya satu peluang saja tanpa cadangan. Alhamdulillah, kita tetap bisa membawa piala kemenangan. Ada beberapa kriteria dalam memilih kandidat lomba ; kemampuan Bahasa Inggris, level percaya diri anak, antusias mengikuti lomba, kerja keras dalam berlatih dan peran orang tuanya. 

Di lomba lomba seeprti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan, terlebih orang tua yang juga mampu menguasai Bahasa Inggris. Latihan bisa lebih maksimal di rumah, bukan? Dan juga orang tua yang bisa diajak kerjasama perihal kostum. Dari keempat lomba itu, semua kostum dibeli atau dipinjam oleh orang tuanya masing masing. Dukungan moril dari mengantar anak dan ikut mengabadikan momen juga teramat berarti karena anak menjadi lebih percaya diri dan semangat. Alhasil, bisa menang deh :)

2. Memilih Cerita. 

Yang paling penting dalam story telling adalah cerita yang dibawakan. Sebelum kita menentukan judul cerita, kita harus menjawab pertanyaan pertanyaan berikut ini.

- Apakah cerita kita sesuai dengan tema?

- Apakah ide cerita kita menarik/spesial/tidak pasaran?

- Apakah cerita kita mengandung moral value?

Hal pertama yang kita perhatikan adalah tema dari lomba. Kita harus teliti benar benar saat membaca syarat lomba, terutama dengan tema. Biasanya setiap lomba akan mengusung tema yang berbeda, misalnya lomba di LIA Cibubur tentang makanan tradisional, berbeda dengan tema di MTS N 7 Model Jakarta tentang fabel, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga kompetisi dengan tema yang lebih dari satu, semisal folklore, fable dan fairytale.

Pernah saat mengikuti Technical Meeting di salah satu lomba ada salah satu guru dari sekolah lain protes perihal tema. Tema yang telah ditentukan adalah folklore (dan sudah dituliskan di website pendaftaran) , tetapi beliau sudah terlanjur berlatih bersama murid muridnya cerita bertemakan fabel. Jadi, jangan sampai salah ya, pak karena kesesuaian tema juga menjadi salah satu kriteria penilaian.

3. Teknik dan gaya bercerita

Teknik dan gaya bercerita berkaitan dengan gerakan tubuh (gesture) selama membawakan cerita seperti gerakan tangan, kaki, dll.

Selama mengikuti dan mengamati para peserta lomba, ada dua teknik yang bisa digunakan saat bercerita. Yang pertama adalah dengan menggunakan puppet atau boneka dan yang kedua adalah bermain peran atau si pencerita sendiri yang menjadi puppetnya. Ada juga yang menggunakan kedua duanya.

Tapi, saya pribadi lebih suka bercerita dengan memerankan peran itu sendiri daripada hanya menggunakan puppet. Mengapa? Karena dengan memerankan peran itu sendiri, gerakan tangan dan kaki pasti akan lebih bebas da ekspresi wajah akan lebih terlihat. Dan jelas ini menjadi kekuatan dari story telling itu sendiri. Ambil contoh Diajeng saat dia memerankan Owl dalam ceritanya yang berjudul "The seven witted fox and the one witted owl". Alih alih menggunakan dua puppet berbentuk burung hantu dan serigala, dia memilih menjadi owl (dengan kostum yang sesuai). Dia juga bisa menggunakan atribut lain seperti senjata mainan saat dia berganti peran menjadi para pemburu. Nah, Diajeng bisa mengeksplorasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan lebih baik.

Penampilan Diajeng di Story Telling Competition SD Islam Al Ma'ruf dan berhasil menjadi juara 1

4. Intonasi

Intonasi berkaitan dengan cepat lambatnya pembawaan cerita. Intonasi juga berperan mengundang penonton untuk tertarik dengan cerita yang dibawakan. Dengan intonasi yang sesuai; tidak terlalu lambat dan terburu buru, para penonton bisa mengerti isi cerita dan tidak bosan mendengarkannya. Jelas intonasi saat story telling sangat berbeda dengan intonasi saat membaca buku atau membaca UUD 1945, bukan? Intonasi yang pas, lalu dikolaborasikan dengan gerakan tubuh akan mampu menarik perhatian penonton.

Ini adalah contoh intonasi yang digunakan oleh Ahna dan mampu menjadi juara Harapan 1.

Baca juga : All About The Three Storyteller Winners (Part 1)

Penampilan Ahna di Al Ma'ruf Story Telling Competition dan mampu membawa pulang juara Harapan 1

5. Interaksi dengan Audiens

Ini berkaitan dengan bagaimana peserta mampu menarik perhatian penonton selama membawakan cerita. Untuk berinteraksi dengan penonton, kita bisa menggunakan sapaan dan pertanyaan. Sapaan yang paling umum misalnya,

"Assalamualaikum wr wb."

"How are you today? Now I'd like to tell you about the Legend of Roro Jonggrang."

Nah, bisa juga kita memberi pertanyaan seperti yang dilakukan oleh Nevan dan Diajeng, semisal

"Have you ever heard about Roro Jonggrang?" atau bisa jadi dengan menanyakan tempat folklore itu terjadi.

"Have you been to Jogjakarta?"

Dengan melibatkan penonton, story telling menjadi lebih interaktif deh :)

6. Suara

Ini adalah salah satu unsur paling penting ya, Pak. Suara berkaitan dengan jangkauan suara peserta selama membawakan cerita, apakah mampu didengar audien atau tidak. Bagaimana penonton bisa megerti isi cerita kalau suaranya saja tidak terdengar, iya kan? Tapi bukan berarti harus teriak teriak juga karena bisa ngos ngosan dan nafas jadi tidak beraturan. Akibatnya, intonasi menjadi tidak terkendali.

Tapi untuk yang bersuara kecil, jangan khawatir. Ada beberapa perlombaan yang memakai speaker untuk para pencerita, kok. Jadi, kita bisa save energi deh. Tapi, kalau kebetulan tidak ada speaker (biasanya dilakukan di dalam ruangan), kita harus bersuara dengan lebih lantang dan keras.

7. Penampilan dan atribut

Salah satu unsur yang paling penting dalam kompetisi yang saya amati adalah kostum. Kostum sangat mampu mendukung kelekatan cerita itu sendiri. Misalnya Nevan memakai kostum tradisional saat bercerita tentang makanan tradisional ; Rendang.

Atau ambil contoh pengalaman Diajeng. Saat mengikuti lomba di Margonda Fest, tidak ada yang spesial dengan kostumnya. Pada saat itu dia membawakan cerita berjudul "Roro Jonggrang". Padahal saat itu kualitas berceritanya menurut saya lebih bagus dari peserta lain. Tetapi kostum yang dipakai hanya baju batik dan kurang mendukung isi cerita. Nah, di kesempatan kedua, yaitu di Al Ma'ruf Story Telling Competition, mama Diajeng bela belain membeli sayap burung hantu berikut topengnya di online shop dan bahkan di hari H, Diajeng memakai make up dan tampil sangat menawan. Serupa ini.

Dengan kualitas story telling yang sama tapi berpenampilan yang lebih niat, Diajeng mampu meraih juara 1!
Baca juga : All About the Three Story Teller Winners (Part 2)
Atribut juga menjadi faktor pendukung yang membuat cerita menjadi semakin hidup. Atribut yang digunakan bisa jadi senjata (yang tampak di bawah kaki Diajeng di atas) untuk peran pemburu, bisa juga puppet atau boneka, jaring jaring dan poster.

Selain itu, kita juga bisa menggunakan backsound lho, Bu. Untuk membuat situasi lebih dramatis dan lebih hidup, Nevan menggunakan backsound saat berlomba di MTS N 7 Model Jakarta (videonya ada di bawah). Karena dia bercerita tentang Lutung Kasarung; cerita rakyat Sunda dari Jawa Barat, dia menggunakan backsound musik tradisional Sunda. Alhasil, situasi menjadi lebih dramatis.

8. Ekspresi

Pencerita yang baik adalah pencerita yang mampu menghidupkan masing masing karakter dalam ceritanya. Dan salah satunya adalah dengan memainkan berbagai macam ekspresi; untuk meyakinkan audien selama membawakan cerita. Misalnya, muka menjadi garang saat adegan marah, atau muka menjadi sedih saat adegan serupa.

Ingat, bercerita bukan hanya menghafal dialog dan naskah semata, tetapi juga menghidupkan cerita seolah olah itu benar benar terjadi. Tidak mungkin kita bercerita tentang Malin Kundang yang dikutuk oleh Ibunya dengan wajah berseri seri, bukan?

Ini adalah contoh saat Nevan bermain ekspresi saat menceritakan Lutung Kasarung dan berhasil membawa pulang juara 1 :)


Penampilan Nevan di Story Telling Competition in MTS N Model 7 Jakarta dan berhasil menjadi juara 1

9. Ketepatan Waktu

Ini berkaitan dengan lama waktu yang dihabiskan selama pembawaan cerita, apakah melebihi batas maksimal atau tidak. Ini juga faktor yang harus diperhatikan ya, Pak. Hampir semua lomba mengatur waktu story telling dari 5 menit sampai 7 menit. Bila peserta menghabiskan waktu kurang dari batas waktu atau melebih batas waktu, maka akan diberikan pinalti yang biasanya berupa pengurangan nilai. Time keeper juga akan berjaga untuk memberikan kode warna sesuai waktu yang sudah dihabiskan.

Misalnya,

a. Rambu warna hijau untuk mulai bercerita
b. Rambu warna kuning setelah waktu mencapai lima menit
c. Rambu warna meraha setelah waktu 7 menit.

Bisa jadi bila waktu sudah habis, panitia akan menghentikan peserta. Widihhh...

Nah, cara yang paling efektif dan sudah terbukti adalah kita harus berlatih dengan merekam murid kita. Dengan begitu kita bisa tahu berapa menit yang dia habiskan untuk bercerita sekaligus bisa menjadi bahan koreksi bila masih ada kekurangan.

10. Rajin berlatih dan Berdoa

 Dan ini adalah cara yang paling mutakhir. Tak ada juara tanpa latihan ya, Bu. Saat lomba kemarin, kami berlatih hampir setiap pagi. Tetapi ada juga yang agak kurang berlatih karena waktu yang mepet. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan karena mereka bisa berlatih dengan lebih bebas di rumah. Biasanya saya akan merekam mereka untuk mengetahui waktu yang dihabiskan sekaligus mengkoreksi hal hal yang dianggap masih kurang atau gerakan yang masih bisa dielaborasi. Video itu nanti saya kirim ke orang tua dan orang tua bisa membantu memberikan penilaian.

Yang terakhir adalah berdoa. Doa mampu menguatkan hati yang rapuh dan melancarkan segala harapan yang ada. Jadi, terus berdoa dan berusaha ya, Pak. InshaAllah usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Itu tadi adalah 10 cara/tips untuk bisa memenangkan Lomba Story Telling. Semoga berguna untuk persiapan kompetisi berikutnya ya :)





Friday, 25 May 2018

[ODOP 2018 #9 : 5 Tips Tidur Nyaman Untuk Ibu Hamil

Friday, May 25, 2018 2 Comments

Nyaman tidur saat hamil. 


Sepertinya ini menjadi impian para ibu hamil, terlebih saat memasuki trimester kedua dan ketiga. Maklum, di trimester itu perut sudah mulai membesar. Kadang kalau terlentang, perut jadi sakit, mau miring ke kanan kadang macam ada yang tertekan di bagian perut bawah, sedangkan kalau mau tengkurap malah kayak timbangan. Serba salah! Tapi, kalau kita mau cari tahu, sebenarnya untuk bisa tidur nyaman itu ada ilmunya kok, bumil. 

1. Tidur miring ke kiri.


Dari banyak artikel dan juga instagram @bidankita plus buku "Siapa Takut Melahirkan" dan "Siapa Bilang Melahirkan itu Sakit?" karya Bidan Yessi Aprilia yang juga penulis website Bidankita.com yang saya pantengin tiap hari, posisi tidur miring ke kiri adalah posisi paling nyaman, aman dan menyehatkan untuk ibu hamil di trimester pertama, kedua atau pun ketiga. Mengapa? Karena tidur dengan posisi ini bisa mendukung aliran darah yang lebih baik dari pembuluh vena di jantung dan menyalurkan oksigen dan gizi ibu hamil ke janin. Janin pada masa trimester pertama memang harus mendapatkan perlindungan terutama untuk kecukupan jumlah oksigen. Sedangkan untuk trimester kedua, tidur miring ke kiri juga bisa membuat janin menjadi lebih leluasa bergerak lho, bumil.

Tapi, jangan terus merasa berdosa kalau kalau pas bangun ternyata sudah miring ke kanan, begitu. Boleh juga kok miring ke kiri, kadang miring ke kanan kalau kaki mulai pegal. 

2. Ganjal kaki dengan bantal dan pastikan kaki terbuka. 


Selain tidur miring, kita juga perlu membuka kedua kaki kita dengan cara mengganjalnya dengan menggunakan guling atau bantal di antara dua paha. Posisi tidur miring ke kiri dengan posisi S adalah yang terbaik, bumil. Nah, terlebih lagi dengan mengganjal lutut kita dengan bantal. Tapi, jangan mengapitnya bantal dengan dua kaki yang sama sama ditekuk supaya tidak cepat pegal. Kaki kiri sebaiknya lurus di bawah bantal dan kaki kanan ditekuk di atas bantal. Yeyyy, tidur jadi lebih nyaman deh. Akan lebih nyaman lagi kalau guling/bantal itu diganti dengan suami kita. Bisa dikasih bonus berupa kelon/cuddling. Oke sip!!

3. Jangan tidur dengan posisi terlentang


Terlentang sih boleh saja ya, bumil. Apalagi untuk menikmati gerakan dedek bayi yang gemes gemes geli gimana gitu. Cuman, jangan sampai kita tertidur dengan posisi terlentang, khususnya selama trimester kedua dan ketiga. 

Mengapa?

Karena selama trimester kedua dan ketiga, pertumbuhan rahim dapat menyebabkan penurunan sirkulasi udara di kaki bagian bawah. Hal ini terjadi karena adanya tekanan pada vena kaya inferior (vena besar yang mengembalikan darah dari bagian bawah tubuh ke jantung) dan vena panggul.

Nah, ketika kita terlentang dalam waktu lama, itu bisa memperburuk masalah. Bisa jadi kita mengemangkan kondisi yang disebut ddengan sindrom telentang hypotensive; kondisi dimana telentang untuk jangka waktu lama dapat mengakibatkan peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah yang menyebabkan gejala kegelisahan, mual, sakit kepala dan sebagainya. 

4. Gunakan banyak bantal atau bantal U khusus bumil (Maternity Pillow)


Teman saya yang juga sedang hamil 8 bulan pernah curhat,

"Pas tidur mah, gue lebih butuh banyak bantal daripada suami."

Dan mungkin memang benar adanya. Saat tidur kita lebih butuh banyak bantal untuk bisa mengganjal bagian bagian tubuh seperti pinggang, panggul, punggung sampai kaki. Banyak menempatkan bantal di sekitar kita sangat membantu mengoptimalkan posisi tidur miring ke kiri tanpa pegal. Bisa juga mencoba maternity pillow yang banyak dijual di online shop seperti Tokopedia dan Instagram. Harganya berkisar dari 250ribu sampai 500ribuan tergantung jenis busa dan jenis kain yang digunakan. Macam begini :

Image result for bantal bumil
source

"Cobain Mey, it works a lot! Gue sekarang jadi bisa tidur nyaman tiap malam." Ucap teman saya yang lebih butuh bantal daripada suami tadi. Dan gue berencana untuk beli bantal ini setelah pindahan ke kampung halaman bulan depan. Bantal ini selain untuk masa kehamilan juga bisa dipakai untuk breastfeeding/menyusui menjadi lebih nyaman. Jadi, bisa dipakai dalam jangka panjang ya, bumil.

5. Berdoa sebelum tidur.


Yang terakhir dan yang paling penting adalah berdoa sebelum tidur ya, bumil. Karena yang memberikan kita kenyamanan dan kemanan adalah Allah SWT. Kita bisa berdoa dan terus berpikir positif. 

Selain berdoa, kita juga harus mengatur jam tidur kita. Idealnya bumil butuh waktu untuk istirahat selama 8 jam. Dan itu yang paling susah saya lakukan. Contohnya sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 23.11 dan saya masih sibuk nulis ini daripada tidur. Tapi, diusahakan banget ya bumil untuk bisa istirahat cukup dan tidur siang saat punya waktu luang. 

Plus jangan minum kopi/minuman berkafein supaya tidak semakin memperparah insomnia kita. Yang perlu diperhatikan untuk kita para bumil adalah jangan terlalu banyak minum di malam hari. At least, 2 jam sebelum tidur diusahakan untuk berhenti minum. Nggak enak banget kalau kita lagi enak enaknya tidur tapi harus berkali kali ke kamar kecil karena kebelet pipis. It's so annoying, bumil!

Nah, itu tadi 5 tips tidur nyaman untuk bumil. Ingat, istirahat adalah salah satu aspek penting untuk menjaga kesehatan bumil. Suami juga hendaknya mengerti kerempongan para bumil dengan cara memijat, menggosok punggung, mengelus perut atau sekedar membisikkan kata kata cinta. Untuk bumil yang sedang berjauhan dengan suami macam saya, ini bisa dilakukan dengan menjaga keharmonisan komunikasi suami istri. Kita bisa video call sebelum tidur, mengucapkan yang baik baik atau mengirimkan pesan penuh kasih sayang, bisa dibumbui dengan sedikit kata kata gombal.

Ini semua demi si buah hati yang tumbuh dengan penuh cinta dan kualitas tidur yang terus terjaga ya, Bumil. Ini penting ini...

Untuk para Bumil, kuatkan hati dan diri. Semoga kita semua bisa menjalani fase penuh keajaiban ini dengan penuh semangat dan penuh dukungan dari suami tercinta dan keluarga tersayang.

Selamat tidur! :)

#RWCODOP2018 #onedayonepost

Thursday, 24 May 2018

[ODOP 2018 #8] : 8 Tips Berbelanja Hemat dan Nyaman di PRJ (Pekan Raya Jakarta)

Thursday, May 24, 2018 2 Comments

Assalamualaikum wr wb, 

Belanja adalah satu kata yang langsung nancep di pikiran kita begitu kita mendengar nama Pekan Raya Jakarta. Yapp, Pekan Raya Jakarta baru saja dibuka dan tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, pas banget orang orang berbondong bondong untuk tampil menarik di hari kemenangan nanti. Tepatnya, PRJ akan resmi dibuka mulai tanggal 23 Mei sampai 1 Juli 2018, lebih dari satu bulan di Arena JIExpo Kemayoran.

Bertabur diskon, lengkap dan seru!! Dari tahun ke tahun saya tidak pernah melewatkan PRJ. Di beberapa kesempatan saya juga menunggu PRJ untuk membeli barang impian, macam tas carrier, koper bahkan barang barang printilan macam flashdisk dan baju baju. Tapi, ternyata PRJ juga butuh tips dan, lho. Ya khan demi kenyamanan, belanja yang terarah dan tidak mendatangkan penyesalan di kemudian hari. 

1. Tentukan budget pengeluaran

Saya selalu menetapkan budget pengeluaran sebelum pergi ke PRJ sesuai dengan keadaan finansial dan barang prioriti yang ingin saya beli. Takutnya cuman bermodal debit card tanpa anggaran, pulang pulang uang di ATM ludes. Eh, cuman bisa makan rendang, soto ayam, sate dan kari ayam tapi dalam bentuk mie instan. Jangan ya, ladies. 

Seperti tahun yang lalu karena saya ingin membeli barang prioriti berupa tas carrier yang harganya lumayan mahal plus belanja lainnya, saya menabung dan menetapkan anggaran sebesar 1juta. Nah, bisa nih kalian tentukan dulu budget yang ingin kalian pakai sebanyak apa.


2. Membuat daftar belanja

Bersamaan dengan menetapkan budget pengeluaran, kita juga bisa banget bikin daftar belanja dengan skali prioriti. Misalnya, 

1. tas carrier
2. gamis
3. jaket jeans
4. underwear

Ya namanya juga list belanjaan bisalah nge-list apa aja. Dan saya emang suka banget beli underwear di PRJ karena di saat itu semua underwear diskon besar besaraaann!!! Justru tiap ke PRJ saya nggak pernah absen beli underwear. Hahaha..
Daftar belanja ini yang akan membuat belanja kita menjadi terarah, nggak cuman window shopping di semua toko tanpa tujuan begitu. Yuk, mulai tulis apa saja kebutuhanmu!

3. Membawa uang tunai

Ini sebenarnya tergantung pribadi orang masing masing sih. Ada yang dari budget pengeluaran dijadikan uang tunai biar nggak melebihi budget, ada juga yang tetap memakai debit card dengan alasan mendukung pemerintah dalam Gerakan Nasional Non Tunai atau CashLess Society. Belakangan juga setiap store pasti mempunyai alat pembayaran non tunai. Yang penting pastikan debit card yang kita punya termasuk dalam debit card yang paling umum digunakan jadi available untuk alat pembayaran mereka.

Tapi, kalau nggak mau kelewat batas, bisa membawa uang cash saja.

4. Pergi bersama teman/keluarga/pasangan

Image result for belanja bersama teman
source
Masa iya ke PRJ kok sendirian gitu kayaknya nggak begitu seru ya, Ladies. Lebih enak kalau kita punya teman berbagi pendapat saat kita berbelanja. Mengajak teman pun kita harus lihat lihat dulu. Lebih enak kalau mengajak teman yang memang gemar jalan jauh. Khan nggak seru kitanya semangat jalan eh, dianya manyun karena pingin cepat cepet pulang. Maklum, PRJ itu aduh luas sekali dari ujung sampai ujung. Tapi jangan khawatir juga karena kita bisa memanfaatkan mobil Wara Wiri; mobil yang mengelilingi wilayah PRJ berbayar.


Enak lagi kalau kita punya teman yang bijaksana dan hemat. Kita bisa ketularan hemat juga dan mencegah terjadinya kalap mata. 

"Waah, ini bajunya bagus bagus. Cuman 50ribuan aja. Beli 5 atau 10 sekalian kali ya?"

"Istighfar, Mey. Ingat baju di rumah masih selemari. Manusia itu tidak dinilai dari bajunya, tapi dari akhlaknya."

MasyaAllah, ini teman edisi Ramadhan. Nah, nggak jadi kalap deh.

5. Berbekal peta PRJ

Sungguh, PRJ itu luas sekali. Jadi, kita harus kayak Dora. Kita butuh peta. Peta bisa diminta di beberapa spot resepsionis yang tersebar di dekat dekat loket masuk gitu. Nah, dengan peta itu kita bisa tahu letak/posisi store yang kita tuju berdasarkan list belanja yang kita punya. Kita juga jadi nggak buta arah dan punya tujuan yang jelas. 

Pekan Raya Jakarta ini dibagi menjadi beberapa zona yang tersebar di beberapa gedung berdasarkan jenis barang yang dijual. Dengan peta, semuanya jadi mudah dan jelas.

6. Berkunjung di Weekdays.


Ladies, supaya tidak terlalu lelah berhimpit himpitan dengan pengunjung lain, kita juga harus memperhatikan hari berkunjung. Diusahakan untuk datang ke sana pada hari kerja saja dan menghindari Malam Minggu. Alasannya jelas, kalau kita datang pas hari libur yang ada kita disuguhkan oleh lautan manusia. Jalan aja susah, apalagi mau puas window shopping. Melelahkan.......

7. Membawa bekal minum sendiri.

Image result for bekal minum
source
Nah, ini yang nggak kalah penting. Biasanya minum yang dijual di kedai kedai sepanjang PRJ adalah kopi, teh dan minuman berasa lainnya. Padahal yang kita butuhkan adalah air putih demi menghindari dehidrasi. Jadi, yang paling aman adalah membawa minuman sendiri ya, Ladies. Kita bisa minum kapan saja kita butuh, gratis dan efisien.

Berhubung kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, bisa juga lho kita membawa bekal makanan supaya tidak perlu antri membeli makanan. Wah, uang jatah makan bisa untuk belanja juga, dong! Yippie!!

8. Memakai baju, sepatu dan tas yang nyaman.


Ini juga hal sepele yang bisa berimbas fatal. Jangan sampai ke sana pakenya wedges atau malah stiletto. Yang ada kaki kita kaku kaku nanti. Pakai baju longgar nan nyaman yang bisa menyerap keringat dan nggak bikin bau. Pakai sepatu rasa rasanya lebih baik karena kita jadi nggak mudah capek saat menjelajah PRJ. Tas pun kalau saya pribadi lebih menyarankan pakai backpack karena lebih ringan dan barang belanjaanpun nantinya bisa muat di dalamnya. Nggak perlu lagi repot bawa  plastik sana sini, khan? Tapi, tetap waspada dan berhati hati ya. Jangan lupa menaruh backpack di depan badan kalau berjalan di kerumunan orang orang. Takut kena jambret!

Fiuhhh, semua tips InshaAllah sudah  dikantongi ya, Ladies. InshaAllah nanti bisa berburu barang barang impian bertabur diskon bisa jauh lebih mudah. FYI, ini adalah harga tiket dan jadwal buka Pekan Raya Jakarta ya...

Harga Tiket Masuk PRJ 2018

Senin : Rp. 20.000
Selasa - Kamis : Rp. 25.000
Jumat - Minggu : Rp. 30.000
Lansia >60 thn : GRATIS

Jam Buka Pameran PRJ 2018

Senin - Kamis : 15.30 - 22.00 WIB
Jumat : 15.30 - 23.00 WIB
Sabtu dan Minggu : 10.00 - 23.00 WIB
Hari Libur  : 10.00 - 23.00 WIB

Yuk segera agendakan waktu untuk berbelanja di Pekan Raya Jakarta :)

#RWCODOP2018 #onedayonepost

Tuesday, 22 May 2018

[ODOP 2018 #6] : Tarawih Ala Anak 90-an

Tuesday, May 22, 2018 0 Comments


Kalau cuman berangkat tarawih bareng Mama/Papa lalu sholat, denger ceramah dan pulang itu berarti masa kecil kalian cupu. Kalau gue dulu, pantang banget berangkat tarawih bareng Ibu gue. Dengan jiwa kesetiakawanan yang tinggi, gue berangkat tarawih bareng temen temen gue. Kita akan ngecup tempat di paling belakang, dekat jendela yang mengarah ke teras mesjid. Biarkan Ibu-ibu di barisan depan. Gue dan teman teman itu menganut faham,

"All things will just fall into places."

Semua ada waktunya. Akan ada saatnya kita juga di shaf depan. Ya, saat kita jadi Ibu Ibu. Makanya kemarin waktu gue pulang kampung dan sempat tarawih di mesjid, gue duduk di belakang dan gue kaget.

"Mana nih teman teman gue dulu???"

Gue lihat ke depan,teman teman gue duduk berjejeran.

"Ngapain di situ?? Sini..."

"Maap, udah nggak level."

Gue baru inget, ternyata temen temen gue sekarang udah jadi Ibu Ibu. Sial, gue ditinggalin.

"Kapan nyusul?"

"Maap, aku mau sholat Tahiyatul Mesjid dulu. Assalamualaikum..." Emang kadang cuman mau tarawih aja banyak godaannya, gaes.

Dulu, saat Ibu Ibu itu masih kecil kecil, begitu kita ngecup tempat, kita akan kompakan. Kompakan istirahat!! Beda dengan tarawih di mesjid yang sekarang buat tarawih gue di Jakarta yang puas dengan 11 rakaat, di desa gue tarawih itu nggak mantep kalau nggak 23 rakaat!! Bayangin gue tiap buka makan kolak kolang kaling sama pisang, terus beli lothek (pecel bahasa nasionalnya), masih tambah ke rumah nenek gue bisa jadi makan opor, masih ada sup buah dan roti. Lalu, gue sholat 23 rakaat. Blingsatan gue.

Biasanya di rakaat kedua gue masih seterong, rakaat ketiga dan keempat tanpa hambatan, berlanjut rakaat kelima dan keenam perut gue bergejolak, rakaat ketujuh dan kedelapan gue mulai keliyengan, rakaat kesembilan gue jadi belingsatan dan rakaat ke-11 gue mohon ampunan. Lalu gue khilaf dan malah mainan sama temen temen gue.

"Sholat kok ngge dolanan!! Ora elok!"

Subtitle : "Sholat kok buat mainan! Nggak pantes!"

Ibu ibu di depan emang kadang galaknya nggak ketulungan. Kalau kita yang masih SD ini bukannya sholat malah mainan, pastilah dimarahin. Ibu gue yang ada di antara Ibu Ibu itu cuman geleng geleng kepala.

"Anake sopo iki jane?"

Subtitle : "Anak siapa sih ini?"

Ibu gue tiba tiba dzikir, pura pura nggak kenal.

Jadi, biar nggak ketahuan kalau kita nggak sholat, tiap tahiyatul akhir kita ambil kuda kuda, dan begitu Imam mengucap salam,

"Assalamualaikum warrahmatullah wa barakatuh.."

Gue dan temen gue kompakan hadap kanan dan hadap kiri dengan begitu khusyu..

"Assalamualaikum...alhamdulillah.."

"Loh, perasaan tadi berisik. Siapa yang berisik tadi?" Kita pura pura dzikir. Begitu takbiratul ikhram kita mainan lagi. Begitu Imam mengucap salam, kita langsung duduk dan ikutan mengucap salam. Gitu mulu sampai lebaran. 

Maapkeun Ibu Ibu...sekarang mah boro boro mau mainan di mesjid. Bawaannya kalau di mesjid itu cuman mau nglakuin dua hal. Mohon ampun sama mohon petunjuk karena terkadang idup nggak selucu itu.

Nggak sampai di situ aja dulu gue juga jadi backing vocal mesjid! Bidih!! Tugas yang teramat berat ini, gaes. Begitu sholat witir katam dilanjutkan dzikir dan berdoa bersama sama niat puasa, maka kita semua akan sholawatan. Nah, di momen itu dengan cekatan gue dan teman teman ke teras mesjid. Kita berbagi tugas. Yang cowok serta merta akan menabuh drum bekas bensin, yang lainnya menabuh kentongan dan yang lainnya lagi memukul mukul botol sirup Marjan rasa Melon susu dengan hati hati hingga tercipta alunan musik pengiring sholawatan yang indah aduhai.

Lalu, tugas gue dan temen temen yang lain adalah.............nyanyi sholawatan, lalu suara kita semua plus suara pak Imam akan mengudara seantero desa. Dan memang tradisi ini nggak cuman mesjid kita aja yang punya, tapi hampir semua mesjid. Dan desa gue yang terdiri dari 6 RT (Rukun warga) terdapat berapa mesjid/mushola kah? LIMA!! Bayangkan saat tarawih betapa syahdunya desa gue dengan sholawat bersahut sahutan. Saking semangatnya tiap gue nyanyi otot otot dileher sampe kelenjar air liur keliatan semua. Gue menamakannya dengan masa kecil kurang teramat bahagia.

Sayangnya jaman sekarang mah anak kecil mana mau kaya begitu. Yang ada pak Imam ngasih ceramah, dianya selfie pake mukena. Masukin ke PATH.

"Alhamdulillah, tarawih pertama. Semoga berkah..."
At Mesjid Baiturrahman

Dulu tiap selesai tarawih juga nggak langsung pulang kita. Di teras mesjid; tempat kita ngaji dulu kita akan berjejeran mengular dari pojok satu ke pojok lainnya. Lalu, bapak bapak dan Ibu Ibu akan datang membawa banyak plastik berisi jajanan. YAK!! Dulu tiap habis tarawih, mesjid akan membagikan JABURAN; makanan kecil/snack seperti ciki, kue, krupuk dan lainnya kepada anak anak yang tarawih. Lalu kita akan berkerumun dan antri dibagiin makanan kecil. Khan lumayan nggak Lalu, darimana asalnya jaburan itu??

Pak RT setempat akan membuat jadwal donatur jaburan di tiap tiap rumah. Dan tugas anak adalah untuk menentukan jenis jaburan.

"Buk, beli coklat TOP aja buk! Nanti aku bilang sama temen temen aku."

"Udah ke, krupuk aja. Yaelah Ibu cupu banget jaburan pake kerupuk. Pokoknya coklat TOP!"

Malamnya temen temen gue dapet jaburan, di antaranya adalah coklat TOP. 
Dulu gue pernah nanya ke sesepuh mesjid tentang alasan diadakannya jaburan.

"Jaburan itu biar buat penyemangat anak anak kecil pergi tarawih. Biar mesjid ini rame sama anak anak kecil. Nanti mereka juga yang bakalan nerusin sholat tarawih tiap Ramadhan." Dan buat gue juga nggak masalah sih jaburan buat pemacu anak anak pergi tarawih. Bukan mendidik mereka untuk melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan. Bukankah kita juga kerap dikasih reward atau hadiah saat kita melakukan sesuatu yang baik? Kayak orang tua ngasih hadiah kalau anaknya pinter di sekolah? Atau bos ngasih bonus tambahan kalau kinerja kita bagus? Atau Alloh ngasih pahala saat kita melakukan hal hal yang diperintahkan-Nya?

Dan jaburan ikut meramaikan masa kecil gue. Masa kecil yang nggak semua anak bisa menikmati. Sekarang aja anak kecil jarang membiasakan diri ke mesjid. Apalagi di Jakarta yang tinggal di perumahan. Sebut saja sepupu gue. Untuk ke mesjid aja dia harus naik motor/mobil. 

"Lu mau tarawih kagak?"

"Ah, jauh.."

Jaman dulu, tiap tarawih gue semangat. Bahkan dari rumah gue udah pake mukena, mana nglewatin kuburan lagi tiap mau ke mesjid. Dan semua orang yang ke mesjid juga udah pada pake mukena biar simpel. Kan gue jadi susah bedain. Kalau tiba tiba salah satu daripadanya jalannya loncat loncat kan gue ngeri.

Tapi emang semakin berkembangnya jaman, semakin 'mudah' menjalani hidup dengan banyak gadget itu membuat orang semakin males. Bisa jadi mereka lebih pilh yutupan di rumah daripada tarawih, atau nonton sinetron Anak Jalanan yang beda banget dari anak jalanan yang sebenernya, atau malah pacaran! Secara sekarang anak SD pacaran udah berani ngasih bunga sama peluk pelukan. Dia ntaranya foto sambil ciuman. Dulu gue naksir temen cuman berani ngintip dia makan gorengan di kantin sekolah.

Semua udah berubah, bro. Dan tetep, masa kecil anak 90anlah yang paling SERU!

#RWCODOP2018 #onedayonepost