Wednesday, 25 December 2013

Sohabit Sayang, Sohabit Malang (Tamat : Gempuran Cacar di Saat Yang Tidak Tepat!!!)

“Alhamdulillaaaaaaah.....”

Pantat gue mendarat dengan bijaksana di seat empuk merah menyala yang tepat berhadapan dengan layar maha besar yang memantulkan jutaan cahaya bergerak. Tanpa pop corn karena waktu mau beli, gue tanya dulu ke Dore.

“Dor, beli pop corn nggak yak?”

“Hashhh, nonton aja udah alhamdulillah udah ntar nonton sama makan pop corn dijual terpisah aja. Sekarang nonton, makan pop corn sesudahnya beli di warung yang seribuan. Nih lo beli pop corn disini udah bisa buat makan 2-3 hari!”

Gue mengangguk takzim dan segera menutup Dore dan serta merta memasukkannya ke posisi semula.

Lo udah tau khan gimana tertatih tatih nya gue dan sohabit gue sampai bisa mendaratkan pantat ke seat menyala ini. Bayangan naik gondola di TMII pun pupus sudah terhantam kenyataan kalau di Jekardah, mau move on itu susyaaaah!!! Maceeeet, ibarat kate nih orang pada gagal move on berjamaah. Pada nyindir!! 

Keterlaluan. Sebab musababnya ada di bab ini, dan bab ini. 

--

“Emang lo nonton apa?”

Ah, seperti yang udah gue ceritain di sini, gue dan Uma menancapkan pilihan pada film bernuansa religi. Alih alih memperkaya diri dengan ilmu agama, gue dan Uma segera memesan tiket “99 Cahaya Di Langit Eropa”.

Usai ngepelin nih pipi yang udah kek ranah Jekardah di kala musim penghujan dan diketawain Uma, akhirnya kita berdua keluar dari cinema 21. Gue lihat dari jendela mall, di luar sudah gelap.

“Seph, naik taksi aja ya. Aku nggak sanggup dan nggak mampu kalau harus jalan lagi jauh kek tadi ke pangkalan angkotnya. Mana di belokan situ nggak ada area buat pejalan kaki. Kita kan nggak punya lampu belakang, salah salah kita disosor mobil lalu ditinggalin. Itu khan perih, Seph..”

“Iya, naik taksi...ke toilet dulu yuk..”, ucapnya. Lalu kita berdua berjalan terseok seok ke toilet.

---

“Seeeeph!!”

Gue tatap Uma yang keluar dari toilet sambil megap megap. Seperti ada yang dia sembunyikan di dalam relung hatinya. Hati gue kebas ngeliatnyaa. Dia ingin berkata kata, hanya saja tertahan di ujung lidah.

“Seeeeph, akuuuu....aku.....”

“Iya, kamu kenaaaapaaa???”


“Ini tidak mungkin terjadi...jangan sekarang...tapi ini kenyataan...”, gue tatap muka Uma dengan nanar.

“Katakan padaku apa yang terjadi, Seppph???” Dia hanya bisa tercenung, tak bergeming...

“Aku.....”, Dia menutup mukanya tepat di pintu toilet dengan kedua belah tangannya.

Gue mencoba untuk menenangkannya. Gue usap usap punggungnya, berusaha untuk meredam kepanikannya yang lekat tampak di mimik mukanya.

“Jangaaaaaaaaaaaaaaaan......”

Gue kali ini mundur mendengar teriakan Uma.

“Apa salahku, seeeeph???”, gue jadinya serba salah...

“Seph, ternyata aku....jerawat ini bukan jerawat biasa...”  Kita memang sama sama memanggil seph satu sama lain yang kepanjangan dari Sephalotorax, hewan yang badan dan kepalanya bersatu, hasil dari semedi dan pergulatan ide di 7 tahun yang lalu, saat kita masih mengenakan putih biru di kelas tertinggi.

“Lalu apaaa???”

“Aku.....cacar air!!” mukanya gamang dan nanar.

“Appppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh?????” Kali ini muka gue yang paniknya nggak santay.

Secepat kilat ingatan gue mundur menyelusuri sepanjang masa hidup gue.

Seph, ini musibah.”, ucap gue di tengah kontroversi hati gue yang mencekam.

“Aku belum pernah cacar air, seph..” ucap gue, kelu nan pilu, bertalu talu.

-------------

Dengan langkah gontai kita memutuskan untuk mencari asupan energi dulu sebelum pulang.

“Seph, abis ini harus segera ke klinik seph...aku tahu klinik di dekat kost.” Setelah menimbang nimbang, akhirnya dia menganggukkan kepala tanda setubuh, eh setujuh.



Jembreng!!! Kita harus membayar 20ribu dibagi dua untuk bisa menginjak tanah Kranggan Permai, tempat dimana gue ngguling ngguling tiap malam sendirian.

Kerennya Uma, walopun cacar sedang bermukin di sekujur kulitnya, dia bisa bisanya nawarin jasanya,

“Seph, mau isi galon dulu nggak? Aku bantuin?” Dan karena kebutuhan akan air semakin besar, kita berencana untuk menyatukan kekuatan otot trisep kita demi segalon air untuk hidup gue beberapa minggu ke depan. Siapa tahu setelah ngangkat galon bersama, otot lengan kita kayak ototnya Agnez Mo. Itu.....keren. Syukurnya, ada mas mas Indomart yang indah akhlaknya, meminggul sendirian galon air sampai di pintu kost. Ucapan syukur kita dengung dengungkan.

“Semoga didekatkan tulang rusuknya di radar dengan frekuensi tepat”, doa kita berdua untuk masnya, ehm.....dan juga kita.

Sekarang langkah kedua adalah mencari dokter untuk Uma. Berjalan beberapa langkah ke sebuah klinik...

“Mas, sudah tutup ya?”

“Sudah mbak, tutupnya jam 8 tadi..” Gue lirik jam tangan gue. Jam 9 malam. Uma terlihat mulai merana digerogoti kuman cacar di sekujur tubuh. Gue lihat kadang dia menggeliat kegatelan. Gue ikut perih. Maksut hati nak jalan jalan ke Jekardah, apa daya terkena cacar air.

“Mas, ada dokter lain yang kira kira masih buka nggak ya?” Gue terus mencari secercah harapan...

“Ah, ada mbak..ini malah dia prakteknya di rumah, jadi pasti ada...jadi nanti mbaknya dari sini jalan lurus, lalu belok kiri, jalan dikit, belok kiri lagi jalan terus sampai mentok, namanya dokter Marry..” Gue rekam petunjuk mas mas klinik lalu mengamalkannya bersama.

Tibalah kita di depan rumah dkter Marry...

“Wah, ini udah parah...”, ucap dokter sambil melihat tangan bagian bawah milik Uma..

Sambil menuliskan resep, beliau menanyaiku.

“Kamu udah kena?”

“Belum, dok...” ucap gue, tercekat.

“Wah, nanti tidurnya bareng?”

“Betul, dok...”, kegamangan nampak jelas di garis wajah gue. Bukannya apa apa, sekarang ini gue sebagai seorang pekerja yang bukannya membayar tapi dibayar jelas menyokong peranan yang besar dengan tanggung jawab yang lebih berat.

“Peluang saya juga kena berapa besar ya dok?”

“Wah, besar sekali itu...”

Ini belum berakhir.

“Seph, apotek dimana??”, ucapnya begitu keluar dari dokter Merry.

“Itu juga masih menjadi misteri, seph...mari kita temukan bersama sama...”. Jam menunjukkan pukul 9 lebih. Sekarang saatnya berpetualang demi secarik resep yang harus kita tebus, demi lembaran kulit Uma.

“Mau kemana pun aku anterin dah, seph...”, ucap gue di rintik rintik hujan malam malam, berjalan menembus kegelapan jejalanan ruko, lalu menyeberang jalan, dan memasuki bangunan jumbo yang megah di depan mata. Mall.

Kini, obat sudah di tangan, pun badan sudah mendarat di kasur kost.

Kata dokter, cacar air itu boleh mandi, jangan lupa harus membubuhi air dengan cairan antiseptik dan menggunakan sabun antiseptik juga. Malam itu Uma pun mandi. Tak lupa dengan seksama gue bubuhkan salep di punggungnya. Ini yang bikin gue galau andai gue nantinya tertular.

Kalau gue cacar air dan gue hidup sendiri di tanah rantau, lalu yang ngolesin salep ke cacar gue di punggung siapa?? Yang membubuhi bedak di punggung dan leher belakang gue siapa??? Ini jelas semacam merana yang teramat sangat. Hanya membayangkan saja, hati gue sudah kebas, bas...bas...bas....

Malam sudah semakin larut, dan kita tertidur dengan kembali memakai metode kasur per pinggang saja, demi keselamatan kita bersama.

Esok harinya, sepanjang pagi, kita hanya menggeliat nggeliat. Gue lihat Uma sudah terlanjur parah karena dia tidak sadar sejak awal. Gue nggak bisa membayangkan kalau saat saat ‘panen’ seperti ini dia harus menempuh jarak 500an km naik bis atau pun kereta. Betapa maha dahsyat gatelnya, apalagi dia harus menempuh jarak itu bersama sama. Bukannya menabur benih kedamaian, tetapi benih cacar air itu perih yang teramat sangat. Jangan. Dia pun akhirnya menginjakkan kakinya ke rumah buleknya yang alhamdulillah tinggal di Bogor.

Siang akan segera datang, dan gue anterin Uma sampai naik angkot.

“Hati hati, Seph....”

“Iya...”, dan perjumpaan kita kali ini terhenti.

Eits, tapi kita masih punya kenyataan tertunda yang harus kita katamkan.

“One day, kita akan memutari Indonesia Raya dengan kayuhan kaki saja. Kita akan ke TMII!!!”

“One day, come back here! We’re gonna go sooo early and traffic jam won’t hit us! Cemunguuutttth!!”

Dan, apakah akhirnya gue tertular?? Dan apa yang gue lakukan kalau gue nggak bisa menggapai punggung gue? Apakah gue akhirnya kayang sambil nari ubur ubur?


10 comments:

  1. waduh kasihan Uma, terntyata jerawat itu adalah cacar
    masa kamu blm pernah cacaran Meyk? hati2 bisa tertular
    duuuh kasian kamu Meyk, apa bener di punggung kamu ituuuuuuu?
    ditunggu cerita kmu selanjutnya aja, moga ga cacar ya amin

    ReplyDelete
  2. masa udah besar belum pernah kena cacar sih? aku dulu SMP udah loh.. katanya sih kalau udah kena sekali, tubuh udah kebal sama cacar. ya namanya juga mitos

    ReplyDelete
  3. Loh ini bersambung ta Mey, wah segede gini belum pernah kena cacar air? Kesian kesian kesian... buruan kena deh mumpung belum lebih menyusahkan. Hehehe

    ReplyDelete
  4. Nah, bagaimana akhirnya tertularkah? wah mbak hati-hati loh...
    Gimana kalau campak? belum pernah juga kah?

    ReplyDelete
  5. aduh ngerii..nggak kebayang deh gimana rasanya cacar di kota orang, dan sendirian...
    yah seenggaknya uma masih punya kamu buat ngerawat dia disana....
    tapi cacarnya bener2 nggak tepat waktu banget ya...ckckck

    ReplyDelete
  6. endingnya dengan bentuk percakapan jadi serasa masih ada lanjutannya kak Mey. oh yaa... saya udah ngerasaim sejenis penyakit yang mirim dengan cacar air tapi bukan cacar air.. dan rasanya itu alammaakk benar-benar.. nanggung sendiri sakitnya krena jauh dari ortu. kirain cacar air juga gak boleh mandi.. ternyata bisa tho

    ReplyDelete
  7. endingnya dengan bentuk percakapan jadi serasa masih ada lanjutannya kak Mey. oh yaa... saya udah ngerasain sejenis penyakit yang mirip dengan cacar air tapi bukan cacar air.. dan rasanya itu alammaakk benar-benar.. nanggung sendiri sakitnya krena jauh dari ortu. kirain cacar air juga gak boleh mandi.. ternyata bisa tho

    ReplyDelete
  8. jadi inget waktu cacar xD// dulu waktu aku cacar itu pas uas -_- dan akhirnya nilai2nya berantakan T_T

    ReplyDelete
  9. oh man!!! zeeeepppp kenape elu ceritain bagian itu ??? -_- ah! muka gue

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...