Thursday, 19 December 2013

Sohabit Sayang, Sohabit Malang ( Episode 2 : Kesuksesan Yang Tertunda Menjelajah Indonesia Mini )

“Jeglek!”

“Kricik kricik kricik kricik...”

“Jeglek!”

Sambil menggeliat menukik membungkuk sedemikian rupa, gue liat ada sekelebat bayangan terlihat membungkuk lalu bersimpuh, lalu bangkit, bersimpuh lagi dan berujung pada tengok kepala ke kanan berangsur ke kiri.

Yang biasanya gue setiap bangun pagi, hal pertama yang gue liat adalah tembok di keremangan subuh, pagi itu rasa rasanya adalah pagi yang spesial.

Why?

Nggak pernah ngebayangin pagi gue akan diisi oleh mereka berdua di kost gue yang sempitnya nggak santay  banget ini. Setelah sempat kesasar dan naik taksi sehingga harus mengiklaskan banyak lembar melayang, akhirnya dua sohabit gue ini bisa beradu mata sama gue.

Cerita butiran debu mereka di sini.

Setelah menunaikan subuh, agaknya si sohabit number satu belum sepenuhnya ikhlas melepaskan kasur gue yang hanya bisa dia jamah per pinggang ke atas. Iye, seperti halnya

“Walking together in the dark is better rather than walking alone in the right one.”

Kita pun ikhlas untuk menganut paham

“Sleeping together in damn tiny place is better rather than sleeping alone in the huge one.”

Dan kita harus memutar otak untuk bisa tidur di kasur yang sesungguhnya hanya bisa menumpu satu atau dua manusia saja. Jadilah kita tidur serupa pindang. Tapi ini bukan pindang biasa. Ini.....pindang presto.

------

Jumat, 6 Desember


Seperti biasa gue harus kerja. Pun Dany harus kembali ke rumah pacarnya untuk membantu packing pacarnya yang akan mengarungi lautan ke pulau seberang. Dan Uma.....

“Seph, la kalo kamu kerja terus aku ngapain di kostmu?” Raut wajahnya gamang.

“Tinggal nonton tipi, ato liat drama Korea di laptop, kalo lapar buka tu lemari bisa makan roti...apa yang bisa dimakan tinggal dimakan aja. Anggep aja kost sendiri.” Gue mencoba menghiburnya.

Gue juga begitu. Tiap hari Minggu kalau gue nggak pulang ke rumah bulek gue yang tinggal tidak begitu jauh dari kost, daripada nge mall ato pergi, gue memilih ngadem di kost. Tinggal tidur terlentang dengan baju minimalis biar keringatnya santay, mata tertuju pada tipi, melewati pagi, siang, beranjak senja.
Ya udah gitu aja terus, mau ngapain lagi?

“Loh, bukannya mereka sampe juga baru semalem? Nih kok Dany udah pergi lagi? Lalu esensi dia datang ke sindang apa?”

Oke, pertanyaan bagus!

Gue juga bingung. Nih anak cuman numpang tidur doang agaknya. Tapi penerawangan gue mengatakan tidak.

Sebenarnya Dany yang tinggal di Bandung mau pake bingit ngejenguk gue dari kemarin kemarin. Cuman nggak pernah kesampean. Dan kali ini mumpung ada Uma, jadilah dia menerobos hujan, mengarungi jarak berkilo kilo meter, berdiri di ambang magrib tepat di tepi jalan terminal pasar rebo selama banyak menit demi sebuah mobil 121 yang ketemu juga kagak, dan akhirnya mengiklaskan lembaran rupiah untuk sebuah taksi, dan pada akhirnya paginya dia harus cabut lagi dengan mengemban sebuah tujuan.

Jengukin gue.

Iye, so sweet apa coba Dany sama gue? Kalau begini, gue jadi pingin nari Teletubbies lalu berpelukan lagi sama si Inu lalu datanglah matahari yang gambarnya bayi nggak pake baju lagi ketawa.


Malamnya, gue pulang dengan dua bungkus nasi padang sambil kehujanan. Rencana makan di mall sambil nongkrong kayak anak gaul Jekardah dinyatakan gagal total. Hujannya nggak santay, ngajakin badai.

Sabtu, 7 Desember 2013

Gue kerja lagi.

“Lah? Terus??? Jadi Uma di Jekardah cuman ngeduel di kost lu doang, gitu???”

Nggak. Hidupnya nggak se sia sia itu.

Kali ini kita punya tujuan nan jelas.

“Seph, gimana kalau hari ini kita ke TMII??”, ucapnya sambil matanya berpusat pada layanan GPS di Hpnya.

“Deket kok. Cuman 13 km saja, cuman sekitar 1 jam an aja.”

Dengan semangat berletupan, gue tanya ke Ika tentang rute ke TMII.

“Oke Ke, lu cuman naik 121 ke terminal kampung rambutan, lalu melajukan langkah naik Transjakarta sampai Cawang BNI, dan kemudian naik Transjakarta lagi sampai Tamini, dilanjutkan dengan naik angkot untuk bisa sampai ke gerbang TMII.” Gue manggut manggut biar mengerti. Walopun sumpah demi apapun kampung rambutan itu bentuknya kayak apa aja gue masih gelap.

Tidak hanya itu, gue juga udah ngeprint peta TMII sembari menyusun langkah untuk bisa berpiknik dengan maksimal di waktu yang terbatas pake banget ini.

“Ah, naik kereta gantung dulu! Liat TMII dari ketinggian pasti sangat menakjubkan!” Uma mengamini.

Dan pada akhirnya, jam 1, sepulang kerja, kita ketemu di depan plasa Cibubur. Muka si Uma, walopun semalem dia demam, kini serinya banyak. Berseri seri.

“Yakin nih mau ke TMII?” kali ini gue gamang ngeliat puluhan mobil di depan gue yang kek dedek mau latian mbrangkang sebelum latian jalan.

“Iya. Fighting!!!”. Gue lirik jam. 13.15 WIB.

Berdasarkan perkiraan GPS, kita semestinya menginjakkan gerbang TMII pada pukul 14.30. Lalu kita akan melalang buana seantero Indonesia hanya dengan kayuhan kaki saja.

It would be so damn awesome!!!

-------------------------
15.30 WIB

Gue mendekap erat dua tas. Satu adalah tas gue, dan satunya lagi adalah tas milik Uma. Mata gue rasanya berat. Gue lirik ke kiri, ratusan mobil dan motor berjibaku mencari celah untuk minggat dari jejalanan ini. Ini bukan jalan. Ini parkiran!!! Parkir raksasa paling panjang sedunia kalau didaftarin ke Record Guinnes Book!
Gue lihat Uma bergelantunganan di depan gue. Jiwa malaikatnya mengantarkan seorang ibu muda dengan balita duduk dengan sejahtera di seatnya. Gitu aja nggak ada tuh kalimat

“Terimakasih” keluar dari mulut tuh ibu ibu.

Dan gue lirik ke kanan. Yasalaaaam....

Lautan manusia berjejalan.

Iye. Gue lagi naik bis TransJakarta yang kayak di tipi tipi itu.

“Udah berapa kali nih orang Jekardah baru nih naik Transjakarta??”

Ah, jangan ditanya. Jelas lah gue....baru sekali ini. Gue khan udah bilang daerah gapaian gue hanya sebatas tempatkerja-kost-mall-rumahbulek. Sebagai anak gaul Jekardah, gue gagal segagal gagalnya.



Gue nggak ngerti banget. Ini gue di dalam bis apa di dalam sauna. AC sih emang ada ACnya. Tapi akan jadi masalah kalau kekuatan AC menyemburkan hawa dingin tidak sepadan dengan sumber panas dan jumlah hidung para manusianya. Keringat gue kalau gue raba sudah segede butiran jagung, butiran debu aja kalah. Perasaan ini udah 30 menit berlalu, tapi bis masih di belokan ini aja.

Gue tau move on itu susah, tapi nggak gini juga.

Wajah Uma menandakan tanda tidak baik. Wajah gue juga.

“Seph...piye?”, gue ngasih kode.

“Udah yuk, turun aja. Naik transjakarta ke kampung rambutan.” Kode diterima.

Lalu, kita turun di shelter terdekat.

Ini jelas perih. Rute udah diapalin tinggal diamalin, peta TMII pun sudah elok di genggaman. Satu yang gue tahu. Tidak semua harapan menjadi kenyataan, dan tidak semua kenyataan lahir seperti yang diharapkan.

Kita............puter balik!

Untungnya, untuk naik Transjakarta, kita hanya perlu merogoh kocek sedalam ribuan berjumlah tiga bersama dengan ribuan satu terbagi dua. 3500 rupiah saja. Dan saat kita turun lalu berbalik arak, kita tidak dikenai biaya lagi.


Gue nggak bisa bayangin apa yang terjadi sama kita berdua kalau kita terobos saja, lanjutkan saja tanpa berpikir beberapa jam kemudiannya. Pulangnya gimana? Ini bukan Salatiga atau pun Ambarawa. Ini Jekardah, meeeen!

Makanya, kita harus tau kapan sesuatu itu diperjuangkan, dan kapan sesuatu itu kita lepaskan... Toh kalau emang ke depannya dipikir dengan akal sehat akan berdampak buruk atau tidak ada manfaatnya, so just let it go.. *omongopo

“Nonton.” Dari travelling ke TMII dan mengitari Indonesia hanya dengan kayuhan kaki saja, kita membanting pilihan ke Mall Junction Cibubur dengan satu tujuan pengganti. Nonton.

“Ah, khan lumayan nanti ngadem sama bisa duduk di seat yang empuk..” Itu adalah tujuan tambahan Uma.

Dan emang nasib! Kita harus turun di sebuah tempat dan untuk bisa menjamah gedung raksasa yang adem itu kita harus jalaaaaaaan dulu jauh. Karena emang angkot yang dari arah kota nggak lewat di depannya.


Gue liat muka Uma udah lusuh. Dan Uma liat muka gue juga nggak kalah lusuh.

“Seph, jerawat mu makin banyak aja... Apa airnya nggak cocok?” terlihat bentolan merah serupa jerawat mengisi kekosongan di wajahnya.

“Fiuuuuh....”

Begitu pintu otomatis mall tersibak, angin surga datang menerpaaa.... Dan memang benar adanya kalau surganya Jekardah adalah mall!!

Tanya kenapa?? Karena cuman di mall kita berasa siliiiiir....begitu keluarrr, behhhh...gue curiga nih jangan jangan nerakanya bocor.

Belum. Ini belum selesai. Karena kenyataannya nonton nggak segampang itu. Dan kenyataannya, bentolan itu bukan jerawat. Dan, ternyata demam si Uma semalam tidak salah adalah pertanda buruk!!!

Sedih!


-bersambung-











12 comments:

  1. Ceritanya seru dan asik, jadi anak kost itu harus berbagi ya, sampai2 tempat tidur pun berbagi.

    ReplyDelete
  2. gue mau bersumpah, kalo ke jakarta ntar, dan naik tran jakarta mau foto bareng supir dan semua penumpangnya, buat kenag2an men, buat dipamerin di kampung hehehe

    ReplyDelete
  3. anak gaul jakarta yg gagal -_- saingan juga si Uma cuma nongkrong di kost doang giliran mau maen eh ada aja kendala, pray for kak Uma.yah bersambung lagi -____-

    ReplyDelete
  4. Kirain si Dany itu cowo, ternyata cewe ya? Sempet mikir yg aneh aneh lagi hehe...

    Harusnya GPS jaman sekarang udah bisa menghitung waktu ke suatu tempat kalo jalanannya macet.

    Ceritanya keren, tapi sayang bersambung lagi bersambung lagi

    ReplyDelete
  5. mengarungi dunia bareng sahabat tuh emang enak banget ya kak ? :D saking enaknya sampe segitu ribetnya di jekardah -_-

    ReplyDelete
  6. Ciee jakarta hahaha

    Mey foto yg pertama (bertigaan), siapa yang kerudung coklat? Enak diliat.

    Mey bahasa indonya 'pindang' apa sih?? Brasa jawa banget hahaha iwak pindang

    ReplyDelete
  7. Kok disini bacanya ada logat2 apa-apa gitu ya, entah bahasa apa ya???
    wahh seru banget yak, meskipun penuh perjuangan :D

    ReplyDelete
  8. Itu dany cwo ape cwe sihh???
    Yaelah, mey. Jakerdah bsa pnas dan sesak gtu jga gra" bnyak pendatang. Gue jg klo d jakrta mles, soalnya kmna" psti mcet, dpan gang gue aj udh macet.
    Yah, hrus tabah memang klo naek transjakarta. Nggak slalu sperti yg kta harapkan.

    ReplyDelete
  9. astaga itu pake difoto segala pijakan kakinya haha, nanti gue bikinin museum sendiri dah pijakan kaki nya hahah

    ReplyDelete
  10. hhahahaha pengalaman yg menarik
    aku lupa kapan terakhirnya naik transjakarta
    aku juga dlu ke TMII naik transJ Meyk, seruuuuuu
    walau ga tau jalan tapi alhamdulillah ada yg menolong juga yeyeye
    okee ditunggu cerita selanjutya

    ReplyDelete
  11. hari-hari bersama sohib emang selalu menyenangkan. Kehidupan kost kayaknya sulit gitu yak ._.

    ReplyDelete
  12. maaf kak mey baru sempat koment nih... waaah senangnya di jengukin sahabat.. trus tidur bareng.. makan bareng.. ya pokoknya kalau udah laam.berpisah trus baru ketemu itu rasanya.. ahh pengen... sayang sekali saya gak punya sahabat sedeket itu...

    hmm bersambung lagi nihhh..

    ReplyDelete