Friday, 20 December 2013

Review : 99 Cahaya Di Langit Eropa Movie ( Keindahan Jejak Islam di Tanah Eropaaa!!! )

Berbicara tentang film Indonesia emang tidak ada matinya. Beragam genre disuguhkan untuk menentaskan dahaga para penikmat film di Indonesia, mulai dari film yang mengangkat tema pendidikan dan perjuangan, film romantis yang bisa dibilang agak dipaksakan ( film romance yang saya suka sepertiTestpack), film religi yang menyentuh relung, film komedia nyeleneh serupa Pocongggg juga Poconggggg, sampai film horor yang ternyata salah fokus menjadi film dada paha chrispy.

Dan kali ini agaknya musim film dada paha chrispy di Indonesia sedang tidak musimnya, digantikan dengan film film yang menurut saya jauh lebih membangun. Seperti yang saya lihat kali ini bersama sohabit saya.

Yak, bila Anda membaca kisah saya di sini berlanjut di sini, saat itu saya dan sohabit saya sedang mencoba untuk menjelajah Jekardah, hanya saja kita harus menelan kepahitan dan menghibur diri dengan perkataan bahwa ini hanyalah sukses yang tertunda. Iya.

Dan jadilah kita mendaratkan pilihan ke salah satu mall, di lantai teratas.

Kita dihadapkan pada tiga pilihan. Ada dua film Indonesia yaitu ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, “99 Cahaya di Langit Eropa”, dan juga satu buah film Barat yang saya lupa namanya. Yang saya ingat kala itu di bawah judul tertera, “DEWASA”.

Tapi, belum belum, saat saya mau mengutarakan keinginan saya kepada Uma, dia komat kamit tak karuan,

“Inalillah inalillah inalillah...”

Ya sudah saya urungkan.

Begitu membayar tiket yang bagi saya tergolong mahil, bersama dengan Uma kita berjalan di keremangan dengan papan raksasa yang memantulkan jutaan cahaya membetuk gambar bergerak gerak.

----------------------------

 Bila ditanya tentang alasan mengapa kami memilih film ini, oke. Saya jelaskan :

1. SETTING


Eropa. 

Semua adegan di film diambil sepenuhnya di Viena dan Paris dengan gedung gedung maha indahnya, dan pemandangan alam yang subhanalloh Allohuakbar! Saya yang cita citanya ketinggian pingin jalan jalan ke banyak tempat di semesta ini jelas sangat hobby melihat film dengan suguhan setting tempat yang menerbangkan imajinasi. Lalu, dengan dada penuh letupan, saya berjanji.

“No Shopping, just travelling!”. Lo, ini kenapa jadi ngomongin saya? Fokus.

Khan memang film ini berdasarkan kisah nyata perjalanan seorang perempuan yang tinggal bersama suaminya yang sedang sekolah S3 di sana. Cerita ini sendiri tentang penemuan penemuan sejarah Islam yang mencengangkan dan menakjubkan di Eropa.

Salah satu yang paling keren menurut saya adalah saat Hanum (Acha Septriasa), bersama dengan Marion (Dewi Sandra) mengunjungi sebuah museum. Mereka menatap lekat lekat lukisan Bunda Maria dan apa yang mereka temukan? Di kerudung yang dikenakan Bunda Maria, lekukan syimbol di motif kerudungnya tidak lain tidak bukan bertuliskan La Ila Ha Ilallah. 



Dan yang entah bikin merinding saya adalah saat Hanum dan  Marion ada di Paris. Lalu di depan sebuah bangunan penting di Paris yang kalau saya tidak salah adalah semacam gerbang kemenangan dengan patung manusia dan kuda di atasnya, bila ditarik garis lurus, terusssss...jauuuuh di sanaaaa...maka patung ini tepat menghadap ke........................ Kakbah!. Kerennya lagi saat Hanum dan suaminya, Rangga  Almahendra (Abimana Aryasatya) menggapai puncak Eiffel dan dia adzan di sana. Hanya saja, adzannya keliatan banget kalau lipsync. Andaikata itu beneran, pasti bulu kuduk saya tegak berdiri. Itu.....kereeeeeeeeeeeeeen!! Pemandangannya oh my Godddd!!! Andaikata bisa fying fox dari sana pasti sensasinya tidak bisa dilukiskan dengan kuas! Sumpah kereeeeeen!!!!

Intinya menurut saya, ini adalah jenis film deskriptif. Mereka menceritakan betapa Islam juga tertanam kuat di society Eropa bertahun tahun silam. Begitu banyak rahasia tentang keislaman terselip di saksi saksi bisu seantero Eropa.

2. MESSAGE

Sadar betul akan iman yang masih tipis, kesadaran beragama yang masih mengalami labilitas yang tidak terhingga dan akhlak yang ibarat ulangan masih remidi, kami berdua butuh film penggugah jiwa seperti ini. 

Maka, alasan saya kedua adalah tidak lain tidak bukan...... mencari pencerahan!

Satu adegan yang saya suka adalah percakapan antara Hanum(Acha Septriasa) , Aisye (Geccha Tavvara), dan Fatma Pasha (Raline Shah)  di awal pertemuan.

“Kok tante Hanum nggak pake jilbab kayak kita?”, tanya Aisye yang banyak dibully oleh teman temannya karena mahkotanya itu.

“Nggak, sayang...tante Hanum lagi sakit kepala...nanti kalau udah sembuh, tante pasti pake jilbab..”

“Iya Aisye, tante lagi sakit kepala...”, jawab Hanum mengada ada. Terlihat raut muka tertohok mengambang di wajahnya.

“Owh, tapi janji ya tante kalau sudah sembuh nanti pake jilbab?”

“Iya Aisye...tante janji...”

Dan apakah janji Hanum pada Aisye ditepati nantinya??

Sabar dulu. Seperti halnya Perahu Kertas, film ini pun menyuguhkan sekuel. Akan ada part. 2 yang segera release setelah film part yang pertama ini.

“Lah, cuman gitu? Terus, biasanya khan kayak Ayat Ayat Cinta gitu khan ada part dimana para penonton akan meres tissue berjamaah, ini ada nggak??”

Owh, santay...

“Seph, jangan nangis lo ya, aku mudeng nih maksutnya nih, pasti mati nih...”, ucap saya begitu saya melihat gelagat kematian akan ditampilkan.

Bukannya Uma yang nangis, tapi justru dia tergelak gelak begitu melihat bibir saya bergetar getar karena mimbik mimbik seperti Om korban “Om Om, truk aja gandengan, kok Om nggak???”.

“Nangis Seph??”, ucapnya.

“Tissue mana tissue?”, ucap saya sambil berderaian.

Nyesek saya kalau begini caranya. Ternyata selama ini alasan dia memakai jilbab bukan hanya memang karena memakai jilbab adalah fardhu, tetapi juga menyembunyikan kepala tanpa seuntai rambut itu. Dan bahkan, dengan keadaan sedemikian rupa dia mampu mengubah hidup orang lain menjadi seorang muallaf, bahkan memutuskan untuk memakai mahkota muslimah.

Satu potongan scenen di akhir cerita akan menyentuh relung Anda. Lihat saja.

Just go and watch it. Ini keren!!

Dan saya menantikan part. 2. Saya juga menantikan film Edensor yang sudah siap sedia meluncur. Agaknya mall baru di samping tempat kerja saya yang katanya 21 Cinema nya akan dibuka di awal tahun depan akan mempermudah langkah saya. Ya syudah kalau begitu, saya tidak mau melihat maxi dress maxi dress di shop online, dan kalau saya ditag, saya nggak mau lihat. Saya mau merem saja.

Menonton film ini membuat  keyakinan saya memuncah untuk terus berjilbab. Saya memang belum bisa memakai jilbab seperti yang seharusnya, tapi setidaknya saya terus belajar. Dan memang memakai jilbab syar’i tidak semudah membalikkan telapak tangan.

But one day, I surely will.


Selamat menonton! Semoga suatu saat kita juga bisa menjamah setiap sudut kota di film itu. Aammin ya robbal alamien...



14 comments:

  1. Pengen nonton film itu, dari pertama trilernya kluar udah langsung kesemsem, tapi sayang dompet lagi gak bisa diajak kompromi -,-

    ReplyDelete
  2. penasaran sekali nih,,, kapan kiranya bisa nonton film tersebut..
    semoga saja rejeki juga lancar, liat filmnya juga mantap..terimakasih atas reviewnya ya.. ya...

    ReplyDelete
  3. Aduh, nyesel kemarin nggak nonton ini. Soalnya waktu itu di tengah kegalauan mau nonton tenggelamnya kapal, soekarno, atau 99 cahaya. Eh, pilihnya gue malah tenggelam kapal, dan soekarno. Mau nonton langsung 3? Nggak kuat. Yang ada malah puyeng. Okay, next... harus nonton ini deh. #curhat

    ReplyDelete
  4. aku suka banget sama judulnya....
    kayaknya filmnya bagus banget ya...
    tapi aku lagi menghindari film yang bikin terharu nih...nggak kuat nyeseknya... :|
    but overall, film ini recomended banget buat memperbaiki iman yang makin menipis...

    ReplyDelete
  5. aduuh pengen nonton filmnya nih.
    sekeren bukunya gak ya?
    kalo dari reviewnya sih enggak terlalu .
    apalagi ada fatin disitu, hohoho

    ReplyDelete
  6. Ah. Gini aja, nunggu file bajakannya aja. Abis itu nonton bareng deh. *ini ketawan anak stm conta pembajakan.

    Lahiya, abis liburan ga ada duit. Terus masa mau nebelin iman harus punya duit dulu -_- harusnya film ginian langsung aja disiarin di tv. Btw kayaknya ada indikasi filmnya bakal muncul versi sinetronnya kayak tukang ubur-ubur naik gaji.

    ReplyDelete
  7. aku belum pernah nonton tuh. aku cuma tau promonya aja. wah, jadi penasaran pengen nonton filmnya.

    ReplyDelete
  8. Yg nulis namanya hanum juga.. Pake nama asli. Ini kayaknya cerita diri penulisnya.

    Jiah,ga enak bgt bersambung...

    Katanya penulisnya ikut main di film itu jadi figuran loh. Jd penasaran.. Jum'at depan hrus nonton nih :)

    ReplyDelete
  9. Hmm, pengen nonton sih tapi males ke bioskopnya,, #kantongkering.. :D
    Gw rasa jg bentar lagi film horor KFC bakal merajai bioskop lagi, ahahaha.. soalnya film-film gini jarang banget keluarnya.

    ReplyDelete
  10. kemarin2 temen2 saya pada ngajakin nonton film ini saya gak minat.. mw nunggu filmya nongol di dvd aja #eh tapi setelah baca post kak Mey ini aaahhh sayaa jadi tertrik pengen nonton di bioskop hmmn cuma kegantung kali yaahh masih ada part 2nya gtu

    ReplyDelete
  11. lihat traillernya saja aku sudah merinding Meyk. aaaakkh jadi pengin onton :)
    ternyata banyak rahasia2 Islam yg sudah tertanam sejak dahulu di bumi Eropa . kereeeennn
    smg nanti kita bsa ke sana ya, amin

    ReplyDelete
  12. kayaknya rame juga eh.. padahal mau nonton kapal van der wijk. iya, cuma karena pevita pearce hahaaha

    ReplyDelete
  13. setuju! emang keren filmnya. banyak banget nyorot keindahan Vienna dan Paris, cool!
    kayaknya yang part 2 nanti akan lebih seru karena lebih banyak konfliknya. can't wait to watch the second part! nanti bikin review lagi yaa hehe

    ReplyDelete
  14. menurut yang kamu tulis film ini keren.. sbg umat labil, kayaknya aku perlu nonton agar dapet pencerahan..
    :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...