Friday, 17 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 1)

Gue percaya kalau setiap apa yang kita yakini bisa terjadi pasti bisa terjadi. Gue percaya jika ada niat berekor amin pasti akan disulap menjadi nyata oleh Tuhan, terlepas dari bagaimana cara kita menyebut nama-Nya. Mungkin ini terdengar berat bingit, gue berasa kayak mau nulis siraman rohani. Tapi, kalau pun lu nggak percaya, at least lu harus percaya sekelumit cerita berawal empedu berakhir madu kali ini.

Hampir setahun lalu, Uma, sahabat gue menjenguk gue di tanah rantau. Saat itu gue masih tergolong ORB, Orang Rantau Baru. Uncluk uncluk Uma bersama Dany menjenguk keadaan gue di perantauan. Tidurlah kita kayak kepiting kering malam itu, di penghujung tahun 2013. Dany harus pulang keesokan harinya, dan Uma masih bertahan di kost gue dengan mengemban satu misi.

“Seph, aku pingin ke Taman Mini Indonesia Indah.” Sorot matanya penuh dengan kobaran semangat. Dan gue mengamini. Dan keinginan itu harus hancur lebur termakan kenyataan kalau ternyata orang Jakarta susah move on. Dan bagai sudah jatuh, terkena tangga, tertimpuk mangga tetangga dan tak bisa bangkit lagi berakhiran dengan the granule of dust, Uma yang ceritanya ke Jakarta mau refresing malah berakhir sengsara. Sehabis kita nonton 99 Cahaya di Langit Eropa, Uma teriak panik! Gue jelas ikutan panik!!Matih, dia ternyata cacar air!!!

“Kenapa Ya Allooooh???? Kenapaaaaaaaaaaaaaa?????” 

 Maka, luluh lantah lah semua rencana yang udah kita bina. Liburan yang harusnya menyenangkan, naik railway memutari TMII di ketinggian, berpose di tiap tiap rumah adat, menjelajahi bentangan Indonesia hanya di bentangan batas pandang, menyusuri dari Padang sampai Merauke yang berjajar pulau pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia hanya dengan kayuhan kaki satu hari berakhir anti-klimaks dengan gue yang ketularan cacar air 2 minggu kemudian.

“Seph, sesungguhnya kita sedang diuji. Tapi, kata kamu, kamu ke sini mau menebar semangat dan kebahagiaan untukku yang sedang di perantauan. Tapi, kok kamu malah menebar virus cacarrr!!! Gatel niiiiih!!! Di perut mau meletus satu niiihhhh!!” Gue hilang kendali setelah kena demam sehari sebelumnya.

Tapi, seperti halnya putus adalah jodoh yang tertunda, gue dan Uma yakin dan percaya kalau gagal hanyalah keberhasilan yang tertunda. Satu tahun yang lalu, gua dan Uma berjanji kita akan ke TMII, bersama sama!! As soon as possible. Setelah itu, gue kembali menjalani hidup gue di Jakarta dan Uma bekerja di Lombok. Kita sama sama meninggalkan hometown kita, Semarang demi masa depan yang lebih berpijar. InshaAlloh....

Nih kalau nggak percaya gue kemas cerita penuh empedu kita setahun yang lalu :



--------------------------
13 Oktober 2014

“Huwaaaah, itu pulaunya bagus banget, Seph!!"


"Iya, siap siap!! Sebentar lagi kita akan melewati bentangan Nusantara yang maha cantik dalam kejapan mata!!"

"Bentar, mana tongsisnya!"

"Aduh, sebentar sebentar...Ayo cepetan keburu abis."

"Iya ayoooo!! Siappp, 10 menit yaaaaak!!!"

"Prettt!!"



We made it!!
--
“Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi?”

“Apakah Uma terbang dari Lombok ke Jakarta hanya gara gara Taman Mini Indonesia Indah?”

“Apakah tiket pesawat Lombok-Jakarta sekitar 700k?”

“Apakah Uma tiap hari kepedesan?”

“Apakah Uma masih single?”

Sebentar, nanti gue akan jawab semuanya. Janji. Tapi, gue terlalu excited untuk menceritakan semua petualangan gue bersama Uma.

Minggu, 12 Oktober 2014

Saat itu gue lagi ngadem di kamar sambil liat drama Korea saat Uma minta jemput di terminal Kampung Rambutan. Segera gue berganti baju dan naik angkot karena gue nggak tau rute ke Kampung Rambutan pake motor secara angkotnya gaul gilak lewat tol.

“Seph, elu dimane???” Ceritanya gue lagi main Jakarta Jakartanan sama Uma. Dasar Uma emang you-know-me-so-well, dia jawab dari ujung kaleng susu Bendera.

“Guweh udhah dhi lhuar shelter nhih..eluh dimhanhah? Ngemeng ngemeng guweh njawab dhari ujung hape ya, lhu phikir prakarya jaman SD pake kaleng susu nBendhera dibhawa bhawah??” Matih dia tahu.

Lu tau nggak ternyata dia dimana?? Persis di belakang gue!!! Begitu gue membalikkan badan gue secara slowmotion pake ujung jilbab berkibar kibar diterpa angin, gue liat ada seorang mbak mbak pake rok dan kemeja dengan sandal gunung dan tas ransel segede gaban. Tinggal dia bikin api unggun sama nggelar sleeping bag di tengah tengah terminal  Kampung Rambutan, suasananya udah kayak lagi naik gunung Rinjani di Lombok sana.

“Ehm, kamu Uma yang merantau sampai Lombok itu bukan??”

“Iya, aku Uma...kamu Meykke yang sok sok move on sampai ke Jeckardah khan?

“Iya...”

 Karena sudah beberapa bulan nggak ketemu, gue girang banget ketemu dia. Rasanya gue pingin pelukan kayak Tinky Winky ketemu Dipsy lalu ada Inu lagi nyedot debu.

Malam itu, setelah makan dan mandi, sekitar pukul 21.25 gue dan Uma bergegas ke mall depan kost gue. Iya, di sini untuk bisa menjamah mall dengan segala alat penyedot dompetnya gue cuman tinggal jalan. Ibarat kate, kepleset juga nyampe. Malam ini, gue dan Uma akan pergi nonton. Ada beberapa pilihan film malam itu, yaitu Annabelle, Dracula, My Idiot Brother, Kuntilanak Sungai Ciliwung (kalau nggak salah), dan The Judge. 

Pertama, gue pingin Annabelle, tapi Uma takut karena Annabelle mirip Susan dan Susan sering nyanyi,

“Susan...susan...susan....kalau gede, mau jadi apaaaah??”

“Akuuu...mau jadi dokteeeel...”

“Nggak mau jadi Annabelle khan??” Sampai sekarang gue belum paham apa keterkaitan antara ketakutan Uma yang teramat sangat terhadap Annabelle dengan nyanyian Susan.

Gue mau nonton Kuntilanak Sungai Ciliwung, tapi lagi lagi Uma menolak.

“Seph, entar kalau kuntilanaknya buka buka baju terus mandi di sungai Ciliwung gimana?? Nggak ahh, buka buka aurat. Naudzubillahimindzalik.” Lalu, gue bayangin si kuntilanak tiba tiba buka baju sambil ketawa hihihi.

“Hihihihi...” buka baju

“Hihihihihi...” ambil gayung

“Hihihihihi...” sabunan

“Hihihihihi..” ngucek baju

“Hihihihi...” kucek kucek peres peres kucek kucek peres peres. Ini Kuntilanak apa penonton Dahsyat?? Di point ini gue gamang. Yang ada kalau Kuntilanak nyuci bajunya di kali Ciliwung, bukannya putih tapi jadi item bajunya. Masih nanti kalau ada yang ngintip? Lah ini Kuntilanak apa Nawang Wulan? Jaka Tarub mana Jaka Tarub??? Kuntilanak pasti sedih. Dan karena gue nggak mau sedih, gue nggak jadi liat itu ataupun My Idiot Brother. Gue udah pernah liat thrillernya sambil ngupas bawang. Kali ini gue mau seneng seneng, bukan nonton film sambil ngelap ingus. Jadilah gue dan Uma nonton Dracula!!





Film ini sejenis dengan film Hercules yang juga diputer beberapa minggu lalu. Setting cerita ini jauh kala dulu saat masih pake baju serba baja dengan shield, row dan bow serta sword buat perang. Dan karena gue adalah penggemar Van Helsing dari jaman bahelak, gue menikmati setiap adegan dengan mata penuh binar. Apalagi saat adegan slow motion istrinya jatuh dari biara di tepi bukit dan si vampire nggak mampu meraih tubuh sang istri karena matahari sudah menyingsing dan kekuatannya hampir melemah. Lalu, adegan keren selanjutnya saat dia harus menggerus nadi leher sang istri dan meminum darahnya. Bahkan, untuk berkedip pun gue nggak ikhlas. Nonton di cinema dengan layar segede papan reklame ditambah sound system yang jedug abis itu sensasinya emang dapet banget.

Tapi, ada satu yang gue bingung. Ini soal Uma. Normalnya, tiap kali ada adegan vampire ngisap darah, penonton akan mengernyitkan dahinya dan bergidik ngeri. Lah, Uma???

*vampire meringis, gigi taring kemana mana*

“I will kill you!”

*vampire ngrobek leher orang*

*suasana mencekam*

*sunyi sepi*

Uma : “Hahahaha...lucu seph..hahaha..”

Gue : ............

“If you drink my blood, you will feel what I have, my strength.”

*dia minum darahnya*

*dia memegang leher, seperti tercekik*

“now, what will happen?”

“you die.”

*gue tercengang*

Uma : “hahahha, enak banget yang ngomong, Seph. You will die. Hahaha...”

Ebuseeeeeeet, ni anak lagi nonton Dracula The Untold dikira lagi nonton Kambing Jantannya Raditya Dika apa yak? 

Gue : Ssssttt, jangan keras keras Seph, udah minum obat belum??
--

Akhirnya gue dan Uma keluar pada pukul 22.30 an dengan wajah penuh guratan kepuasan. Mau dikata badan capek berat tapi hati tetap girang.

Akhirnya, malam itu gue dan Uma bobok dulu. Seninnya gue dan Uma akan menunaikan misi yang sempat tertunda setahun yang lalu.

Kali ini gue dan Uma nggak pingin melakukan kesalahan yang sama. Kali ini gue dan Uma akan menjamah Taman Mini Indonesia Indah naik motor. Gue percayakan sepenuhnya nasib gue dan Uma besok pada GPS di ponsel milik Uma.

"Seph, tapi lu tau nggak jalannya??" Tanya Uma dengan muka penuh keraguan.

"Udah, besok dipikir karo mlaku, dipikir sambil jalan." jawab gue dengan muka penuh kekosongan. Kenyataannya, gue sama sekali nggak tau jalan mana yang harus gue lalui. Bahkan, ini akan menjadi perjalanan perdana gue naik motor dengan rute penuh kegelapan, memasuki kota Jakarta. Mana jalan di Jakarta banyak tikungannya. Ini semua demi Uma. Ini semua demi keinginan Uma untuk bisa naik kereta gantung di TMII. Gue yakin gue akan sampai juga di TMII. Jika Tuhan menghendaki.

"Kalau tersesat gimana??"

"Ya yang penting nggak terjatuh dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang...butiran debu nanti kita."


Apakah GPS Uma bekerja dengan baik dan benar, serta bisa membaca apakah itu jalan searah atau dua arah?

Apakah gue dan Uma muter muter di jalan layang sampai hampir balik lagi?

Apakah gue dan Uma tersesat dan tak tau arah jalan pulang?

Apakah kita sempet karaoke sampe suaranya ilang?

Apakah kita benar benar menikmati hidup secara jika lusa kita tlah hidup masing masing, ingatlah hari iniiiiiiiiiiiii....???

Apakah aku tanpamu butiran debu?

Apakah mencari jalan menuju ke TMII sesusah mencari jalan menuju ke pelaminan?

Dan bahkan demi membuktikan pelajaran hidup nomor 23
“If there is a will, there must be a way!!”

Gue sampai cuti satu hari. Di point ini gue dan Uma percaya,

“Seperti halnya Banyak Jalan Menuju Roma, banyak jalan juga menuju TMII. Bisa lewat Jalan Hankam, Cipayung, Bambu Apus, Pondok Gede, Cilangkap, au ah gelap.”

-to be continued-




7 comments:

  1. Hihihi : itu suara kuntilanak lagi keramas.

    Wah, btw si Uma orang apa bukan ya, Mbak? kok tiap kali liat adegan vampir gthu responnya gokil gthu? (?)

    Seru... seru...
    Di tunggu lanjutannya :-)

    ReplyDelete
  2. Jalan-jalan yang ruwet ya, ngebacanya aja ngos-ngosan. :D

    Tapi buat filmnya gue udah sempet liat trialnya, cuman karena gak hoby nonton di Bioskop "Gak ada uang." :D

    Ditunggu aja filmnya saat udah bisa di download. :D

    ReplyDelete
  3. Hahahahaha. Perjalanan yang panjang. Gue cuma mau pesan, kalau lo ke bioskop, sekalian bawa flasdisk ya. Tolong copykan film yang baru ke flasdisk. Ya pokoknya bilang aja sama mbak-mbak bioskop, untuk nonton di kost kalau lagi suntuk :D

    Di tunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  4. wahahaa gamang itu apa artinya ? bahasa mana ? kaya pernah denger hehe, itu dibayangan lo mungkin si kuntilanaknya lagi kesurupan manusia kali ya ? "kucek kucek peres peres kucek kucek peres peres" boleh juga nih dijadiin lirik lagu dangdut terbaru haha :D

    ReplyDelete
  5. si uma apa banget sih liat film vampir kok lucu -___-"
    semoga dalm perjalnan bisa ketemu ke jalan menuju TMII ya mey..

    udah lama nggak kesini nih mey, salma kenal ehh salah,, salam kembali :))) hahaha

    ReplyDelete
  6. Baca tentang TMII jadi inget bu tien Suharto, tadi malem baru baca buku tentang beliau *halah gak nyambung. hehehe.

    Btw mbak, kemarin katanya film Dracula Untold itu di kritisi sama ust. Felix Shiaw lhoo..
    Tapi jadi pengen nonton..

    ReplyDelete
  7. ebuseeett seeepp elu ni bikin image gue tambah jongkok aja -_- gue ketawa gara2 ekspresi aktornya yang lucu keleeess ... besok2 kalo mau nonton cari film yang lucu aja biar gue bisa nangis wakakakakakak

    ReplyDelete