Sunday, 18 May 2014

MENGARUNGI JERAM DI PELOSOK BANDUNG!! Part. 1

Kang Heri : "Teh, berdiri aja Teh.."
Teh Mey : "Kena apa kang??"
Kang Heri : "Kalau duduk nggak keliatan..."
Teh Mey : "Emang ntar nggak jatuh kang? khan ini bergoyang perahunya.."
Kang Heri : "Nggak Teh, insyaAlloh...khan jodoh, maut, rejeki di tangan Alloh..."
Teh Mey : "Ya udah, bismillah..."
Sepanjang mata memandang hanya ada air tenang dengan riak satu satu terbentang. Beberapa kapal dengan penuh penumpang tampak hilir mudik membelah rawa. Beberapa perahu panjang dengan hanya satu orang mendayung di tengahnya juga nampak menawan di ujung retina. Mentari bersinar terang seakan mengamini Rihanna, “Shine bright like a diamond, shining bright like a diamond..... Oh mennn, kini satu kayuhan lagi gue bisa mencentang bucket list nomor sekian. Kayuhan kaki di batas senja tujuh bulan lalu mengantarkanku gue, anak rantau asal Jawa sampai di tanah Sunda ini bersama anak anak Betawi yang ramah sekali. Gue menghirup udara yang segarnya sampai ke sumsum tulang belakang ini dengan pantulan mata penuh binar. Setu Cileunca, rawa di ambang mata seakan berkelakar menyambut gue,

“Sok mangga ulin ka dieu!!!”

Lalu dengan penuh takzim gue menjawab,
“Inggih, kulo pancen bade dolan kaleh sampeyan!! Sumonggo mang diderekaken!”
“Ora popo...” Jawabnya menimpali gue. Kayaknya dia kebanyakan nonton Opera Van Java.
Bersama teman teman baru ini gue mendayung terkepung kilahan air menuju pucuk sana untuk akhirnya meliuk liuk di sungai berliku penuh riak, penuh canda, penuh tawa dan penuh kenangan. Let’s go!!!

---

IF THERE IS A WILL, THERE MUST BE A WAY! MUST!!


Perjalanan ini bermula dari khayalan berjamaah gue dan Miss Dian tiap kali nyari inspirasi di teachers’ room. Cuman, kami sering salah fokus, bukannya nyari inspirasi di buku grammar malah nyari inspirasi di google dengan kata kunci “RAFTING BANDUNG”. Entah darimana asalnya, kami berdua ingin sekali mencoba terpental pental di sebuah perahu karet.

“Ih, ini kayaknya keren Misss...” lalu gue buru buru ngelap mulut gue yang mulai berbusa.

“Iya, ke Sukabumi naik apa ya Miss?” Dia bertanya ke gue. Ini bagaikan bertanya pada burung gagak yang lewat depan rumah.

“koaaak...koaaak..koaaak...”

“Miss Dian, tahukah kamu dari mana aku berasal? Aku berasal dari sebuah kota kecil di kabupaten Semarang sana bernama Ambarawa yang berjarak sekitar 500 km dari sini. Bila kisanak nak bertanya tentang ke Sukabumi naik apa, lalu kemana lagi ane nak mencari jawaban?” Miss Dian mengangguk angguk tanda mengerti. Lalu kita mulai mendapati satu masalah.

Sukabumi terlalu jauh, sodara sodara. Lalu, Miss Dian mendapati hidayah kalau kita bisa ke Bandung saja. Ini lebih dekat. Setelah mencari di Google juga Youtube, akhirnya pilihan kita jatuhkan di salah satu spot Rafting Bandung bernama Setu Cileunca.

Masalah tempat sudah beres. Nah, sekarang disusul masalah baru.
“Miss, kita ke sana sama siapa Miss?” Lalu kita mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Teman kerja sih ada, cuman kita satu golongan tetapi beda aliran. Mereka lebih suka menancapkan pandangan ke tas tas indah dengan baju yang menjulur julur daripada naik kapal ban di sungai lalu basah semua sekujur badan.

Satu satunya harapan gue terletak di genggaman Miss Dian. Apa yang bisa diharapkan dari anak rantau semata wayang hobi ngupil yang butiran debu kayak gue? Setiap hari setelah pulang kerja gue cuman berteman sepi terkebung empat bilah dinding pasi yang kadang gue ajak omong.

“Udah makan belum Di? Gue lafer nih...Nasi masih ada khan di magic jar??”

“..................”

“Oh iya, gue khan hari ini nggak masa nasi ya? Hahaha...Enaknya makan apa ya Di??”

“...................”

“Ah, iya bener bener kayaknya tinggal beli kornet terus dimasak di magic jar aja udah gitu yak...ide bagus Di...”

“.................”


Lalu, gue berdoa siang malam semoga Miss Dian mendapatkan satu buah paket teman rafting yang bisa menyusun langkah bersama berlekukan di sungai yang jernih airnya, segar udaranya. Aamiin...

--

“Gimana Miss??”

“Ahh, aku udah dapat 3 teman dan juga bareng adik dan keponakan aku Miss. Mereka fixed!” Bunga bunga lalu menelusup ke jantung hati nona yaitu jantung hati gue. Lalu gue sujud syukur. Gue dan Miss Dian kemudian saling menyilangkan lengan di punggung masing masing teman. Kita berpelukan.

“Apakah ini benar benar kenyataan Miss Dian??”

“Iya Miss Meykke...Inilah kenyataannya...”

“Alhamdulillah Ya Alloh, terimakasih ya Alloh...tolong Meykke Ya Alloh....”

Kita kemudian berhamburan ke taman penuh bunga berwarna kuning dengan kain sari yang membelit masing masing pinggang.

“Kabhi Kushi Kabhi Ghaaaaam...”

*udah ah main sinetron Indosia*nya.

*nih pembukaan aja panjangnya kayak nulis skripsi

--

LET'S GO BABY!!!

4 Mei 2014

Itu adalah tanggal terbaik yang bisa kita pilih. Sebenarnya gue dan Miss Dian memilih pertengahan April. Hanya saja teman teman Miss Dian yang amat sangat sangat kami butuhkan ini belum bisa pergi. Jadilah hari itu akhirnya gue pagi pagi di hari Minggu udah mandi. Ini jelas hal yang sangat langka terjadi di dunia ini.

Ah, sebelumnya Miss Dian telah mengatur secara tuntas pembayaran kita bertujuh. Satu orangnya dikenai biaya 175 sekali dayung walau nggak 2-3 pulau terlampaui. Gue mendayung di sungai, bukan di laut. Setelah uang ditransfer, akhirnya urusan booking membooking menemukan titik terang kayak apa yang dikatakan Ibu Kita Kartini. “Habis gelap terbitlah terang.” Cihuyy!!

Jam 6 pagi hari bersama Sera gue menarik gas sejangkauan jari menuju ke rumah Miss Dian. Di sana, mobil sudah siap dan ada teman Miss Dian juga sudah sampai di TKP. Intinya, gue telat -.- 30 menit.

“Maaf beribu ribu maaf, kawan...”

Bukannya gue membawa serta budaya 'alon alon penting kelakon telat ora popo', tapi gue belum begitu terlatih menjadi anak kost yang dari mandi sampai siap siap dikerjakan sebatang kara.*ngeles *padahaltelatbangun

Ngomong ngomong soal temen temennya Miss Dian, gue belum pernah kenal sebelumnya. Beneran.

“Ehm, kita belum pernah ketemu khan Mas sebelumnya? Baiklah, ehm dengan mas siapa?” *LupikiriniacaranyaDeddyCombantrin? *owhyamaap

Tetapi yang gue suka dari merantau adalah gue bisa menemukan tempat tempat baru yang belum pernah gue jajaki sebelumnya. Gue akan melakukan banyak hal baru dan yang paling penting adalah bisa bertemu dengan orang orang baru. Walau pun di awalnya gue butiran debu. Tapi nggak papa, butiran debu adalah gumpalan debu yang tertunda.

Di mobil saat berangkat gue bingung mau ngomong apa karena gue juga belum tau nama mereka siapa. Saat naik mobil, gue hanya melemparkan senyum seolah berkata,

“Assalamualaikum ikhwan, my name is Meykke from Ambarawa...”

Semoga mereka mengerti. Seiring berjalannya mobil melintasi tol Purwakarta menuju Bandung, sedikit demi sedikit gue tahu nama nama dari masing masing mereka. Nanti kalau udah foto sampai di Bandung gue kasih tau buat lu.

Saat di mobil sebenarnya gue pingin ngajakin mereka foto gitu bertujuh, cuman gue mengurungkan niat. Takut mereka terbebani.

“Ohh meeeennn, ni ukhti kayak anak alay yang laferr aja apdet status, mau makan bukan berdoa tapi foto dulu....makanannya.”

Nggak jadi. Urat sisa gue masih tersisa.....dikit. Lalu, mobil kembali melaju syahdu.

Sebenarnya ini adalah kali ketiga gue mengayuhkan langkah ke Bandung. Yang pertama di awal awal gue kerja bersama tante, om dan sepupu. Saat itu kami piknik ke Ciater,lalu berubah menjadi koboi di D’Ranch dan juga menginap di salah satu vila dengan banyak pendaran titik sinar di malam hari yang bisa dilihat dari balkon vila, La Oma hotel and Resto. Yang kedua adalah di awal tahun 2014 bersama big boss dan teman teman kerja tanpa Miss Ayu dan Miss Dian karena belum bergabung. Saat itu gue menyaksikan bilahan asap abu abu yang tak henti hentinya mengepul di Kawah Tangkuban Perahu dilanjutkan turun ke Bandung mengunjungi sahabat gue dan menikmati panorama Gedung Sate di sore hari, juga segarnya hembusan udara pagi Kota Bandung di carfreeday Jalan Dago keesokan harinya biar kayak anak gaoool Bandung. Now, I am coming again!!

Dari deru asap dimana mana khas kota Jakarta (oke well, ini Bekasi anggap aja Jakarta gitu biar asapnya lebih kerasa), lama lama hehijauan mula terpampang di sepanjang jalan menuju Bandung. Bahkan, di tol Purwakarta gue bisa melihat bukit bukit dengan rel kereta api yang membentang dari pucuk satu ke pucuk lainnya, seakan rel relnya yang gagah perkasa melayang di antaranya. Andai gue bisa naik kereta melewati jalur itu sensasinya pasti keren kayak di Hollywood saat Shah Rukh Khan nyanyi Chayya Chayya.
*itubollywoodkeles *alaahsamasamaoliwud
*briptuNormanapakabar

Setelah mengayuh 100km lebih, akhirnya kami keluar tol dan udara Bandung sudah mulai menyeruak. Dari Bandung kami mulai melanjutkan perjalanan ke Pangalengan.

“Wilujeng Rawuh!” Itu adalah kalimat yang banyak terpampang di pagar pagar sekolah dan instansi pemerintah. Kalau di Jawa semacam “Sugeng Rawuh” alias Welcome. Ohh menn, sekarang gue sedang berpijak di tanah Sunda bersama teman teman Betawi asli. Lalu, kami membelah jejalanan bandung, naik terus, terus dan terus!! Ahh, semangat terus berletupan kayak popcorn rasa caramel dan keju.


“100 metres, turn left....”

“100 metres, turn right...”

“100 metres, turn around, go home..”

Kira kira begitu bunyi HP milik mas Zaki, salah satu personil girlband kite. Untungnya kita ditemani mbak mbak kurangkerjaan yang ibarat mas Zaki adalah Dora, dia adalah peta.

“Mana peta?? Mana petaa???Tanya Peta? Setu Cileunca dimana??”

“100 metres, turn left...”

Setelah turn left,

“100 metres, go straight...”

Setelah jalan lurus –sepuluhyangmestiditempuh, yangpertamabahwaAllohMahaEsa,yangkeduaMuhammadRosulKita,erirerireirerirerieee...- ,si mbak mbak komentar lagi.

“100 metres, turn right...”

Gitu mulu sampai kiamat. Nggak nyampe nyampe!! Kami sudah duduk di bis selama 3 jam udah makan roti minum nutrisari tapi nggak nyampe nyampe. Dan jalannya, beuuuh.....

Jalan Pangalengan mengingatkan gue jalan akan ke Bukit Bintang, Jogjakarta. Jadi inget setahun silam saat gue mengarungi jejalanan di Gunung Kidul Jogjakarta demi tujuan yang hampir sama! Goa Pindul! Hanya saja dulu gue raftingnya cuman pake ban ditarik pake tali dengan bapak bapak yang berenang menunjukkan jalan yang benar. Jalannya terus menanjak dengan jalan yang lika liku. Gue bingung, ini jalan raya apa jalan hidup, gini amat berliku likunya. Cuman, jalan Pangalengan ini bisa gue bilang jauh lebih ekstrim dua kali lipat daripada jalan ke Bukit Bintang, juga lebih jauuuuuh. Ini tuh jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh bingits. Kita harus pelan pelan karena lekukannya sangat curam. Gue kegirangan, berasa naik jet coaster versi real.

Tapi semua usaha yang dikerahkan sama sekali not at all sia sia. Woyoooo, every single struggle will pay off, men. Kita disuguhi panorama serba hijau di sepanjang jalan dengan udara dingin yang menyapu nyapu wajah, menusuk dalam sampai ke pangkal ulu hati. Segarnya subhanalloh bukan main. Sekarang, kita tak perlu lagi AC, buka saja jendelanya dan udara sejuk menyeruak ke penjuru mobil. Ahhh, sumpah! Gue jadi kangen banget sama Ambarawa tercinta. Coba kalau lagi di Jakarta gue buka nih jendela. Yang ada kedua corong hidung gue akan menghitam saking membahananya kepulan asap yang membumbung memenuhi seantero kota. Ini berasa kayak malem malem mati lampu terus nyalain sumbu minyak tanah. Tapi, kali ini lain. Kali ini gue sedang dibuai angin syurga.

Gue langsung kesurupan drama Korea. Begitu gue buka jendela mobil, gue memampangkan wajah gue sepenuhnya, lalu gue akan memejamkan mata seolah olah merasakan tiap inci wajah gue yang terbelai mesra oleh angin sepoi sepoi. Gue meresapi banget tuh momen. Gue berasa kayak Song Hye Kyu versi muslimah bersama Lee Min Ho menyetir tepat di sebelah gue. Sebenarnya gue juga pingin mengeluarkan sebilah tangan gue keluar dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lalu gue akan berimajinasi seakan rambut gue terburai menjulur julur dimainkan angin. Ah, indahnya dunia. Cuman sesi mengeluarkan tangan gue urungkan. Gue gelisah kalau kalau temen temen yang baru gue kenal dan juga merupakan temen berlabel ikhwan pertama yang gue punya semenjak gue merantau ini merasa terbebani hidupnya.

“Aduuuuuuuuuuhhhh, nih wong Jowo norak amaaaatttt!”

Tapi ngomong ngomong soal temen temen seperjalanan gue ini, gue jadi inget temen temen cowok seperjalanan gue saat mengarungi jalan setapak menanjak Gunung Andong, setahun silam. Gue fikir cowok cowok Jeckardah adalah cowok cowok yang sudah terkontaminasi oleh polusi, tetapi kali ini anggapan gue tidak sepenuhnya benar. Travelling bersama mereka berasa kayak travelling bersama teman teman SMA gue dulu; baik, asik, lucu, dan tidak menakutkan. Nanti gue ceritakan lebih lanjut kalau udah abis travelling bareng.

Setelah mengarungi jejalanan selama LIMA jam. Whattt?? Limaaaa??? Iya, kita mengarungi jalan selama 5 jam!!! Akhirnya dari kejauhan sebentangan rawa seakan tanpa batas melambai lambai seraya berkata,

“Wilujeng Sumping, Meykke....”

“Owh nggeeeeeh...Matursuwun..” Gue berapi rapi mengamini kata Bang Haji Rhoma Irama.

“Bang Haji, you are right!! Masa muda memang masa yang berapi api bang Hajiiii!!!” Gue main holahop pake jari di dalam mobil saking girangnya.

“Lihat, itu Setunya, kawaaan!!!”

sumber


“Oh My God, air berkilahan kegemaran telah memanjang di batas pandang!! Let’s goooooo!!!”

Gue masih belum percaya kalau akhirnya bucket list nomor sekian akan segera terkatamkan sudah.

"Nah, kalau mendayung jangan lupa pegang dayungnya tangan kanan di pucuk, dan tangan kiri di tengah. Kenapa pucuk?? karena kepala teman taruhannya." Ucap Kang Heri dengan mimik serius saat briefing sebelum mulai rafting!!

Abis itu foto dulu biar kayak anak gaol!

--
Lengkap dengan jaket pelampung juga helm gaul anti batu, gue sudah berdiri tepat 7 cm di batas rawa. Gue melayangkan pandang dan air yang berkilatan menyapa gue penuh hangat. Teman teman gue juga dengan wajah penuh binar sudah mulai masuk ke perahu karet masing masing.

Dengan personil 7 biji, kita menyewa 2 perahu. Satu perahu maksi diisi oleh 6 orang ditambah guard!!

selfie dulu biar gaooool
nggak cuman muka, kaki juga perlu selfie. kurang gaoool ape gue.

Di Setu Cileunca ini kita akan mengarungi pesona dihantam riak sungai Palayangan yang syahdu dan mesra!!
Bentar ya, gue merasakan sensasi terkoyak koyak dulu sebelum gue lanjutkan cerita gue yang sudah panjang kali lebar bagi dua ini. Kalau kebanyakan nanti lu baca cuman awal sama akhir padahal gue nulisnya sampai mimisan.

Tapi, menurut gue, hal berharga dari suatu travelling bukan hanya saat mata beradu tujuan. Lebih dari itu, yang berharga adalah pengorbanan dan perjuangan untuk bisa merengkuh tujuan. Dan ini adalah selumit cerita tentang perjalanan panjang yang gue dan teman teman gue lalui demi sebuah perahu karet bergoyang goyang di sela bebatuan sungai. Rafting!!!

Lalu,

Apakah akhirnya gue puas dengan koyakan dan segenap pelanting yang dihasilkan oleh Sungai Palayangan?

Apakah gue bisa berfoto di sela sela mengarungi jeram makanya namanya arung jeram?

Apakah perahu yang gue tumpangi terkoyak lalu terbalik kayak di video Youtube?

Apakah batu kali di tanah Sunda sama kayak batu kali di sungai deket rumah di Ambarawa?

Siapa sajakah para ikhwan yang dengan gagahnya menemani dua butiran debu ini?

Apakah Syahrini akan menikah tahun ini setelah menyabet awards?

InsyaAlloh akan gue bahas di bab berikutnya. Gue sedang antri mau bimbingan dulu ke dosen pembimbing siapa tahu bab ini direvisi lagi. *salahfokus *udahluluswoyyyy

"Which favour of your Lord you would deny?



-be continued-

13 comments:

  1. Subhanallah,bagus banget pemandangannya.
    Enak banget ya bisa rafting gitu.
    Jadi pengen deh. semoga aja segera kesampaian. hehehe.

    Itu mbak nya rafting pake rok gt?

    ReplyDelete
    Replies
    1. alah alah alah alaaaaahhhh....:p

      iyaaa, keren khaaann..:p

      Delete
  2. mey tetep aja ya, mau naik apa aja tetep gaoolll. hehe.
    seru pasti tuh rafting. gue pernah mey. tapi gak dilokasi elit kayak gitu. cuma main perahu karet disungai doang, dan sukses kebalik perahunya. untung bisa berenang. :D

    diperjalanan malah kesurupan drama korea. walaupun gak jadi merentangkan tangannya minimal udah ngerasain sensasi jadi song hye kyu versi muslimah. gue jadi ngebayangi kalo song hye kyu nya dijilbabin gimana ya wajahnya. :D

    tapi itu raftingnya belum ke bagian yang menantang ya mey? penasaran gue gimana sih sensasi sebenernya? liburan kayak gitu cuma jadi impian buat gue mey. hhh. kapan2 ajakin gue napahhh.
    *kita doakan saja semoga syahrini lekas menikah biar kebagian undangan ya mey. perasaan syarhini mulu deh dari kemaren* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga cuman seru, tapi seru maksimaaaal cc Rita!!

      ahahaha, ya namanya juga usahaaa :D

      beluuum, tar abis ini ya stay tuned ya cc Rita, hehehe..iya dulu juga jadi luburan impian Rit, ayoooo if there is a will there must be a WAY!!! :D

      iya lha syahrini in banget di inpotaimen Rit..

      Delete
  3. Haduuhh.. jd ngiler pengen rafting.. seru kali yaa... -.-

    ReplyDelete
  4. mey gue bacaa KESELURUHAN TULISANNYA...
    ngggak cukup kayaknya yah, dibikin satu postingan doang, satu postingan ajah bisa sepanjang ini.

    itu menggambarkan betapa asyik dan menyenanggkan liburannya.
    ehh kapan2 ke cirebon asik loh :))

    udah dua orang yang posting liburan keren :))

    ReplyDelete
  5. menarik banget ya rafting di pelosok bandung
    pasti hawanya seger
    di sana udah pake bahasa sunda ya. roaming deh klo dibls pke bahasa jawa, palagi bahasa asmat hehehe jd bahan guyonan.
    cocok buat berbasah2 ria di perahu karet.
    oya gmn kalo di postingan rafting berikutnya diberi tambahan anggaran biaya yang dikeluarin.
    siapa tau aku bisa ngajuin proposal sponsor ke km
    eh, salah...siapa tau pembaca yang pengen kesana jd punya anggaran biayanya hihihi

    asli seru banget arung jeramnya...!!!

    ReplyDelete
  6. Wow.. Kerenn. Setu itu kayak situ kan? Eh gimana sih. Hahaha atau itu danau? Haha.. Kirain arung jeramnya di sungai yang arusnya deres bangetttt sampe bikin orang jatuh #halah haha xD
    Ka meyke kek nya orangnya asik, bisa cepet akrab sama orang baru. Terus lagi merantau sukanya jalan2 mulu. Haha..
    Ini masih ada lanjutannya kan..Pose2 selesai liburan gitu, apakah ada cinlok disana? #halah haha ditunggu part 2nya kak. :D

    ReplyDelete
  7. wahhh kerennnn, sok isukan aing diajakan nyak,
    *hayangeun :D

    ditengah air pun fenomena selfie masih bisa mewabah, tapi tetep gaolll meyyyy. :)
    btw gw juga pernah tuh main ke bandung, tepatnya ditangkuban perahu :)
    baru itu doang sih -_-

    ReplyDelete
  8. Ini postingan lama baru di share ya, Mey? Hmm...Setunya keren. Boleh tuh ke Bandung ntar mampir kesana, sama Meyke yah:D

    Merantau, namanya juga merantau, mencari sesuatu. Ya, sesuatu yang bisa membuat kita bahagia dan menemukan apa yang kita tuju selama ini. #haseeeek

    Keren lah. Semoga cepat akrab juga kalau ketemu saya ntar. ^____^

    ReplyDelete
  9. travelling itu bikin kita happy ^^

    aku baru tau kalo di bandung juga ada pemandangan seindah itu :D

    ReplyDelete
  10. wojojojojojojojojojojojo,,,,


    segitu besar perjuangannya buat rafting :D ...

    itu kenapa pakek rok miss diannya :D .

    kok potonya hanya di danau ? rafting di danau ?

    ReplyDelete
  11. hmm aga capek bacanya kak Mey. tapi seruuu!!. masa muda emang harus berapi-api hahaha.

    btw itu saking kepinginnya kakak yaa buat nyobain yang namanya rafting, sampe berjuang melakukan perjalanan yang bergitu jauhnya. tapi pasti semua itu terbayarkan setelah kakak berhasil mengarungi sungai dengan perahu karet.

    ternyata Bandung juga punya tempat liburan yang asik juga. btw udah banyak banget yang posting tentang liburan. gue sendiri? ahh mending liburan di rumah aja wkwk.

    seru banget kak, di tunggu ceritanya pas menaiki arung jeram yaa hehe

    ReplyDelete