Sunday, 19 January 2014

Saat Tusuk Sate Bertemu Gedung Sate, Bandung!

Bertitik awal dari sebuah kota di Semarang, gue tidak menyangka pada akhirnya bisa berdiri di bangunan terkenal sekujur Indonesia ini. Gedung satu ini masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan pemerintahan Jawa Barat menuju tercapainya masyarakat yang gemah ripah repeh rapih kerta raharja. Kamu tahu berapa umurnya? Bahkan, dia sudah ada sebelum nenek gue tercipta, itu tandanya dia sudah eksis di 3 sampai 4 keturunan. Umurnya tak kurang dari 90 tahun!

Kali ini akhirnya gue ada tepat di depannya. Sudah banyak kali sahabat gue, Dany Aprilla ini mengiming imingi pemandangan serupa bahkan sejak gue masih membekali diri di Salatiga. Finally, here we are!! Gedung Tusuk Sate, Jalan Diponegoro No. 22 Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.



-----

Puas mengitari MonumenPerjuangan Bandung, kita melanjutkan perjalanan lurus ke depan menuju gedung sate, sang icon kota Bandung yang bahkan tidak hanya terkenal se Indonesia, tetapi juga di kacamata internasional. 

Bangunan ini berbentuk bangunan persegi panjang, membentang dari selatan ke utara, dan bersumbu lurus ke tengah-tengah Gunung Tangkubanparahu. Sayap timur Gedung Sate ditempati Kantor Pusat Pos dan Giro yang pada tempo dulu disebut PTT. Sedangkan bangunan tambahan pada sayap barat, merupakan Gedung DPRD Propinsi Jawa Barat yang baru dibangun sejak tahun 1977.

Berhubung jalan pintasnya ditutup kita harus memutar dan kali ini nggak cuman pake kaki, juga gue harus pake duit. Naik angkot seharga 2000 saja.


Dany siap naik angkot
Dan sampailah gue di depan wajah Gedung Tusuk Sate. Banyak pertanyaan mengitari pikiran gue.

“Kenapa tuh di pucuknya, kayak ada tusuk satenya?”
“Apakah benar dulu Ir. Berger, sang perancang bangunan berseni tinggi ini gemar melahap sate?”
“Itu tusuknya ada berapa?”
“Harga sate dulu berapaan yak?”
“Duh, abis ini makan yak, laferrr...”

Dan akhirnya semua pertanyaan gue terjawab lunas.

“Alasannya, tak lain karena di puncak menara gedung terdapat tusuk sate dengan enam ornamen berbentuk jambu air. Konon, keenam ornamen tersebut melambangkan modal awal pembangunan pusat pemerintahan sebesar enam juta gulden. Tusuk sate yang tertancap di puncak bangunan ini semakin menguatkan ciri khasnya.”

Lalu gue manggut manggut tanda mengerti. Tak lupa kita menorehkan jejak melalui lensa Lee Suhi gue. Ini jelas harus diamankan, begitu menua, kita bisa menengok kembali masa muda, nanti....

the building looks so gloomy and cold




Yihaaaa, we are right here!!

---

Akan kemana lagi kaki kita, kak??”

Pertanyaan meluncur dari bibir gue. Ini belum gelap dan gue belum ingin mengakhiri jalan jalan sore, tertanggal 4 Januari 2014 ini. Gue sudah sampai di sini, dan gue harus melalang buana. Gue juga sudah siap sedia menyelipkan koyo di saku tas ransel gue.

Lalu, berjalanlah kita di tepian jalan Bandung dengan begitu banyak pohon rindang berdiri mengayomi di sepanjang perjalanan. Di sini, gue rasa rasanya bisa menghirup lagi udara Salatiga. Cuaca dan kesejukannya bisa dibilang 11 12 dengan kota Salatiga. Hanya saja, di sini rongga dada gue merasa tidak sesak akan hal hal yang tak kasat mata. Hal hal yang membelenggu derap.

Nah, dari balik pagar, bunga bunga bermekaran dan ditata dengan sedemikian apik. Banyak pula muda mudi yang berpose di tiap sudutnya. Entah bersama keluarga, sahabat, atau pacar. Kita juga menangkap pemandangan ini di balik pagar.

icikiwirrrrr

Yak. sampailah kita di sini!


Dengar dengar, taman ini terhitung baru. Untuk memasuki taman ini, kita hanya butuh menulis nama sebagai daftar tamu tanpa membayar sepersen pun. Gue suka yang model kayak begini. Kalau gue liat liat, di Bandung begitu banyak taman taman. Bahkan, di bawah kolong jalan layang pun dijadikan taman. Taman apakah itu? Nanti dulu...

Sekarang kita ada di taman bunga. Lumayan banyak bunga yang tersebar di taman ini. Di ambang magrib kita menyempatkan diri untuk menikmati semerbak bunga di sini. Aih, belum masuk pun baunya sudah tercium. Banyak kali bunga bermekaran di taman ini.








Di tengah lalu lalang pengunjung, di sapuan angin sepoi sepoi yang menyejukkan, tanpa polusi dan deringan klakson, gue dan Dany mulai jongkok seraya memandang bunga dilanjutkan cekerek, lalu di pinggir jalan antara taman berdiri seanggun mungkin dan cekerek, begitu pula di tengah jembatan merah yang mengalir sungai sungai di bawahnya, kita mengamankan masa.




tempat sampah KEREN!!

Senja semakin larut dan ini tandanya untuk sementara pulang. Dany mulai menerka kira kira angkot mana yang bisa membawa kita ke jalan yang benar. Selesai menghitung kancing, akhirnya dengan penuh percaya diri Dany menyetop sebuah angkot dan kita naik. Satu menit, dua menit, tiga menit..Dany menampakkan tanda tanda tidak baik.

“Kiri pak..”, ucapnya

“Mey, kita tersesat. Kita....butiran debu.”

“Sudah kuduga....”

Lalu, kita berlarian menyeberang jalan dan ...

“Ini Mey...”

“Yakin Dan???”

“InsyaAlloh...”

“Apa kita perlu sholat istikhoroh dulu Dan?”

“nanti dulu, kita masih muda Mey...”

“Owh ya udah..”

Dan alhamdulillah angkot kali ini benar benar mengantarkan kami ke depan kost Dany. Sebelumnya, kita makan nasi goreng ala maicih. Berkasta. Gue sebagai penyuka makanan pedas mencoba untuk naik kasta, hanya saja gue juga harus bisa menguasai diri sendiri. Nggak asoy jadinya kalau gue sok keren tapi esoknya hanya semedi di toilet.

Kita masih punya satu rancangan lagi keesokan harinya. Hal yang tidak akan bisa gue lakukan di kota dimana gue kerja. Ini mustahil. Dan di kota ini, gue akan mengatamkan rasa dahaga gue untuk kayuh lebih jauh lagi. Tapi, mencari sarana kayuhan ternyata tidak mudah. 

Dan apakah kita berhasil mencarinya? Apakah kita juga berhasil menempuh jarak melibas mobil mobil demi ke taman di antara kaki jalan layang? Dan apakah taman itu gue banget???

Let’s see.

sebelum badan berotot, kaki dulu yang berotot -.-

references : http://info.pikiran-rakyat.com/data/pemprov/gedung-sate

10 comments:

  1. HAHAHAHA Kak mey ... baru kali ini aku baca tulisan kak mey gue elo hahhaha
    ke bandung enak kak... sekarang lagi promo pesawat ke bandung tapi males ga ada temennyaaa -__-
    kak mey ke pasir putih deh .. bakalan takjub bangeeeet .. hihiyyy

    ReplyDelete
  2. gue sebenernya pertama kali tau gedung itu di bilang gedung saate masih bingung. kirain depan gedung itu bnyak penjual sate yang jualan depan gedungnya. eh, ternyata kgak yak. eheheheh.....
    mana nih, katanya lo makan sate, mey?
    itu si dany cakep yakk *salahfokus
    yah, smoga kedepannya gedung sate itu msih ttep eksis yak jdi tmpat buat berfoto narsis ria. gue belom pernah ke sono, jdi pgen.
    klo gue yg liat ada org pcaran dpan gue, bwaannya mau ngedoain hal yg jlek. untng yg d situ lo ya, mey bkan gue. heheheheh
    kren fto di tamannya, tong sampahnya juga. tpi yg pling keren sih senyumnya si dany. _ _"

    ReplyDelete
  3. gue pernah ke gedung sate tapi sayang selain nggak foto2 gue juga menjadi gembel jalanan yang iseng nonton konser di gazibu hahaha

    walkot bandung sekarang emang udah ngerubah banyak wilayah2 di kota bandung buat dijadiin taman. dia emang keren. *tepuk tangan*
    salam buat dany mey hehe

    ReplyDelete
  4. entah kenapa aku liat darimanapun tetep nggak nemu bagian yang mirip tusuk sate ya..hahaha
    aduh seru banget kayaknya kalo mbolang di bandung...
    tempat sampahnya kreatif btw...
    itu dany yang anggota baru BE kan ya... sekalian bikin postingan couple dong..kayak aku sama nisa dulu..hahaha

    ReplyDelete
  5. entah kenapa aku liat darimanapun tetep nggak nemu bagian yang mirip tusuk sate ya..hahaha
    aduh seru banget kayaknya kalo mbolang di bandung...
    tempat sampahnya kreatif btw...
    itu dany yang anggota baru BE kan ya... sekalian bikin postingan couple dong..kayak aku sama nisa dulu..hahaha

    ReplyDelete
  6. tusuk satenya nggak keliatan kayak tusuk sate ya kak, lebih keliatan kayak tusuk konde. whehehehehehe
    aku belum pernah kesana. dulu pernah tinggal di jakarta dan pelabuhan ratu, katanya bandung lumayan deket ya dari sana. mungkin lain kali boleh dicoba liburan di kota bandung... :)

    ReplyDelete
  7. Itu gedungnya enggak kelihatan, Mey. Kamunya yang close up:p
    Pengalaman ke Bandung emang keren. Ah, jadi pengen posting liputan ke Bandung yang tak terlupakan sepanjang sejarah *lebay:D
    Terima kasih inspirasinya ya. Semoga nanti bisa kesana bareng kita. Kita? Iya, kita. Mau kan? :D

    ReplyDelete
  8. iyaaa, masih nggak nyangka.. kalau yang mba mekye ternyata nggak tua tua banget hahahaha. abis gara gara ngeliat foto yang di sidebarnya itu. dewasa banget

    aaaaak, tong sampahnya aja kreatif. pantes aja kalau bandung disebut kota kreatif..

    ReplyDelete
  9. baru tahu di gedung sata gituu maklum belum pernah ke sana hehehe,,, dari kemarin kak Mey jalan-jalan mulu.. asyikk banget deh bisa jalan-jaan gitu,,, dari dulu saya juga pengen banget ke bandung selain ibu kota...

    oh yahh itu bunganya cantik2 banget dah

    ReplyDelete
  10. Jadi tambah ngebet ae buat nyusun rencan ke bandung, padahal sudah kesana hanya buat studi lapangan. nggak sempet yang namanya jalan-jalan.

    ReplyDelete