Wednesday, 12 February 2014

Daripada Sakit Hati, Lebih Baik Sakit Gigi??? THINK AGAIN!! (Episode 3)



Sang dokter dengan tampang manis rupawan lalu mulai menutup luka gigi gue dengan bulatan kapas khusus. Gue yang masih syok mulai mendaratkan kaki gue ke lantai rumah sakit. Gue luluh dengan imbuhan lantah. Gue mencoba berpijak sambil terus berpikir, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Mbak karena giginya sudah terlalu rapuh, jadinya ada akar yang tertinggal. Susah dicabutnya...”

“Tapi ini nantinya sakit nggak dok??”

Sebenarnya gue tahu ini pertanyaan retoris. Karena kenyataannya akar type apapun yang tak tercabut hanyalah serpihan perih yang kapan pun bisa menggeliat. Gue pikir asalkan mahkotanya sudah tercabut, akar ini tidak akan menimbulkan sakit yang berarti.

“Ehm...paling kalau sakit pas mau masuk angin saja mbak...”, ucapnya dengan muka yang begitu manis rupawan.

“Owh, gitu ya...jadi kalau mau masuk angin sekarang jadi nambah sakit gigi dulu. Jadi, nanti saat hidung saya serupa pipa lumpur lapindo dengan burung emprit berterbangan memutari kepala, lalu badan lemas tak bertenaga dengan pegal di segala sendi kehidupan saya masih harus merasakan gusi saya dirajam rajam. Gitu dok??”

“ya gitu deh..”, ucapnya lalu berlalu

Gue dengan setengah bibir yang masih kebas dengan tampilan bibir Jolie tapi hanya sebelah dipadu padankan pipi yang menggembung di udara akhirnya meninggalkan ruangan laknat itu.


Dengan pipi tertutup tissue gue mulai mengantri bersama pasien lainnya. Gue harus menebus obat yang setidaknya bisa menambal rasa sakit dari luka menganga, yang masih menyisakan akar, yang belum bisa pergi sepenuhnya.

Gue duduk tepat di depan kassa dengan pikiran yang melompat kemana mana. Ada banyak hal yang berkecamuk di batin gue perihal Bapak Meggy Z. Kenapa dia tidak berkata lebih baik sakit perut daripada sakit hati, atau mungkin lebih baik sakit kepala daripada sakit hati? Kenapa harus sakit gigi? Pasti ada rahasia yang dipegang teguh oleh beliau. Gue berpikir sangat keras sampai kedua alis gue bertemu.

Dan bila dipikir pikir dengan menautkan ke berbagai serpihan masa dan rasa, toh sakit gigi dan sakit hati memang tidak ada bedanya.

Ah, rasa rasanya baru kemarin gue dan Gera saling mencurahkan isi hati. Saat itu H-1 dan gue sedang menata hati untuk mengikhlaskannya.

“Ger, apa memang ini solusi terbaik untuk kita?”, ucap gue berharap dia akan mengulum jawaban senada. Ragu berjamaah.

“Mey, kita sudah bertahan begitu lama. Tapi, ternyata kita bertahan di lajur yang salah. Selama ini kita hanya bertahan tanpa mencari letak masalahnya. Dan tanpa disadari lubang sudah menganga begitu lebarnya. Kerapuhan mendera dari segala penjuru. Dan bila diteruskan, tidak akan ada yang tersisa selain kepahitan dan sakit tak berujung. Apa kamu mau sakit terus menerus hanya untuk mempertahankan sesuatu yang memang sudah tidak bisa dipertahankan?”

Gue diam seribu bahasa. Memang benar, selama ini gue hanya terpaku pada kata ‘mari bertahan’ dengan acuan ‘ya sudah, hanya bertahan’. Tanpa gue sadari, kata bertahan sebenarnya lebih dari sekedar menunggu waktu dan melihat seberapa lama bisa menahan. Bertahan sebenarnya memiliki arti lebih mendalam tentang mencoba menahan dengan menggali cara untuk bisa tetap mengandung ruh di badan, mengulum cinta sepenuhnya.

“Mey, selama ini kamu hanya menelan pil penghilang rasa sakit tanpa menghilangkan penyakitnya. Dan remuk kita telah mencapai level redam.”

Gue mencoba menelaah setiap kata yang dimuntahkan oleh Geraham. Ini ibarat membawa pulang bunga yang dipertahankan keberadaannya di dalam rumah tanpa disiram dan dilimpahi sinar mentari. Ini seperti mempertahankan hubungan yang sedang akan karam tanpa menambal dinding kapal.  Maka ini hanyalah kehilangan yang tertunda.

“Nggak papa Mey. Hidup adalah soal meninggalkan atau ditinggalkan. Dan segala hal yang pernah tinggal, suatu saat akan meninggalkan dengan banyak hal yang apesnya masih ketinggalan. Gigi ditanggalkan dan hati ditinggalkan.”

Gue kembali mengelus ngelus pipi kiri gue. Kini sosok geraham sudah pergi, hanya saja tak peduli betapa sakit proses pelepasannya masih saja ada yang tertinggal. Sekarang gue mengerti sepenuhnya, bulat bulat perkataan mantan gigi gue, Geraham.

Katam membayar obat, gue dan Ibu beranjak pulang. Sebelumnya, gue melepaskan kapas itu dari gusi berlubang dengan kubangan darah yang terus mengucur.

“Ah, paling sejam lagi dia akan surut.”, gue pikir berdarah darah hanyalah proses untuk sembuh.

----------------
5 jam kemudian....

Gue tiduran di sofa rumah nenek gue dengan segumpal es batu memenuhi mulut gue. Nenek gue hanya menggerakkan kepala ke kiri dilanjutkan ke kanan berkali kali melihat polah gue tapi nggak dilanjutkan dengan mengatakan Lailahailallah bertubi tubi. Itu dzikir.

“Belum berhenti juga darahnya?”, ucapnya.

“Sedikit lagi..”, ucap gue sembari melepaskan kuluman es ke entah berapa kalinya. Pipi dan gusi gue berangsur pulih dari obat bius dan pelan tapi pasti kini gue bisa merasakan denyutan lemah di gusi gue.

Gue buka mulut lebar lebar dan mendapati kubangan itu masih penuh darah, lalu sedikit demi sedikit melampaui lubang dan menjelajah mulut dengan bebasnya.

“ See what you have left behind here.” Ucap gue, berharap Gera akan mendengar. Gue dapati luka menganga dengan kubangan darah memenuhinya. Gue kira gue hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menutup luka, ah boro boro...yang gue dapati hanya darah yang tak ada habisnya.

5 jam darah terus mengucur dari lubang yang ditinggalkan geraham. Gue mulai panik. Gue tak henti hentinya meminta pencerahan kepada kedua sahabat gue yang kebetulan calon dokter gigi, Dany dan Ellena. Dan es batu ini pun ide dari mereka.

“Gusinya jangan dimainin...”, ucap Dany melalui serangkain huruf di dinding whatsapp

“Yaelah Dan, boro boro pake main main segala, orang serius juga tetep terluka.”

“Ehm...tidur aja biar lupa...”

“Yaelah,bisao dari tadi gue tidur. Gue tidur diem sambil merem masih berasa tuh darah melingkupi gigi dan gusi yang lain. Gue berasa kayak vampire. Kalau capek gue telen juga nih darah.”

Sambil menatap ke dinding dinding atap nenek gue, gue berpikir keras lagi. Gue harus cabut secepatnya. Esok hari gue harus kembali merantau. Sakit di tanah rantau adalah hal yang paling gue hindari mengingat kadar kegalauan gue akan meningkat pesat.

Sebenarnya gue bisa pulang tanggal 4 Januari mengingat gue mulai bekerja tanggal 6 Januari. Hanya saja, bos gue ngajakin liburan ke Bandung untuk merayakan tahun baru bersama. Lalu, tiba tiba nenek menyalakan lampu ruang tamu.

Ceklik!

Aha!!

Keinginan untuk memove on kan gusi gue dari akar gigi yang tertinggal sudah bulat. Kalau memove on kan hati saja gue mampu mengarungi beratus kilometer demi dada yang bebas dari serakan masa lalu, naik sekoci menyeberangi samudera mencari daratan baru bak kertas kosong tanpa coretan, lalu naik gunung turun lembah dimakan buaya, masa masalah gigi gue hanya bisa ngemot es batu?

Ini nggak boleh dibiarkan. Gue takutnya saat gusi gue bertemu dengan hati gue, maka gusi gue akan merasa tidak diperlakukan dengan adil seperti yang tertuang dalam Pancasila sila pamungkas.

Gusi : “Eh, Ti...mau kemana?”

Hati : “Eh Si, gue mau nambal sama scalling nih, pembersihan. Ternyata masih ada yang berlubang. Kamu?”

Gusi : “Gue lagi galau Ti.. gue abis kehilangan, tapi akarnya nggak mau pergi. Padahal prosesnya sakit sekali...”

Hati : “Lho? Emangnya Meykke kemana?”

Gusi : “Tuh, lagi ngemot es.”

Hati : “Yah, sama kayak gue dulu dong Ti. Cuman dulu Meykke melakukan apa saja sih demi kesembuhan gue. Dia sampai bela bela berangkat pagi lalu pulang malam demi mengalihkan perhatian gue. Dia juga lalu mengayunkan langkah ke sini demi memori yang nggak menyerbu. Soalnya dulu, waktu dia sampai kampus lalu lihat jejalanan di sana, kenangan berkata “Serbu Meykkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee....lalu dia galau. Terus lagi enak enaknya makan di Cozy Steak and Lounge, kenangan tiba tiba datang dan bilang, serbu Meykkeeeeeeeeeeeeeee, dia mimbik mimbik. Bahkan, saat dia pulang ke rumah lalu mendapati teras atau pun ruang tamu, kenangan kembali datang dan berjamaah mereka memadukan kekuatan dan ‘serbu Meykkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee...’ Lalu Meykke bilang sama gue, kita harus mencari cara inovasi. Pergi.”

Gusi : “Ih lu enak banget sih. Meykke sama gue kok gitu banget. Gue masa cuman disumpelin es batu mana sembuh..”

Gue yang mendengarkan percakapan mereka langsung memuntahkan es batu dari mulut gue. Rasa bersalah menjalari gue. Bener kata mereka, gue tidak boleh pilih kasih. Mereka harus bersinkronisasi seiring berjalannya waktu mengingat gue cuman punya satu hati dan satu deretan gigi yang bila sudah tanggal tak akan tumbuh lagi. Dan aku mau hidup seribu tahun lagi, Ku tak mau seorang pun merayu, tidak juga kau!! Ucap gue ikutan Bapak Chairil Anwar.

“Dany, bagaimana kalau abis jejalan sama Bos, gue ke kost lu?? Masih ada sisa satu hari, Dan. Sekalian nanti gue mau cari nih akar sampai ketemu dan membersihkannya.”

“That’s a great idea, Mey...santay di sini dokternya sangat berkompeten.”  jawab Dany.

Dan perjalanan demi sebongkah akar pun dimulai. Gue pulang ke Jakarta, lalu paginya selanjutnya mengayuhkan langkah menuju Bandung.

Dan, apakah yang terjadi dengan akar gigi gue? Apakah gigi gue bisa pergi sepenuhnya, seluruhnya? Apakah gusi gue bisa move on? Apakah gue? Ah, sudahlah...

Bandung, let’s meet up so soon!

Akar, I hate you, I’ll surely kick you outtt!!

15 comments:

  1. Gue ngilu bacanya haha. Keinget dulu pernah rasain hal yang sama. Malahan lama banget efek obat biusnya, jadi kalo darah di dalam mulut penuh yaudah, pasrah keluar dari ujung bibir kayak vampir :v
    Btw, Analoginya keren (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benerrr...jadi ga bisa ngerasa apa apa, nelen juga susah karena separonya nggak bisa buat neleeen...airnya jadi kemana mana, khan geli...hahaha

      makasih!!! baca lagi ntar yak

      Delete
  2. haduwh...derita amat ya ampe part 3 masih belom kelar2 masalah giginya.
    padahal masalah organ tubuh yg miniiii bgt, G I G I.
    malah berdarah2 lama berjam2. ngeri -___-

    jd keinget ma yg punya kosku di jogja dulu.
    dia cabut gigi bagian atas, 1 aja tp pendarahan gak brhenti2 sampe hrs opnam -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, sakitnya tu bersambung mulu nggak ada habisnya karena toh akarnya pun juga masih nancepppp.
      widih, alhamdulillah aku nggak sampe diopname segalaaa

      Delete
  3. Setuju banget nih! Sakit gigi sama sakit hati itu sama2 sakit. Ya namanya juga sakit, nggak ad yg lebih baik :|
    Sakit gigi nggak bisa makan, sakit hati juga nggak bisa makan (kebanyakan galau). Akhirnya bisa kurus deh *eh malah curhat*
    Get Well Soon yaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. tuh tau bangettt heheheee..

      iyah, makasyiiiih........

      Delete
  4. bener-bener nggak pernah ngerasain yg namanya sakit gigi -_- ewww jangan sampe deh yaa ..
    ehh tapi kalo sakit hati sih sering *eh

    abis baca ceritanya, kayaknya sakit gigi itu bener-bene nyiksa ya :') semangat kakak, terus berjuang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalo bisa sakit hati juga jangaannn.kadang sakit bangetttt...

      iyah, makasih yak..hihihi

      Delete
  5. Duh, belum pernah dicabut giginya, Mey, sayanya. Pasti tuh sakit pake bangeeeet.

    Jadi serem nih. Gigi saya yang belakang mulai sering nyut nyutan gara gara pas kecil pernah sakit gigi juga. Hiks. Moga enggak bernasib kaya Mey saja ya. Aamiiin.

    Well, semoga segera move on dari akar yang tertinggal #haseek

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, semoga cepetan move on, di episode 4 aye udah move on mbak, nantikan ya :D

      Delete
  6. Udah, kalo darahnya tetep ngalir ditelan aja, biar cepet abis :)

    Serem abis keknya, gue gak bisa bayangin kalo tidur gak bisa nyenyak. Cepet sembuh aja deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu udah masa lalu, sekarang udah kering, nggak berdarah Rob, haha

      Delete
  7. Wuih, penuturan yang keren.. Ku tunggu lanjutan nya lagi yah :)

    pernah juga ngerasain sakit gigi, aduh asli sakit banget!

    ReplyDelete
  8. Gile, jadi kebayang gimana ruangan dokter gigi yang serem banget. Suara desing bor dan bau khasnya yang bikin berkidik. Padahal aku terakhir ke dokter gigi waktu SD, itupun cuma nambal doang. Makanya lain kali tuh gigi ajarin move on. Atau pengaruh yang punya nggak bisa move on ya? haha

    ReplyDelete
  9. Aku turut merasakan penderitaan itu kak mey.
    Cuma kok bisa darahnya gak berhenti keluar gitu sih.
    Kemarenan aku cabut gigi, hanya 1,2 jam pendarahan, selepasnya udah.
    Bu Dokternya gak recomended banget menurut ku.
    Jangan-jangan dia jadi dokter karena mendapat voting sms paling banyak. Huh

    Moga cepet sembut ya kak Mey

    ReplyDelete