Monday, 10 February 2014

Daripada Sakit Hati Lebih Sakit Gigi??? THINK AGAIN! (Episode 2)


Gue kembali lagi. Kemarin cerita gue sampai mana??

Cerita gue sebelumnya INI.

Iya? Apa?? Oh iya bener, cerita gue sampai tibalah gue ke rumah sakit untuk mengakhiri segala duka nestapa yang merajam gigi gue yang memang sudah terlalu lelah untuk bertahan.

“Mey, aku sudah lelah...just let me go...”, ucapnya

Hati gue kembang kempis mendengar permintaannya. Bahkan gue lupa kalau dalam adegan ini kayak di film film mata gue harus berkaca kali dua. Berkaca kaca.

“Coba ulangi sekali lagi?”

“Aku ingin putus...”

Jeglerrrrr.... Walau pun gue tahu setahu tahunya nggak pake penyet kalo ini akan terjadi, tetap saja hati gue digiling seketika menyerupai serbuk. Ini bahkan bukan serpihan, ini bubuk. Bahkan setiap sel nya tidak bisa lagi dibagi menjadi dua. Lantah.

“Selama ini kita saling menyakiti. Aku menyakitimu, dan kamu menyakitiku... Lalu apa gunanya kita mempertahankan?”, ucapnya kemudian.


Gue masih dalam perjalanan mencerna setiap potongan kata yang meluncur darinya. Kamu mau tahu rasanya? Tiba tiba seperti ada satu benda logam yang tiba tiba menebal, lalu menggumpal menjadi bola raksasa yang serasa menjejali dada, lalu sensasinya sampai di pundak, terus menjalar sampai ke pipi, lalu melewati hidung, dan berujung ke mata. Andaikan ini mimisan, sudah gue letakkan daun sirih di kedua corong itu. Tapi ini bukan corong, dan ini bukan darah. Ini hanyalah satu lajur dampak bahwa hati gue lah yang ternyata berdarah menganak sungai, bernanah pinak. Bingkisan kata katanya tiba tiba bertransformasi menjadi bilahan mengkilat, lalu dalam satu hentakan, gue tersayat sayat.

Iye, tapi kalau gue pikir lebih dalam dan lebih waras, kita memang sudah saling menyakiti. Gue menyakitinya karena terus menimbun makanan di lubang badannya, dan terus mengikis dalamnya sampai habis. Dia sudah berlubang terlalu dalam dan kuman dengan akses cepat dan akurat bisa mengunjungi saudaranya yang sudah melangkahkan kaki sampai pembuluh darah. Dan jelas dia menyakiti gue karena selalu menikam nikam syaraf gusi gue tak peduli kapan dan dimana. Sekali terkam, my whole world just seems damn gloomy, karena mau makan, mandi, tidur, bergaul,dan ngomong gue tidak selera.

“Gimana menurutmu Mey?”, dia menunggu jawaban gue
“Jawaban aku iya, Ger. Ternyata kita tidak ditakdirkan untuk menua bersama.” Lalu gue dan geraham memutuskan untuk menyerah.

Thus, I was there inside the dentis’ room.

“Gimana dok?”

“Kalian memang tidak bisa dipertahankan...Ini terlalu sulit.”

“Ya sudah dok, saya sudah siap. InsyaAlloh saya kuat”, ucap gue sembari berbaring penuh kepasrahan. Dokter menatap gue penuh arti.

“Apakah kamu yakin?”

“InsyaAlloh, kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kita berdua.”

“Kalau begitu ronsen dulu ya saya mau lihat masih ada nanah apa nggak,,,takutnya kalau masih ada nanah nggak boleh dicabut...”

“Wah, maaf dok saya masih bernanah berdarah darah...”

“Owh, bukan kok mbak...gusinya..”

“Owh, kirain...iya dok...sebentar dok saya cek dulu...”

-------------------

“Gimana dok?”

“Ah, udah nggak ada mbak...ya sudah saya putus saja..”

Gue yang tadi semangat sekali pingin putus, melihat alat alat dokter lalu menghadapi serangan sinar lampu bertubi tubi di wajah gue, keberanian gue mulai kendor kayak kolor. Gue mulai komat kamit meminta pertolongan sama Tuhan Yang Maha Esa...

“Ya Alloh, tolong Meykke Ya Allooooh...”, gue bilang..

Bukannya apa apa, kalau dilihat dari casingnya, gigi gue sedikit pun tidak goyah. Dia berakar begitu kuat, hanya saja.....berlubang. Lubangnya sudah begitu dalam hingga tidak mungkin lagi ditambal. Toh gue mau nambal, si gigi bilang,

“Aku udah capek, Mey...”

Gue tidak bisa mengupayakan sesuatu yang memang sudah menyerah. Toh gue tidak ingin mengupayakan sesuatu yang emang gue udah tahu ujungnya akan mengarah kemana.

“Mey, jangan tunggu aku...”, dia bilang..

“Ger, apa yang bisa gue tunggu dari satu geraham dengan lubang besar di dalamnya? Gigi yang gue cabut jelas jelas nggak mungkin gue tanam lagi. Once we separated, never ever we're getting back together biar kayak lagunya Taylor Swift, for sure.” 

Gue tahu ini pedih. Kita sudah bersama sejak dia mengganti gigi geraham susu gue bertahun tahun silam. Dia sudah mengunyahkan berkilo kilo makanan, menikmati es krim bersama, dan larut bersama hujan yang menghanyutkan segala kenangan yang berserakan di serpihan masa lalu.

“Mbak, buka mulutnya lebar lebar..”, ucap dokter.

Gue tersadar dari lamunan gue.

“Ah, iya dok...Dok, dicabut giginya sakit nggak dok??”

“ya gitu deh...” Sumpah kalau yang ini beneran.

Saat seorang pasien menanyakan apakah dicabut giginya itu sakit apa nggak, sang dokter dengan wajah tak berdosa berkata,

“YA GITU DEH”

Gue yang semula berdebar debar, sekarang dentuman jantung gue seakan berlompatan. Bahkan, gue bisa menangkap ekspresi sang dokter saat berkata “YA GITU DEH”

Ekspresinya mengatakan, “Sakit banget lah...”

Semula gue ingin tanya cabut gigi sama cabut hati sakitan mana tapi gue nggak sempat karena secepat kilat sang dokter menjejali rongga mulut gue dengan kapas dan lalu sekonyong konyongnya menusuk gusi gue di dekat dinding pipi dan

“Ouch!!!!!” Suakit buangetttt!!!

Gusi gue kayak ditusuk dengan sadis, lalu logam bercorong mini itu masuk begitu dalam menembus gusi. Lalu dia menyebarkan cairan bius. Gue tunggu sekitar 10 menit, dan separuh gusi dan pipi gue kebas. Mati rasa.

Sang dokter mulai beraksi dengan alat alat yang gue juga nggak ngerti apa namanya.

“Mbak, biusnya ini cuman ngilangin rasa nyut nyut ya, tapi masih kerasa giginya diapain.”

Kalau sekarang yang mainstream lagi lumpuhkanlah ingatanku, beneran gue saat itu, jauh dibandingkan lumpuhkan ingatanku yang nggak sedih sedih amat, gue pilih lumpuhkan lah syaraf gusiku.

“Aduh dok...”

Gue menutup mata rapat rapat.

“Mbak, jangan tutup mata mbak, buka aja...jangan merem.”

Seolah dia berkata,

“Mbak, hadapi kenyataan mbak...toh mau merem juga segala kepedihan akan terasa. Hadapi saja. Inilah kenyataannya.”

Bulir bulir keringat gue sudah sebiji jagung manis yang enak kalo dibikin sayur asem asem. Itu sayur favorite gue.

Tiba tiba ada sesuatu yang mencengkeram gigi gue, lalu pelan tapi sadis sang dokter mulai menggoyangkan mahkota gigi geraham gue, dia tarik, cekrek!! Kepleset.

Keringat gue mulai bercucuran.

Lalu try number two. Sang dokter sekarang dengan posisi berdiri, lalu dia kembali mencengkeram kepala gigi gue, dan diayunkan sekuat kuatnya.

Gue Cuma bisa memandang wajahnya yang diselimuti masker berwarna hijau muda. Matanya terlihat memicing, dengan raut muka menunjukkan tanda tanda tidak baik.

Dalam hati gue baca segala do’a. Surat kursi, surat Annas, Ikhlas semuanya gue baca. Gue juga pingin baca yasin tapi nggak bawa bukunya. Saking paniknya gue juga sampai baca do’a mau makan. Apa ajalah yang penting berdoa.

Kali ini dokter melepaskan cengkeramannya dan mengambil satu alat lagi. Lalu dia menghujam gusi gue dengan alat itu. Bertumpu pada pinggiran gusi gue, gigi gue...dicukil!! Iye, gue ulangi lagi, gigi gue dicukil!! Jadi kalau nggak salah fisika, gigi gue kayak dituas, kayak kalo kite mau buka tutup botol Fanta ga bisa, nah, dicukil khan?? Iye, jadi gigi gue digituinnnn!!! Walopun gue nggak bisa ngeliat, tapi gue bisa ngerasain!

“Dok, emangnya gigi saya kayak tutup botok Fanta??”, teriak gue dalam hati. Tapi udah kepalang tanggung, gue hanya bisa mencengkeram pinggiran kursi periksa dengan penuh kepasrahan.

Dan itu pun tetap nggak berhasil!!

Lalu dia ambil satu alat besar. Happp!! Gigi geraham gue lalu dicengkeram dengan penuh kekuatan.

“Pak, tolong pegangin kepalanya.”, ucap bu dokter dengan mahfum. Lalu bapak bapak berpakaian senada seketika menggenggam kepala gue, dan gigi gue kembali ditarik sambil digoyang goyang!!

Oh meeeeeeeen, the sensation was..................... Ya Alloh, dicabut giginya aja kayak gini sakitnya apalagi dicabut nyawanyaaaaa....

Selama beberapa saat gigi gue terus ditarik sambil digoyang goyang dengan kepala gue ada di genggaman bapak bapak biar kepala gue nggak geleng geleng lalu ngangguk ngangguk. Nanti kayak lagu.

Seumur umur gue mengalami sakit kasat mata, ini adalah moment paling menyakitkan. Gue pernah sakit perut, sakit punggung, sakit kaki, juga sakit tangan, tapi gue nggak pernah sesakit ini. Rasanya nggak cuman gigi gue yang dicabut, tapi seakan tulang rahang gue ikutan mau dieliminasi.

Kalau gue boleh pilih, gue mending Bungee Jumping di Macao Tower daripada dicabut giginya.

“Kletik!!” Gue menahan nafas. This is the momen, gue kata. Lalu dengan gerakan slow motion dokter membawa pergi gigi geraham berlubang itu, keluar dari mulut, lalu dia melayang menjauh dari bibir gue. Ini adalah saat terakhir kita beradu sosok. Dia menangkap sosokku, dan aku memandang lekat sosoknya. It's gone, I'm done.

Sekilas gue bisa lihat dia melambaikan tangan, memandang gue dengan mata sendu.

Seperti halnya siang dan malam, wanita dan pria, begitu pula pertemuan yang memang seyogyanya berpasangan dengan perpisahan. Di Ambarawa kita berpisah.

Tapi, gue sudah berpikir bahwa sakit gue tadi memang worthwhile, it was worth-doing. After this, everything is gonna be alright.

See? Ini sakitnya hanya sebentar...pulihnya tidaklah lama, dan ini semua atas nama kebaikan bersama. Gue sudah akan menyunggingkan senyum saat

“Sebentar...ini di rontgen seperti ini, berarti masih ada akar yang tertinggal.”

“What Dooook???? Lagi Doooooooooook?????” Rasanya gue ingin pura pura mati dilanjutkan lumpuhkanlah ingatanku.

Gue nggak kuat menghadapi semua ini untuk kedua kalinya. Rasanya gue udah mau nangis kalau nggak ingat umur.

Dan dengan semena mena, masih dengan mata yang dipicingkan, dia mulai mengorek ngorek lagi gusi gue. Lalu, lagi lagi dengan seperti menarik sesuatu. Dan yang ini jauh jauh jauh lebih sakit!!! Linu menyelimuti sekujur gusi dan logam itu seakan mengoyak ngoyak luka gusi gue yang masih menganga lebar.

“Duh, Dok...Sakit!”, ucap gue mulai tidak tahan.

“Sebentar mbak, ini kok susah...”

“Dok, saya seribu kali lebih susah dok...kalau begini caranya”

5 menit berlalu dan gusi gue masih terus diobok obok dengan logam panjang pipih itu. Obok obok kali ini nggak bikin ada ikannya kecil kecil pada mabok, lalu dingin dingin dimandiin nanti masuk angin. Bukaaaaaaaaaaaan....

“Udah aja dok, udah...” ucap gue sembari menahan nafas. Tulang gue rasanya ikut ketarik. Saraf saraf gue menegang dan gusi gue linu bukan kepayang.

“Ya udah mbak, ini nggak bisa dipaksa ambil sekarang. Memang butuh waktu untuk bisa membersihkan akarnya.”

“yes, I truly know about it.”

“Kalau dipaksa malah berbahaya...ini nanti sebulan dia muncul di permukaan, nanti bisa dicabut kalau dia sudah keangkat”

Gue iya aja biar cepet.

Dan gue tersadarkan. Tak peduli mahkotanya sudah tercabut, bila tidak beruntung kayak gue, pasti akan menyisakan akar. Akar yang susah dicabut. Tak peduli ditarik, dituas, dipaksa, sakit hingga meronta ronta, toh akar tetap masih ada.

Lalu, apakah yang gue lakukan untuk menuntaskan segala akar yang tersisa? Karena setelahnya gue bersumpah akan membersihkan hingga tak ada lagi yang tersisa. Gue akan tumpas habis hingga ke akar akarnya. Apa aja akan gue lakukan. Demi akar akar yang tercabut, demi segala hal yang menyesakkan, demi.....ya gitu deh.

Pada akhirnya, gue harus mengayunkan langkah beratus kilometer demi akar akar yang harus tercabut, demi dada yang tidak sesak, demi perih yang tidak lagi menjalar, demi.............................

Apapun akan gue lakukan atas nama demi.

Gue akan menumpasnya.

Ini belum selesai.

-to be continued-


18 comments:

  1. Lo kayaknya berjodoh sama Bayu, sakit giginya bisa kompakan gini.

    Punya Bayu baru abis ditambal, punya lo gak bisa ditambal lagi. Berarti kalian gak jodoh.

    Jadi nanti bakal diobok-obok lagi buat tuntasin sampe akarnya Mey? Wah, nikmatin aja deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, diobok obok ya?? harus gitu??? sereeem, hahaha

      Delete
  2. ini sebenarnya cerita horor, cerita patah hati apa cerita gigi yang tertukar?? -_-

    ahahaha...
    orang yang bilang lebih baik sakit hati dari pada sakit gigi orang yang belum pernah patah hati. dan orang yang bilang lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati adalah orang yang belum pernah merasakan dahsyatnya goncangan jiwa akibat sakit gigi -_-
    amazing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha, ya cerita suka suka mbak aja deh enaknya gimana, hehehehe

      Delete
  3. Widih akhirnya kelar jufa. Pertama baca rada aneh -nya itu siapa? Eh ternyata personifikasi dari fari gigi. Keren tulisannya. Emang dakit banget gigi yang masih menempel dengan akar yang masih kuat, sakitnya saya ngerti banget. Udah paham malah.

    Tapi mau gimana pun, semua udah terjadi sok, ya gitu deh *mimik dokter*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah, iya gue tau bangettt abis baca posingan lu bay, yang sabar yaaak...

      makasih lo. hahaha

      Delete
  4. ya ampun derita gara gara gigi belom selesai?
    mana pke ada akar yg tertinggal lg.
    duh.
    rempong amat ya.
    rempong tp klo gak diurus bikin menderita.

    nggak enak bgt kyknya bermasalah ma gigi, palagi sampe dicabut kayak di atas. gw aja karangnya dibersihin dah ngilu berdarah2, palagi lo mey -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaelah mbak, sakitnya mbaaaaaaaaaaaak....lebam sampai ke dalam dalamnyaaa...

      Delete
  5. Harusnya lo jadi nanya "Sakitan mana nyabut gigi daripada nyabut hati" bg.
    Kampret... nggak kebayang gue kalo si dokter ditanyain begono. . .

    kwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh,kok gue nyebut lo 'bg' sih,
      sory... sory... gue authornya cowo. . . kwkwkwk

      Delete
    2. buahahhaha...yah emang nama gue suka bikin galau orang. gue mengerti..

      Delete
  6. jadi sebenernya lebih sakit mana sih, sakit gigi atau sakit hati ? :D *efek gak pernah ngerasain sakit gigi*

    semoga giginya baik-baik ya, kak mey juga bisa melepaskannya dgn ikhlas ... :') *loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau tauuuu???? tunggu sampai episode terakhir yaaak :D hahaha

      Delete
  7. Hadeeeh. Ngebayanginnya aja sangar banget tu dokter nyabut gigimu, Mey. Wew. Tobat deh. Saya mending ditambal saja ntar kalau sakit gigi. Ampuuun....


    Ilutrasi dialognya keren^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. justru karena dokterya nggak sangar sama sekali jadinya kayak begitu cc Linaa...

      makasih cc :)

      Delete
  8. Dari pengalaman gua sih, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari pengalaman gue sih mendingan sehat wal afiat abang -.-

      Delete
  9. Kak mey ceritanya segitu banget.
    Lah waktu aku cabut gigi gak gitu ih.

    Baru beberapa bulan yang lalu cabut. Sakit nya pas suntik bius di gusi itu. Kek di cubit kecil. Selepasnya, yang terasa cuma gigi di goyang.
    Hebatnya dokter yang nangani nya hanya pake waktu 2 detik. 1 detik bunyi "kletak" patah gigi. 2 detik nya gigi kecabut.

    Dan untung dokter giginya gak sekeji di cerita kka, di aku ini dokter cowok dan memperlakukan aku selayaknya anak kecil.
    Ngomong-ngomong sehabis cabut gigi aku di kasih coklat sama balon.

    *gak, yang itu bohong*

    ReplyDelete