Friday, 17 June 2016

Ramadhan Ala Anak 90-an Eps. 3 (Tamat)

Baca dulu biar nggak ketinggalan, gaes.

Ramadhan Ala Anak 90-an Eps. 1

Ramadhan Ala Anak 90-an Eps. 2

---------

"Besok pagi kamu mau kemana Fitri?" tanya gue pada temen SD gue.

"Ya nggak kemana mana lah... kan besok Minggu. Emang kamu mau kemana?"

"Aku mau kuliah!"

"Lah, kita kan masih SD. Kuliah masih jauh."

"Keren kan aku..."

"Puasa puasa kan kata pak Bandi nggak boleh bohong. Kamu mau puasanya nggak diterima sama Alloh?"

"Ih, orang aku emang besok mau kuliah.....kuliah subuh."

"Kuliah macam apa itu, Ke?"

Dulu jaman SD gue udah berasa -songong- keren karena gue udah bisa kuliah. Walau pun itu kuliah subuh. Lalu, apa itu kuliah subuh?




Kuliah subuh adalah jenis perkuliahan yang dilakukan di mesjid setelah Imsak atau di saat Subuh. Walopun di desa gue terdapat 5 mesjid/mushola, tapi khusus di kuliah Subuh ini hanya diadakan di salah satu mesjid yaitu Masjid Baiturrahman. Di sini, setelah sholat subuh berjamaah, akan dipilih satu anak untuk jadi moderator/MC kuliah, lalu akan dipilih sesuai jadwal juga Bapak Bapak ustadz/yang dituakan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan puasa dan agama. Nah, kadang disertakan juga kuis kuis yang berhadiah sarung, peci, sampai Al-Qur'an. Bedanya kalau kuliah beneran itu dapetnya ilmu dan nilai, kuliah subuh dapetnya ilmu dan nilai plus di hadapan Alloh (InshaAlloh). 

Buat gue pribadi, kuliah subuh adalah salah satu kegiatan di bulan Ramadhan yang menantang. Mengapa? Karena gue harus nantangin rasa ngantuk gue. 

Makanya tak jarang temen gue datang ke mesjid masih dengan nyawa yang masih nyangkut separo. Temen gue, sebut aja Ani. Karena rumahnya lebih jauh dari rumah gue, tiap habis Imsak, dia udah siap sedia berangkat ke masjid.

"Ikeeeeeeee....ayo mangkaaaaaaattt..." Teriak dia jam 4 pagi dari perempatan. Suaranya yang cemengkling langsung menyusup masuk di antara ventilasi rumah. Gue langsung berhambur keluar. Di perempatan, gue bergabung dengan Ani, Ina, Isa, Fita, dan yang lainnya. Pagi pagi buta kita berbondong bondong menuju masjid. Mana subuh subuh itu udara lagi dingin dinginnya, gaes. Dari rumah gue uda pake tuh mukena lengkap. Lalu, di masjid kita sholat Subuh berjamaah.

Nah, sekarang giliran ceramah. Gue lirik Ani. Dia mulai cari tembok buat sandaran. Lima menit kemudian, gue lirik lagi. Ani mulai gelesotan di tembok. Sepuluh menit berikutnya, mata Ani merem melek. 

"Nggeh, cukup mekaten ingkang saget kulo aturaken. Mugi mugi nambai ilmu ingkang manfaati tumrap sedoyo. Menawi wonten klira klirune pangucap, kulo mang nyuwun segarane pangapuran. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh..."

Gue lirik Ani. Buseeeeeet...Ani tak sadarkan diri dengan iler menganak sungai sampai ke leher, pipi, mata, kemana mana. Andaikata tahun 1999 udah ada Android, Ani udah gue foto terus gue jadiin DP BBM. Untung dulu HP Nokia 1100 aja belum ada. Harga diri Ani terselamatkan.

"Ni, bangun..kamu nggak nulis apa apa? Ayo minta tanda tangan."

"Ha?? Aku dimana??" Si Ani pake amnesia.

"Masjid, Ani." Pagi pagi gue udah dapet cobaan bangunin si Ani. Karena lagi puasa gue mencoba menahan diri.

"Udahan?"

"Udahlah. Aku tinggal minta tanda tangan nih."

"Aku nyonto punya kamu aja ya, Ke."

"Ya udah, tapi tuh ilernya dilap dulu."

Lima menit kemudian, gue udah antri minta tanda tangan pak penceramah.

Nah, makanya buat gue dulu, Ramadhan nggak seru kalau nggak ada ini!!


Siapa yang masih kebagian jaman ngisi buku Ramadhan ini??

Ini adalah buku yang sangat berharga buat gue. Kenapa?? karena ini adalah motivasi gue buat berangkat tarawih, tadarus, kuliah subuh, pengajian sampai Jumatan juga gue ikutin. Semata mata demi ngisi buku Ramadhan gue.

"Pokoknya, buku Ramadhan Ike harus penuh, Bu." Gue berjanji di hadapan Ibu gue yang lagi nggoreng tempe.

"Bagus." Ibu gue mendukung 100 persen. Tiap kali tarawih atau kuliah subuh atau Jumatan gue selalu fokus dengerin ceramah. Lalu, poin poinnya gue tulis. Temen temen gue duduk di sebelah gue, tinggal nyalin sambil geleng geleng kepala.

"Buset! Ini nulis ringkasan ceramah apa karangan Bahasa Indonesia?" Temen gue protes.

"Ini namanya karangan ceramah."

"Aku ringkas lagi aja." Jadi, akhirnya temen gue meringkas ringkasan gue.

Kadang kita juga menyatukan ide bersama. Lalu, kita akan berebutan tanda tangan.

"Niki Pak. Niki Pak. Niki Pak. Niki Pak." Gue terus nyodorin buku Ramadhan di antara serbuan temen lainnya.

"Sing sabar.sing sabar.sing sabar.sing sabar..." Pak penceramah mulai kehilangan kesabaran.  

Begitu gue dapat tanda tangannya, gue akan pulang dengan rasa bangga yang memuncah muncah. Gue liatin ke Bapak gue.

"Lho Pak, komplit."

"Yo..apek apek..."

---

Rasa bangga gue juga akan memuncah muncah saat gue ditunjuk sebagai MC kuliah subuh. Malam sebelumnya gue akan dikasih teks moderator dari awal acara sampai akhir. Semuanya ditulis dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Dan tiap malam sebelum hari H gue selalu ngomong di hadapan Bapak Ibu gue buat gladi bersih.

"Ke, suaranya nggak bisa lebih jernih lagi?" 

"Lah, dikira sungai kali yak." Mentang mentang suara gue kayak tikus kecepit pintu kereta ekonomi, Bapak gue jadi semena mena.

Tapi, kalau Bapak gue udah manggut manggut berarti pronunciation krama Inggil gue udah bener. Bukannya apa apa, walau pun gue orang Jawa tulen tapi bahasa Krama Inggil itu kosa katanya beda lagi dengan kosakata bahasa Jawa Ngoko Alus yang sering gue pake sehari hari. Lebih formal.

"Puja lan puji salam saha kito aturaken dumateng junjungan kito Nabi Muhammad SAW ingkang kito tenggo tenggo safaatipun ngenjing ing Yaumil Kiyamah, Allohuma...Aamiin.."

Itu adalah part yang paling gue inget sampe sekarang. Gue juga harus ngasih tau susunan acara dan nutup ceramah Subuh. Di suatu Subuh, suara gue menggaung dari toa masjid Baiturrahman, melewati ranting jalan desa, melewati sawah sawah dengan pucuk berembun, mengudara di langit langit dengan semburat biru dan jingga yang masih menyisakan bintang tadi malam.


----

"Abis kuliah subuh kita jalan jalan ya...ke Brongkol!"

Nah, ini..... Begitu kuliah Subuh selesai dan fajar mulai menyingsing, salah satu temen gue punya gagasan. Setiap hari Minggu di bulan Ramadhan, di salah satu jalan alternative Ambarawa-Salatiga akan banyak orang yang sekedar jalan jalan menikmati sawah yang terhampar di tiap tiap sisi jalan. Jalannya sepi dan sangat cocok buat jalan jalan. Akhirnya gue bersama banyak teman desa gue memutuskan untuk jalan jalan pagi.

Dulu jaman SD jalan jalan bareng temen cewek cowok itu nggak menimbulkan getaran getaran asmara kayak anak SD jaman sekarang. Kita jalan bareng bareng, kalau naik sepeda konvoy juga bareng bareng, main masak masakan juga bareng bareng bahkan glosotan di tebing sampai mandi di sungai juga bareng. Mungkin karena dulu belum ada sinetron Ganteng Ganteng Serigala, Manusia Harimau dan manusia jadi jadian lainnya yang bikin akhlak anak anak makin menjadi jadi (rusaknya). Yang ada dulu sinetron Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Si Manis Jembatan Ancol atau paling pol Tersanjung dan Tersayang. Bahkan film favorit gue malah Beranak Dalam Kubur. Masa kecil gue terselamatkan, gaes.

Nah, jalan jalanlah kita menikmati udara pagi. Gue bisa liat Gunung Merbabu di depan sana bersama dengan gunung gunung lainnya. Jalanan masih basah dan pucuk pucuk daun masih berembun. Burung burung berkicau di balik balik ranting dan mentari menyingsing perlahan. Udara bisa menembus sampai paru paru, mengalir bersama darah sampai ke level sel tubuh. Pagi hari, kita jalan santay sambil mengurai canda.

Kalau udah jam 6, buru buru kita pulang dan mandi buat siap siap ke sekolah. Kita mah santay...sekolah tinggal jalan kaki juga nyampe. Abis pulang sekolah kita juga masih bisa leyeh leyeh. Gue biasanya bobok siang. Begitu bangun, gue siap siap pergi ke masjid buat tadarus. Lalu, gue pulang dan siap siap buka puasa. 

Di puasa hari ke sekian juga masjid akan mengadakan buka puasa bersama. Maka, berbondong bondonglah gue dan teman gue ke Masjid Isdiman buat buka bersama. Kita akan makan kolak labu dan kolang kaling lalu berlanjut dengan soto yang sambalnya pedes bingits.

"Fit, kamu dapat kolang kaling berapa?"

"Lima biji. Lha kamu?'

"Yah, cuman tiga, yang satunya kecil."

"Ya udah nih aku kasih satu.."

"Makasih ya Fit..jangan yang keras Fit.. Tuh tuh...yang gede tuh,,,"

Dan dialog penting banget kayak begitu yang bikin gue kangen masa Ramadhan jaman kecil gue dulu. Rasanya gue pingin sekali lagi ngerasain itu. Sederhana dan apa adanya. Tapi, dari kesederhanaan itulah gue menemukan keseruan, kebahagiaan, makna kebersamaan yang nggak bisa tergantikan oleh Android, uang, dan sinetron manusia jadi jadian.

Jaman dulu bahagia itu bukan diukur dari kepemilikan gadget dan sepatu mahal, atau bukan dari kemampuan membeli tas bermerk dan baju dengan model terngehits. Jaman dulu bahagia itu sebatas kepemilikan masa bersama teman teman dan keluarga, kepemilikan rasa simpati dan empati, serta kemampuan untuk berbagi dan saling memberi. And for me, that was the real happiness. Kebahagian yang tidak akan lekang oleh waktu karena bisa terus dikenang tanpa mengenal usang, jenis kebahagian yang tak tergerus jaman.

Dan dari Fita, Ani, dan teman teman gue masa kecil dulu gue menemukan pelajaran hidup nomor 14:



Dan sekarang, setelah membayangkan masa kecil gue jaman dulu, gue merasa sangat beruntung sampai mata gue berkaca kaca. Gue beruntung karena gue berasal dari sebuah desa di kaki gunung Telomoyo dan Merbabu dengan banyak pernik Ramadhan yang masih melekat kuat. Gue merasa beruntung karena gue pernah merasakan asiknya jadi anak kecil yang melewati Ramadhan dengan banyak kegiatan seru bersama teman teman. Gue beruntung karena gue lahir di tahun 90an. Dan pada akhirnya gue merasa beruntung menjadi diri gue sendiri.


Lalu, bagaimana Ramadhanmu tahun ini?

Sebentar lagi gue akan nulis tips cara bertahan di Jakarta saat bulan Ramadhan! Tungguin yaaa...

No comments:

Post a Comment