Friday, 13 May 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 5 ( Hikmah dari Semua Kejadian )






“Gue harus menyelesaikan apa yang telah gue mulai.”

Akhirnya dengan diantar oleh karyawan Om gue, gue kembali lagi ke rumah sakit itu. Dan karena ini hari Sabtu, mau tak mau gue harus ke UGD. Dan jawaban dari dokter jaga membuat gue sedikit bisa bernafas lega.

“Owh, ini kemungkinan karena kekurangan vitamin B1, B6, B12.” Jelasnya sambil mencatat resep yang harus gue tebus. Begitu jari jari gue dibalut dengan perban baru, gue harus ke bagian kasir. Gue duduk sendiri. Gue liat banyak orang lalu lalang dengan aura wajah yang cenderung kelabu. Ada gadis yang dengan wajah murung mendorong kursi roda seorang laki laki paruh baya yang gue tengarai sebagai ayahnya. Ada juga seorang ibu muda yang gusar menunggu antrian, dan bahkan ada yang berlari ngelewatin depan gue seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi di ujung lorong sana. Aura rumah sakit bikin gue mellow. Dan semalaman gue nggak tidur plus tanpa Ibu dan keluarga yang biasanya ada saat gue sakit bikin gue jadi makin mellow.

Gue jadi inget kekonyolan kekonyolan yang gue lakuin sampe gue bisa ada di sini. Gue inget saat gue ketakutan sendirian di kamar, dan tiba tiba gue terisak. Gue menyesal banget, gaes. Sungguh. Bahkan, ini adalah penyesalan gue yang paling dalam yang pernah gue rasakan. Drama abis. Tapi, gue berasa hanya karena kecerobohan gue, gue jadi membahayakan diri sendiri. Terlebih lagi hal yang paling gue takutin adalah jatuh sakit. Dan sekarang cuman karena jari gue sakit, seluruh tubuh harus merasakan akibatnya. Ini kan kamfret. Ya udah, gue nangis aja.

“Sakit apa dek?” Seorang Ibu di samping gue angka bicara.

“Infeksi, Bu.” Dari panggilan Ibu Ibu tadi gue sedikit lega. Pasti dia pikir gue masih belasan. Integritas gue aman. Nggak mungkin dong, cewek berumur hampir seperempat abad nangis di depan kasir. Itu cupu.

“Kok bisa?”

“Iya,kena kail pas berenang di kolam.”

“Owh,itu mending, Dek. Kemarin pas saya di Rumah Sakit Mitra Keluarga malah liat ada yang kakinya ngebelah gitu telapaknya.”

“Kenapa,Bu?”

“Kena lantai yang pecah...”

Seolah olah si Ibu ingin mengutarakan,

“Udah nggak papa, Dek. Ini masih mending...”

"Sejalan dengan di atas langit masih ada langit, di bawah lapisan tanah masih ada lapisan tanah lainnya.  Berlapis lapis."

Dari Ibu samping tempat duduk, gue mendapatkan ilmu kehidupan nomor 76.

Keesokan harinya...

Gue harus kembali ke UGD.


Pagi pagi gue udah gemetar dan keringat dingin saat gue mengganti perban gue. Gue liat kulit sekitar luka melepuh!! Gue langsung telpon tante gue.

“Jariku membusuk,ini gimana buleeek??” Gue panik luar biasa. Gue pikir itu adalah tanda tanda luka yang membusuk karena gue kebanyakan baca google. Siang, sore,malam...gue kerjaannya cuman ngetik keywords di Google.

“tanda tanda infeksi..”

“dampak terburuk infeksi..”

“tanda tanda luka membusuk”

“tanda tanda gagal move on.”

Semuanya gue search dan bikin gue jadi makin parno.

Dan akhirnya dengan dianterin Miss Wulan,temen kerja yang eh ternyata temen kost juga gue kembali ke UGD.

“Owh, ini alergi obat.” Setelah melihat lihat luka gue, seorang dokter jaga mulai menganalisa. Obat yang mujarab untuk luka itulah yang bikin alergi kulit sehat di antaranya. Ini semacam buah simalakama. Semacam mencintai pacar orang. Bilang salah, nggak bilang menderita.

Lengkap banget penderitaan gue, gaes. Udah infeksi, sekarang alergi. Masih lagi perekonomian gue mengalami inflasi. Ter-la-lu. Gue pulang dengan hati getir.

Sejak saat itu gue nggak berani buka perban sendiri. Maka, keesokan harinya gue harus ke UGD lagi semata mata buat buka dan ganti perban yang lama dengan yang baru. Dan berapakah biaya yang dibutuhkan untuk mengganti perban di UGD, gaes?

Seharga kopi Starbuck enam buah!!!

Dan kalau gue itung itung, gue udah menghabiskan hampir 2/3 gaji gue sebulan cuman buat nyembuhin lubang selebar empat centimeter. Dan itu terjadi karena kecerobohan gue sendiri. Dan kecerobohan itu bermula dari gue yang ‘kakean polah’ alias kebanyakan piknik.

Untungnya, Senin itu adalah terakhir kali gue ke UGD. Kulit gue yang melepuh bisa terobati dengan cepat dan sekarang tinggal menunggu luka sobek gue menutup sendiri. Di level ini gue limbung.

“Jangan sampai luka ini kayak hati, Miss..” Gue curhat saat di kantor.

“Kenapa emang?”

“Susah diobati..”

Awal Maret, tepat dua bulan setelah cidera, luka gue pelan tapi pasti mulai sembuh. Mereka mulai bersatu. Tapi, gue masih berjalan pincang karena gue butuh penyesuaian. Luka yang ada di antara jari kedua dan ketiga bikin jalan gue nggak sempurna. Ya, karena luka itu dan terbiasa berjalan pincang gue lupa cara berjalan. Seperti halnya karena luka juga orang jadi lupa cara mencintai.Itu.

Akhirnya penderitaan gue menemukan titik terang, gaes.. Setelah dua bulan gue bergumul dengan luka setitik rusak susu sebelanga itu dan nggak bisa jogging apalagi berenang, akhirnya gue mulai jogging lagi.

Awal tahun yang sangat nggak mengesankan, gaes. Tapi,itulah hidup. Dan gue percaya semua yang terjadi itu bukan kebetulan. “No coincidence.” Kalau kata Justin Bieber. “Everything happens for a reason”  tambah Selena Gomez. Sayang mereka udah putus.

Tapi, gue jelas setuju. Banyak hal yang gue pelajari dan gue resapi dari kejadian ini. Banyak pelajaran hidup yang bisa gue petik.

“Mungkin ini biar Mbak Meykke bisa kurangi jalan jalan dan perbanyak amal..” ucap guru ngaji gue. Dan gue membenarkan. Mungkin selama ini gue cuman haha hihi pergi ke sana kemari dengan dalih menikmati masa muda. Padahal seharusnya gue bisa melakukan banyak hal yang lebih berguna dan membawa banyak manfaat untuk orang lain. Bukankah sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat untuk sesama?

Di titik ini gue sadar, gaes. Gue tak seharusnya terus menerus memikirkan kesenangan duniawi dan diri sendiri. Gue juga sadar kalau gue harus tetap sehat karena lautan masih terbentang luas. Pintu pintu masih terbuka lebar. Jalan masih meliuk liuk panjang ke depan.

Pada akhirnya gue bersyukur pada Alloh SWT karena Dia masih ngasih gue umur sampai detik ini, kesehatan, rejeki, dan berkah hidup yang luar biasa berupa keluarga dan sahabat.

Pada akhirnya gue bersyukur pada Alloh SWT karena di titik ini gue sadar betapa besar arti keluarga dan sahabat yang siap sedia bantu gue saat kesusahan.

Dan gue yakin benar apa kata Selena Gomez,

“Everything happens for a reason..”

--

Mentari masih merangkak di ufuk timur, udara masih sesegar Salatiga dan gue berdiri di depan pagar kostan.

“It would be my first jogging in 2016!” Suatu pagi yang cerah, tertanggal 7 Maret 2016. Seumur umur baru kali ini gue ngerasa jogging bisa begitu segar dan membahagiakan.

-the end-

6 comments:

  1. Semoga cepat baikan ya Mey

    Postingan ini juga ngajarin aku untuk nggak terus terusan mementingkan kesenangan diriku sendiri, apalagi yang bersifat duniawi.

    Pas banget kamu pakai lirik lagunya Selena Gomez untuk quote di postingan kali ini.

    Yuk kita sama sama belajar menjadi lebih baik lagi. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Bener tuh quotenya, selesaikan apa yang kamu mulai. Tapi aku gak tau apa yang kak Meyke mulai, baca part sebelumnya dulu ah.

    Eh ternyata kakinya mesti dijahit. pinggirannya ditambahin renda sekalian aja kak biar cancik. Eh?

    Cepat sembuh ya kak, itu pasti sakit banget rasanya. Oh ya, kalo bisa ngurus asuransi gitu biar gak ngeluarin banyak duit pas ke RS, lumayan tuh buat beli starbak..

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah kalo udah sembuh. Ya itu, kadang kalo sakit, ada aja tambahan penderitaannya, alergi obat misalnya.

    ReplyDelete
  4. Mungkin ini kenyataan dari pepatah, sedikit-sedikit lama-kelamaan menjadi bukit. Masalah kecil lama2 menjadi besar.

    ReplyDelete
  5. akhirnya selesai baca dari part 1 sampai 5..
    dan kesimpulannya bukannya gw bersimpati tapi malah ngakak..
    mungkin gw udah jadi orang yang gag mempunyai simpati soalnya yg gw punya nomer im3.
    btw, ngeri-ngeri gmna gitu ngebayangin orng yang telapak kakinya terbelah gara-gara kena pecahan kaca.

    ReplyDelete
  6. kenapa Justin putus sama Selena ya Mey? Padahal lirik lagu mereka udah saut-sautan bagai pantun gitu...
    Hhhhh turut bersedih dan berempati untuk luka yang harus kau tanggung ya Mey. Syukur deh udah sehat lagi. Buktinya udah posting tulisan ini, kan berarti jari-jarinya udah bisa dipake untuk bergoyang sambalado.. eh.
    Semangat travelingnya jangan pudar lah... tetep aja kita butuh rileks... lanjutkan Mey... hehehe. Semoga sehat selalu ya

    ReplyDelete