Saturday, 30 April 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 4 ( Sobek Again!)


Sepulang kerja gue buka di antara dua jari gue buat ngasih salep lagi. Tetapi gue bingung. Saat gue buka, di sela sela putih salep, gue bisa melihat lubang menganga. 

Gue masih nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Berkat yoga, gue bisa duduk sedemikian rupa hingga mata gue bisa dengan lebih dekat mengamati di antara dua jari kaki gue. Benar. Sebagian salep bahkan keliatan masuk ke dalam lubangnya setelah tadi gue olesin lagi.  Lihat!! Bahkan sekarang salep gue sedikit mengalami perubahan warna menjadi pink. 

"Mungkin ini cuman halusinasi. Iya, ini hanya halusinasi semata." Gue mencoba untuk menenangkan diri. Mungkin akhir akhir ini gue stress. Gue kembali menatap di antara dua jari kaki gue lagi, berharap kedua sisinya telah mengatup. Gue lihat lebih teliti dengan berbagai posisi. Gue mengerjapkan kedua mata gue. Tapi tak ada yang berubah. 

"Barbaraaaaaaaaaaaa, JAHITAN GUE SOBEK LAGI! TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!"


13 Januari...
Gue kembali ke klinik itu. Dan apa yang gue dapat dari jawaban Bapak Dokter?

"Wah, udah nggak bisa diapa apain lagi ini. Dikasih salep aja, dek.." Gue pulang dengan hati yang kandas. Mengapa?

Pertama, Dokter bahkan nggak ngecek keadaan jari gue yang salepnya masuk semua ke dalam lubang. Dia langsung nyuruh gue pulang. Gue nggak yakin hanya dengan salep bisa mengatupkan kedua  jari gue. 

Kedua, Dokter memanggil gue Dek. 

--

Sebagai orang yang tak mudah patah arang, gue mencoba untuk mengobati sendiri luka gue. Sebelumnya gue tanya ke salah satu mantan murid TOEFL gue, seorang dokter. 

"Wah, itu sobek Miss. Harus dijahit ulang." Baru baca BBM nya aja gue udah keringat dingin. 

"Apa nggak ada cara lain, Dok?"

"Nggak ada, Miss.." Gue takut, gaes. Gue takut jari gue dijelujur lagi. Lagian dilihat dari posisi lukanya, kedua kulit jari gue emang susah disatuin lagi. Mereka udah berbeda prinsip, atau yang lain mungkin sudah berpindah ke lain hati. Dengan pemikiran tersebut, gue mencoba pengobatan yang lain.

OBAT CINA. DIEDAYOGIN.

Berawal dari saran seorang teman kerja, gue beli salah satu obat tetes luka di toko Obat Cina.

"Tapi, pas tetesan pertama Mey, bidihhhh itu perih sakit bangetttt!! Lo harus tahan..Tapi, nanti lama lama lo akan terbiasa. Nggak akan sakit lagi dan lukanya akan mengering dengan cepat."

"Ahh, gue udah terbiasa dengan rasa perih. Perih yang di sini, walau perih terus menjalar, tapi luka enggan mengering." Gue menatap kosong langit langit kantor sambil ngelus ngelus dada.

"BODO AMAT." Temen gue emang jahat...

Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu... Tiap hari gue tetesin tuh lubang sampai warnanya merah. bahkan kedua jari gue juga ikutan merah. Gue tetesen dua sampai tiga kali sehari. Setelah gue tetesin, gue iket dua jari kaki gue dengan harapan kedua kulit di antaranya bisa menyatu kembali. Tapi, emang dasar. Ibarat dua manusia yang memang sudah tak punya niatan untuk bersama, sekalipun berusaha disatukan oleh banyak pihak, pada akhirnya juga tidak akan pernah seiya sekata. 

Terhitung sejak 13 Januari hingga 2 Februari gue meneteskan obat Cina ke luka gue. Tapi apa yang gue dapat??

Di suatu sore gue ngerasa badan gue nggak enak banget. Kepala gue pusing dan wajah gue berasa panas. Padahal setelah ngajar di centre, gue juga harus ngajar private di rumah murid gue. Tiap kali gue sentuh pipi gue, rasanya kayak gue nyentuh pantat panci. Membakar!!

Anehnya ujung ujung kaki gue dingin, terutama di pergelangan kaki kiri dimana luka menganga tercipta. Dan semua terlihat jelas saat jari gue, pelan tapi pasti, berair. Dan yang gue takutkan, yang dokter klinik takutkan, yang Ibu gue takutkan, yang Kimi* takutkan terjadi juga. Jari gue.... INFEKSI!!

3 Februari 2016...

Akhirnya gue ijin sakit dan pergi ke Rumah Sakit Permata. Karena gue wanita seterong, gue ke rumah sakit sendirian naik motor dengan dua jari kaki yang saling bertautan (baca: diikat). Setelah gue markirin motor, gue kemudian masuk dan mendaftar. Kaki gue makin nyut nyutan dan sakit. Gue menunggu dengan sabar hingga akhirnya seorang dokter muda menyambut gue.

"Jari saya infeksi, dok."

"OK. Coba saya lihat." Lalu, gue tiduran.

"Maaf mbak, telentang ya..." Lah ternyata gue tengkurep. Dipikir pijetan??

Setelah gue ganti posisi, sang dokter yang masih unyu unyu itu kemudian membuka di antara dua jari kaki gue lalu dia teliti sedemikian rupa. Matanya memicing, mulutnya mengatup, dahinya penuh kerut.

"Kok gini ya?" Kalian bisa bayangin nggak sih di antara dua jari yang masih berlubang, lalu mulai mengeluarkan nanah dan terlihat banyak bintik berisi air? Jangan dibayangin!! Ngeri!

"Ini masih berlubang tuh mbak..."

"Terus gimana Dok?"

"Saya pindahkan ke dokter bedah saja ya..."

"Saya mau dibedah dok??" Pandangan umum gue tentang dokter bedah adalah dokter  yang hobinya membedah dan barang siapa yang berobat ke dokter bedah maka akan dibedah. Gue udah bayangin kalau jari gue akan dikeluarkan isinya, kuku gue dicabut, kaki gue dikuliti. Gue makin depresi. Dan sekarang Barbara nggak di samping gue. Gue harus menghadapi dokter bedah seorang diri.

Tetapi, kadang dalam hidup kita, kita dihadapkan pada satu satunya pilihan yaitu pilihan untuk menghadapi kenyataan. Dari dokter bedah gue belajar apa arti kehidupan, yang kemudian menjadi pelajaran hidup no. 35!! Lima menit kemudian gue menunggu dokter bedah.

"Ini kita obati dulu infeksinya, lalu nanti kalau sudah sembuh infeksinya baru dijahit."

"DIJAHIT LAGI DOOOK??"

"Iya."

"Nggak ada jalan lain, Dok?"

"Ingat dek, dalam hidup kadang kita dihadapkan pada satu satunya pilihan yaitu pilihan untuk menghadapi kenyataan."

"Baik, dok."

--

Akhirnya kaki gue dibersihkan oleh salah satu perawat. Kaki gue disemprot semprot lalu dibungkus sedemikian rupa. Sekarang, bungkusannya melebihi singkong bakar. Kaki gue terlihat seperti ketela pohon ukuran jumbo.

" Oh, jadi habis dari Jawa..." Begitu gue ceritakan apa yang menimpa hidup gue, pak Dokter langsung merespon.

"Tapi Dok, ini saya juga masih di Jawa...

"Kok berobatnya jauh amat.."

"Iya, sekarang saya tinggal di sini.."

"Owh, sekolah di sini ya.."

" Saya gurunya dok."

--

Mata gue hampir keluar saat gue menebus obat di kasir. Untuk kontrol dokter dan anti-biotik serta obat lainnya, gue bisa beli sepeda!!

"WOW WOW WOW!!!" Kalau kata #IniTalkShow

"Ini kak, totalnya 985.000"

"Owh OK." Gue main OK OK aja padahal dalam hati gue,

"Buseeettt!! MAHAL AMAAAAAAAATTT!! Aaaaaaaakkkk TIDAAAAAAKKKK!! Apa gue harus makan nasi sama kuah emi minggu depan??" 

Untungnya sebelum ke rumah sakit, gue tidur di rumah tante gue dan pada akhirnya Om gue berkata,

"Ke, ingat! Bilang sama pak Dokter, beli obat yang paling mujarab..." ucapnya sambil melakukan adegan menyentuh saku celana belakang kemudian menyembulkan kotakan hitam yang terbuat dari kulit sedemikian rupa. Gue bisa bernafas lega. Om gue emang yang paling mengerti anak kost. Gue rasa dulu om gue juga mantan anak kost. 

Setelah keluar dari rumah sakit, gue pulang ke kost dan nontondramaKorea istirahat. Tetapi ternyata -penderitaan- cobaan gue belum berhenti sampai di sini. Tiga hari kemudian gue kembali demam. Bahkan, kali ini gue nggak bisa tidur. Setiap kali gue merebahkan diri dan diam di tempat, tiba tiba kaki dan tangan gue berasa dingin, lalu lama lama mati rasa. Tiap gue diam selama lima menit, gue nggak bisa merasakan tangan dan kaki gue. Gue pikir ini cuman khayalan gue aja karena gue emang suka kebanyakan khayalan. Halusinasi, orang sering bilang. To make sure, gue cubit tangan gue.

"Nggak berasa...." Gue bilang sama si Kimi* yang masih geleng geleng di atas gue. Gue panik. Gue bingung harus gimana. Gue coba berkali kali dan emang bener tiap gue nggak gerakin anggota tubuh gue, tangan beserta kaki dan bahkan badan gue dari leher ke bawah jadi nggak berasa. Kayak gue cuman punya kepala doang. Ini horror banget, gaes!! Seumur umur gue baru kali ini dihadapkan pada keadaan tubuh yang bikin panik banget. Gue jadi takut tidur. Gue takut saat gue bangun nanti, gue nggak bisa nggerakin anggota tubuh gue. Bahkan, kalau biasanya gue kunci pintu kamar saat malam, kunci kamar sekarang gue buka lagi. 

"Biar nanti kalau gue kenapa kenapa, gue bisa ketahuan." Jam dua pagi gue masih parno. Gue lalu keinget banyak kasus anak kost ditemukan tak bernyawa dan bahkan baru ditemukan setelah dua sampai tiga hari setelah meninggal. Karena apa? karena mereka ngunci pintu kamar mereka! 

Malam itu, gue cuman bisa menatap nanar langit langit kamar sambil gerakin tangan dan kaki gue per satu menit. Kadang gue berdiri dan lari lari di tempat, terus kadang duduk sambil meliuk liukkan badan, atau tidur sambil naikin kaki gue ke dinding kamar, gitu terus sampai Firaun masuk Islam. Ahh, Gue jadi inget dosa dosa gue.

Benar orang sering bilang, "Manusia akan ingat pada Tuhannya saat sedang dalam kesulitan." Pun gue demikian. Gue jadi inget saat gue skip sholat, atau saat gue lupa sedekah abis gajian, atau saat gue nggosipin artis, atau saat gue ingat mantan. Dosa gue sungguh besar ya, Rabb....

Jam tiga gue makin banyak pikiran. Bahkan, saking banyaknya gue sekarang jadi kepikiran nikah. Setidaknya gue nggak cuman menatap nanar langit langit kamar sendirian.

"Mas, adek nggak bisa bobok.."

"Ya udah kita main UNO aja, dek.."

"Tapi, nanti Mas ngantuk pas kerja?"

"Nggak Dek, Mas udah minum Extra Joss."

Tapi, gue segera gue buang jauh jauh khayalan tentang #MasMainUNO. Gue lagi sakit. Lagipula ingin menikah dengan alasan bisa main UNO bersama adalah alasan yang tidak baik.

"Menikahlah karena Allah..." Itu.

Setelahnya, apa yang gue lakukan? Karena gue makluk sosial dan gue nggak bisa hidup sendiri dan menghadapi permasalahan hidup seorang diri, akhirnya Subuh Subuh gue telpon Ibu dan sahabat gue, Uma. 

"Ibu, aku nggak bisa tidur semalam. Tiap aku diemin tangan dan kaki, dia jadi nggak kerasa. Aku.....aku.......huaaaaaaaa....."

"Sep, aku masa nggak bisa tidur. Aku nggak bisa ngerasain badanku kalau aku diemin seph. Apa ini akhir hidup aku? Tapi aku kan belum....aku belum....Sep, huaaaa..." Aku berkata kata dengan bibir bergetar. 

Bahkan, pagi pagi gue telpon salah satu temen kerja yang ternyata juga temen kost gue. Dia lalu ke kamar gue.

"Miss...kau lihat mata panda di sekitar kelopak mata aku?"

"Iya lihat, ada apa?"

"Aku gagal....aku gagal..."

"Gagal move on??"

"Bukaaaaan. Itu kan kamu. Aku gagal.....tidur, Miss. Aku nggak bisa ngerasain badanku. Aku harus gimana, Miss?" Gue tersedu sedu. 

"Ya udah hari ini kamu nggak usah kerja, nanti aku ijinin. Kamu ke dokter aja."

"Makasih, Miss." That's the point! Semenit setelah gue telpon Ibu gue, kabar tentang sakit gue tersebar luas di keluarga gue nan jauh di sana. Ayah gue, adek gue, nenek gue, dan tante gue yang juga sedang berlibur di kampung halaman berlomba lomba untuk telpon gue. Bukannya berlomba lomba dalam berbuat kebaikan seperti yang tertuang dalam Al-Baqarah ayat 148; fastabiqul khairat. Tapi, kan menolong orang sakit adalah suatu kebaikan juga. Di masa masa begini gue merasa sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang orang baik, keluarga dan sahabat serta teman yang baik baik. 

"Ya udah Ke, hari ini kamu ke rumah sakit lagi. Biar nanti karyawan Om nganterin kamu." Telepon dari tante gue bagai oase di gurun Gobi.

Akhirnya hari itu, Sabtu 6 Februari 2016 gue diantar ke UGD Rumah Sakit Permata. Dan fase sakit jenis akibat 'kakean polah' atau bahasa inggrisnya 'too much movement' yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kelebihan piknik ini adalah fase sakit paling konyol yang menghabiskan paling banyak dana dan rasa bersalah serta penyesalan yang paling besar dalam hidup gue. Andaikata gue bisa memutar balik waktu, gue akan duduk manis minum teh saja sambil nonton Uttaran di rumah bersama Ibu. 

Tapi nasi rames telah menjadi bubur Manado. Gue langsung ke UGD dan curhat tentang apa yang menimpa hidup gue. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi??

-to be continued-




11 comments:

  1. Pas bagian tengkurep kayak mau pijet gue malah ngakak mbak. Seakan-akan bahagia melihat penderitaan mbak Mey. Gue bisa bayangin gimana wujud kakinya itu mbak. Cuman bisa doain semoga cepet sembuh mbak. Itu kakinya nggak terasa bukan karena mau mati kok. Itu pertanda keadaannya darurat. kaki infeksi kan bisa makin memburuk kalo salah penanganan, kemudian diamputasi mbak. Be careful

    ReplyDelete
  2. Ini akibat gue gak baca dari part pertama hingga sekarang ini. Itu kakinya kenapa yah? Kok serem banget aku bacanya, ada kata-kata sobek, dijahit, salepnya masuk kedalam semua lobangnya, mati rasa, dan kata-kata lainnya yang tidak bisa dijelaskan. Emang segitunya yah? Aku turut sedih aja deh mbak, serta berharap yang terbaik untuk kesembuhan kaki kakak.

    Biar kakak bisa jalan-jalan lagi, ke acara nikahannya mantan. #apaansi

    ReplyDelete
  3. Paling ngeri sama luka2 sobek gitu. Apalagi sampai bernanah. Pasti menderita banget tuh mbak Mey. Moga aja cepat sembuh. :)

    ReplyDelete
  4. ini sakit apaan??? aku penasaran banget. apalagi kena infeksi gitu, terus kaki dan tangannya mati rasa. astaga. kamu sehat aja kan??

    eh ini cerita beneran kan?

    ReplyDelete
  5. aku baca kok kakiku ngilu ya allah :((
    eh iya hati2 penanganan buat infeksinya, bahaya banget tuh kayaknya..

    ReplyDelete
  6. mbaak aku skip2 ceritanya yaa.. walaupun aku cowok dan 20++ aku agak ngeri kalo ada cerita gininan. pas di nanya ke murid via bbm, aku langsung skip2 adegan yang NSFW.. :3

    terakhir, cepet sembuuh~

    ReplyDelete
  7. masih aja luka di kaki yang gak seberapa itu mbak mei, perasaan gak sembuh-sembubh ini bentar lagi episodenya ngalahin tukang kebun naik haji nih pasti.

    yowes mbak jangan \banyakan piknik, pun kalo piknik ajak ajak biar gak over piknik sendirian hehehe

    semoga cepet sembuh dan nemu jodoh ya mbak, biar ada yang nganter ke rumah sakit

    ReplyDelete
  8. Kak Mey, cepet sembuh yaa buat kedua jemari kakinya yang sakit itu. Semoga bisa beraktifitas dengan normal seperti sedia kala.

    Ini semua pasti gara-gara kejadian di umbul ponggok beberapa hari sebelumnya itu yaa. Pikinik yang harusnya bikin bahagia eh ternyata malah terkena malapetaka. Ada beiknya mending stay di rumah aja deh maraton film gitu.

    Aku merinding semua kak pas bacanya. Apalagi pas Kak Mey gabisa gerakin tangan dan kaki, duh serem banget. Tapi ini ceritanya masih berlanjut yaa. Semoga di kelanjutan ceritanya nanti kak Mey dikabarkan udah sembuh deh yaa.

    ReplyDelete
  9. kayaknya tambah parah aja habis dari umbul ponggok kemarin? sampe sobek lagi gitu lukanya. kayaknya kamu emang kakean polah. hahahaha
    get well soon yah, semoga kulit yang berpisah bisa bersatu kembali :)

    ReplyDelete
  10. Kok jadi ikutan ngilu ya gue -_-

    Belum baca cerita sebelumnya, jadi ga tau gimana kronologis
    kejadiannya kenapa bisa sobek gitu, dijait, terus infeksi sampe badan
    ikutan panas dingin, agak merinding juga pas ga bisa ngerasain badan &
    kayak cuma punya kepala doang -_-

    Semoga cepet-cepet sembuh ya, kasian nanti anak muridnya hehehe.. Btw,
    kok agak lucu ya pas dokternya manggil "dek" dan ngira kalo masih
    sekolah :v

    ReplyDelete
  11. Saya tertarik dan senang dengan artikel Anda.
    Saya juga punya artikel yang menarik dan anda bisa akses di UG IBT

    ReplyDelete