Sunday, 10 April 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 3 ( Malapetaka baru )



Idealnya hari pertama kerja di tahun yang baru adalah kerja dengan suka cita dan penuh semangat. Ini tahun baru lho, gaes! Banyak mimpi baru yang diterbangkan dan banyak angan yang digantungkan.

Tapi bagi gue, hari pertama kerja di tahun baru itu sebangsa nighmare ever, musibah, bencana, hal yang nggak gue harapkan kehadirannya. Dan ini semua karena lubang di jari gue selebar 4 cm ditambah tas punggung gue yang masih dalam proses pencarian. Untung sebelum gue berangkat, gue ditelpon sopir bis gue.

"Mbak, ini nanti saya kasih nomor telpon orang yang ambil tas Mbak ya..."

"Beneran Pak? Sudah ketemu Pak? Tapi tas saya nggak kenapa kenapa khan Pak?"

"Iya, tas mbak aman."

Buru buru gue telpon penukar tas gue. Ngantuk sih ngantuk ya, tapi masa iya nggak bisa bedain mana tas dia, mana tas orang lain. Bentuk tasnya itu jauuuuh berbeda, gaes. Tas dia lebih kecil, serupa tas punggung biasa. Sedangkan, tas gue gede menyundul langit sampai kalau gue pake, dia lebih gede daripada gue. Gue kadang bingung.

"Ini tas punggung apa beban hidup?"

---
"Halo, Assalamualaikum.."

"Halo Mbak, waalaikumsalam. Mbak, saya yang kehilangan tas punggung di bis tadi. Dibawa mbak ya? Kok bisa ketuker Mbak? Kan beda banget tasnya... Mbak nggak pernah minum AQUA?"

"Iya, maaf Mbak. Tadi yang bawa Bapak saya. Dia nggak sengaja bawa punya Mbak." Gue jadi merasa bersalah. Padahal biasanya wanita selalu benar.

"Owh, ya udah Mbak. Tolong anterin tas saya ya Mbak karena isinya penting mbak. Mbak sekarang dimana?"

"Di Jonggol."

Gue rasa sebentar lagi mbak mbak di ujung telpon akan bilang,

"WAKWAAAAWWWWW!!"

"Mbak, maaf jangan bercanda, Mbak. Saya nanya serius. Mbak dimana?"

"DI JONGGOL!"

"Mbak, hidup saya ini lagi kacau lho, mbak..tolonglah mbak, bantu saya. Mbak dimana?"

"SUMPAH, SAYA NGGAK BERCANDA. SAYA MEMANG DI JONGGOL, MBAK! Saya di kelurahan Sukamaju."

"Oh, oke Mbak." Sinetron memang menghancurkan anak bangsa.

"Mbak, tolong bisa diantar tas saya lewat Gojeg ya, Mbak. Karena saya butuh isinya secepatnya.."

"Iya, mbak. alamat yang bisa saya tuju dimana ya?"

Dan drama 'tas yang tertukar' pun menemui akhirnya. Semua ini berkat Gojeg. Dan untungnya mbak anak seorang Bapak yang salah mengambil tas pun bisa diajak kerjasama. Akhirnya tas gue duduk cantik di kursi kantor karena gue takut nggak keburu nungguin abang Gojeg di kost. Dengan terseok seok gue melangkah masuk kantor.

"Good morning...."

Sampai kantor gue udah kayak zombie. Mata gue merah karena gue kurang tidur, gue jadi pilek dan pusing karena terpapar AC yang dinginnya kayak hati mantan, gue jalan terseok seok karena jari gue dijahit jelujur, dan semua itu jelas mempengaruhi mental gue. Seharian selain ngajar, gue cuman bisa duduk, kadang naruh kepala di meja, ngelamun, ketawa ketawa, glesotan, buka baju. 

Begitu pulang kerja, gue udah kehabisan daya usaha tenaga dan harapan. Gue meringkuk di kamar tanpa ganti baju. Dan perlahan, semuanya gelap. Tengah malam gue bangun karena perut gue sakit banget.

"Ini kenapa lagi, yaelaaaaah..." Gue ngomong sama perut. Perut gue kayak diperes peres, dia berontak! Dia nendang nendang. 

"Iya, sabar cing...belum dikasih makan ya?" Ternyata cuma cacing. Jam 3 subuh saat gue didera keperihan di dalam perut gue dan pemberontakan yang dilakukan oleh segenap cacing cacing di perut gue, gue baru inget kalau gue belum makan. Nggak ada Ibu, nggak ada Astrid, nggak ada makanan. Kelar hidup gue.

Untung gue masih punya sisa roti yang gue beli sebelum naik bis kemarin. Akhirnya gue makan roti, minum susu dan kembali meringkuk. Di sudut kamar gue lihat Kimi tetap setia geleng geleng kepala dan memutar angin di segala penjuru kamar.

"Hidup ini keras ya, Kim..."

Seminggu kemudian....

"Klinik yang deket deket kos dimana ya Miss?" Gue ingat dokter tempo hari nyuruh gue lepas jahitan seminggu kemudian. Gue jelas nggak sanggup nglepas jahitan sendirian. Takutnya pas gue tarik, eh dia malah masuk ke dalam. Atau pas mau gue copot, eh talinya malah bundel kemana mana. ini terlalu rumit.

Sesuai dengan apa yang dikatakan temen kerja gue, keesokan harinya gue diantar oleh Barbara; temen kost gue paling setia ke klinik itu. 

"Meykke."

Sekarang giliran gue.

"Apa keluhannya?"

"Banyak, dok....."

"Mau buka jahitan, dok.."

Gue disuruh rebahan.

"Kakinya kenapa?"

"Kena kail, dok..."

"Lah, renang di sungai mana?" Mungkin dia pikir gue ketua genk anak anak yang cuman pake cancut terus terjun dari jembatan ke sungai Ciliwung?

"Bukan sungai, Dok. Tapi di tempat pemandian. Cuman katanya ada yang suka mancing illegal."

Nah, saat jari gue dibuka, tiba tiba pak Dokter paruh baya itu marah.

"Lho?? Kok nggak diperban sih Mbak? kalau luka dijahit itu nggak boleh dibuka begini. Ini rawan infeksi. Kalau dibuka kan bakterinya bisa masuk lewat benang jahitnya. Aduh, ini gimana...." Yah, gue dimarahin. Rasanya gue pingin telpon dokter tempo hari.

"Tuh khan doooook, dengeriiiiiiiiin...."

"Hari ini belum bisa dibuka ini, jaringannya belum kuat. Dan takutnya kalau dibuka malah infeksi. Coba saya dterilkan dulu." Dan di momen itulah tiba tiba kedua jari gue dibuka dan ditarik. 

"Aduh duh Dok! Sakit Dok!!" Gue ngeri banget dah ah. Gue segera nutup jari gue lagi. 

"Ini harus dihilangin nanahnya dulu biar nggak infeksi."Dokter buka jari gue lagi.

"Aduh, jangan jangan Dok! Sakiiit Dok!!" Gue megangin jari gue. 

"Udah deh Mbak, jangan kolot!" Gue terhenyak. Gue dikatain kolot. Kolot temennya bolot, bukan?

"Tahan sakitnya." Lalu, tiba tiba dengan seperengkat kapas dan revanol dokter sekonyong konyongnya menekan luka jahitan gue. Itu sakitnya perih bercampur nyeri dan linu. Walau pun cuman di jari kayak begitu doang, tapi sakitnya bisa sampai ubun ubun. Gue cuman bisa meringis sambil berdzikir. Gue jadi ingat Tuhan.

"Jari dijahit aja sakitnya begini, apalagi nanti sakaratul maut?" Gue memantapkan diri untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Seharian jari  gue senut senut. Hati gue cekut cekut.

12 Januari 2016...

Hari ini adalah hari yang gue nanti nanti.Kesembuhan sudah ada di ambang mata.

Jahitan dibuka --> dikasih salep --> luka mengering --> hati gembira. Ah, indah sekali....

Dokter pun mengamini apa yang gue harapkan selama ini. Bahkan saat ditekan kapas, jari gue nggak merasakan sakit lagi. I'm ready for it!!

Karena gue takut merasakan sakit, gue udah tegang banget saat dokter bersiap membuka jahitan gue. Tapi, sebelum jahitan dibuka, dokter berkomentar.

"Loh, ini yang dijahit cuman sisi atas dan bawah. karena letaknya susah, ini jahitannya nggak menyatu. Nih, liat Mbak.." Barbara mengangguk angguk di samping pak dokter. Ya, Barbara masih setia nganterin gue ke klinik.

Tapi, ternyata lepas jahitan nggak sesakit yang gue bayangkan. Sebenarnya gue juga udah tahu kalau lepas jahitan itu nggak sakit karena gue udah searching di google. Gue ketik,

"Melepas jahitan luka, sakit atau tidak."

Dan memang benar, I felt nothing. Jari gue diolesin salep, dan gue berangkat kerja dengan penuh suka cita. Gue nggak pernah tahu kalau sebenarrnya ini adalah awal dari malapetaka panjang yang sebenarnya.

Sepulang kerja gue buka di antara dua jari gue buat ngasih salep lagi. Tetapi gue bingung. Saat gue buka, di sela sela putih salep, gue bisa melihat lubang menganga. 
Gue masih nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Berkat yoga, gue bisa duduk sedemikian rupa hingga mata gue bisa dengan lebih dekat mengamati di antara dua jari kaki gue. Benar. Sebagian salep bahkan keliatan masuk ke dalam lubangnya setelah tadi gue olesin lagi.  Lihat!! Bahkan sekarang salep gue sedikit mengalami perubahan warna menjadi pink. Lima detik kemudian gue sadar.

"Barbaraaaaaaaaaaaa, JAHITAN GUE SOBEK LAGI! TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!"

-to be continued-

4 comments:

  1. SUMPAH! gue ngeri-ngeri-ngilu gimanaa gitu bacanya. dari awal baca gw gak terlalu nanggepin tragedi tas yang ketuker itu, malah mikirin apa maksud tulisan "jari bolong sebesar 4 cm" . pas baca bawah-bawahnya, aaaaah gilaaaaa qu ta' shangguppp. untung gak lo posting yaa foto lukanya idiw:(
    tp ini sekarang dah sembuh kan?

    ReplyDelete
  2. Kata dokter yang kena kasus malpraktek bisa cepet sembuh kalo diamputasi. Sampe pergelangan aja udah cukup kok. Kalo masih pengen dijahit, mending pake jahitan buat sunat. Itu jahitannya bisa lepas sendiri kalo udah kering. Bahkan sampe ikutan jadi daging.
    Jadi terserah mbak meykke, mau Amputasi atau dijahit lagi..

    ReplyDelete
  3. Eh, engg... Itu mbak meyke kenapa tho ya? Kok jahit jahitan segala. Terus itu juga kok tasnya bisa ketuker? Ini judul sinetron baru apa gimana? Tas yang tertukar?

    Gak sakit apa mbak itu kena kail pancing ya mbak? Mungkin si pemancing ngira mbak meyke itu kali, ikan hahahaha ikan duyung jadi pas renang mau dipancing. Hantinya eaaakkkk

    Kok dokter yang ngejait bisa salah gaul gitu? Sampe nanahan segala, duh jadi ngeri bayanginnya, apa mbk meyke yang salah kali ya bukan jahit di rumah sakit, tapi di tukang bordir hahaha

    Oke oke, ini serius gws ya mbak, semoga cepet sembuh, dan semoga gak jomblo lagi heheh

    ReplyDelete
  4. Ternyata bener ya Mey, yang namanya luka itu sulit sembuhnya... hehehe... btw jadi penasaran segede apa itu jahitannya kok lama banget keringnya. Tapi emang bener gue agak ngenes baca kisah ini.. Maaf yah.. :D

    Akhirnya tasnya udah kembali, alhamdulillah...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...