Friday, 13 February 2015

Meniti Jembatan Pembelah Rawa, Jembatan Biru - Tuntang!!



Menatap genangan air tenang bernama rawa dari pucuk bukit bergoa, Goa Rong, telah katam gue dan teman teman lakukan. Rintik hujan jelas nggak menghalangi kita untuk menuju ke spot kedua hari ini. Kita akan ke RAWANYA!!

Dan kini gue berdiri di sisi kanan jembatan, memandang takjub pada deretan pegunungan yang seolah memagari kota kecil gue, lengkap dengan air tak beriak tanda tak dalam yang diselingi dengan enceng gondok dan tanaman padi. Perahu yang hilir mudik di rerimbunan enceng gondok menambah keeksotisan rawa. Di sepanjang mata berkeliaran, hijau dan biru berkolaborasi maha sempurna, diciptakan oleh Maha Segalanya. Gue melongok ke kaki jembatan, para lelaki penyabar berbaris rapi, mengulurkan umpan demi suplai protein gratis untuk keluarga di rumah atau hanya untuk lari sejenak dari rutinitas. Gue naik selangkah di batas jembatan, merentangkan tangan lebar lebar demi belaian angin sepoi sepoi dan sedang akan menutup mata untuk sensasi sejuk sepenuhnya ketika tiba tiba,


“Dek, istighfar!! Astaghfirullahaladziiiiiiiim....!!” Mbak Ega tiba tiba mengajukan interupsi. Gue bingung. Kenapa gue tiba tiba disuruh berdzikir. Dikira gue akan mengakhiri segala keringat tumpah darah kerja keras gue selama ini di Rawa Pening ini?? Sepening peningnya hidup gue, gue nggak akan menyerah karena gue fans beratnya D'Massive. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah....tetap jalani hidup ini...melakukan yang terbaik...

“Ya kali mbak..aku mau terjun. Tenggelam kagak, dipancing mas mas iya...”

“Terus mau ngapain?”

“Menikmati hidup, mumpung di Jembatan Biru, Sumurup, TUNTAAAAAANG !!!”


------

Liburan kali ini harus gue manfaatkan sebaik mungkin. Problematika hidup orang kebanyakan tentang jalan jalan, termasuk gue adalah saat sekolah atau pun kuliah, gue punya waktu tetapi gue minim dana. Saat kerja, gue punya dana tetapi jelas gue minim waktu. Padahal untuk bisa travelling,dana dan uang harus go hand in hand.

Makanya liburan natal dan tahun baru kali ini benar benar gue manfaatin sebaik mungkin.
Dan sekarang, setelah gue naik naik ke puncak bukit dan memandang Rawa Pening dari ketinggian di Goa Rong, gue dan teman teman turun dan menyaksikan kesyahduhan rawa dari dekat.

Jembatan Biru. Gue yakin kalian asing dengan tempat wisata ini. Bahkan gue juga ragu kalau tempat ini sebenarnya tempat wisata atau bukan. Untuk bisa sampai di sana pun gue harus jalan  melewati rel kereta api yang sampai sekarang masih dipakai untuk kereta wisata dari stasiun Kereta Api Ambarawa. Tepat di sisi kanan gue banyak petani yang sedang memanen padinya. Perahu  perahu berliukan di antara enceng gondok. Sawah dan rawa terlihat menyatu dan ah!! Gue akan segera tiba di sebuah jembatan berwarna biru yang menghubungkan antar sisi rawa, tapi belum jadi!!


pemandangan di sisi kanan

sawah yang ke rawa rawaan.

manusia berhelm menyelusuri rel kereta
Gue terpengarah beberapa detik. Bukan karena takjub tetapi gue bingung. Gue tanya sama adek gue, Nicken.

"Ken, jadi cuman jembatan doang?"

“Lah..lha tadi khan emang bilangnya kita ke sini...itu apa?”

“Jembatan...”

“Warnanya apa??”

“Biru...”

“Ya udah, ini jembatan biru....”

Ya, maksut gue jembatan biru nggak gini gini amat kali ya. Coba deh bayangin, gue udah jalan nih dari tempat parkir terus harus meniti rel kereta api dan jalan cukup jauh..terus udah gitu gue dihadapkan pada jembatan yang .....putus. Mungkin putus bukan kata yang tepat, tapi mereka belum jadian. Jembatan di depan mata gue adalah jembatan berwarna biru yang belum nyambung karena baru jadi separo saja. Jadi, kalau lo mau ke sisi satunya lewat jembatan ini, jalan satu satunya adalah jalan lewat jembatan, lalu lo loncat terus renang, lalu lompat ke jembatan satunya yang belum jadi dan traraaa...sampai. Ini jalan jembatan apa jalan hidup kok susyah bener.

Ibarat kata buat apa ada cinta kalau tidak diperjuangkan, buat apa ada jembatan kalau tidak dihubungkan. Gue jadi galau mendadak. Tidak hanya itu. Untuk bisa sampai di atas jembatan, gue harus meniti titian tangga yang miring kemana mana dan rapuh. Gue bingung, ini titian tangga apa titian hati. Lapuk!!

naiknya butuh perjuangan!!

akhirnya berhasil juga. Horeee!!!


Tapiiiii...

Benar kata pelajaran hidup nomor 87:


"Don’t judge the book by its cover, don’t judge the people by their bodies, so don't judge the bridge by its ladder!!"

Kenapa??

Karena begitu gue sampai di atas, beuuuuh....ditinjau dari atas, awan serupa kapas berlatar belakang biru muda berarakan, disusul dengan pegunungan yang berjajar mengepung rawa. Di sini sawah dan rawa beserta enceng gondoknya berkolaborasi dengan begitu harmonis, seharmonis petani dan pemancing yang mencari rejeki bersisian. Di pinggir rawa, petani terlihat memanen padinya dan di tengah rawa, para pemancing hilir mudik di atas perahu super sederhana. Dengan menggunakan jala, alat pancing, dan sampan mereka siap meraup ikan. Ahh, bahkan banyak lainnya berjejeran di kaki kaki jembatan dan dengan sabar mengulur umpan mereka.


Petani memanen padi.

Nelayan menjala ikan.
Pemancing memancing ikan beserta pasangan jembatan yang belum jadian. Sedih ngeliatnya...
Kereta wisata sedang meluncur. dadah dadah duluuuu....

Kalau gue hanya boleh menggambarkan tempat ini dalam satu kata saja, maka kata itu adalah INDAH!!

Suara daun padi bergesekan berbaur dengan suara hempasan batang padi yang sedang dipanen pak petani, juga suara desiran angin sepoi sepoi benar benar kolaborasi suara yang pitch controlnya pas.

Dan tanpa babibu, gue dan teman teman segera berganti pose, hilir mudik kian kemari demi momen yang terabadikan!!

Mbak Ega dan cemewewnya, Darmes sedang pacaran.

keenam personil.
Berbagai pose Nicken.





Nah, untuk bisa menikmati pemandang serupa ini, bosan rasanya kalau posenya hanya itu itu saja. Jadi, kali ini gue akan memberikan beberapa pilihan pose yang nggak bikin bosen dalam menikmati keindahan cintaan Alloh SWT.

Check this out!!

1. Stand-up mode. Cara pertama adalah berdiri di salah satu sisi jembatan. Kamu bisa dengan leluasa menikmati rawa dan sawah yang hidup berdampingan. Di depan sebelah kanan ada beberapa pak petani sedang "nggepyok pari" atau memanen padi dan pria lainnya sedang memancing menggunakan perahu kecil.

2. Sit-down mode. Bila Anda sudah mulai lelah tetapi masih ingin merekam keindahan rawa pening ,kamu bisa duduk di besi jembatan sembari ongkang ongkang. Nah ,di posisi ini kamu juga bisa melihat tepat di sisi kiri banyak pemancing berbaris di bawah jembatan mengadu keberuntungan. Tepat di bawah kaki , rawa bening mengalir tenang.

3. Titanic-single mode. Dengan posisi ini kamu tidak hanya menangkap indahnya ciptaan Tuhan lewat indra penglihatan,tetapi juga lewat indra peraba. Kumpulkan sedikit keberanian, jejakkan kaki di besi jembatan dan buka lengan lebar lebar. Kamu akan merasakan kesegaran yang merasuk sampai sumsum tulang belakang mengalir sampai hati terdalam. Tetapi dalam pose ini kamu dilarang berkhayal menjadi Rose karena Jacknya masih dalam mode pencarian. Biarkan saja kamu nikmati gunung berkumpul menumpuk numpuk dengan pucuk berselimut kapas raksasa. Nikmati awan bersemburat yang elok bercermin di wajah rawa. Semua memang indah pada waktunya ,maka nikmati saja keindahan yang ada. I feel so freeee!

4. Extreme-sitdown mode. Untuk kamu yang mulai lelah dan ingin menikmati keindahan lebar lebar dan tidak takut ketinggian, kamu bisa duduk pewe di tiang jembatan. Di sini, tanpa perlu membuka lengan lebar lebar, angin sepoi sepoi tetap mampu membelai lembut wajah kamu. Perpaduan gunung yang menyundul langit putih bersinar di ujung pandang akan dengan leluasa di tangkap dan dibawa pulang. Di bawah pun air beriak tanda tak dalam. Indaaaaaaah!

5. Yoga mode. Saat hidup kamu mulai berat, beban hidup mulai banyak kamu bisa mencoba pose ini untuk menghalau segala kegelisahan yang mendera tiada tara. Satukan telapak tangan di depan dada dan pejamkan mata. Sesap udara segar lekat lekat, dalam dalam. Resapi semua keindahan dan hayati semua yang telah diperjuangkan. Hidup masih panjang dan meditasi sangat diperlukan. Really, yoga helps you a lot.

"Krucuk...krucuk...gedangduut!!!"

"Buset! Itu apaan mbak Ik?"

"Aku mulai lafar, Ken..."

"Guys, mbak Ike mulai lafar, ayo kita makan." Ajak adek gue kepada teman temannya yang juga teman teman gue. Gue memang mudah lafar. Akhirnya, sekitar jam 2 kita mulai beranjak pergi. Sebelumnya, gue sempat dadah dulu sama ujung padi yang bergoyang dibelai angin, sama gunung yang gagah menyundul langit, pada air menggenang tenang di antara enceng gondok, dan sama perahu vintage yang sedang menunggu di tepi rawa. Gue sebenarnya pingin naik perahu bersama pemancing lainnya, tapi gue rasa teman teman gue nggak bakalan ada yang setuju. Takut nyungsep. 

Akhirnya, gue dan teman teman makan sejenak di kedai mie ayam murah meriah sebelum mengakhiri jalan jalan asoyy penuh hehijauan hari itu. Hati gue gegap gempita dan dompet gue nggak nelangsa. Khan, ke jembatan birunya cuman bayar parkir aja sebesar 2000. Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan??

Ah, rasanya liburan kali ini gue benar benar dimanjakan oleh keindahan ciptaan tangan manusia serupa museum museum, dan juga ciptaan tangan Sang Pencipta serupa pantai, bukit dan rawa. Banyak hal yang bisa gue bawa pulang dari perjalanan kali ini, bahwa untuk bisa jalan jalan nggak harus punya dompet setebel lemaknya Ivan Gunawan atau pun bedaknya Krisdayanti. Untuk bisa bahagia, nggak harus merogok kocek dalam dalam. Yang perlu kita lakukan hanyalah merencanakan tempat tujuan, mengajak teman, dan pergi!! Dan tujuan pun bisa diselaraskan dengan ketebalan dompet.

Pelajaran hidup nomor 25 :
"Selagi bisa, melangkahlah sejauh mungkin dengan interval selebar mungkin. Buka mata, buka hati dan HIDUP."


Dan jalan jalan gue di tanah kampuang pun belum selesai!! Sehabis ini gue akan menyaksikan pergantian tahun di ketinggian skitar 1200 dpl, di antara candi candi peninggalan Wangsa Syailendra abad ke-9. Gue pun bingung ini mau liat kembang api apa mau belajar masa lalu. Tapi, ini adalah tahun baru paling rame yang pernah gue saksikan langsung seumur hidup. Selama 23 tahun gue hidup, ini adalah kali pertama gue merayakan malam pergantian tahun baru tanpa nonton film di tipi. Gue akhirnya bisa menyaksikan percikan cahaya dimana mana, melesat lalu meletup bersama sama di udara, menandai masa lalu yang harus berlalu dan masa depan yang harus dikedepankan.


I love my hometowm so much. To be continued.

20 comments:

  1. Ternyata untuk menikmati alam ada macam2 gaya-nya juga ya..
    Kalau liburan emg si enakan ketempat2 yang kaya gtu. Lebih enjoy

    ReplyDelete
  2. Awalnya petualangan kemaren seru banget.

    Setelah dilanjutkan. Ternyata menuju tempat wisata yang belum nyambung. atau belum pacaran. Masih putus.

    Tapi kalo dilihat-lihat, keren juga jembatan birunya kak. "Iya, keren."

    Selain itu, yang paling aku nikmati adalah tulisanmu yang berisi quote singkat nan padat badai, topan itu kak. Bagus dan ngena. :)

    ReplyDelete
  3. Gaya fotonya bisa dicoba.. kalau tempatnya p

    ReplyDelete
  4. Kalau tempatnya pas

    Maaf kalau nggak.lengkap keyboard suka ngilang2

    ReplyDelete
  5. Hmm. Belum pernah, deh, jalan-jalan ke persawahan gitu. Cuma sekedar lihat aja, namun tidak dengan terjun langsung. Pengen deh sekali-kali rasanya pengen ikutan nanem sekaligus nyari belut. Enak aja gitu, megang belut. Asal bukan belut listrik.

    Btw itu pose yoga maksud apa kak Mey? Biar dimiripin sama dewi quan in gitu? Wkwkw. Amitaba.

    ReplyDelete
  6. ah kalau ke persawahan, aku tinggal ke belakang rumah aja yah ga perlu jauh2
    maklum rumahku kan di kota (kotakan sawah) #ups hehehe
    lumayan loh ke sawah buat nyegerin mata. nyegerin mata bukan cuma liatin abang2 ganteng doang kan hehehe

    ReplyDelete
  7. Pose fotonya mbak Meyy ekstream-ekstream >_< Hahaha
    Asik yaaa jalan-jalannyaa.. cara menyampaikannya bagus bangeet mbaak. Ikut terbawa suasana :D
    Ternyata kalau kita perhatikan sekeliling, banyak pemandangan indah ciptaan Allah yang patut disyukuri.. :') Subhanallaah..

    Ditunggu itu cerita tahun barunyaaa :3

    ReplyDelete
  8. Baca tulisannya enak banget ya, serasa kayak beneran disana. Oh iya, btw gaya foto-fotonya kocak banget sumpah! Awal-awalnya normal, eh lama-lama jadi abnormal hehehe:D

    ReplyDelete
  9. Mbahahay... Tulisannya random banget mba broo,, tapi asik enak dibacanya :D
    & Tips pose di jembatannya juga gokil. Cuman mau nambahin aja, coba lain kali kalo dijembatan pake pose gaya 'YOYO' yaaps Mainan yang bisa naik turun kalo talinya di tarik-tarik.
    Caranya simple. Buka tali sepatu & iketin ke leher, jangan lupa sisain setangahnya untuk ditaliin ke batang besi yang ada di jembatan. Setelah semuanya siap dalam hitungan ke-3 loncat dari jembatan dengan posisi leher menggantung di jembatan. Setelah itu photo deh dengan berbagai posisi. Dijamin orang-orang pasti terpukau dengan pose kaya gitu. Tapi inget dengan syarat JANGAN TERLALU LAMA! Kasian orang tersayang sedang menunggu dirumah.

    ReplyDelete
  10. MasyaAllah mbak ike ini keren banget rawa-rawanya. Kok kayak udah gak pernah liat ginian ya di desa-desa. Kalo di sidoarjo dulu, sih. Tempat yang beginian panas banget, mbak. jadi pengen cepet-cepet neduh. Kalo sekarang di Madura, juga, ng... di ujung-ujung pulaunya agak gersang. Jadi main-main ke blog kak meu jadi semacam hembusan napas baru. Hehe. Menyegarkan. Kapan-kapan lah kalau sempat pengin ke tempat-tempat macam ini. Membius sekali. muhehe...

    ReplyDelete
  11. Mbak Mey, denger rawa malah jadi keingetan Hayati, sama cewe yang udah lima tahun pacaran tapi diputusin di rawa2 huehehe lupa tadi baca di mana ya.
    Fotonya kurang puas ah pemandangannya banyakin kak meeeeey. Apa pula itu tutorial fotonya jadi kocak banget di akhir wkwk

    ReplyDelete
  12. Mampir ke sini lagi, dan mbaknya kembali jalan-jalan. Malah sekarang di kampung sendiri.Suasananya juga nggak jauh beda sama lampung gue yang dikelilingin gunung. Belum lagi ada tips pose poto segala. Indah pemandangan dapet, guyonannya juga dapet. Selalu seneng pas mampir sini. Hahahaha!!

    ReplyDelete
  13. Di tempatku juga deket persawahan, tapi sawahnya nggak kayak yang di foto-foto itu.
    Enak tuh, jalan-jalan bareng temen :D

    ReplyDelete
  14. pulang kampung yah Mey..
    Sayang yah jembatannya cuman sepotong. Itu kenapa sih? Apa anggarann dari pemerintah setempat buat bangun jmbatan 'di potong' juga gituh.. apa krna kurang dana? Pnsaran... :)

    Gue paling suka pose yg lagi duduk (di pangkuanku) eh.. Di atas tiang pnyangga jmbtanannya. Keren tuh..

    ReplyDelete