Wednesday, 22 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 2)


Setelah nonton Dracula Untold, sesaat sebelum bobok bareng, gue dan Uma jelas jelas menyusun jadwal untuk keesokan harinya. Rencananya gue dan Uma akan bangun jam 5. Kita akan sholat dilanjutkan belanja di Ibu sayur langganan gue (langganan di sini maksutnya at least udah pernah belanja di sana sebanyak 2 kali bersama Mbak Tutik). Gue dan Uma akan masak bersama di ambang subuh!! Ahh, gue nggak bisa bayangin saat saat gue dan Uma berkolaborasi meracik bumbu citarasa nusantara dan membalutnya menjadi makanan siap santap. Ngebayanginnya aja gue udah berasa kayak Farah Quinn.

“Well, it’s well done!”

“This is it!!! Tumis daun pisang saus tiram bumbu balado !! Heeeeeemmm...nyummy!!” Lalu dengan serta merta gue dan Uma menunjukkan daun pisang dipotong potong ditambah udang berbalur cabe cabean dimana mana.

Gue dan Uma akan berangkat naik motor menuju TMII pukul 7 pagi karena kita akan menghabiskan waktu seharian di Taman Mini Indonesia Indah. Rencananya sungguh indah.

Dan lagi lagi dengan dalih manusia boleh merencanakan Tuhan yang menentukan, apa yang terjadi keesokan harinya?

Bekasi, 05.15 setelah sholat Subuh....

*melakukan gerakan kepiting kepanasan di atas kasur

*5detik kemudian berhenti bergerak

Uma : “Seph, ayo belanja.”

Gue : “5 menit lagi.”

5 menit kemudian....

Uma : “Seph, gimane masaknya?”

Gue : “Udah beli mateng aja.”

Uma : “sbfdbsjfbdfygdfbdjbghfbgjf”


07.00 WIB....

Gue : “Lho?? Udah jam 7. Kok kita masih tidur?”

Seph : “You think?”

Jam 7 yang harusnya gue dan Uma udah selfie pake tongsis di atas motor, nyatanya gue dan Uma masih ngumpulin nyawa dan juga kotoran mata yang masih kececer dimana mana.

Pada akhirnya gue dan Uma berangkat jam 9!! Mentari lamat lamat mulai menggeram dan deru mesin motor gue mulai membelah jalanan pinggiran Jakarta Timur. Gue dan Uma berbagi tugas. Ibarat kata Uma adalah penentu langkah dan gue adalah pelaksana.

Sebenarnya ini adalah kunjungan gue yang kali kedua sejak gue merantau di Jeckardah. Kunjungan pertama saat itu gue bersama Yaya, bisa dibaca di MARI!!. Hanya saja, gue dulu belum berani naik motor dan mengarungi jalanan cadas Ibu Kota. Gue naik Transjakarta. Kali ini jelas berbeda, gue berasa naik 1 kelas lebih tinggi. Walau pun sebenarnya gue penuh dengan kegamangan. Nih nggak jalan motor, nggak jalan hidup gamang semua. *menujupancuran

Berbekal bismillah gue mulai melajukan motor. Seperti halnya banyak jalan menuju Roma, sesungguhnya banyak jalan menuju TMII. Yang gue tahu, gue bisa lewat jalan Hankam atau bisa juga lewat Pondok Rangon lalu Cilangkap. Keduanya sama sama berjarak 11 km. Sebelumnya gue melihat dengan seksama kedua jalur itu. Jalur pertama adalah jalur yang disarankan oleh teman teman kerja gue. Jalur Pondok Rangon lanjut Cilangkap.

“Jadi, biasanya kalo ke rumah aku khan belok kiri, tapi ini kamu lurus terus aja. Terus begitu sampai di pertigaan yang ada Indomaret di sebelah kanan, kamu belok kanan. Begitu sampai di Cilangkap, kamu ngikutin aja angkot warna merah nomor 02.” Gue lagi lagi gamang. Jadi gue harus ngikutin angkot gitu??

“Laaah, masa gue harus ngikutin angkot sih. Kalo angkotnya jalan, gue ikutan jalan. Kalo angkotnya berhenti, gue juga ikut berhenti?? Lah kapan sampenya, keburu temen gue udah nikah semua..”

“Ya nggak Mey, aduh! Khan tuh angkot ada banyak di situ, ya nggak harus ngikutin satu angkot keles.”

Gue ngangguk saja. Walo gue nggak bisa bayangin misalkan gue nggak ngikutin satu angkot nih, terus waktu ada pertigaan dan nggak ada angkot yang lewat, gue harus berhenti dulu di tepi jalan nunggu angkot lewat.

“Hayo seph, tebak nih angkot ke kanan apa ke kiri??”

“Wani piro??”

“Cepek dah. Aku nebak kanan...”

“Oke aku kiri.”

Yang ada kita malah judi di pinggir jalan. Yang ada gue dan Uma disusul sama Bang Rhoma Irama.

Judi!! (judi), meracuni kehidupan
Judi!! (judi), meracuni keimanan"

Gue lihat di GPS jalannya berliku liku kayak hidup gue. Jalur yang kedua adalah via Jalan Hankam. Gue pernah menjamah jejalanan itu sampai sebatas SMP Labschool. Dan well, jalannya cenderung banyak lurusnya walau jalan lurus sepuluh yang harus ditempuh kata Gita Gutawa. Dan seperti manusia lainnya, gue memilih jalan yang cenderung lurus tanpa banyak lika liku.

Dengan semangat berkobar kobar gue dan Uma menempuh jalan Hankam. Jalan tidak begitu macet kayak yang sering lu diliat di tipi tipi. Khan ini jalan tikus. Begitu sampai di sebuah bundaran, gue mulai bingung. Gue belum pernah sampai sini.

“Seph, kanan apa kiri???”

“Bentar bentar...”

“Cepatan nih udah mau sampe..”

Akhirnya gue nyetir motor pake slowmotion.

“Owh, kiri kiri....”

“Yakin??”

“Eh, bukan! Itu jalan tol!! Lurus aja deeeh..”

“Matih..”

Sepanjang perjalanan, Uma akan mencoba membaca GPS dan gue akan melaksanakannya.

“Seph, ada pertigaan. Kita ke kanan apa ke kiri??”

“Uhm....” *mutermutertablet

“Uhm.....kanan.”

*belokkekanan

“Eh, bukan Seph. Maksutku kiri”

“Yasaalaaaaam....” *putarbalik

Ada kali gue putar balik sebanyak lima kali di perjalanan berangkat. Selain emang banyak banget pertigaan dan persimpangan di –hidupini- jalan Jakarta, gue dan Uma sering salah paham terhadap GPS.

Pada akhirnya gue sampai di jalan raya yang lebih besar dengan lalu lintas yang lebih membingungkan karena banyak jalan yang hanya satu arah.

“Seph, kita harus nyebrang tol, abis ini belok ke kanan. Itu tu tu tuh jalannyaaaaaaaa....”

Gue yang nggak siap belok jadi bingung antara liat spion belakang takut takut ada truk di belakang sama belok dadakan. Dan akhirnya kebablasan!!! Karena itu jalan searah, nggak mungkin dong gue muter balik. Yang ada gue dijemput tronton dari arah sebaliknya. Kalo udah begini, apa yang gue lakuin???

“Seph, lu turun dulu. Gue mundurin motor dulu.”

Lalu, gue harus mundurin pelan pelan motor gue sambil komat kamit...

“Jangan ada polisi ya Alloh pelis ya Alloh...selamatkan hamba ya Allooooh...”

Begitu sampai di belokan, Uma dengan sigap langsung loncat ke belakang gue dan akhirnya gue berhasil belok. Dan cobaan ini belum selesai. Begitu gue menyeberang jembatan, ternyata jalan itu lagi lagi jalan searah di arah yang sebaliknya!!

“Udah kita berhenti dulu, Seph...”

“Oh iya, katanya tadi mau beli Rendang. Tuh ada warung masakan Padang.” Akhirnya, Uma beli rendang dulu. Bukannya apa apa, gue dan Uma yang sebelumnya sepakat akan membawa bekal berupa nasi dan masakan kolaborasi kita berdua jadi hanya membawa bekal nasi saja. Gue dan Uma menganut konsep ‘piknik bersama’. Rencananya gue dan Uma akan melahap bekal bersama di atas rumput beralaskan tikar. Duh, ngomong ngomong soal makanan perut gue jadi merintih perih. Gue belum sarapan karena emang gue nggak pernah sarapan pagi.

Gue liat di depan gue, plang penunjuk jalan bertuliskan Cilangkap. Uma mulai membaca –peta Dora- GPS di tabletnya dengan mengernyitkan dahi. Gue mulai mencium gelagat yang tidak bagus.

Gue : “Ngemeng ngemeng, Seph. Khan tadi kita lewat Cilangkap. Kalau tuh tulisannya Cilangkap ke sana, itu artinya kita......”

Uma : “Pulang lagi.”

Gue : “Matih...”

Uma : “TMII tu di belakang kita...lha kita malah nyebarng jembatan terus ini jalan searah ke jalan sebaliknya, yaitu jalan pulang. Gimana caranya biar kita bisa belok kanan dan ke jalan lurus yang tadi.”

Gue : “ Jadi sebenarnya tadi itu kita nggak belok kanan??”

Uma : “Nggak...”

Gue : “Ebuseeeeet, udah gue bela belain mundurin motor ternyata nggak???”

Uma : “Nggak..yang sabar ya...”

Gue : “Aspaaaaaaaaaaaaaaaaal, sedot gueee sedot gueeeeeeeeeeeeee!!!!”

Akhirnya gue dan Uma mencari jalan kembali ke jalan yang benar. Tak lama setelah gue dan Uma melajukan motor,

Uma : “Nah, ini ke kanan seph.... Aku yakin!”

*belokkekanan

*lurus

Uma : “Nah, ini nanti kita lewat terowongan. Tuh, ikutin aja motor itu.”

*ikutinmotor

*lewatlorong

Uma : “Tuuuh, TMII di sana. Kita tinggal ngikutin jalan ini.”

*ngikutinjalanini


We made it!!!

Yeaaaaaaaaaaahhhhhh!! Akhirnya gue dan Uma sudah berada di ambang masuk TMII! Setelah melakukan selebrasi menari gambyong bersama, akhirnya gue dan Uma cukup mengiklaskan uang 26k untuk 2 orang dewasa bersama dengan Sera, motor kesayangan.



NAIK RAILWAY

Hal pertama yang gue dan Uma lakukan setelah makan siang karena gue dan Uma sampai di sana pukul 10.30 adalah naik kereta gantung!!

Uma emang pingin banget naik ini. Kayak dulu pertama kali gue ke sini bareng Yaya, bisa lho dibaca di SINI.

Liat nih muka gue dan Uma kegirangan waktu bisa melayang di langit Indonesia mini lewat kapsul berkawat!!



Di sini gue dan Uma bisa ngelihat TMII secara keseluruhan. Dan yang paling menarik tentu saja danau berpulaunya. Miniatur Arsipel Indonesia (sebuah danau buatan yang terletak ditengah-tengah TMII) merupakan bagian terpenting dari taman ini yang memiliki luas sekitar 8 hektar. Jika dibandingkan dengan peta, danau ini memiliki pulau-pulau dengan tingkat ketelitian hingga tinggi rendahnya daratan, hutannya, keadaan gunung-gunungnya, tumbuh-tumbuhannya terlihat seperti yang aslinya. Danau ini dikelilingi oleh banyak angjungan dari Sabang sampai Merauke.

Beberapa di antaranya adalah :

Aceh

Bali

Batak

Jambi

Joglo 

Nias

Riau

Sumatera Barat

Toraja

Kalimantan Selatan

Dan masih banyak lagi!! Gimana nggak bangga jadi orang Indonesia?? Cantiiik!!

Oh ya, untuk bisa bergelantung di Indonesia Mini seperti ini, gue dan Uma perlu mengeluarkan uang sebesar 30k per orang!!! Dibandingkan dengan nikmat mata yang didapatkan, jelas ukuran uang 30k tidak begitu menyedot dompet. Bahkan, bagi orang orang yang mengidap fobia ketinggian bisa dicoba lho! Nggak kayak naik roller coaster atau histeria kok. Jalannya juga pelan pelan saja, hanya sedikit terguncang saat melewati tiang penyangga.

Setelah naik railway, gue dan Uma memutuskan untuk naik motor mengelilingi TMII!! Karena TMII itu luasnya nggak ketulungan, naik motor atau mobil adalah pilihan yang bijaksana. Mengitari anjungan anjungannya aja udah capek apalagi harus mengitari seantero TMII. Pulang pulang kakinya segeda Hulk kan nanti jadi repot.

Well, now here we are!! Setelah menelan kenyataan pahit setahun yang lalu tentang kegagalan kita menjamah Indonesia dalam satu kayuhan saja, hari ini gue dan Uma akhirnya bisa menyelusuri anjungan demi anjungan dan membekukan masa bersama.

Cepereeeet!!!

Haiii, kita lagi di Jambi!!

menyusuri Indonesia hanya dengan bermodalkan Sera!!

"Yeaaah, I'm hereeeeeeeeeeeeeee!!!"
Selamat datang di Jambi!

lampu antiik!!

"ciaaaaaaaaaaaaaatttttt!!!"

Rumah adat megah bingittt!!!

Sumatera Barat yang eksotis abis! Kapan bisa ke sana beneraaan!

Sumatera Barat panas bingitt!!!

Kita di Nias, siap siap nglompatin tuh batu!!

Sumatera Utara, rumahnya bagus punyaa!!
Sayangnya di kawasan ini panasnya nggak santay banget!! Apalagi saat jam jam 12, beuuuuh....panas banget!! Setelah mengelilingi beberapa anjungan di bagian Indonesia Timur, gue dan Uma sempat ngadem di mushola, di salah satu area anjungan.

Gue dan Uma juga sempat menjamah salah satu taman bernama taman Bunga yang gue nggak nemu mana bunganya.


Badan udah capek, muka udah kering, bibir pecah pecah, pergelangan pegal linu, hati tertatih tatih akhirnya gue dan Uma memutuskan untuk pulang pada pukul 2 siang. Tapi, ada satu hal yang masih harus gue dan Uma pecahkan.

“Pulangnya kita lewat mana?”

Uma mulai membuka tabletnya dan memutar mutar beberapa kali.

Uma : “Owh, jadi nanti ini kita lurus, terus begitu sampai gerbang kita belok kiri, nah terus owh,..oke oke..lurus terus ke arah Cipayung, lewat Bambu Apus, eh...bentar bentar..eh bener terus nanti kita lewat jalan Hankam lagi..sebelumnya lewat Pondok Gede..”

Gue : *pasrah

Di perjalanan pulang, walau sempat tersesat (lagi) tapi kesesatan itu membawa kita ke jalan tikus yang kemudian mengarah ke jalan Hankam, jalan yang sama saat kita berangkat! Ini namanya kesesatan membawa berkah karena di jalan lebih tikus itu gue nggak perlu menghadapi kemacetan.

Di perjalanan pulang, sambil terus memegang kendali dengan penentu kecepatan di genggaman tangan kanan, banyak hal yang gue bisa genggam hari ini.

 Hidup itu tak ubahnya seperti melajukan motor di jalanan. Kadang, kita tidak tahu medan seperti apa yang akan kita lewati di depan. Ada kalanya kita tersesat. Tapi bukan itu yang penting, yang penting adalah begitu menyadarinya, kita putar balik dan mencoba jalan yang tepat. Ada kalanya pula kita berhenti barang sebentar di tepi jalan untuk bisa berpikir lebih cermat tentang persoalan hidup ‘mau dibawa kemana?’. Tersesat ataupun terjebak kemacetan hingga harus jalan merayap adalah hal yang biasa. Yang terpenting adalah mau 20km/jam, 40 km/jam atau pun 80km/jam, pastikan kita akan terus mencoba berjalan. Yang terpenting adalah setidaknya kita mempunyai pegangan berupa peta yang akan mengarahkan kita untuk sampai dan mengingatkan kita saat kita tersesat. Dan yang terpenting dari itu semua adalah KITA HARUS PUNYA TUJUAN untuk dicapai, bukan hanya sekedar berjalan tanpa destinasi, bukan hanya terus mengayuh hidup tanpa cita cita. Terakhir, partner yang tepat akan membuat ketersesatan, kesulitan berjalan, waktu waktu menghadapi kemacetan menjadi sebuah perjalanan seru yang pantas ditertawakan bersama. Terakhir, partner yang tepat akan membuat lika liku kehidupan akan mudah dilalui bersama karena saling menyokong, melindungi dan melengkapi. Partner yang tepat serupa tulang punggung dan tulang rusuk, serupa pemancar radar dan penerima, serupa sopir dan kernet, serupa wajan dan spatula.

Perjalanan gue hari ini, tersesat lalu putar balik, berhenti sebentar dan mencoba bertanya, pake acara mundur biar bisa belok, muter muter kayak kecoak nggak bisa bangun berhasil membawa banyak pelajaran. Dan pada akhirnya, gue dan Uma bisa sampai di pintu masuk 1 TMII. Dan pada akhirnya, gue dan Uma nggak harus nyanyi,

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu


-to be continued-

References :
http://www.tamanmini.com
 http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Mini_Indonesia_Indah



10 comments:

  1. haii meyy, wahh udah lama gak main dimari, dateng2 langsung disuguhi khayalan Tumis daun pisang saus tiram bumbu balado, gue jadi bergidik ngeri membayangkan makanan itu masuk kemulut gue. udahlah ya. :D
    asiiknya mey, jalan-jalan terus. guenya kapan diajak yaa? keren banger euy TMII, gue kira cuma taman biasa gitu mey, yang isinya orang2 yang asik memadu kasih. gak taunyaa..
    cukup dengan ke TMII aja bisa lihat rumah adat diseluruh indonesia ya mey? waww mauuu. nyesel gue baca, jadi pengen. sedangkan jalan-jalan adalah hal yang paling mustahil dalam hidup gue.

    ReplyDelete
  2. Mbk, kalo jalan-jalan ketempat keren gini ajak aku ya. :D

    ReplyDelete
  3. Mbk, kalo jalan-jalan ketempat keren gini, ajak pangeran wortel kenapa. :D

    ReplyDelete
  4. wew keren kak baru tahu kalau TMII seindah itu bikin ngiler aja haha, ternyata ke TMII jalanya susah juga ya dan itu aku suka banget filosofi yang bercetak tebal sangat inspiratif :)

    ReplyDelete
  5. Keren mbak pelajaran yang didapat dari perjalanannya. Gue suke. Memang hidup harus punya tujuan, karena tanpa tujuan hidup kita akan penuh dengan kegamangan. Keren.

    ReplyDelete
  6. Kerenlah pokonya, ya ilah ini kisahnya ga beda jauh nih sama gue pas lagi gabut jalan jalan sama temen, begitu kalo nanya jalan dengan modal gps akhirnya gue muter muter disitu situ lagi, dan akhirnya sampai ke TMII tapi engga sampe masuk :" sayang banget yah huhu

    ReplyDelete
  7. TMII sekarang jadi bagus ya. Waktu gua kecil, rasanya belum seindah ini...udah agak lupa nih

    ReplyDelete
  8. ah elu tapi baru muter setengah hari di TMII udah terkapar aja di taman bunga wakkakakak petualangan selanjutnya roller coaster yuk hhhh

    ReplyDelete
  9. Hidup itu emang kaya perjalanan naik motor hehehe... Seru banget nih cerita hidupnya eh maksudnya cerita perjalanannya yang penuh persimpangan, kadang GPS itu bisa menipu lebih ngena kalo pake cara lama yaitu tanya jalan ke orang sekitar biar kagak nyasar hehehe

    ReplyDelete