Friday, 17 January 2014

Menggenggam "Bambu Runcing" di Monumen Perjuangan Rakyat Bandung


“Dany! Bilang satu dua tiga nanti aku lompat ye..”

“Iyeee...”

“Dany, now!”

“One.two..threee..”

Dan dengan kekuatan sekuat kuatnya gue menolak bumi dan seakan terbang beberapa detik dan ceperet!! Lensa kamera mengabadikan lompatan gue. Ini bukan lompatan biasa. Walopun lompatnya keliatan maksa, tapi gue bangga. Gue lompat di depan sebuah monumen kece dengan background hewan paling disegani di Indonesia, Sang Garuda!! Alih alih ingin menyamakan tema, gue pose ‘terbang’ atau kerennya levitation.

Dan berkiblat pada levitation awesome kayak gini,



Gue mencoba sekuat tenaga, dan begini jadinya.


Tapi nggak papa, kapan kapan coba lagi. Yang terpenting, sekarang setelah mengatamkan langkah menyaksikan kawah menganga di Kawah Gunung Tangkuban Perahu, sekarang gue menginjakkan kaki di pelataran monumen dengan ‘bambu’ runcing raksasa di kanan kirinya sebagai lambang perjuangan fisik rakyat Bandung melawan penjajah. Filosofi bambu yang tumbuh sebagai rumpun-rumpun yang berserakan juga menggambarkan pluralitas budaya Sunda (Banten, Bandung, Kuningan, Sumedang, Garut, dll.). Ini jelas keren banget dah.

Dan yang bikin gue takjub meletup letup adalah letak monumen ini. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MPRJB) terletak di kawasan terbuka sisi Utara Gedung Sate, bergaris bentang lurus antara Gedung Sate, Lapangan Gasibu dengan "MPRJB" sehingga membentuk sebuah sumbu garis lurus dengan komplek kantor walikota (Gedung Sate) dan DPRD tersebut. Kalau pandangan diteruskan lagi ke Utara, bertemulah kita dengan Gunung Tangkuban Perahu. Widiiih...

sumber : Google


Iye, gue dan sahabat cucok gue, Dany Aprilla ada di sini. Monumen Perjuangan Rakyat Bandung!!

---------------

4 Januari 2013.

Pukul 10 tepat gue beserta bos menuruni Lembang dan melajukan mobil menuju Bandung. Kali ini gue ikut bos gue dengan dalih gue pingin ikut sampai Pasteur dan setelah turun nanti akan gue pikirkan bagaimana caranya bisa sampai Ciwalk yang bentuknya kayak apa, ada atapnya apa nggak juga gue nggak tau. Yang terpenting, gue bisa bersua dengan Dany dan mulai menjelajah sudut kota Bandung bersamanya. Itu tekad gue.

Dan Alloh Maha Baik, mempertemukan gue dengan orang orang yang begitu baik. Bos gue dengan baiknya nganterin gue sampai ke Ciwalk walopun mereka sebenarnya nggak ke sana juga. Dan gue akhirnya tau kalau Ciwalk itu mall. Mall dengan berjuta outlet yang berjejer di sekitarnya. Mall yang bisa gue bilang mall rimbun karena di dalamnya ada tumbuhannya. Dan gue dianterin bahkan sampai parkir dalamnya dan gue nggak perlu panas panas cari tuh mall dari depan. Gue dianterin sampai di depan pintu samping mall. Begitu gue turun dan mengucapkan terimakasih banyak beserta semoga pahalamu besar di syurga, akhirnya gue melangkah masuk.

Widih, begitu masuk...gue bertemu dengan mojang mojang cakep asli Bandung. Ada yang pake dress bunga bunga selutut dipadu padankan wedges yang kemudian diserasikan dengan canvas tote bag. Gue toleh ke kanan, widiiih..ada teteh geulis pisan pake maxi dress yang berkibar kibar dengan high heels 7 cm bertahtakan jilbab model hana tajima yang dilekuk lekuk sedemikian rupa. Nah, gue toleh ke bawah, ada flatshoes lalu naik sedikit ada jeans yang kemudian T-shirt biru membalut tubuh bagian atas dan dilengkapi dengan jilbab langsung pake warna coklat. Tak lupa di punggungnya menempel manja backpack segede gaban dan pundaknya bergelantungan shoulder bag gemuk dan tak lupa jaket putih tebel menggelayut di antara lengan. Gue nggak ngerti lagi ini mau ngemoll apa mau naik gunung apa mau urbanisasi.

Setelah kayak anak ilang salah kostum di mall, akhirnya Dany datang dengan riang gembira. Kita lalu berpelukan kayak ibu ibu arisan dilanjutkan nari Teletubbies sambil memaju majukan perut dengan kedua belah tangan berpegangan pinggang, tapi bukan goyang oplosan. Nanti kena sensor.

Makanlah kita berdua tak lupa foto foto demi serpihan masa yang bisa dikenang di lain masa.


Nah, puas mengisi dahaga, gue dan dia move on ke kostnya. Begitu istirahat barang 15 menit, kita kembali memakai tas ransel dan melangkahkan kaki ke Jalan Dipati Ukur No. 48, Bandung.

Enaknya lagi, dari kost Dany menuju ke monumen ini, kita hanya butuh kaki, nggak butuh duit. Begitu memutari monumen karena pintunya yang terselubung dan tersamarkan, akhirnya sampailah kita ke dalam monumen yang berdiri megah nan artistik ini.

Sahabat gue, Lee Suhi segera gue keluarkan untuk menangkap moment perjalanan gue kali ini. Gue dan Dany pun kalap dibidik. Nempel di dinding kayak cecak, pura pura menangkap angin dengan wajah, ngomong sama relief, dan berbagai pose kita lakoni.
di samping monumen
menikmati kesejukan kota Bandung dengan background  'bambu'

Gedung Sate samar terlihat


as if I wanna set free my soul
berpose di balik monumen!



Mungkin, bagi masyarakat luas, monumen ini terdengar asing. Begitu pula dengan gue. Yang gue tahu sebelumnya hanyalah gedung sate yang memang merupakan icon kota Bandung nan sejuk ini. Tapi, monumen ini juga sangat layak untuk dikunjungi sebelum melanjutkan langkah ke gedung sate.

Dan lu tau, gedung ini umurnya sama kek gue! Dia dibangun pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 1995 yang dirancang oleh arsitek Bandung Slamet Wirasonjaya dan perupa Sunaryo.

Well, it is worth-going. Trust me!!

simbol kota Bandung


Puisi untuk para pemuda Indonesia dari Saini K.M
"Siappp!!! Laksanakan!!"
Relief bukti perjuangan Rakyat Bandung
Jadi inget relief di Monumen Palagan, Ambarawa-Semarang!

Begitu kita keluar area monumen, tepat di depannya, ada sebuah taman memanjang yang mengarah ke gedung sate. Di taman ini, ada beberapa orang yang mancing di sebuah kolam berair hijau, lalu anak anak berlarian, para keluarga santay sejenak menikmat belaian angin sore yang sejuk, dan para muda mudi tampak berbicara serius sambil duduk di tempat duduk keramik yang memang disediakan di beberapa titik. Mungkin mereka sedang membicarakan tentang masa depan hubungan mereka, tentang mau dibawa kemana hubungan kita dilanjutkan aku tanpamu butiran debu.

Dan kita berdua, ya jelas seperti ini.

ngejar burung, berasa kayak di Belanda. Cuman, kalau di Belanda itu burung Merpati, kalau yang ini burung Emprit.
Tuh liat, banyaak di depan gue..
sebelum melanjutkan perjalanan
Puas menjamah setiap sudut monumen, akhirnya kita akan ke icon terkenal di kota Bandung, bahkan di sekujur Indonesia.\

Iye, kita keeeeeeeeeeeeeeeee....... Gedung Sate!!

Reference : http://wikimapia.org/18406774/id/Monumen-Perjuangan-Rakyat-Jawa-Barat



9 comments:

  1. Boleh lah ini, kalau ke bandung ngajak sekeluarga ke tempat ini. :)

    ReplyDelete
  2. Lagi liburan ya mbak meykke?
    Hahaha tak ku sangka, ternyata mbak meykke narcis juga... tapi seru banget kan mbak??

    ReplyDelete
  3. Doyan liburan kayaknya mbak meyke. banyak hal yang di ceritakan di blognya: dari Tangkuban perahu (kemarin), Monumen perjuangan rakyat bandung, Monumen palagan Ambarwa, semarang. hebat banget.. kapan ni ke Surabaya?. Kopdar sama anak surabaya gitu. hehe..

    ReplyDelete
  4. widiiihhh ini dia sambungannya ya, setelah jalan2 di sekitar kawah hihihi
    keren monumennya, itu foto melayangnya bagus banget, bisa tetap gaya walau lagi loncat, keren.
    pengen kesana, itu kata2 di monumen, luar biasa ;D

    ReplyDelete
  5. tambah banyak aja jalan2nya non! heheee.
    palagi di sana hawanya seger, asik buat jalan2 outdoor.
    mudah2an kapan2 aku bisa bolang ke bandung :-D

    ReplyDelete
  6. Aww dokter dany.. :3 #GagalFokus

    Wah baru tau monumen itu, Biasanya kan yg terkenal itu Gedung sate. Pantesan dindingnya udah kek gitu, jarang dirawat pasti. Eh mau dong ke ciwalk.. Pengen lihat teteh-teteh geulies.. :'3

    ReplyDelete
  7. awewe , itu ada foto yang blur ya mey? walah walah , mauu dong jalan jalan :v
    gue kepengen banget ke sana , tapi gak ada duit -.-

    ReplyDelete
  8. wuiiihhh asyikkkk kak Mey kerjaannya jalan-jalan mulu jadi ngiri deh liat poto-potonya,, aaakkkkkk saya juga pengen ke sana ,, pengen injakin kaki di kota Bandung dan berpose juga di depan monumen itu tapi kapan?? *upst^^

    ReplyDelete
  9. wah wah kak mey ini bikin iri aja :D

    ReplyDelete