Sunday, 29 December 2013

Susahnyaaaaaaaaaaaaah Pulang Kampung!

“Pak...hari ini ada bis lagi yang berangkat ke Ambarawa pak??”

“He he..” Setelah apa yang gue alamin hari itu, badan gue udah kek tiang tas gagal move on, kulit mulai melepuh, kehujanan, sampai di agen bis, cuman senyum kecut itu yang gue dapet.

Gue lirik jam tangan gue. Jam 3. Kalau gue ditanya, kenapa lu bisa bisanya ujan ujan nggak pesen tiket bis jauh jauh hari udah tau banyak yang pulang kampung di akhir tahun?? Atas dasar apa?

Gue jawab, ‘nekat’

Iye, nekat. Sambil duduk di kursi plastik tepat di depan meja pak agen, gue melayangkan memori jauh jauh hari. Bagaimana gue bisa sampe di sini.

-------------------

28 November 2013

“Ka, gue mau beli tiket kereta api!”, ucap gue sambil mengumpulkan keyakinan. Setelah merasakan duduk di seat bis selama 19 jam non stop terhambat bis yang galau di tengah jalan hingga harus ganti bis di malam buta seperti yang gue muntahkan di sini, gue ingin sesuatu yang beda.

Gue bayangin duduk di pinggir jendela kereta, sembari memasang ujung kabel di pangkal telinga dan memainkan lagu slow cenderung galau dengan hamparan pemandangan yang terus disuguhkan di depan mata, sawah sawah menguning, lalu pinggiran pantai yang kilahan airnya berkilat kilat memantulkan sinar mentari senja, dan angin terhempas hempas hingga ujung jilbab berlengkukan di udara. Gue bayangin aja udah bahagia.

“Meykke, santay....imajinasi lu kali ini akan gue jadikan kenyataan. Gue bayar nih tiket kereta api hari ini juga...”, ucap gue dalam relung.


“Iya Miss, aku aja waktu pulang sendiri kok ke Ambarawa... naik kareta, cuman 7 jam miss...cepetan naik keretaaa..udah gitu nggak pake macet dan pemandangannya bagusss...”, uraian cerita Ika, temen kerja gue membulatkan tekad gue.

Melalui tuntunannya, gue buka tuh web, www.kereta-api.co.id lalu segera ngisi formulir beserta kelas kereta, jam keberangkatan, terminal keberangkatan juga terminal tujuan. Segera sebelum pulang gue katam ngisi semua data, dan siap membayar tiket sebesar 175ribu ditambah biaya layanan pelanggan sebesar 7500 di Indomart. Keretanya namanya Menoreh. Kita cuman dikasi waktu 3 jam saja dari online-booking sampai pembayarannya. Unless, bookingan kita akan dilepas lagi. Karena Desember itu libur akhir tahun, gue harus beli jauh jauh diri biar nggak kehabisan tiket.

bukti pembayaran yang siap ditukarkan tiket kereta api tut tut tut


Gue pun segera BBMan tante gue dengan semangat meletup letup

“Emang kamu tau pasar Senin dimana?”

“Belum bulek. Tapi nanti aku bisa minta denah ke sana sama Ika. Katanya naik angkot 121 turun terminal kampung rambutan, dilanjutkan mendaratkan pantat ke seat bis Miniarta yang katanya warnanya biru menuju ke terminal pasar Senen. Aku bisa berangkat subuh.” Ungkapku.

Gue mulai menghitung hari sejak itu, detik demi detik...persis kek Krisdayanti.

------------------------

“Wah, nggak bisalah pasar Senen khan jauh, Miss...apalagi khan keretanya berangkat jam 8 kurang seperempat, Miss..Jakarta macet Miss...”

“Lah, terus gimana dong?”

“Biar aman naik taksi aja Miss...” percakapan gue dengan salah satu teman kerja gue yang lain bikin gue nelen ludah dengan tragis.

Gue liat di Google Map. Jarak dari kost gue ke stasiun pasar Senin nggak kurang dari 31 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dengan tanda bintang kecil di pojok atas, bertuliskan..syarat dan ketentuan berlaku.

1. Kalau nggak macet

2. Kalau nggak dikadalin sama sopir taksinya.

Umat sejagad juga tau kalau Jakarta adalah kota paling unggul dan juwara dalam memecahkan rekor parkir terpanjang dan terraksasa dengan jumlah mobil terbanyak di Guinnes Record Book. Udah gitu, gue ada di kota dimana orang baik bisa menjadi orang jahat, dan orang jahat bisa menjadi Tuhan! Muka muka bulliable kayak gue jelas dengan mudah bisa diperdaya orang. Bayang bayang menjadi butiran debu merangsek memenuhi pikiran gue.

“Ke, kalau kamu naik taksi dari kost sampai pasar Senen itu bisa bisa menelan lembaran uang merah menyala sebanyak dua. 200ribu!” Untuk kedua kali gue menelan ludah biar dramatis. Gimana ceritanya jarak 506km bisa gue tempuh dengan 182 rupiah, tapi untuk menempuh jarak 31 km saja gue harus mengiklaskan uang sekitar 200ribu. Jelas gue nggak ikhlas. Sejak hari itu, hari hari gue dipenuhi dengan segala keraguan dan kegalauan dan menyebabkan konspirasi hati yang teramat sangat.

----------------

21 Desember 2013

Malam itu gue liat OVJ. Lusa gue akan pulang. Banyak kekhawatiran yang terlontar dari Ibu dan Ayah gue.

“Ke, aku kepikiran sama keretamu itu. Stasiun Pasar Senen kayak apa bentuknya, gentengnya dari tanah liat ato nggak, apanya pasar Rebo, pintunya ada berapa juga nggak tau, naik taksi nanti biayanya memuncah, udah gitu masih harus memikirkan caranya untuk bisa menginjak pulang dari stasiun Tawang yang lagi lagi diterawang juga masih gulita. Kelam.”

“Alah, santay buk...aku khan udah gede...kayak anak SMA aja..santay nanti aku bisa naik kereta. Khan HP ku ada GPS nya buk..”

Padahal dalam hati gue gulana tak terhingga. Sampai sampai gue google di menu image “Stasiun Senen”, biar gue ada bayangan gentengnya dari tanah apa nggak. Tak berhenti sampai di situ, gue juga udah dikasih catatan ajaib sama koordinator teachers di center.

“Jangan keluar Cawang. Lewat tol Tanjung Priok, keluar Cempaka Mas.” Gue diwanti wanti untuk pasang muka pinter, judes dengan bermodalkan kata kata itu. Di kost gue berlatih di depan cermin.

“Pak, stasiun Pasar Senen ya pak. Oh ya pak, jangan keluar cawang ya pak, lewatnya di jalan tol tanjung priok aja, jadi nanti keluar Cempaka Mas..”, gue latihan berbicara se Jekardah mungkin, dengan pengucapan ‘d’ yang agak dengan gapaian lidah lebih maju dan menghasilkan sound yang lebih dalam. Muka gue, gue buat sesadis mungkin dengan mulut agak terbuka dan mata merem melek.

Tapi, waktu gue liat OVJ, gue pegang perut. Gue rasain ada sesuatu yang beda. Kayak ada butiran menempel di kulit gue. Firasat gue nggak enak. Dengan perlahan gue buka perut gue, dan tepat di samping pusar agak atas, bertahtalah butiran berwarna pink. Gue terpengarah! Gue berdoa

“Jangan sekarang ya Alloh....ini bukan saat yang tepat ya Alloh...bantu Meykke ya Alloh...

Lalu segera gue sisir badan gue dan gue menemukan gundukan senada bersarang di cuping telinga gue. Ada dua... Leher bagian belakang ada tiga, dan di kepala gue ada.....banyak!!!

Kejadian sohabit malangsohabit sayang sudah berlalu sekitar hampir tiga minggu, dan kenapa harus sekarang??? Gue panik. Gue siap siap berlari ke dokter tapi sekarang sudah jam 10 lebih. Dan saat itu hanya satu yang bisa terpikirkan.

“hallo?? Buk?? Aku cacar air buuuk...apa yang harus aku lakukan????”

Dan malam itu gue nggak bisa tidur. Gue pingin buru buru pagi. Tidur pun gue sambil raba raba tiada henti. Gue takut gunung baru muncul lagi, dan lagi. Lalu mereka erupsi berjamaah. Dan bila laharnya memuncah, habislah sudah.

22 Desember 2013

Nih pagi bener bener menyempurnakan hidup gue. Gue bangun tidur, gue denger tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terhingga. Gue mau berobat, woyyy!! Hari itu minggu, dan gue udah pernah baca waktu gue nganterin Uma, sohabit gue kala itu, kalau nih dokter cuman bertugas senin sampai sabtu saja. Tapi, gue akan bilang di ambang pagar,

“Dok, ini darurat Dok...bukakan pintu dok...”

Dan berhasil. Lalu, gue masuk dan berbincang sejenak. Obat sudah di genggaman, hanya saja resep harus ditebus. Dan pikiran gue menyisir ruko ruko di sepanjang jalan masuk kost gue. Ini..............minggu.

Sesampai di kost, gue hanya bisa terbaring pasrah. Besok, di ambang subuh gue akan pulang, naik kereta, yang pangkal keretanya juga gue belum ada titik terang, mau naik apa kesana juga masih kelam, dan sekarang gue................ cacar air. Dan gue....................seorang diri. Segala kegirangan gue berbanting arah menjadi duka nestapa. Gue pingin nangis tapi kok berasa sangat konyol.

Dan dering telpon kali ini,

“Ke, udah ke. Daripada bikin orang rumah khawatir, kamu pulang naik bis aja. Ikhlaskan saja tiket keretamu. Apalagi kamu cacar air.” Ibu berkata serupa, lalu bulek yang udah sampai di kampung duluan naik gerbong bersayap wussss menambahkan,

“Udah ke, sekarang aja kamu beli tiket di agen yang biasa, deket rumah bulek itu. Siapa tahu kalo langsung ada yang hari ini, barang bawaanmu bawa sekalian..pulang hari ini...”

Dan pada akhirnya,

Dengan rasa gatal yang terus menjalar, gue belum sempet makan nasi, juga nggak boleh mandi jadi gue nggak mandi, gue packing!

Allohuaalam pokoknya niat insun pulang sekarang. Lupakan lekukan ujung jilbab tertiup angin, lupakan hamparan sawah menguning dan air berkilatan. Sebelum gue panen dan gunung gunung krakatau ini meletus berjamaah, gue harus udah sampai rumah!

Dan gue terobos siraman hujan dengan ransel melekat erat di balik punggung beserta shoulder bag yang gue timang di sepanjang jalan. Gue jalan memasuki mall untuk mencari obat dulu. Masa bodoh gue dipikir salah fokus mau ke mall apa mau naik gunung Merapi. Gue tutup tuh muka sama masker biar cacar gue nggak semakin beranak pinak. Gue pingin marah tapi marah sama siapa...gue pingin nangis tapi juga buat apa.

“Sometimes the only one you can relay on is yourself and.....God.” menanamkan kata kata intan itu gue mengayuhkan kaki menerobos jejalanan di guyuran hujan menghabiskan waktu satu jam naik angkotan. Udah naik angkotan rasa rasanya 11 12 sama naik kuda mabok. Jalannya meeeeeeeen...lubangnya nggak kira kira..satu jalan penuh..tuh angkot sama motor jadi kayak kudanil, berkubang.

Dan sampai sana, saat gue melontarkan pertanyaan,

“Pak, hari ini masih ada bis yang ke Ambarawa nggak pak?”

Gue diketawaaiiiin!!! Rasanya di dada gue bersemayam semangka 5 kilo.

“Ya nggak ada mbak...”

Gue memutar otak.

“Kalau besok pak?”

“Ada mbak, tapi kelas ekonomi non AC Ramayana, sama ada AC ekonomi turun Bawen. Udah penuh semua mbak, khan akhir tahun” Gue nggak bisa bayangin naik bis panas panas, nih gunung bener bener bisa meletus berjamaah.

“Ehm..travel pak?”

“Owh, ada mbak nanti magrib. Tapi, dia lewatnya Temanggung jadi lewat Secang, mbak..” Alias gue naik dari Jakarta sengaja bablas sampe Secang terus puter arah ke Ambarawa.

“Gue harus pulang hari ini!” Gue mengukuhkan niat. Gue telpon bulek minta petunjuk. Dan gue pilih....travel!

“Ya udah, mbaknya pulang lagi aja ke kost nanti biar dijemput di sana.”

Oh, meeeeeeeeeeen...gue harus mengarungi rawa buatan lagi naik kuda mabok! Selama sejam! Udah badan gue banyak rasa kayak kopi Godday, punggung rasanya pingin digesekin di gerigi mobil, kepala rasanya kek balon niupnya kebablasan, pundak udah mati rasa, hati jangan tanya. Berserakan.

Sampai kost gue makan, dan minum obat. Nunggu jam 6, gue tidur sambil nyetel alarm jam 5. Salah salah gue ketinggalan travelnya, hidup gue makin butiran debu. Dan berhubung kasur gue udah gue naikin dan udah telanjang, udah gue tidur seadanya, di kampret, eh karpet!!

Mendekati pukul 6 gue packing lagi, tak lupa gue balut pundak gue dengan selembar salonpas cabe biar mantaf, lalu ransel kembali gue naikkan dengan hati hati biar nggak ada yang meletus, dan shoulder bag gue terlihat cantik di ketek gue. Gue siap berperang. Apa aja dah yang penting pulang!!

Dan ini kali pertama gue naik travel. Dan asoy emang hidup ini.

“Ni sebelumnya maaf ya mbak mbak, kita nggak pake AC karena Acnya rusak!”

Gue yakin Alloh tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan umatnya. Gue udah bener bener pasrah dah, terseraaaaaaaaaaaaah....

Tak mau rugi, gue mengajukan dispensasi.

“Pak, kasih potongan ah pak, nggak ada AC nya gini pak!”

Berhasil. Dan yang membahagiakan dari naik travel di posisi strategis adalah....kaki gue bisa selonjor! Itu nikmat duniawi. Dan gue bisa tidur dengan sejahtera. Alhamdulillah..............

kaki gue yang terlihat riang gembira di dalam mobil travel

Subuh merambat dan lamat lamat hehijauan mulai menyembul di depan mata. Jakarta sudah jauh di belakang. Tak tampak lagi kepulan asap berbilah bilah memadati atmosfer, dan sepanjang mata melayangkan pandang, hamparan hehijauan bertahtakan langit biru terang dengan semburat putih menyerupai serat kapas terlihat menawan tak terkalahkan.

“Home, finally..................I am coming..All the damn things I have get through pays off!”

“Life is indeed interesting!”

Dan begitu gue berhasil, I feel............................ stronger!

Dan dari segala yang gue lalui, gue mendapatkan satu pelajaran berharga.

Nekat itu kadang diperlukan, tetapi nekat tanpa pertimbangan itu.................bunuh diri tersamarkan!

Sekian.


9 comments:

  1. Akhirnya,.. kamu sampai juga di rumah ya kak...
    Perjuangan yang sangat mengagumkan, naik travel..
    Yang sabar ya.. boleh nanya nggak kak? Pas di travel tengah perjalanan pernah ada yang ngeluarin angin nggak?

    Lazimnya travel biasanya ada orang yang seenaknya dewe buang angin tak tanggungjawab tak ditempatnya pula//

    ReplyDelete
  2. senengnya yang udah pulang kampung , saya masih nunggu UAS selesai nih .

    ReplyDelete
  3. Keren, aku juga pas pulang kampung juga gitu. Kendala yang datang juga banyak.

    ReplyDelete
  4. Wkwkwwkk kak meyke mau ke ambarawa aja ribetnya sampe segitunya -,-
    Tapi keren perjuangannya, semua terbayar dengan selonjornya kaki di dalam mobil travel.

    ReplyDelete
  5. Ya ampun Meyk ternyata kamu cacar air juga, kasiaaan puk=puk=puk
    sabar yaa... semua butuh perjuangan emang :)
    sama seperti postinganku kemari mMeyk http://meimeiwulandari.blogspot.com/2013/12/tragedi-naik-travel.html
    hahahahaha
    tossss dulu donk, kayaknya kita emang sehati

    ReplyDelete
  6. Wah aku waktu kelas 4SD yg pernah kena cacar gitu :D

    Kalo aku naik travel belum berani sendirian kak, kalo ada temen kan enak. Wah meskipun banyak rintangannya tapi alhamdulillah sampai dengan selamat :))

    ReplyDelete
  7. gimana kabar cacar aernya?
    aku kok belum pernahdapet yah? :3

    nekat asal ada kemauan kayaknya fine2 ae kok, haha

    ReplyDelete
  8. perjuangannya.... kerasa berat banget haha.
    perjalanan nekat sendirian dan dengan duit terbatas. Bener2 pantes ngerasa stronger pas nyampe ( '_')9

    ReplyDelete
  9. perjuangan pulang yang penuh hambatan dan rintangan Mey, hahaha tapi puas dong udah berhasil melewati semua rintangan. #tsaaah.. masih cacar air nih Mey?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...