Tuesday, 31 October 2017

Training Guru Sarat Ilmu Bersama British Council Indonesia


Sebelum pulang, saya bersama guru guru lainnya disuruh untuk mengisi frasa kalimat "Saya Merasa...." di selembar post-it. Dan hal pertama yang langsung muncul di benak saya adalah satu kata itu.

Bagaimana tidak bersemangat? Dua hari itu saya bertemu dengan beberapa guru yang pasti semangatnya luar biasa, yang datang dari berbagai level (SD, SMP, SMA, dan SMK), bertemu juga dengan dua trainers yang dengan penjelasannya membuka wawasan saya lebih luas, plus pengalaman dan koneksi yang akhirnya terjalin di antara para pesertanya
Banyak sekali ilmu, pengalaman, dan pelajaran yang bisa saya dapatkan di sini. Dan, saya pikir saya perlu menuliskan dua hari super keren ini!!





Acara ini bernama Core Skill Training dan diadakan selama dua hari berturut turut dari hari Jumat 21 Oktober sampai Sabtu 22 Oktober 2017. Saking banyaknya yang dibahas, acara ini dimulai dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, lho!

Acara ini berlokasi di Kantor British Council, Office 8 Building 9th Floor, Jalan Senopati Raya No.8B, Sudirman Central, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Walau pun saya harus naik APTB 10 dari Cibubur sampai ke Blok M, lalu dilanjutkan dengan Gojeg menuju ke venue, tapi dijamin semua pengorbanan nggak akan sia sia.

Apalagi dengan trainer sekelas Dr. Anuncius Gumawang Jati, MA dan Pak Barlin Kesuma. Yang menarik dari training ini adalah kelas yang didesain menjadi student-centered. Alih alih menjelaskan satu demi satu poin macam seminar pada umumnya, mereka memberikan kesempatan kepada kami untuk diskusi, mengemukakan pendapat dan aktivitas yang melibatkan kami semua.



Pak Barlin saat menjelaskan Deep Learning

Saat saya mendaftar lalu mengisi beberapa form pendaftaran, saya benar benar tidak tahu apa itu Core Skill, apa hubungannya dengan menghadapi masa depan murid murid, dan seberapa besar dampaknya untuk anak anak Indonesia itu sendiri. 

Dan benar kata R.A Kartini tentang Habis Gelap terbitlah Terang. Setelah mengikuti training ini, saya mendapatkan pencerahan dan angin segar!!

Training ini perkenalan tentang Core Skills yang nantinya bisa mengantar kita ke follow-up training yang akan membahas satu demi satu Skill dan satu skillnya akan berlangsung selama 3 hari berikut dengan masa implementasi selama 10 sampai 14 minggu yang kemudian berakhir di satu pertemuan terakhir sebagai media sharing pengalaman dan hasil. 

Dan, kabar baiknya adalah..............


SEMUANYA GRATIS!


Core Skills adalah 6 keterampilan (skills) yang dirasa sangat penting sebagai bekal anak didik agar mereka dapat berkontribusi secara positif sebagai warga dunia (global citizens) dalam dunia global.
Saat ini, sekolah dituntut untuk memperkuat proses belajar mengajar di sekolah sehingga anak didik menyelesaikan pendidikannya tidak hanya berbekal pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan.

Core Skills terdiri dari:
-Kreativitas dan Imajinasi (Creativity and Imagination)
-Berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah (Critical Thinking and Problem Solving)
-Komunikasi dan kolaborasi (Communication and Collaboration)
-Literasi digital (Digital Literacy)
-Kewarganegaraan (Citizenship)
-Kepemimpinan dan pengembangan diri (Student Leadership and Personal Development)

Pelatihan ini secara khusus memberikan kesempatan kepada guru guru untuk memperdalam dan merefleksikan upaya-upaya yang sudah dan bisa lebih banyak dilakukan agar lingkungan sekolah dapat menjadi wadah yang mendorong pertumbuhan Core Skills. Mantap!

Bekerja sebagai seorang guru selama hampir lima tahun jelas saya masih sebatas butiran debu saja dalam hal pengetahuan. Masih begitu banyak hal yang saya belum tahu benar. Dan alasan ini juga yang mendorong saya untuk datang ke training ini. 

Salah satu hal yang menarik perhatian saya tentang Core Skill ini adalah bagaimana kita seharusnya menanamkan 'deep learning' kepada murid murid, bukan hanya tentang 'surface learning'.  
Selama ini kita hanya mengajarkan anak anak untuk mengingat pelajaran, menghafal lalu mengerti apa yang mereka pelajari. That's all!! Mereka belajar cenderung hanya demi "NILAI BAGUS", lalu setelah itu terlupakan.

Nah, di Core Skill Introduction ini, saya baru menyadari bahwa 'deep learning' itu justru jauh lebih utama karena dari 'belajar secara mendalam' itu maka murid murid tidak hanya mampu menghafal dan mengerti tetapi mereka mampu menganalisa, mengevaluasi bahkan menciptakan inovasi baru.

Bloom's Taxonomy yang harus kita ingat betul. Tidak hanya mengajar untuk remember dan understand saja, tetapi juga untuk apply, analyze, evaluate, dan create.

Dan, kemampuan ini yang justru akan membantu mereka mempersiapkan skill/kemampuan di dunia kerja di masa depan. Misalnya tentang pelajaran 'menanam wortel'. Anak anak pasti akan diajarkan cara menanam wortel, lalu hal hal apa yang harus dipenuhi untuk wortel mampu tumbuh, dll. Nah, saat mereka akhirnya menanam wortel dan ternyata bibit wortel yang mereka tanam malah mati, mereka akan mencari tahu mengapa bibit wortel malah mati, lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya dan sebagainya. Nah, dari situlah proses belajar bernama 'deep learning' baru akan terjadi karena dari ilmu dan pengertian yang mereka dapat, mereka bisa menganalisa apa yang terjadi, mengevaluasi cara cara menanam wortel yang sebelumnya mereka lakukan dan akhirnya bisa menciptakan cara baru sampai bibit wortel mampu tumbuh dan panen.

Yang saya sadari benar dari Training ini adalah tentang kebutuhan siswa. Hal terbesar yang mereka perlukan bukan menyoal pengertian dari ini dan itu, tapi lebih dari pengembangan kemampuan mereka untuk berpikir kritis dan kreatif, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan mengembangkan diri dan lain lain yang semuanya ada di dalam enam Core Skill itu. 

Professor John Hattie collated a significant amount of evidence (over 800 meta-analyses) on the effects of different factors on student learning, and concluded that :

Diskusi para guru yang teramat serius.
Kids jaman now faktanya mampu mendapatkan ilmu dari mana saja. Dia bisa tahu apa saja dari Google, Youtube dan portal informasi lainnya. Mereka tidak butuh guru untuk itu. Tapi, apa yang mereka butuhkan dari kita adalah mengajarkan mereka untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan/skill mereka. Intinya, Deep Learning ini adalah bekal untuk mereka siap terjun di dunia kerja di masa mendatang. 

Mengapa harus mulai sekarang?

Karena di era globalisasi mendatang, generasi muda Indonesia tidak hanya akan berkompetisi di kandang sendiri, tetapi mereka juga akan menghadapi kompetisi global, bersaing dengan generasi muda dari negara maju dan negara berkembang lainnya. Gokiiiil!

Pertanyaannya adalah,  Bagaimana kita mengajarkan skill kepada mereka?

Dan ini adalah poin penting yang kita bahas di Training ini, Teachers!

Untuk mengembangkan potensi berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah, salah satu cara adalah dengan QUESTIONING/memberikan pertanyaan. Dan dari kegiatan yang simple ini bisa memberikan pengaruh besar lho, Teachers! 

Surface Questions elicit one idea/some ideas.

Pertanyaan yang ditujukan hanya sebatas menguji ingatan mereka/pemahaman mereka tentang materi.

Contohnya : "Explain how wind affects the rate of transpiration?"

"Wind increases the rate of transpiration by blowing away, blablabla....."

Dan selama jawaban itu ada di buku plus murid murid sudah menghafal dan mengerti, mereka mampu menjawabnya. Mereka hanya menggunakan "surface learning"

Deep Questions elicit relations between ideas and extended ideas.

Nah, di deep question ini, murid tidak hanya menghafal dan mengerti tapi dia juga bisa menganalisa/reasoning. Mereka bisa mengaitkan pengetahuan yang mereka miliki dengan kemampuan berpikir kritis/critical thinking. Pertanyaan serupa "What if"/jika dan "Why" bisa membantu anak anak untuk berpikir kritis dan membantu mereka menuju "Deep Learning"

Contohnya : "Why do wet clothes on the washing line dry faster on warm windy day?"

"On a warm windy day the rate of evaporation of water from the clothes will be high blablabla....."

Close questions are factual and focus on a correct response.

Close questions ini hanya fokus pada jawaban benar yang sudah mereka pelajari. Mereka hanya butuh menghafal untuk bisa katam menjawab pertanyaan jenis ini.

Contohnya : "What factors increase the rate of transpiration in plants?"

Jawabannya pasti sudah saklek ; light, temperature, wind, humadity.

Open Questions will have variety of answers depending on the depth of the students' thinking.

Sedangkan open questions lebih merujuk pada jawaban yang bervariasi tergantung dari pengetahuan dan pemikiran mereka. Jawabannya bisa sangat beragam.

Contohnya : 'Why do plants wilt?" (layu)

"Plants wilt to conserve water when water is scarce or the roots are damaged. They also wilt in response to being flooded with seawater due tto osmosis." Nah, kemungkinan jawabannya bisa beragam tergantung dari pemikiran murid.

Tak hanya tentang penanaman persepsi bahwa kita (guru) hanyalah sebagai fasilitator sedangkan anak anak yang harus aktif berpikir, saya juga mendapatkan banyak cara baru untuk mengembangkan kemampuan kemampuan murid. 

salah satu caranya adalah diskusi. Nah, tapi nggak asal diskusi juga. Kita juga harus tahu, macam macam group-work yang sesuai untuk mereka :
  1. Whole-group Brainstorm : melakukan brainstorming dengan seluruh kelas dengan guru sebagai centernya/pengarah ide.
  2. Think-pair-share : diskusi berpasangan
  3. Whole-group discussion : Diskusi yang melibatkan seluruh anggota kelas dengan guru sebagai pengarah diskusi.
  4. Small-group discussion : Diskusi kelompok kecil sekitar 3-5 murid.
  5. Role-play : bermain peran
Nah, setelah kami semua mengetahui jenis jenis group-work, akhirnya kami dibagi menjadi beberapa small group, lalu mendapatkan satu jenis group-work yang harus kami jabarkan tentang negative side, positive side, dan interesting factnya.

Small-group discussion. Saking semangatnya sampai jari keriting semua.
Tak berhenti sampai di sini, setelah kami selesai menulis di kertas karton besar begitu, kami juga harus bergiliran menghampiri group lain dan menambahkan ide ide mereka. What a lively class, Teachers!!







Metode pengajaran serupa ini yang membuat kami sebagai murid (saat training) menjadi lupa waktu. Mulai pukul 9 dan selesai pukul 5 sore sangat tidak terasa. WHY?? We are learning by doing!!

Salah satu aktivitas membuat bahan ajar dari koran bekas.
Dan masih banyak pengetahuan yang sayang sekali kalau teachers lewati begitu saja. Untuk yang berminat, harus rajin rajin kepoin facebooknya British Council Indonesia ya, Teachers! Training ini tidak hanya diadakan sekali kok, tetapi sebulan sekitar dua kali. Jangan sampai ketinggalan ya!



Kapan lagi punya pengalaman berkumpul bersama orang orang yang penuh motivasi, inspirasi dan gagasan baru ya, Teachers?? Selama dua hari itu saya berkumpul dengan banyak guru guru yang mempunyai semangat untuk terus maju yang tinggi, lalu belajar bersama dengan metode yang lebih efisien dari yang saya terapkan di kelas (dan sedikit sedikit mulai saya praktekkan), berbagi ide dan gagasan mengajar, dan pengalaman menyegarkan pikiran saya yang selama ini hanya sampai di batas itu-itu saja.

Bukankah pengalaman adalah guru yang berharga? Dan training kali ini adalah salah satu guru berharga saya untuk bisa mengajar dengan lebih baik ke depannya; mengajar yang terus memikirkan kebutuhan anak anak.

Pengalaman se-kelas dengan guru guru senior plus pembicara handal!
Sangat lumayan ya Teachers, menjadi guru itu berarti kita bisa menabung "Ilmu yang Bermanfaat" dari ketiga tabungan kita ; "Amal jariyah", "Ilmu yang Bermanfaat", dan "Anak Soleh Solehah" nanti untuk bekal hidup abadi setelah mati. #beratbahasanya



Apa yang saya dapatkan saat berkumpul dengan orang orang yang niatnya tidak hanya berangkat-ngajar-pulang-repeat seperti mereka? Mereka dinamis bergerak demi perbaikan diri sebagai pendidik, haus pengetahuan, dan di antaranya pasti mempunyai jaringan yang kuat. Mereka punya komunitas pengajar dan portal informasi tentang beasiswa S2 yang terbuka lebar.

with Miss Ranny!
Saya berkenalan dengan Miss Ranny yang ternyata seumuran saya dan sedang mengenyam pendidikan S2 Pendidikannya di UHAMKA. Dia tergabung di Komunitas Guru Belajar dan kemudian mengajak saya untuk bergabung di dalamnya. Dan wownya lagi, Komunitas Guru Belajar sudah ada di masing masing region. Kita tinggal mendaftar di region domisili kita deh! Tak hanya itu, kami (peserta workshop ini) juga berinisiatif untuk membuat group WA sehingga silaturhami kami masih bisa terjalin, masih bisa bertukar ide, pengalaman dan info seminar/training/beasiswa S2 sampai sekarang.

Ini sudah sangat jelas. Apa yang saya dapatkan saat saya bercakap cakap dengan guru guru yang ibarat level ngegame mereka semua sudah advanced? Dan bahkan sudah advanced pun mereka masih ingin belajar di British Council lho, Teachers?

Salah satu guru yang menginspirasi, bu Latifah
Saya bertemu dengan bu Latifah yang jauh jauh dari NTB memakai biaya sendiri demi bisa mengenyam pendidikan kilat dua hari ini. Padahal beliau sudah mengajar sejak 1997; itu berarti saat saya berumur 7 tahun!! Saya juga bertemu dengan bu Rini yang mulai mengajar sejak tahun 2011, bu Tina yang gaya mengajarnya lucu bangett melebihi Nunung, bu Arum jauh jauh dari Tangerang, pak Bangun yang menyempatkan hadir dari Solo, bu Vetty yang bukan hanya mengajar tetapi dia juga merangkap sebagai penulis kece, sekelompok bapak bapak muda macam Pak Made, Pak Mursyid, Pak Bekti, Pak Joko, dan pak pak serta ibu ibu yang tidak bisa disebutkan satu satu. Dan di mata saya, mereka semua hebat.

Bersama guru guru senior!
Apalagi pembicara kami, yaitu pak Gumawang dan pak Berlin yang ilmunya sudah membahana sampai ke  mana mana dan masih dengan semangat menularkannya kepada kami.

Apa yang bisa saya tangkap banyak banyak dari mereka semua? Setumpuk motivasi untuk terus menjadi lebih baik, inspirasi untuk menciptakan metode metode mengajar yang bervariasi, menyenangkan serta penuh faedah, DAN................ 


Mereka yang dari Cirebon, Tangerang, Solo bahkan NTB pun dengan penuh semangat datang ke Jakarta Selatan dan belajar bersama selama dua hari itu. Yang datang pun bukan guru butiran debu macam saya, tetapi guru guru senior yang sudah jadi guru sejak saya masih jadi murid SD.

Saya harusnya bersyukur karena saya sekarang tinggal di Jakarta, tempat dengan akses segala kebutuhan mudah didapat. Dan teachers yang ada di Jakarta, kita harusnya bersemangat berkali kali lipat untuk bisa menangkap banyak kesempatan demi masa depan yang lebih baik, dan faedah yang lebih banyak. Dari training ini, sejalan dengan dukungan suami, saya mulai merajut asa untuk mengejar beasiswa S2, lalu menjadi magister Pendidikan dan menjadi Ibu yang dibanggakan oleh anak anak saya kelak. Aamiin.


InshaAllah Allah selalu mempermudah jalan kita untuk terus bisa mengeruk ilmu sedalam dalamnya dan memberikan faedah kepada sesama (terlebih murid) sebanyak banyaknya.










7 comments:

  1. wah acara yang sangat bagus dan penjelasan yang sangat detail dan panjang dari miss mey, memang kalau pengajar itu perlu training-training semacam ini. sebab yang namanya dunia pendidikan kan terus berkembang, metodenya juga harus mengikuti perkembangan jaman.

    semangat mis mey, semangat mencerdaskan anak negeri!

    ReplyDelete
  2. Asik ya bisa ikut pelatihan gratis, bisa dapet ilmu baru lagi,
    Ternyata namanya hidup kita memang selalu haus akan ilmu,
    semakin banyak llmu di dapat semakin kita sadar kalau kita tidak tahu apa-apa.
    5 tahun jadi guru bukan waktu yang sebentar 'menurutku'
    tapi 5 tahun mengajar ternyata masih ada aja ya ilmu pengajaran yang belum teh mey tahu.
    moga kedepanya teh Mei bisa ikut pelatihan2 lagi ya supaya bisa sharing2 di Blog lagi.

    ReplyDelete
  3. cool. jadi sepenting dan genting itu ya core skill. event workshop semacam ini kalau diselenggarakan pihak yang udah punya nama passti bobot acaranya oke bingits. Ayo kejar LPDP ke inggris, lumayan kan tuh guru yang doyan english belajar langsung di tuan rumahnya :)

    ReplyDelete
  4. gue ngerasa connected banget dengan pembahasan ini kak mey, secara gue juga guru b.inggris. ahaha. seru banget peengalaman trining gini.

    tap kendala dari deep question itu guru mesti bisa mennetukan standar penilaian. pengalama gue, gue suka bingung gitu. jawaban yg pertama sana jwaban yang kedua beda pion penilaian padahal inti jawabannya sama. gue suka belibet sendiri gitu. ah. entah kayaknya penjelasan gue ni ribet. moga kak mey ngerti . ahaha.

    ReplyDelete
  5. Waaah, keren nih, kak mey detail bgt jelasinnya. Meski aku bukan dr dunia pendidikan, tapi aku jadi nambah ilmu baru tentang Core Skills. Terlebih aku orang yang susah memecahkan masalah dan menemukan solusinya.
    Makasih kak meyk udah share ilmu yang kak mei dapet selama ikut training ini ya kak.

    ReplyDelete
  6. Terimakasih sudah berbagi ilmu, Kak. Insyaa Allah ada yang saya praktikkan, walaupun saya enggak mengajar di sekolah formal ^_^

    ReplyDelete
  7. Wih, keren banget materi training-nya! Apalagi yang menyelenggarakan British Council, pasti banyak sekali ilmu yang didapat. Terima kasih mbak sudah berbagi. :D

    ReplyDelete