Thursday, 10 December 2015

Gegap Gempita Festival Pembaca Indonesia (Episode 1)



FESTIVAL PEMBACA INDONESIA. Gue girang banget saat gue nerima email balasan yang menyatakan kalau gue terpilih jadi salah satu peserta workshop kepenulisan di festival itu. Sebulan yang lalu emang gue sempet daftar via email. Saking excitednya, hari Sabtu tertanggal 5 Desember 2015 gue sampai ngajuin cuti!! Alhamdulillah, cuti gue diACC sama bos. Terimakasih bos! Dan berangkatlah gue ke alamat yang tertulis di email.

Nah, apakah gue tau itu dimana?? OH JELAAASSS......................


TIDAK!!!

Gimana gue mau tahu kalau gue cuman duduk di seat belakang tiap kali diajak sepupu gue malang melintang di dunia per-mall-an di Jakarta. Gue jadi minim pengetahuan akan jalanan Ibu Kota. Tapi, karena semangat gue berkobar kobar gue mulai cari cara. Gue mulai tanya google, tanya Ayu (temen kerja yang tinggal di Jakarta dari orok), sampai tanya langit namun langit tak mendengar. Sayang....

Gue juga mulai menyusun rencana transportasi untuk bisa sampai di alamat ini:

Tower 2 at Synthesis Square, Jl. Gatot Subroto , Jakarta Selatan

Rencana gue adalah : Jam 11 berangkat naik angkot 56 lalu menuju ke Cawang yang hanya menghabiskan waktu 45 menit, lalu gue pesen Gojek dari Cawang sampai tempat tujuan yang gue liat cuman berjarak 13 km saja. Palingan juga 15 menit perjalanan. Halah..... Sepele.

Kenyataannya adalah :
Jam 11 berangkat naik angkot 56 lalu menuju ke Cawang yang menghabiskan waktu hanya...........sebentar. Antrian mobil di depan panjang amat kayak ular piton, berkelok kelok. Gue lupa kalau ini Jakarta, bukan Salatiga. Baru juga mengurai kemacetan, 

"JEGERRRRRR!!!!!"

Buset.....

Waktu gue ngintip dari balik kaca, langit menunjukkan tanda tanda tidak bersahabat. Awan awan kelam mulai menyatukan kekuatan. Petir susul menyusul. Gue liat di atas sana langit mendadak pucat, pasi, pilu. Ini sebenarnya langit apa sanubari? Dan gue lupa satu hal. Gojek bukan metromini. Gojek nggak ada atapnya. Habislah sudah. Di dalam angkot gue galau.

Gue cuman bisa ngitungin air ujan di bawah jembatan penyeberangan Halte Cawang UKI. Saat tiba tiba ada mbak mbak di samping gue,

“Eh mbak,tau nggak kalau dari sini ke Kokas (Kota Casablanca) naik apa?”

“Nah itu dia mbak,jangankan Kokas... Dari sini ke Gatot Subroto aja saya gagal paham.”

“Owh, mbaknya mau ke Gatot Subroto? Dimananya?”

“Ini lho mbak, aku nggak tau ini nih dimana... Aku cuman bisa ngandelin gojek. Tapi sekarang??? Harapanku tergerus buliran hujan.” Gue malah curhat sambil ngliatin screenshoot alamat di hp gue.

“Owh ini belum sampai Senayan...bisa naik busway nih tinggal naik terus naik busway sampai Halte Gatot Subroto, terus kalau masih hujan naik taksi aja nggak sampe 50 ribu.” Kata kata mbaknya macam R.A Kartini. Habis gelap terbitlah terang.

Lo percaya nggak, saat lo yakin mau pergi ke suatu tempat walau pun lo nggak tau apa apa, lo pasti akan ketemu orang baik yang nolongin lo? Gue sangat percaya. 

Inget dua tahun yang lalu saat gue ke Jakarta pertama kali seorang diri bawa bawa tas isi baju segede rudal Rusia, gue diturunin di antar berantah karena bisnya udah telat. Tiba tiba cewek di samping gue,namanya Mia nanya gue mau kemana. Lalu, dari segala tempat yang ada di Jakarta Raya ini, alamat Mia sama kayak alamat gue. Kita akan menuju alamat yang SAMA!! Akhirnya gue dan Mia naik angkot dua kali dan sampai di Griya Bukit Jaya, tempat tante gue tinggal dulu sebelum pindah. See? Dari semua yang pernah gue alamin sepanjang hidup gue, di segala kesusahan hidup, gue selalu dipertemukan sama orang baik yang akhirnya nolongin gue. God is indeed good,dude!

Akhirnya gue dan mbak tak-dikenal-identitasnya-karena-kita-belum-sempat-kenalan jalan ke seberang lewat jembatan penyeberangan. Gue sempat dadah sama dia sebelum dia naik TransJakarta tujuan Kokas. Gue akhirnya naik TransJakarta jurusan Gatot Subroto beserta 3 penumpang lainnya. Masalah selanjutnya adalah, gue harus turun dimana? Halte Gatot Subroto itu dimana? Mananya Monas? Mananya Bekasi?

Di tengah perjalanan gue liat di jendela ada tarif 9.000 jarak dekat-jauh. Gue pikir ini Transjakarta jenis baru yang di dalam tetep bayar. Karena gue sibuk cari Gatot Subroto gue cepet cepet mau kasih uang ke kondekturnya saat tiba tiba nggak ada angin nggak ada panas (karena emang lagi ujan), mas mas yang duduk di sebelah gue, malangin tangan kirinya tepat di depan dompet gue. Gue kaget, mas kondektur kaget, penumpang kaget, dompet gue kaget.

“Mas, yang ini enggak bayar,khan dia udah dari dalam halte. Udah bayar...” Tangannya tetap melintang di depan dada gue selama beberapa detik persis kayak palang mobil kalo mau masuk basement mall.

“Ini punya pemerintah mbak,bukan punya swasta. Jadi kalau udah dari halte dalam nggak usah bayar lagi. Yang bayar kalau yang masuk dari tepi jalan.” Gue tiba tiba dijelasin panjang lebar.

“Emang mbaknya mau kemana?”

“Nah itu dia saya mau Gatot Subroto. Masih jauh nggak ya?”

“Owh masih. Nanti kalo udah deket saya kasih kode.” Masalah kedua terselesaikan. Saat gue dikasih kode kode tertentu oleh mas bertopi itu, gue turun dan mengucap terimakasih.

Masalah yang ketiga adalah......dari halte ini gue harus kemana biar gue bisa sampai di Tower Synthesis itu? Satu satunya orang yang gue butuhkan sekarang adalah tidak lain tidak bukan,gojek.

Hujan agak mereda dan gue bisa bernafas lega. Gue berteduh di bawah tangga jembatan halte dan pesen Gojek. 

"Hallo Mba? Ini gojeg..mba di mana?"

"Saya di bawah jembatan penyeberangan halte Gatot Subroto pak. Bapak dimana?"

"Di samping."

"Samping mana pak?"

"Di sini mba.." Pas gue noleh, lah ini dia bapak gojek ternyata di samping gue. Lah kenapa pake acara telpon telponan kalau begitu? Ini gojek apa jaelangkung tiba tiba nongol? Apa jangan jangan gojeklangkung? #abaikan. Ternyata emang benar saat kita pesan Gojek, maka kita akan dihubungkan oleh Gojek terdekat. Lah ini kurang dekat apa coba? Cuman berjarak 30 cm.

Setelah gue menunjukkan alamat berikut gambar gedungnya, gue dan pak Gojek yang ternyata berasal dari Salatiga yang berarti kita satu kampung halaman sampai di depan gedung Synthesis. Alhamdulillah.

"Ati ati lho, mbak..Kadang Jakarta nyamari..." Seumur umur baru kali ini gue dikasih pesan perpisahan sama pak Gojek.

"Iya, Pak. Doakan saya ya..." Pasti buat pak Gojek, seumur umur baru kali ini ada penumpang minta didoain segala. Gue dan Pak Gojek akhirnya berpisah. 

Walau kenyataan tak selalu sama dengan harapan, yang penting gue udah sampai dengan selamat. Gue terharu. Akhirnya gue bisa melibas jalanan  Jakarta sendirian dan gue bisa sampai dengan selamat. Ini buktinya.

mission....DONE!!


WHAT'S INSIDE??

Tema Festival Pembaca Indonesia kali ini adalah Reading, Caring, Sharing. Itu mengapa di acara ini buku gratis tumpah ruaaaah bertebaran!!

Banyak. Kali ini Festival Pembaca Indonesia diadakan di dalam gedung, 2 lantai tepatnya. Lantai 8 buat talkshow dan workshop, sedangkan lantai 7 buat semua stand pameran dan di tengahnya ada meja memanjang berisikan lautan buku. Acaranya sendiri diadakan selama 2 hari, yaitu Sabtu dan Minggu tertanggal 5-6 Desember 2015.

Kegiatan yang ada di #IRF2015 berupa Pameran Koleksi Buku berbagai genre milik pribadi, perpustakaan, ataupun komunitas. Kemudian ada pula diskusi menarik dengan penulis dan pelaku dunia perbukuan lainnya dalam bentuk talkshow dan workshop. Bagi yang senang menonton film, ada Bioskop Baca yang menayangkan film-film diadaptasi dari buku. Sedangkan yang senang dengan tantangan, bisa ikut GRI Book Games. Kalau pengunjung ingin menukarkan buku dengan milik penyelenggara, datangi saja meja bookswap dan bookwar.  Semua area menyediakan hadiah-hadiah menarik yang bisa kalian perebutkan.

Tapi, sebelum gue ke lautan standnya, begitu sampai gue langsung menuju ke lantai 8 buat ikutan workshop. Judulnya adalah "JADIKAN KEUNIKANMU SEBUAH KARYA" Pematerinya dari Penerbit Bukune, yaitu Syafial Rustama (Pemimpin Redaksi Bukune), Ry Azzura (Editor Bukune) dan seorang cowok yang kemudian gue ketahui namanya Marco. 

Gue yang emang pingin banget bisa menelorkan personal literature (buku komedi non fiksi yang menceritakan tentang keseharian penulisnya) jelas getol banget ikutan. Sayangnya gue nggak bisa ikutan dari awal. Jangan tanya kenapa... Langit tau jawabannya. 

Gue cuman kebagian 45 menit terakhir dari durasi keseluruhan 2 jam. Sedih kan? Ini juga bukan serta merta kesalahan hujan karena hujan memang tak pernah salah. Begitu gue sampai lantai 8, gue langsung menuju lobby. Di sana ada seorang laki laki yang berusia sekitar kurang lebih 70 tahunan. Gue cuman nunggu di sana sambil mikir. Ini kenapa malah bahas majas persoifikasi sampai langit memucat, hati bergetar, angin berucap lirih. Akhirnya gue nanya ke mas mas di sebelah gue.

"Talkshow dari BUKUNE  abis talkshow yang sekarang ini ya Mas?"

"Owh bukan. Ini beda."

"Lah, lha terus ini emangnya talkshow apa?"

"Kelas Puisi Sapardi Djoko Damono. Talkshow BUKUNE di sebelah mba..."

"Laaah....piye.." 

Tapi buat gue nggak masalah juga karena gue juga pencinta puisi. Saat galau gue juga kerap bikin puisi sambil minum kopi dini hari. Yang lainnya udah mimpi, ehh gue masih bikin puisi. 


APA YANG GUE DAPAT DARI BUKUNE??

Suasana workshop. Kali ini gue nggak salah masuk ruangan.
Karena gue telat, gue cuman dapat setengahnya aja. Dari yang gue tangkep, bikin buku itu nggak langsung jadi, gaes. Butuh proses..butuh edit ini dan itu, butuh penolakan dan penguatan diri setelahnya. Yang harus dicamkan adalah konsistensi diri. Dan yang nggak kalah penting adalah motivasi.

Menurut BUKUNE, untuk menjadi penulis kita harus punya motivasi yang kuat dulu. Tanya ke diri lo, apa motivasi lo menulis? Biar terkenal? Biar dapet duit? Biar jadi inspirasi? Atau yang lainnya... Tapi bukan berarti kalau lo gagal mencapai salah satu motivasi lo, lo jadi stop nulis. Lo harus pantang menyerah. Ya...11 12 sama nguber nguber gebetan, tak mudah putus asa. Begitu juga saat lo terkena writer's block! Lo bisa lakuin banyak hal biar mood lo datang kembali. Ini mood apa mantan sebenarnya pake datang kembali segala?

Nah, di talkshow itu juga gue jadi tahu betapa pentingnya self-editing! Dan dalam proses self-editing itu lo harus :

- Punya first reader atau pembaca pertama. Tapi, pilih juga pembaca yang lo percaya. Jangan pilih yang sirik sama lo. Dan jangan pilih gebetan buat jadi first reader. Pilih orang yang netral dan bisa menilai tulisan lo secara objectif.

- Terbukalah terhadap feedback. Jangan baper kalau dikritik,toh itu semuanya demi kebaikan naskah lo. Makanya gue bilang jangan minta feedback sama gebetan atau mantan. Rentan baper soalnya.

- Ikuti prosedur kirim naskah. Lo juga harus tahu tentang penerbit penerbit mana yang sesuai dengan genre yang lo tulis. Kalau komedi, BUKUNE bisa jadi rekomendasi. Sekedar informasi,BUKUNE itu menerima naskah yang berupa :

      1. PELIT (Personal Literature) Komedi
      2. NOVEL KOMEDI
      3. KOMEDI YANG BELUM TERDEFINISIKAN (KUMPULAN KOMEDI)
      4. KOMIK
      5. NOVEL HORROR
      6. KUMCER HORROR
      7. PSIKOLOGI POPULER

Dan kalau lo masih penasaran tentang kriteria atau persyaratan pengiriman naskah di BUKUNE, jangan khawatir gaes. Lo bisa ngesot ke SINI.

Di tengah tengah talkshow tadi, gue duduk di sebelah mbak berjilbab biru. Gue lirik sekali, raut mukanya terlihat ramah dan bersahaja. Gue mulai melakukan jurus kedua.

"Mba, dia siapa?" Ucap gue sambil menunjuk salah satu pemateri.

"Owh, itu Marco."

"Marco itu siapa?"

"Marco itu salah satu bakal penulis di BUKUNE yang udah terkenal di Askfm"

"Owh..." Padahal gue nggak tahu Askfm itu apaan.

Apa yang gue suka dari pergi sendirian selama ini adalah gue bisa menemukan teman baru karena gue bisa lebih merasakan suasana sekitar dan nggak asik sendiri bareng temen gue. Gue bisa jadi lebih peka terhadap kode kode yang diberikan. Dan gue jadi tahu bagaimana bisa menjalin perkenalan. Tipsnya adalah lihat raut mukanya. Kalau matanya teduh, bibirnya murah senyum, pembawaannya tenang, bisa dicoba ajak kenalan.

Tapi kalau matanya ngelirik ngelirik-kadang warna warni, alis nantangin, kalo pas foto bibir dimonyongin, mendingan urungkan niat lo. Apalagi pas lo liat ke bawah kakinya gelantungan. Mendingan kabur.

Pas udah mulai sksd pun harus tau mana yang patut diperjuangkan, mana yang harus ditinggalkan. Kalau pas ditanya,

"Udah lama mba?"

"Iya..sudah mba...alhamdulillah yaah.."

"Owh, dia friendly..." Kalau sudah begitu gue bisa pake follow-up question.

Tapi, kalau pas ditanya.

"Udah lama mba?"

"Y" Tak ada harapan, gaes..

Dan dari pertanyaan sederhana tadi gue akhirnya berkenalan dengan mba mba sendirian yang duduk di sebelah gue. Namanya mba Zuhay... Kita hanya selisih umur setahun dan kita punya hobi yang sama, membaca. Mbak Zuhay ini tinggi sekali,gaes...dan friendly. Dia yang pada akhirnya seseruan berduaan bareng gue di lantai 7, dimana stand stand seruuuuuuuuu dan buku buku gratis bertebaran. Mbak Zuhay yang pernah ke sini di Festival Pembaca Indonesia tahun lalu pertama, akhirnya jadi tour guide gue setelahnya. 

Lalu, apa yang terjadi dengan gue dan Mbak Zuhay?? Apakah gue dapat buku gratis?? Apakah gue akhirnya dapet buku fiksi Full English yang termasuk dalam jajaran The New York Times Bestseller yang selama ini gue idam idamkan karena buku serupa di Gramedia harganya bisa tiga kali buku dalam negeri? Apakah gue juga bisa foto foto unyu bersama Mbak Zuhay dan meninggalkan jejak bersama dalam frame tak kenal usia bernama kamera? Apakah gue dan Mbak Zuhay ternyata saudara yang tertukar? 

Nanti akan gue ceritakan keseruan yang lebih seru bersama Mba Zuhay! Amboyyyy!! 

Petualangan Mehay... (Meykke dan Zuhay..)

Di hari kedua gue juga sempat ikutan workshop bersama para penulis Gagas Media bergenre Romance berikut editornya. Siapakah para penulis itu??? And I got so many knowledge, guys!! Just wait!!  

*SOURCE : http://festivalpembacaindonesia.com/2015/08/21/festival-pembaca-indonesia-2015-indonesia-readers-festival-2015/





7 comments:

  1. seru ceritane.
    ngakak pas baca yang pesen gojek ternyata cuma sebelahan.

    ReplyDelete
  2. Festifal Pembaca, keren tuh. Ada Buku gratis tumpah-tumpah lagi. Semoga saja ilmu yang didapatkan bisa berguna. Bisa jadi penulis. Salam kenal ya, baru pertama kali mampir.Saya follow ya

    ReplyDelete
  3. Mulai dari perjalanan dan akhirnya sampe. Kok gue geli aja rasanya. Ini pengumbaran hati dan mantan tampak jelas sekali... "HAduh... kak Mey, move on dong..." :D

    Ilmu dari BUKUNE emang bener semua, apalgi soal tujuan kenapa mau nulis? Kadang, gue sendiri juga masih bertanya-tanya : Kenapa ya? Gue mau nulis?

    APa karena mantan tak enak diceritakan di dunia nyata? Mungkin....

    ReplyDelete
  4. Asik ya idup disana banyak event keren yang bisa dijabanin.. :D

    Mantep juga ikutan workshop bukune walopun gak dari awal.. tapi kalo misal beneran bukune nerima naskah komedi kayaknya perlu dipikir2 lagi deh.. sebagai penikmat buku2 terbitan bukune, gue perhatikan selama tahun 2015 buku komedi terbitan bukune hampir gak ada yang berasal dari penulis baru, kebanyakan bukune bukan nerima naskah tapi nawarin orang nulis di bukune, orang yang ditawarin juga gak sembarangan.. stand up comedian, selebtweet, youtuber, tapi punya skill nulis yang lumayan.. D

    Kalo akhir2 ini sih bukune lagi demen artis ask.fm kayak andori, devlin yg terbaru marco~

    Kalo diperhatiin lagi, bukune juga mulai ngincer penulis dari penerbit lain diajakin nulis di bukune, contohnya ada Risa Saraswati, Dwitasari, dan yang terbaru @dsuperboy..

    Intinya sih.. lo kapan ngelarin tulisan lo terus mulai ngirim ke penerbit? :D

    ReplyDelete
  5. petualangan yang seru dan banyak ilmu tuh, btw header blognya ketjeeee

    ReplyDelete
  6. wow strong banget.. hehe
    asyik kayaknya ikutan acara kayak gitu ya. Sayang di tempatku enggak ada yang begituan.
    Itu romantis banget kayaknya yang pas sama bapak gojek. emoga kalian dipertemukan kembali ya.. hehe
    perjalanannya seru.. ;)

    ReplyDelete
  7. Seneng banget ya bisa ikut acara gituan. Apalagi ketemu sama orang-orang yang sehobi. Asik banget. Semoga bisa ikut acara ginian juga nantinya.

    Iya, bener kata mas Edotz. Bukune kebanyakan ngajak orang-orang yang udah punya nama dan udah punya fans buat nerbitin buku. Seleb-seleb twitter, ask.fm, dan youtubers pun diajakin buat nulis. Dan yang terbaru adalah Cigul, mantan personil JKT 48. Semoga perkiraanku salah, dan Bukune nerbitin buku-buku dari orang yang belum terlalu punya nama juga.

    ReplyDelete