Wednesday, 6 May 2015

Ini Soal Temen KOST 10 (Esmeralda Sudah Dewasa, Dia Menikah - Kita Pakai Baju Apa Nih?)

Esmeralda sudah dewasa. Esmeralda akan menikah. Barbara, Marimar, Casandra dan gue sebagai Mercedes sudah tahu hal itu sejak akhir tahun lalu. Malam itu, kita berempat berkumpul di ruang tamu berdiskusi tentang seluk beluk kehidupan dan percintaan. Semua dari kita tengah menghadapi situasi dimana dalam sebulan kita bisa mendapatkan undangan pernikahan lebih dari satu, atau setidaknya tahu kalau si A akhirnya menikah dengan si B, si C sudah dilamar si F, si H makin banyak upload foto di fb gandengan tangan sama si K, sedangkan si M sibuk ngapusin fotonya bareng si A karena cinta mereka lekang digerus jaman. Hidup terasa semakin rumit melebihi soal Aljabar atau pecahan desimal. Karena hidup di fase ini adalah soal penjabaran rasa yang mustahil dihitung oleh akal sehat manusia dengan pecahan hati yang impulsif di titik koordinat hati tertentu.
----
“Gaes, nih gue kasih kain buat seragaman di resepsi gue. Datang yaaaa....” Beberapa minggu kemudian gue dapat sehelai kain berwarna gold dari Esmeralda.
“Waaahhh...akhirnya dalam hidup gue, gue dapat dress code juga, Casandra!!” Gue berlompatan girang. Lah, Casandra malah buru buru milin karet gelang.  
“Ngapain lo malah bikin jalinan karet gelang macam itu?” Barbara nanya.
“Buat Mike mainan lompat tali. Kasihan..” Dia menjawab santai.
“Jaman sekarang mah bukan jamannya bikin jalinan karet gelang, tapi bikin jalinan cinta dan kasih sayang yang suci nan abadi! Mana pake mainan lompat tali. Kite harusnya mulai pikir gimana melompat ke tahap selanjutnya sebagai seorang wanita!” Barbara terlihat agat sewot melihat Casandra malah bikin tali dari karet di saat saat pembagian kain seperti ini. Gue cuman senyum senyum simpul. Mungkin Casandra masih terlalu dini untuk mengerti ini semua. Dia adalah perempuan yang masih demen ngejar ngejar kecoak pake gagang sapu sambil teriak teriak.
“Mikeee!!! Kecoak Mikeeee!!! Aaaaaakkkkkk!!!”
BRUK BRUK BRUKKK!!!! Dia memukul mukul secara membabi buta pojok kamarnya dengan ujung sapu.
“Waaaaakk, mana mana?? Waduh!! Itu sapu gueeee Casandraaa, sapu gueeeee!!! SAPU GUE TERNODAAAAAAA!!! Huaaaaaaakkk!!”
Lalu si kecoak bisa meloloskan diri dan menyelusuri pinggiran tembok. DIA MASUK KE KAMAR GUE!!!
“Casandra, mana sapunyaaaa!! Aaaaaaakkkk!! Kecoaknya bisa TERBAAAAANGGGG!!!! INI KECOAK TERBAAAAAANG!!! Kenapa kecoak bisa terbaaaaang?????!!!! AAAAAAAAAKKKK! ”
Ternyata dia ngejar ngejar kecoak terbang bareng gue. Mukul kagak, teriak iya. Saat temen temen gue udah mulai ngejar jodoh dunia akherat, gue dan Casandra masih sibuk ngejar ngejar kecoak terbang. Sungguh terlalu.
Tapi, gue jelas senang dapet kain samaan buat dress code pernikahan Esmeralda. Gue sudah membayangkan kita pake baju kembaran lalu datang beriringan ke pernikahan Esmeralda. Gue paling suka pake baju kembara sama orang lain, apalagi sama Casandra dan yang lainnya. Lalu, kita akan mengambil foto dan gue akan segera upload foto kita di Instagram. Pasti kekinian banget!! Ini adalah kali pertama gue dapat kain untuk dress code. Tiap kali saudara gue menikah, cuman Ibu gue yang dapat kain batik buat dress code. Gue mah kagak. Mungkin karena saat itu gue dinilai belum cukup matang dan belum potential untuk mengenakannya. 
“Makasih ya Esmeralda. Nikahannya dimana?” Marimar nanya.
“Garut.” Gue menelan ludah.
“Jauh juga ya Bar...” Sebenarnya gue nggak tahu Garut itu mananya Jakarta. Cuman kayaknya sih jauh.
“Udah itu dipikir nanti. Yang penting kita bikin dulu dressnya.” Marimar mengajukan pendapat.
--
Nah, itu dia masalahnya.
Cowok akan kondangan vs cewek akan kondangan itu beda banget persiapannya. Kalau cowok misal dikasih kain batik buat dress code. Ya udah tinggal dibikin shirt pendek atau panjang, bisa dipadu padankan dengan jas, celana kain dan sepatu. Karena memang modelnya cuman itu. Lah kalau cewek? Shirt atau kemeja aja banyak modelnya. Ada yang lengannya dibuat berkerut, atau dikasih brokat di masing masing lengannya biar lengannya keliatan dikit, ada juga yang brokat semua biar semuanya nerawang dan keliatan. Pria pasti suka. Macam macam. Mana masih dikasih jas atau blazer. Jaman sekarang pun belahan baju nggak cuman di kaki atau dada, tetapi juga di lengan! Gue nggak habis pikir tuh lengan udah panjang kenapa pake dibelah belah. Nih lengan apa duren? Ternyata namanya cape blazer. Orang macam gue mana ngerti soal beginian.
Kita pun sebagai sebagian dari kaum wanita sangat sulit memilih model dress, apalagi gue. Gue mulai cari cari di google dengan keyword ‘dress for party.’, ‘muslim dress for wedding party’ sampai ‘wedding dress’ juga gue cari saking bingungnya. Nggak cuman gue, kita berempat juga sedang dalam lautan yang sama, lautan kebingungan. Maklum, ini adalah kali pertama gue kondangan pake jahit dress seragaman segala. Biasanya mah pakai apa adanya, tapi kali ini karena gue pikir gue juga udah dewasa, gue udah mulai memikirkan perubahan. Perubahan dalam hidup gue, dimulai dari sini.

"Siapa tahu nanti kita ketemu cowok Bandung yang kasep!"

"Kasep opo mbak? Kasep wes ono sing duwe?" 

"Aduh Mik, maksutnya kasep di bahasa Sunda mah cakeeeep..."

"Yah, situ nggak bilang sih. Kasep di bahasa Jawa khan terlanjur...gue pikir ketemu cowok Bandung yang udah terlanjur punya pasangan mah buat ape."

"Wah, itu ide yang bagus Bar!!" Casandra semangat 45.

"Lo khan udah punya pacar noh di Malang, oncoooooom!" Kadang Casandra emang suka lupa kalau dia udah punya pacar, padahal mereka udah pacaran selama 7 tahun. Sekalinya putus udah gue pastiin nangisnya bisa 8 tahun tuh anak. Liat aja....

Dan dalam sebulan sebelum kita mengarungi jejalanan menuju Garut, kita masing masing menciptakan dress idaman yang akan kita kenakan nantinya.
1. BARBARA
Barbara adalah penjahit kita. Sudah beberapa bulan ini Barbara les menjahit, bahkan dia juga beli mesin jahit portable. Ini jelas bukan tanggung jawab yang ringan. Dia akan bikin dress kembaran pertama dalam hidup kita.
“Bar, gue mau lekuk tubuh gue tergambar indah walau nanti ditutupi pake blazer....” Marimar request.
“Bar, gue mau rok gue berjuntai indah. Jadi, nanti tiap kena angin dia bisa melambai lambai dengan potongan badan bagian atas berlekuk sempurna...” Walau pun Barbara tahu di Garut nggak ada angin dia iyain aja biar cepet.
“Bar, gue mau kayak Cinderella. Have a courage and be kind!” Ucap gue sembari mengenakan potongan kain golden dan berputar putar bak Cinderella di scene menuruni tangga hall untuk berdansa dengan Prince. Yang ada gue malah kayak Cinderella ketempelan setan.
Badan gue mulai diukur dari lingkar pinggang, tinggi badan, lingkar pinggung sampe jari jari jempol kaki. Semuanya juga begitu. Kita masing masing punya model masing masing. Sedangkan Barbara hanya menginginkan model dress yang sangat simpel. Dress panjang dengan potongan di pinggang yang sama sekali nggak menyentuh badan. Inget baju Barbara, gue jadi inget baju gue jaman kecil dulu. Cuman baju gue jaman dulu sebatas lutut saja. Dressnya itu kemudian dipadu padankan dengan blazer miliknya beralaskan wedges dan jilbab syari'i. MasyaAlloh, Barbara memang solehah...
2. Casandra
Gimana ya gue mau nyritain nih orang sampe bingung mau gimana nyritainnya. Gue itu sama sekali nggak mengerti dengan pola pikirnya. Malam itu dia beli kain brokat.
"Owh, kamu atasannya mau pake brokat?"
"Iya..."
"Kamu nggak beli jadi aja?"
"Nggak..."

"Jadi kamu mau jahitin di Barbara sekalian dressnya?"
"Nggak.."
"Lah, kamu mau jahit di tempat lain?"
"Nggak..."
"Lah, terus??"
"GUE MAU BIKIN SENDIRI."
"Whattttt???? Emang bisa jahit?"
"Nggak.."
"OH TUHAAAAAAAAN!!"

Gue kapan kapan berencana buat ngajakin Casandra rukiyah siapa tahu masih ada anak kecil tak kasat mata yang menggelayut di pinggangnya sebelah kiri dan bikin otak Casandra konslet kayak begini. Sejak saat itu Casandra demen banget bertapa di depan mesin jahit Barbara buat bikin blazer.
"Bar, ini benangnya kok nggak ada?"
"Belum dimasukin."
"Bar, ini kok nggak nyala??"
"Belum dicolokin."
"Bar, ini kok jahitan gue nggak bisa lurus."
"Emang pikiran situ lurus???!!!!!!" Gue nyahut dari kamar gue saking gemesnya. Nih Casandra benar benar menguji mental kita semua. Gue intip dia sedang bergulat dengan serpihan brokat yang mulai berbentuk. Gue liat dia serius mantengin jarum sambil ngepasin pinggiran kain. Kalau udah siap, dia pencet tombolnya lalu sedikit demi sedikit dia melajukan pinggiran kain. Kadang benangnya lepas, kadang jahitannya miring kayak otaknya, kadang kainnya jadi mengkerut, kadang juga jarumnya bengkok. Macam macam. Gue nggak tega ngeliatnya.

"Sandra, di sana ada kamera infra red, di pojokan sana juga ada, sama di bolongan mesin jahit juga ada. Kalau saudara Sandra tidak kuat menghadapi semua ini, Sandra bisa melambaikan tangan ke kamera." Gue ke kamar Barbara sambil pake jubah hitam. Tinggal rambut aja gue abisin gue udah kayak Harry Ponco.

"Mik, gue nggak akan menyerah. Gue yakin gue pasti bisa nyelesein apa yang telah gue mulai." Gue liat ada kilatan cahaya dari mata Sandra. Dia kembali ngidupin mesin jahit dan mulai meliukkan kembali pinggiran kain.

"Huadoooh!!!!"

Malam itu jari telunjuk Sandra keriting karena kejahit jelujur. Padahal harusnya gue yang pingin dijahit...

Hatinya.

Lalu, apakah Casandra bisa menyelesaikan apa yang telah dia mulai? Apakah dia berhasil menjahit lengan baju dengan badan bajunya? Apakah jari Sandra ikutan diobras? Apakah hati gue bisa dijahit? Gue nggak yakin saat itu. Coba nanti kita liat jadi kayak apa yah.

3. Marimar

Gue rasa Marimar adalah personil paling bersinar di antara kita berempat. Dia yang paling fashionable dan paling pinter dandan. Setiap hari dia memakai pulasan mata bernama smokey eyes. Dia akan memakai eye shadow hitam yang dibalurkan sedemikian rupa tepat di kelopak matanya dipadu padankan dengan eye shadow warna keemasan, abu abu milenium dan juga goresan garis putih tepat di kelopak mata bagian bawah. Matanya akan semakin bersinar dengan goresan eye liner berekor ke atas di masing masing ujung. Maskara membuat bulu matanya semakin lentik, dan jelas Marimar semakin cantik.

gaya rias wajah Smokey Eyes atau mata penuh asap!

Suatu saat gue pingin niru model riasan mata kayak Marimar. Maksut gue biar gue juga cantik kayak dia. Gue pulaskan eyeshadow hitam ke kelopak mata gue. Sreeet...sreeet...sreeeeet....Kemudian gue pulaskan juga eyeshadow ke kelopak mata satunya. Lalu, gue ngaca. Buseeeeeettt!!  Tinggal nancepin paku di pala gue sambil nglubangin punggung dan ketawa hihihihi, gue udah kayak Suketi, kuntilanak jaman dulu yang diperankan oleh Suzanna. Gue takut sendiri ngeliat wajah gue. Gue nggak cocok pake begituan. Pokoknya Marimar dah yang paling cocok.

Saat itu gue iri liat dress punya Marimar yang ngepas badan dan bagus banget. Barbara emang pinter bikinnya. Tapi, ada satu kendala. Dia belum nemu atasannya atau blazernya. Bahkan, gue dan Marimar udah muterin Mall Ciputra sepulang kerja sekalian beli kado buat Esmeralda.

"Mar, apa atasan brokat itu ajah?"

"Jangan ah, terlalu lebar.."

"Ehm, Mar atau blazer aja yang bahannya satin juga?"

"Jangan ah, kayaknya kurang pas."

"Ah, tu liat Mar! Ada blazer brokat yang warnanya juga senada sama roknya."

"Duh, nggak srek kayaknya. Nggak pas di hati."

"Ehm, Mar. Ini kita cuman lagi cari rok lho, bukan cari jodoh."

"Iya juga ya.."

Tapi kita tetap pulang dengan tangan kosong. Marimar belum menemukan rok yang pas atau pun jodoh yang pas. Sampai lusa kita akan berangkat pun Marimar belum menemukan blazer yang cocok. Akhirnya, dia minta tolong gue dan Barbara untuk hunting blazer ala Syahrini di pasar Kranggan pagi pagi. Dia sendiri harus berangkat pagi sekali dan nggak mungkin punya waktu buat bisa ke pasar. Sebagai teman kos yang saling mendukung, akhirnya gue dan Barbara menuju pasar sebelum lepas landas bekerja. Setelah sempat keliling keliling pasar sampai niat buat nglempar jumroh sekalian, akhirnya kita menemukan blazer warna off white yang menurut hati nurani gue akan cocok dengan dress Marimar yang bentuknya ngepas di pinggang sampai pinggul lalu menjuntai sampai kaki. Apakah Marimar akan suka? Allohualam...

4. Mercedes

Lah, ini... Mercedes ini bak air kok di daun talas. Dia selalu berubah ubah ide karena telalu banyak ide mengendap di otaknya. Senin dia bilang mau dress terusan yang ngepas badan, Selasa dia bilang mau dress yang dengan atasan brokat seutuhnya, Rabu dia udah ganti haluan mau rok aja dengan atasan brokat yang sudah jadi alias nggak disambungkan.

Suatu pagi sebelum dress Mercedes jadi, dia ke pasar buat cari kain brokat untuk atasannya. Mercedes adalah.....gue.

Kira kira beginilah dress yang diinginkan Mercedes.
Dia mulai liat liat brocade gulungan di pasar. Lalu, dia berubah pikiran.

"Bar, kayaknya gue nggak jadi pake brocade brocade an deh. Gue berubah pikiran...Gue mau cari blazer lagi buat dressnya. Jadi, nanti dress aja tanpa lengan..."

"Oke deh..."

Gue lalu liat liat blazer di pasar. Maklum, gue bukan tipe orang yang liat baju lucu terus beli. Biasanya cuman bilang lucu terus berlalu. Karena lucu baju di mall tak selucu harganya. Dan hidup nggak melulu tentang baju yang lucu. Singkat cerita, hidup nggak selucu itu. #apaseh

Tapi, saat gue liat liat blazer, gue tiba tiba berubah pikiran.

"Bar, nggak jadi deh. Emang kayaknya gue bagusan pake brocade yang ngepas badan gitu kayak di foto. Gimana dong Bar?"

"Ya udah ke toko itu lagi. Khan toko yang jualan brocade cuman satu."

"Tapi, gue nggak ada yang suka BAr..."

"Lo tuh sebenarnya maunya apa sih Mercedes? Lama lama ngajak berantem juga nih orang. Kita udah keliling keliling pasar nih. Lama lama lempar jumroh juga nih."

"Waaahhh!! Nih atasan baguss Bar!! Kayaknya menurut hati nurani gue juga cucok sama warna kain dress kita. Pak, ini berapa??"

"120 ribu, neng.."

"Oke, 100 ribu aja ya, bungkus!"

Gue takut Barbara ngajakin tawuran di pasar kayak anak STM. AKhirnya gue pilih beli atasan dan saat yang lainnya bikin dress, gue bikin rok doang. Gue mah gitu orangnya. Anti-mainstream cenderung kurang berpikir panjang alias labil, kayak anak baru akil baligh.

Dengan kebut bermalam malam, akhirnya Barbara bisa menuntaskan semua dress sebelum kita berangkat ke Garut. Gue salut sama Barbara ini. Dia baru aja les menjahit tetapi jahitan dress dia nggak parah parah amat, malahan lumayan bagus. Setiap kali selesai jahit, kita fitting baju biar kayak artis artis. Casandra juga sempet ngecilin lagi dress nya karena dirasa perutnya kurang terlihat gepeng. Pun gue juga sempet ngecilin atasan gue karena gue rasa gue belum terlihat ceking. Gimana? Kece nggak dress buatan Barbara???



Dan akhirnya dengan memegang panutan pelajaran hidup nomor 67,

"Good friends are blessings. Give Thanks to Alloh..."
Kita semua bisa berpuas diri dengan dress rancangan masing masing. Gue udah nggak sabar pingin jalan bareng temen temen seatap gue ini untuk bisa menggapai Garut pertama kali dalam hidup gue. Mereka adalah teman teman yang gue kenal di tanah rantau sekaligus teman terdekat gue selama di Jakarta ini. Dan kita akan PIKNIK BARENG!!!! HOREEEEEEEEEEE!!!!! GUE AKAN PIKNIK BARENG DAN BOBOK BARENG TEMEN TEMEN KOST GUEEEEE!!! Bahkan gue juga sudah siap cuti sehari demi bisa menjangkau perjalanan seru bersama mereka, yang bisa jadi pertama kali dan terakhir kalinya. Who knows? 

Tapi, untuk bisa berlenggak lenggok pake baju itu di Cipanas Garut sana bukanlah sesuatu yang mudah, sama sekali bukan karena perjalanan kali ini adalah perjalanan paling berliku liku yang pernah kita tempuh bersama.

Apakah kita naik bis yang salah??

Apakah kita naik bis yang salah untuk kedua kalinya?

Apakah kita harus naik bis ekonomi selama 8 jam??

Apakah gue dan Casandra sampai habis tahu dua ribuan 5 bungkus saking lapernya?

Apakah Casandra dan gue nangis di bis minta pulang??


Tunggu cerita selanjutnya ya gaes...



12 comments:

  1. duh pasti seru tuh baju kembaran sama teman-teman.bajunya juga bagus barbara lihai juga ya menjahitnya :)

    ReplyDelete
  2. Cantik kak bajunya, tapi ya bingung masa pake baju gituan si bis bisa-bisa gumoh nanti. Tapi untuk mendapat sesuatu kan butuh perjuangan, betul nggak?

    Gak tau kenapa selalu ngakak baca cerita kehidupan anak kos ala kak meykke dkk. Marimar yang demen nyuci baju ternyata fashionable juga ya.

    Wah kayaknya seru nih kawinanya semoga esmeralda dan suaminya bisa langgeng, sakinah mawwadah dan warohmah. Ditunggu lanjutannya ya

    ReplyDelete
  3. ngomong masalah teman nikah dan saya juga akan menikah bulan depan
    ucapin selamat donk :D

    salamin ya buat teman u yang mau nikah semoga jadi psangan yang bahagia selamanya

    ReplyDelete
  4. Keribetan cewek gue temuin lagi di postingan mbak Mike yang ini. Itu temennya udah movw on ke pelaminan. Mbak Mike kapan nyusul? Eh, maap. Hahahahhaa...

    Emang nggak ada yang lebih membanggakan selain memakai hasil dari keringat kita sendiri. Nggak cuma makai barang. Makai barang yang dari ide kita sendiri aja bangganya udah naudzubillah. Wakakakaka... ditunggu kelanjutan ceritanya, mbak.

    ReplyDelete
  5. kece-kece sahabatnya.
    liat barbara jadi inget salah satu karaker di coc :))
    hahaha, mantap antimainstreamnya.
    biar gue tebak, pasti bis nya bener... tapi waktunya yang salah..

    ReplyDelete
  6. Haduh, ternyata cewek itu ribet banget yak kalau mau dandan. Tapi hasilnya emang wow sih, kalau cowok cepet, penampilannya juga itu itu aja. Kalau cewek mah ribet, tapi unik.

    Jadi inget perpisahan kemarin, kakak kelas yang cowok, pakai jas semua, warnanya sama, paling yang beda muka sama rambut, akhirnya monoton, bosen ngeliatnya. Lah, ceweknya beda, satu dengan yang lain gampang dibedain, ada yang pakai kebaya merah, kuning, hijau, di langit yang biru *eh. Bawahan juga ada yang terusan, rok, panjang, pendek, untung gak ada yang kagak pakai bawahan ._.

    ReplyDelete
  7. Deket dari daerah saya ke garut :D

    ReplyDelete
  8. Kece-kece nih mba dresnya udah kaya model-model hijabers.jadi kelitan cantik-cantik hehehe

    casandra agak kesrek juga ya otaknya, itu gak, ini gak, jadi dia maunya apasih, kayanya bener tuh hatus diruqiyah. hehehe

    ReplyDelete
  9. Wih, itu temennya kak mey udah mau nikah aja. Waktu memang cepat berlalu..

    Cewek emang gitu sih. Mau pergi ke mal aja ribet dandan, apalagi ke acara kondangan.. dan itu kondangan temen sendiri. Pasti maunya tampil perfect banget tuh :D

    Dress nya kece-kece, mungkin sehabis dipake kondangan bisa dijual tuh di OLX. "Kalo bisa jadi duit, kenapa nggak?" hehe :D

    ReplyDelete
  10. Ribet banget ya cewek kalo dikasih bahan. Mereka bingung mau jadiin apa, soalnya modelnya emang banyak, dan yang pasti pengen tampil indah. Beda sama cowok yang kalo dikasih bahan ya pasti emang itu itu aja modelnya. Simpel.

    Jahitan Barbara juga keren banget emang. Padahal katanya baru les menjahit, tapi jahitannya udah kelihatan rapi. Tapi nggak tau dari dekat emang rapi beneran nggak ? :D

    Temennya udah ada yang nikah, nha Kak Meyk ka... *sebagian teks hilang*

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...