Thursday, 11 September 2014

Ini Soal JODOH (1)


“Tiga bulan Miss.” Gue terperangah sampai ada lalat terbang rendah.

“Lu pikir mulut gue gua?” Tapi kenyataan ini memang harus bikin terperangah banget.

Gue freeze selama lima detik mendengar jawaban salah satu teman kerja gue.

“Waww, tiga bulan doang?”

“Iya Miss. Kita ketemu dua kali, lalu yang ketiga proses lamaran, dan keempatnya kita ketemu di depan penghulu.” Sampai sini gue yakin lu pasti tahu arah percakapan gue dengan salah satu teman kerja, sebut saja Mawar, 26 tahun. Ya, sudah dua tahun dia membina mahligai rumah tangga bersama sang suami.

“Miss, dulu sebelum menikah pernah pacaran berapa lama?” Satu pertanyaan inilah yang menjadi awal mula percakapan sarat makna siang tadi.

Awalnya gue pikir dia dikenalkan oleh seseorang, kemudian menjalani tahap yang bernama ta’aruf. Si pria akan meminta seseorang untuk menanyakan pada Miss Mawar perihal apakah Miss Mawar sudah siap membangun cinta bersama dan menjadi seorang istri, serta apakah Miss Mawar sudah dilamar oleh orang lain atau belum. Lalu, perkenalan melalui pihak ketiga dilakukan yang bila Miss Mawar bersedia, proses akan dilanjutkan perkenalan lebih mendalam. Kalau mereka sudah nyanyi lagunya Ussi Sulistyowati

“ku memang punya trick
buat kau click dengan diriku
bukan dengan magic cuma asik
saat denganmu…”

Selamat, Anda bisa melanjutkan ke tahap berikutnya!! Perkenalan itu pada akhirnya akan berujung pada lamaran dan moment super duper bersejarah dengan hamburan kata SAH yang berdebam di satu waktu tertentu. Proses seperti ini yang selama ini gue tahu tentang ta’aruf. Kalau Bob Marley bilang “No woman, no cry”, gue rasa Taaruf lebih condong ke “No being in relationship, no cry”. “Say no to being relationship, let’s go to KUA.”

“Owh, jadi kamu ta’aruf gitu, Miss? Kayak yang di pilem pilem Ketika Cinta Bertasbih itu?? Atau film jaman aku SMA, Ayat Ayat Cinta?”

“Uhm, sebenarnya kita lewat facebook sih.”


“Wawww!! Aku tercengang!!” Bagi gue, ini jelas kisah cinta yang tak biasa.

“Lewat facebook? Tapi cuman tiga bulan udah langsung menikah? Bukannya cari jodoh lewat facebook itu berbahaya Miss?? Ibarat kata beli kodok dalam tempurung?”

“Maaf Miss, apakah maksut kamu beli kucing dalam karung?”

“Ehm..ya pokoknya begitu. Kalau di facebook khan dari biodata sampai foto profil bisa dibuat sesuai imajinasi. Biodata tinggal mengarang indah dan foto profil tinggal dipoles menggunakan Photoscape, Camera360, Photoshop, ataupun Microsoft Power Point?”

“Tapi kok Miss Mey sampai hafal bingit gitu? Apakah....”

Belum sempat menjawab, memori gue langsung bergulung ke beberapa bulan yang lalu. Gue jadi ingat curhatan temen gue, sebut saja namanya Melati, 23 tahun. Saat itu dengan sangat menggebu gebu dia bercerita.

“Mey, aku abis kenalan sama orang Jeckardah di facebook. Kita tukaran nomor HP, dan intens banget Whatsappan!!”

“Waaaah, selamat Mel! Udah berapa lama?”

“Dua minggu. Dan you know whatt??? Oh my to the God!! Dia bahkan udah manggil aku yang!!!”

“Waww, kayak perkembangan bursa saham dong.”

“Apa urusannya, Mey?”

“Sangat pesat.”

“Duh, Mey. You know what??? Bener bener dah. Bahkan, kita sudah mulai telponan. Suaranya tuh aduuuuh...lembut banget!!” Gue lalu mikir, ini suara apa baju yang abis direndem pake Downy.

 “Kemarin gue baru aja dinyanyiin lagunya ‘kamu dimanaaa, dengan siapaaa, semalam berbuaaaat apaaaaa..’. Ih, gue sampai klepek klepek. Itu khan romance abisssss!!”

“Romance darimananyaaaa...” Peredaran darah dari otak gue menuju jempol agak tersumbat saking gue mikir keras banget lagunya Kangen Band itu letak romantisnya itu darimana. Tapi emang gitu, orang yang lagi jatuh cinta pun mau lagu Gugur Bunga pun pasti dianggap romantis.

“Oh my to the God!! Gue barusan dinyanyiin lagu Gugur Bunga!! Itu khan romantis banget. Gue jadi berasa kayak film film India. Kita lari lari di taman bunga yang semuanya warna kuning. Waktu gue lari, selendang Sari gue ditarik dan udel gue kemana mana. Dalam waktu bersamaan, bunga bunga berguguran menerpa wajah gue. Kita lalu menghentak hentakkan dada dengan pundak maju mundur. Tumpaseaaeeeeeee...Kuch Kuch Hotahaiii...aaaaaa...”

Orang bilang itu yang namanya Jatuh cinta. Tunggu saja sampai jatuh berlumuran luka. Hahaha *menujupancuranirigasisawah

Ibarat musim, Melati sedang dilanda musim Semi. Hanya saja dia nggak tahu kalau sejatinya setelah musim Semi akan datang Musim Panas. Darah akan mengumpul di satu titik di otak sana dengan hati yang membara tiada tara. Nah, sehabis Musim Panas, ini yang paling bikin sakit. Musim Gugur, hingga tak ada yang tersisa karena masa gersang telah tiba dengan retak dimana mana, diakhiri dengan Musim Dingin yang dinginnya sampai bikin hati kaku kaku. Pada akhirnya, Melati bikin puisi.

“Karenamu, hatiku dirundung kelabu. Karenamu, hatiku lebih dari sekedar membeku. Hatiku....kaku kaku”

Ya, setelah Melati nggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam karena akan bertemu dengan sang pujaan dari facebook, akhirnya mereka bertemu di salah satu mall di Jeckardah. Masih menurut versi Melati, mereka hanya sekedar ngobrol sambil ngunyah rempeyek kacang.

“Sumpah, garing banget.”

“Emang kalian ngomongin apa?”

“Ahh, males ah pokoknya. Dia itu....hahh!”

“Emang dia nggak nyanyiin koleksi album Kangen Band?”


“Mey, lu ngeledek gue? Lu pikir ini lucu?? Lu pikir gue harus nari hawai sambil pake hulahup??”

Lagi lagi gue tercengang. Baru beberapa jam yang lalu Melati nari hawai sambil pake hulahup saking gegap gempitanya menyambut sang pujaan hati yang dia idamkan setengah mati.

7 jam yang lalu :“Dari obrolan di chat dan di telepon, gue tahu kalau dia the right one. Dia itu....Mr. Right. Mey, gue nggak sabar menunggu moment itu datang. It’s gonna be huge!” Ucap dia dengan gaya Agnez Mo. Emang sih gue nggak liat, cuman gue bisa bayangin bentuk bibirnya dari cengkokan suaranya."

Sekarang : “Ternyata gue salah. Cowok itu semua sama. Yang diliat cuman fisiknya aja. Begitu liat gue, mukanya jadi berubah. Nggak kayak Kecebong yang gue kenal selama ini." *namadisamarkan

“Yaelah, kayak lu udah kenal bertahun tahun, baru juga tiga minggu.” Ucap gue dalam hati.

“Ya udah buat pelajaran saja, Mel. Jangan mudah terlena rayuan laki laki dari facebook.” Sebenarnya gue mau bilang jangan mudah terlena bujuk rayu setan. Tapi gue takut.

“Padahal kita udah saling manggil yang! Bayangkan!!”

“ Tapi, ada beberapa kemungkinan tentang panggilan yang itu sendiri. Bisa jadi sayang, loyang, atau kemungkinan terburuknya peyang.” Sebenarnya gue mau bilang begitu. Tapi lagi lagi gue takut.

“Ya udah buat pelajaran aja, Mel... Jodoh nggak akan kemana kok...” Andai Melati ada di samping gue, gue pingin banget meluk Melati, sekedar ikut merasakan penderitaannya. Tapi setelah gue pikir pikir, jangan juga sih. Derita gue udah banyak. Tapi, gue ingin sekedar meringankan bebannya. Cuman, setelah gue pikir pikir lagi, yaelah...boro boro meringankan, beban sendiri aja keberaten sampai sampai tubuh gue susah dibedakan antara tubuh sama tiang lampu taman di Waduk Pluit sana.

“Iya ya, Mey...jodoh emang nggak kemana...Kalau kita nggak nyari ya dia emang nggak bakalan kemana mana...Nggak bakalan sampai di depan mata kitaaaaaa....” Di point ini Melati pinter. Tapi gue nggak mau kalah.

“Iya I know, Mel... tapi jodoh di tangan Tuhan kok, santai aja...”

“Iya, nenek prematur juga tahu kalau jodoh itu di tangan Tuhan, cuman kalau ngga dicari juga bakalan di tangan Tuhan mulu, nggak turun ke tangan kita...” Gue gelagapan kayak abis nggak sengaja minum air kaporit di Kolam Renang Citra Gran pas lagi praktik gaya Katak. Tunggu dulu deh, di point ini Melati memang benar. Gue pikir perkataan Melati bisa dijadiin pelajaran hidup nomor 89 : “Kalau jodoh nggak akan kemana. Hanya saja, kalau nggak dicari, jodoh memang nggak akan kemana mana, nggak akan sampai ke depan mata kita. Dan jodoh di tangan Tuhan memang benar adanya. Hanya saja kalau tidak berusaha meraihnya, maka selamanya jodoh akan di tangan Tuhan tanpa bisa digapai oleh tangan sendiri.”-Melati, 23 tahun, korban facebook.

“Emang gue jelek ya, Mey?”

“Nggak kok...semua wanita di dunia ini dilahirkan cantik...” Ucap gue mengutip salah satu iklan krim wajah.

“Mungkin, kamu cuman kurang pake Ponds aja.” Gue malah kebablasan.

“Maksut lu gue item??”

“Owh, nggak Mel..dengerin gue dulu...gue juga item keles. Sesama item dilarang saling serempet soalnya kalau saling mendahului udah mainstream.”

“Terus gue harus gimana, Mey?? Lu tau nggak sih, gue udah mengumpulkan begitu banyak harapan di awang awang dan hanya dalam sekali siang semuanya remuk redam. Lu nggak tau sih gue udah komunikasi intens banget sampai SMSan juga udah puluhan kali. Tiap pagi, siang, sore dia selalu SMS ‘yang, udah makan belum? Nanti mati loh...”. Tiap pagi dia juga SMS, “Yang, ayo bangun ilernya dikeringin dulu.”. Dan yang paling bikin gue nggak bisa ngelupain dia tiap malam dia selalu SMS ke gue, “Yang, cuda malem ayo boim duyu...have a nice dream yahh...mimpiin akuuu...aku tunggu di perempatan yahh..”

Gue kemudian mikir, ini cuman mau tidur aja pake nunggu di perempatan, seolah olah begitu mereka memejamkan mata, roh mereka akan keluar dari badan menuju perempatan. Kecebong sudah menunggu di sana. Bersama sama mereka lalu menyebrangi jembatan dan pacaran di bawah pohon Kamboja. Syahdu sekali.

“Ya udah nggak usah diinget inget lagi, Mel. Khan waktu itu gue juga sempet ngomong ati ati lho sama orang yang nggak dikenal di facebook. Tapi nggak papa nasi sudah menjadi aking. Ini adalah saatnya move on. Semangat!!!” Ucap gue bermaksut untuk memberikan dukungan moril.

“Semangat??? Kamu sih ngomong gampang! Kamu nggak pernah ngerasain gimana rasanya yakin sama seseorang, yakin kalau dia itu tulang punggungmu, kalau dia itu radar dengan frekuensi suara yang selama ini kamu cari. Sakitnya itu di sinihhh!!”

“Nanti juga sembuh sakitnya, Mel... Nggak papa..masih 3 minggu ini.”

“Mey, kamu tuh bener bener nggak ngerti yaaa...tiga minggu itu means everything! Apa saja bisa terjadi selama tiga minggu itu. Aku tuh udah jatuh cinta sama dia, Mey. Jatuh cinta!!”

“WOYYY!! PLISS DEH, EMANG LU PERNAH NGERASAIN GIMANA RASANYA JATUH CINTA, LALU NGERASA YAKIN SAMA SESEORANG, YAKIN KALAU DIA TULANG PUNGGUNGMU ATAU RADAR ATAU SATELIT INDOSAT WHATEVER SELAMA LIMA TAHUN DAN BERAKHIR KARAM???” Kalau Melati ada di samping gue sekarang, gue ajakin gulat sambil panco juga nih. Gue rasa Melati ini sedang dalam masa lebay lebaynya, masa dimana hatinya merasa diiris tipis tipis. Gue tahu saat seseorang patah hati akan ada masanya seseorang itu begitu sensitif. Lalu, mereka akan menangis sambil lompat harimau atau handstand. Hanya saja, terkadang orang bereaksi dengan agak berlebihan. Ini baru tiga minggu dari waktu ‘hai, boleh kenalan nggak?’. Kalau pun pada akhirnya ngerasa kecewa atau sejenisnya dan mengakhiri suatu hubungan ya terima saja. Bukannya hidup berkutat dengan penerimaan dan penolakan, kesuksesan dan kegagalan?? Kalau gue nggak sukses, ya berarti gue gagal. Poin terpenting adalah pelajaran hidup nomor 76 : “Mau sukses atau gagal, manusia harus terus move on. Mau sukses atau gagal, manusia harus terus melangkah. Tanpa langkah, kita memang tidak akan menemui gagal, tapi juga tidak akan pernah menggenggam sukses!” inspired by Melati, 23 tahun.

“Lima tahun? Kasihan amat. Berarti gue masih mending dong. Ngemeng ngemeng emang siapa Mey?”

“Boleh nggak Mel gue showeran di air terjun 7 Bidadari dulu? Kalau dalam waktu 1* 24 jam gue nggak balik, tolong telfon polisi ya. wassalam”

---

Dari sini kemudian gue menarik kesimpulan kalau mencari pacar di Facebook itu riskan. Apalagi seperti kasus temen gue yang berkenalan dengan seseorang dari antah berantah. Ibarat pantun, ini tuh kayak maksut hati menggapai gunung, apa daya hati kesandung. Sakitnya itu di relung. Relung dirundung mendung.

Namun, hidup ini nggak selamanya bisa dikenai hukum ‘setitik nila rusak susu sebelanga’. Pengalaman temen gue beberapa tahun yang lalu nggak selalu terjadi kepada pasangan pasangan lainnya, termasuk Miss Mawar.

Bahkan, setelahnya gue tercengang sambil menopang dagu kayak pose -alay- cantik Ceribel.

“Wawww!! Aku tercengang!!”. Miss Mawar menceritakan bagaimana kisah facebooknya pada akhirnya bisa berakhir dengan paduan suara berdurasi 1 detik yang sarat makna.

“SAH!” Begitu bunyinya.

Lalu, apa yang terjadi dengan Miss Mawar??

Apakah Miss Mawar berhasil berhasil hore??

Apakah Miss Mawar juga sempat dilanda musim Dingin?

Lalu, wajangan serupa apa yang dilontarkan oleh Miss Mawar yang sudah gue beri nama sebagai miss-senior-urusan-pernikahan ??


Tunggu bab selanjutnya.

14 comments:

  1. komplit ni tulisan. Ada cinta-cintaan, candaan, terus balik lagi ke pernikahan. Kereeeen :)

    ReplyDelete
  2. Wah2 aku digantungin lagi dengan cerita keren ini. hahaha, gue tunggu next ceritnya. Penasaran pangeran wortel jadinya. -_- :D

    ReplyDelete
  3. Melati emang dalam fase alay efek patah hati itu. Ya gitu kalo biru biru percaya orang yg baru di kenal. Dasar cewe, selalu gampang percaya:( *ga inget kalo sendiri nya juga cewe*

    ReplyDelete
  4. jadi emosi habis baca ini
    dah ngira mau serius lagi malah becanda, udah bener-bener niat becanda malah serius lagi
    gatelnya itu disini !

    ReplyDelete
  5. Semuanya emang bisa terjadi, kaya gimana pun juga ya hahaha. Beda nasib biarpun sama-sama ngalamin kasus yang sama pu pn bisa juga. Semuanua ada hikmahya ya miss hehehe. Miss kapan menuju pelaminan dan mendengarkan paduan suara satu detikya?

    ReplyDelete
  6. Ya, mencari itu memang harusnya di jalan yang diridhai Tuhan. Kalau nyarinya sembarangan ya begitu. Belum apa apa udah pangil (pe)yang aja:p

    Banyak pelajaran hidupnya nih. Maturnuwun tulisane nggih, Mbak Mey. Kathah inspirasi saking mriki:D

    ReplyDelete
  7. Sudah banyak korban dan beritanya juga mbak tentang dapet pasangan online.
    Ada juga sih yang jadi suami istri dan hidup bahagia selamanya (macam dongeng2) tapi kebanyakan justru sebaliknya.
    Maka waspadalah.

    **halah..

    ReplyDelete
  8. Aku kenalan dengan perempuan Indonesia waktu ke Aussie. Seorang ibu muda berjilbab rapi dan syar'i. Suaminya berasal dari Mauritania (negara islam di afrika sana). Tapi jangan salah, si suami ini secara fisik keren abis menurutku, 11 12 lah sama Will Smith. apalagi dua bocah laki-laki mereka, lucu bangeeeet.
    Penasaran dong aku bagaimana mereka bisa ketemu dan menikah padahal tinggal di dua benua yang berjauhan. Afrika dan Australia. Ternyata jawabannya adalah situs dating online. iya...mereka berkenalan, bertemu, dan akhirnya memutuskan menikah melalui situs dating online.
    Mba ini muslimah yang taat dan selama bersamanya aku tau dia orang yang amat baik akhlaknya. Lantas seperti apa laki-laki yang dia temui lewat internet itu, berperangai burukkah?. nyatanya tidak...si suami bergelar master sastra arab dari univ di Dubai, muslim taat dan shalih inshaAllah. sebuah nilai plus selain tampangnya yang mirip Will Smith hahah
    kesimpulannya...jodoh itu cerminan diri. selama prosesnya baik inshaAllah ke depannya baik.

    *catatan sotoy seorang single hahahaha

    ReplyDelete
  9. HAHAHAHAHAHAHA, aku ngakak!

    Btw, saya juga sering kenalan sama temen lewat facebook. Ada yang jadian, ada yang jadi orang gak kenal lagi, ada yang jadi mantan, pokoknya kenalan lewat facebook itu enak kok! Coba aja miss! :D

    ReplyDelete
  10. Kampret.. bacanya serius malah di bawa becanda.. hahah..
    3 bulan tak kira waktu yang normal juga.

    pegawai perpus di kampusku malah kenalan sama cewek 1 hari aja, besoknya langsung lamaran.. dan sekarang sudah menikah selama 7tahun. Keren kan? :3

    ReplyDelete
  11. haiiisss seeeppp mawar gimana mawaaarrr???? -_- penasaaraaaannn ... I guess I know who is Melati kkkkk

    ReplyDelete
  12. Uh... Dapet pelajaran tentang jodoh dari tulisan KaMeyk... Ga nyangka juga. Setuju kalau emang jodoh itu harus dicari, harus diperjuangkan untuk bisa didapetin, tapi dengan cara yang bijak dan gak nyeleweng. Kalau gak dicari dan gak dikejar, ya gak bakal ketemu dan gak nyampek-nyampek.

    ReplyDelete
  13. Lebih ironi lagi, "Jodoh itu memang ditangan tuhan. Kita yang memilih Tuhan tinggal merestui, dan..., orangtua yang membiayai." :D

    PELAJARAN SOAL JODOH YA, BDW, GUE MAU NIKAH BULAN DEPAN LOH MEY. KASIH SELAMAT DONG :3

    ReplyDelete