Tuesday, 24 June 2014

MASA KECIL, MASA YANG BERBARA BARA!!

“Meykke!! Malam ini aku datang membawa satu hadiah untukmu. Aku akan membawamu ke dalam satu serpihan masa yang paling ingin kamu jejaki kembali. Maka, serpihan masa mana yang ingin kamu datangi untuk kedua kalinya?”

Gue kaget bukan kepayang, lalu gue pikir mumpung ada kesempatan, buru buru gue berpikir.

“Wahai siapa saja kau yang menyampaikan kabar gembira ini aku sudah memutuskan serpihan masa mana yang bilamana bisa ingin sekali lagi aku kecap sensasinya. Aku ingin kembali ke masa dimana aku Cuma memikirkan dua perkara dalam hidup ini ; besok ada PR apa, pulang sekolah mau main apa.”

Iyess, gue buru buru menjawab kalau gue ingin kembali ke masa kecil gue!! Gue sebenarnya pingin mengecap kembali masa keemasan dimana hati merekah dengan putik dan benang sari yang saling berlekatan tatkala dia membawa hati gue bersenandung di tepian danau dengan mentari yang berkerjapan di beningnya permukaan air, tapi setelah gue pikir pikir begitu gue kembali ke masa sekarang, semua itu toh nggak ada gunanya karena hanyalah ilusi masa lalu penghambat masa depan, jadi gue nggak jadi kembali ke masa masa pacaran dulu. Bagi gue, masa masa penuh keindahan adalah masa masa kecil, saat langkah dengan riang gembira berikut tangan yang berayunan lemah gemulai bersinergi menjadi satu.

* “IKE, INGAT!!! ROTI ITU BIKINNYA JUGA DARI ES!! KAMU MAKAN AJA ROTI YANG BANYAK ITU SAMA AJA MAKAN ES YANG BANYAK!!”


Suara Ayah gue menggelegar se penjuru ruang tamu, disaksikan oleh seluruh penghuni, yaitu ; kakek, nenek, Ibu, dan tante gue. Mereka semua mengerubungi gue yang duduk di salah satu kursi yang ditempatkan di tengah sebagai pesakitan a.k.a tersangka! Hari itu gue kedapatan melakukan tindakan kriminal, yaitu kriminalitas terhadap diri sendiri.

--

Siang itu sepulang sekolah dengan masih berbalut seragam bak bendera Indonesia gue berwajah riang gembira. Uang saku gue masih sisa 100!! Setiap hari Ibu gue memberi uang saku 200, dimana 100 untuk ditabung dan 100 nya lagi untuk jajan sesuka hati. Hari itu gue bahagia sekali pasalnya gue belum jajan dari pagi dan jadilah uang 100 berkerlingan di genggaman tangan gue, terpantul cahaya ceritanya.

“Aha!! Ike, apa yang harus kamu nak beli???”

Bersamaan dengan itu, temen gue melewati gue dengan sebongkah es lilin yang bahkan masih berasap. Dia dengan binal menjilat jilat es lilin warna merah itu sampai tetesannya mengaliri tangan tangannya. Rambutnya terurai liar terkena angin, kayak iklan shampo.

“Cegluk!!”

Kini dengan uang 100rupiah, 4 bongkah es berwarna warni berkerlipan kayak lampu natal ada di tangan gue dengan empat warna, merah untuk strawberry, kuning untuk pisang, putih untuk leci, dan coklat untuk coklat. Gue makan tuh empat empatnya kayak anak kesurupan. Bahkan, gue makan es lilin sendirian di belakang sekolah biar nggak ada yang ganggu. Dengan tetesan merah, kuning, putih dan coklat yang memenuhi pipi dan bibir gue yang kini mulai mengering itu gue jalan dengan begitu gagah menuju rumah. Hari itu adalah hari dimana gue bisa menuntaskan segala hasrat terpendam. Mumpung!!!

--

Malamnya, gue demam. Esoknya, gue digantikan sepucuk surat. Gue cuman bisa tergolek di tempat tidur dengan beberapa butir obat yang juga warna warni kayak es lilin yang gue beli kemarin. Gue jadi pingin es lilin lagi. Plakkk!! Gue menampar wajah gue sendiri.

“Woyyyy, lagi sakit lu woyyyy!!!”

Beberapa malam berikutnya, Ayah gue menggelar persidangan ini. Setelah dibuka dengan salam dan segenap puja dan puji syukur kami haturkan kepada Alloh SWT, Ayah mulai mengintrogasi gue. Muka gue, gue buat semenyesal mungkin. Gue tekuk bibir atas dengan bibir bawah sedemikian rupa dengan mata yang satu ngelirik ke kanan dan yang satu ngelirik ke kiri. Pokoknya gue nyesel abis.

“Ike, kamu tahu apa salahmu???”

Gue menunjukkan muka ‘Ayah, apa yang terjadi denganku’ alias tak tahu apa apa dengan semeyakinkan mungkin.

“Nggak tahu, Yah...”

“Kamu tuh emang nggak peka ya!!”

“Emang salah aku apa, Ayah?”

“Pikir aja sendiri!”

“Kenapa Yah?? Kenapa malam ini tak ada bintang dan tampaknya langit begitu kelam?”

“Ah!! Semua anak memang sama sajaa!!!”

Setelah percakapan yang cukup pelik itu, akhirnya gue tahu. Saat gue menyedot es lilin dengan sepenuh hati itu ternyata Mbak Nina, tetangga gue yang gue rasa satu badan bibir semua itu telah mengikrarkan diri menjadi badan intelejen Ayah. Gue jelas tak bisa berkutit. Ayah telah menguasai semua bukti buktinya. Semua yang ada di ruangan juga ikut ikutan merajam gue dengan pandangan pandangan sinisnya. Bahkan, nenek gue melirik dengan lirik tiga jari. Seram sekali!!

Tapi, memang larangan ini bukannya tanpa musabab. Konon katanya, saat gue berumur 2 tahun, gue terserang flek paru paru. Suatu ketika gue pernah sesak napas akut di malam buta dan harus segera dilarikan ke dokter terdekat. Selama berbulan bulan bahkan dalam hitungan tahun gue harus berteman dengan obat yang beraneka rupa bentuknya. Ada yang sirup, serbuk, tablet, dan pil yang bentuknya juga macam macam, ada yang bulat sempurna, elips, jajar genjang, segitiga sama kaki, dan macam macam lainnya. 

Karena itulah, Ayah gue bilang gue boleh makan apa saja, asalkan itu bukan ES. ES adalah barang terkutuk buat gue, dan kalau gue berani beraninya makan es, gue akan dilaknat dan diturunkan ke bumi.Padahal, di usia itu anak anak cenderung menyukai es lebih dari segalanya, termasuk gue.

Jadilah gue sering disidang oleh Ayah gue karena gue tetep saja beli es diam diam. Bahkan sampai sekarang gue masih inget bingit perkataan Ayah gue di sidang malam itu. Bahkan, kata katanya masih terukir jelas di ingatan gue karena gue jelas percaya apa kata Ayah,

“IKE, INGAT!!! ROTI ITU BIKINNYA JUGA DARI ES!! KAMU MAKAN AJA ROTI YANG BANYAK ITU SAMA AJA MAKAN ES YANG BANYAK!!”

Bahkan, Ayah gue kemudian berpesan kepada Mbak Dah, kantin satu satunya di sekolah gue untuk melarang gue membeli es.

“Mbak, kalo Ike mau beli es, bilang ya, Ike nggak boleh makan es krim sama Ayahnya.”

Tapi Ayah lupa satu hal. Dia lupa kalau anaknya selalu ranking satu selama kelas 1 SD ini.

“Tiwi, kamu mau beli es ya??”

“Iya, kok tahu??”

“Tuh bulu hidungmu melambai lambai pertanda kamu kebelet makan es lilin. Aku titip satu ya nih, 50 rupiah. Yang 25 rupiah buat kamu aja, ntar makan bareng bareng. Tapi, jangan bilang siapa siapa ya???”

“Iya.”

“Janji???”

“Janji..”

Lalu kita menautkan jari kelingking kita sebagai pertanda kalau kita akan setia dalam makan es lilin diam diam  bersama sama. Syahdu sekali...

Lalu, gue dan Tiwi makan es krim dan hidup bahagia.

“Ayah, walo roti terbuat dari es krim, tapi Ayah lagi lagi lupa satu hal. Aku nggak suka roti, ayah...Aku suka es lilin Mbak Dah!”

* PIYE?? MEH DOLANAN OPO?? SUNDAMANDA? BEKELAN? SETRENGAN? TONG MOK? JRUMPET? KASTI? TELETUBISAN? KARAMBOL? SETINAN?

Gue yang baru aja ganti baju sambil makan nasi campur sup udah nggak sabar pingin ke rumah Erwin, si bandar. Di lapangannya yang lumayan lapang, gue dan teman teman bisa bermain beraneka rupa!!

Bahkan, gue pingin bikinin “JADWAL DOLANAN” berikut bersama jam dan harinya, terinspirasi oleh jadwal imsakiyah yang rame di dinding mushola setiap bulan Ramadhan.

“Ike!!! Itu kenapa dengan kaos putihmu??? Kenapa sekarang jadi banyak bulat bulat coklat???”

“Biasa Ibu, Ike habis main kasti bareng sama teman teman. Itu seru sekali, Ibu...”

“Seru apanya?? Pasti kamu yang paling banyak kena bolanya?? Lihat, udah Ibu hitung ada 58 buletan!! Eh busyeeeeeetttt!”

“Ibu, ini politik Ibu...aku hari ini main kalah dulu, besok mereka akan terperangah oleh semua aji aji dan jurus aku...”

“Aji aji apa?? Kemarin dapet 37, kamu bilangnya kayak gitu. Kok sekarang malah nambah??”

“Ibu, aku mules.” Gue lari ke kamar mandi dan nangis sambil gayungan. 

Andai tahun 1999 sudah ada iklan sabun cuci baju itu pasti gue akan sangat terbantu.

“Ibu, berani kotor itu baik!”

Saking banyaknya alternative mainan yang bisa kita mainkan, bahkan kita bisa main 2-3 permainan dalam satu waktu. Maka gue bilang, dulu gue cuman mikir 2 perkara dalam kehidupan yang fana ini; besok ada PR apa dan besok abis sekolah mau main apa.

Dalam segala permainan itu, bisa dikatakan gue jago hampir semuanya. Saat setinan, gue bisa dengan tepat sasaran menggempur segitiga lawan dan menabrak semua serdadunya. Bahkan, gue punya satu toples penuh setinan yang beberapa di antaranya hasil 'judi' di tanah perang. Saat sundamanda, gue bisa engkling nggak habis habisnya karena gue bisa dengan jitu melempar ‘gacuk’ yang tepat dalam segiempat segiempat berbentuk salib. Saat bekelan pun tangan gue yang lentiknya nggak ketulungan mampu mendribble bola bekel dan mengeruk pion ato apalah itu namanya dengan begitu gemulai. Lalu dalam setrengan pun gue dengan mudah menghentak hentakkan kaki gue mengikuti interval tali karet yang terus menerus mengitari tubuh gue yang ceking menjurus ke cekung. Karambol pun gue masih bisa mengikuti walau beberapa kali temen gue sempat bingung mau memulaskan bedak Mars di bagian muka gue mana lagi saking sudah meratanya. Tiap gue pulang, Ibu gue shocked.

“Ike, kenapa dengan wajahmu??? Bedakan nggak gitu gitu amat, Ike....”

“Ibu, aku mules.”

Gue dan teman teman gue akan memancarkan wajah berbinar begitu pak Bon, kepanjangan dari Pak Kebun Sekolah sudah memukul kepingan logam emas bertalu talu, pertanda pulang telah tiba. Karena apa?? Karena kita akan menghabiskan waktu siang hingga menjelang magrib bersama sama.

Pernah suatu ketika bersepeda telah menjadi trend di desa gue. Gue yang notabenenya nggak mau ketinggalan melonjak kegirangan saat Ayah gue mengajak gue ke toko sepeda dan menyuruh gue memilih sepeda kesukaan gue. Akhirnya, gue membawa pulang sepeda cewek yang besi depannya melengkung dengan keranjang yang cantik supawan melekat erat di depan dashbord sepeda, pun sebilah boncengan berbusa menghiasi sepeda gue tepat di belakang seat sopir. Sepeda gue bahkan bisa distandar dua!! Bahagia merasuki seisi dada tatkala gue tahu sepeda gue ada 2 rem, depan dan belakang!! Jangan salah, teman teman laki laki gue yang juga punya sepeda selalu harus melemparkan kakinya ke belakang demi menginjak sekencang kencangnya ban sepeda bagian belakang.

“Gini dooong, Keee...ini namanya rem alami!!” Mereka memang tampak begitu gagah dan tampan saat dengan sekali injakan, seet!!! Sepeda mereka berhenti seketika. Mereka sudah pro!! Mereka teman teman gue!! Maka, di sore hari anak RT 1 sampai anak RT 6 akan berbondong bondong ke garis mulai yang ada di ujung desa sana, RT 1!! Begitu peluit mulut 'suit suiiiiiiiiiiiiittt!!' dikumandangkan, kita akan mulai melajukan sepeda kita, melewati rumah rumah warga di jalan desa yang kerikilnya bersahabat, ditemani angin sepoi sepoi yang membelai belai wajah, beratapkan langit jingga yang sedang akan mengulum diri di ufuk barat.

Kami, anak anak desa Ambarawa sedang menguntai bait demi bait cerita masa kecil yang begitu penuh dengan kebersamaan, penuh cinta, penuh tawa dan lelucon yang sampai membuat perut gue terasa padat. Setiap malam bahkan Ibu gue sering mendapati gue ngomong di sela sela tidur, "Yesss, menang!!", "Aduuuh, kalo nembak bola kasti ke gue jangan keras keras dong, orang pelan juga pasti kena!", "Viiiit, ayoooo cepet cepetan sampai RT enaaaaaaaaaaammmm..."

Kini, hari ini, menulis semua ini membuat gue sekali lagi mengulum senyum penuh kemenangan. Gue memenangkan masa kecil gue yang gue jalani dengan penuh suka cita. Gue memenangkan masa kecil gue yang walau dulu jauh dari bidang datar bisa diusap tapi gue mengusap peluh gue sehabis bermain kasti, strengan, dan sundamanda dengan kebahagiaan yang membumbung sampai di langit langit hati gue.

Lalu, masa mana lagi yang lebih indah dari masa kecil bergelimang keriangan???

22 Mei 1992, tepat setahun gue ulang tahun


di ruang tamu ini juga saat SD kelas satu, gue disidang!!
Gue dulu suka pake topi biar kayak Susan

Ulang tahun gue yang ke 5, gue udah mulai pose di depan kamera. Liat tuh, cantik khan.


wajah close up gue sewaktu mau masuk SD



Gue sebelum sekolah juga disuruh pose dulu, lengkap dengan topi rambut kepang dan tas punggung rajutan, kesayangan gue.


 Tulisan ini diikutsertakan dalam Best Article Blogger Energy Edisi JUNE

8 comments:

  1. Dan meskipun kita berbeda generasi, meskipun aku jauh lebih muda, tetapi rasa-rasanya tahun kelahiran kita hanya berbeda berbilang satuan tetapi tetap di puluhan yang sama! Masa kecilku juga belum terkontaminasi dengan kecanggihan yang mengalahkan permainan tawaran lapangan, lantai beranda rumah, atau yang memanfaatkan tali atau angin di udara. Masa kecil, ehm, masa-masa di mana bersih dengan teknologi, masa-masa di mana burung bisa terbang tanpa harus bantuan sentuhan tangan kita di layar-layar datar, adalah kesenangan yang harusnya direngeki anak-anak kecil jaman sekarang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener Huda.. masa kecil Vina juga belum ada yang namanya gadget..

      enggg... roti terbuat dari Es :| bisa jadi isa jadi mbak mey..

      ahahaha berani kotor itu baik.. berasa diiklan Rinso :3

      tapi emang sih, masa kecil kita dulu itu beda dengan zaman anak kecil sekarang.
      mereka tahunya gadget.
      permainan seperti petak umpet, statak, dan lain-lain vina rasa ga banyak yang tahu..
      Tapi mbak mei keecilnya aja udah gitu yaa :D kerennnn

      Delete
  2. hallo kak Meyke.
    seneng rasanya bisa ngeblogwalking blognya kak Meyke lagi^^

    Masa kecil itu emang menyenangkan bgt kak Mey. Untuk dikenang dan sekedar obat penawar rindu dengan masa-masa itu. Masa dimana kita hanya memikirkan pr, beramain, makan, tidur, dan kegembiraan lainnya. Dulu waktu kecil aku juga suka banget sama es lilin. tapi kalau di jaman aku dulu satuanya 500. sekarang udah 1500san.

    ReplyDelete
  3. masa kecil....oh..masa kecil...
    iya.,,,,emang kalau seumuran gitu lagi seneng-senengnya...
    soal harga es....dulu harga es disini juga masih 50-100 rupiah....ah, serasa ingin kembali ke masa itu...ketika sekolah dengan saku 300

    anak kecil sulit banget dikendalikan ya....bahkan untuk nggak makan es aja sulitnya minta ampunn.......#sama

    jadi terinspirasi buat nulis kebodohan-kebodohan waktu kecil yang lucu sih...ahahahaha

    inspiring mbak tulisannya...bahasannya kayak fiksi...tapi pas...

    ReplyDelete
  4. Masa kecil emang masa yang paling indah yah kak. pas kecil engga terlalu memikirkan apa-apa, let it flow aja. mau cengengesan tiap hari, keluar engga pake celana juga enjoy ajah.

    tapi ngomong-ngomong, ceritanya lucu ih, ngegemesin.

    ReplyDelete
  5. ah masa kecil emang masa yang paling indah, disaat masih kecil yang dikenal cuma warna-warni pelangi tanpa ada campur tangan patah hati.
    aak, itu fotonya kak meyke lucu bingiit aaak gemes. tapi btw, setinan itu apa ya kak?._.

    ReplyDelete
  6. Inget Mey, makan roti yang banyak, hahaha...namanya juga anak kecil, makin dilarang makin dilakuin, itu udah biasa, coba aja kalo nanti kamu jadi ibu, :D

    ReplyDelete
  7. mba ini ternyata nakal juga yah...
    foto jadulnya seperti film warkop DKI mba .. hhehe

    ReplyDelete