Saturday, 4 May 2013

Menapaki Sejarah Perang Empat Hari di Monumen Palagan Ambarawa



Kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan saya ke suatu tempat bersejarah di manaaaaaaaah???

Di mana lagi kalau bukan di Ambarawah tercintah, kota kecil yang sudah hampir 22 tahun saya tinggali. Walaupun letak rumah orang tua saya termasuk golongan Ambarawa coret, tetapi bagi saya Ambarawa membawa debaran tersendiri. Ambarawa pokoknya kota saya.

Kali ini saya mau kemanaaaah??? 

Yap. Monumen Palagan Ambarawa. Monumen ini berada di sebelah Selatan kota Semarang dan merupakan jantung kota Ambarawa. Beberapa tahun silan, kota ini penuh debaran para pejuang. Demi. Demi kita semua bisa hidup sedemikian nikmatnya sekarang.

Monumen Palagan Ambarawa itu apa?? Untuk apa?? Sejarahnya bagaimana.

Untuk mengatamkan rasa dahaga saya dan juga mungkin saja yang baca, akan saya ceritakan bagaimana asal muasal berdirinya Monumen daebak yang sarat akan sejarah perjuangan pemuda dan pahlawan Indonesia. Dengarkan baik baik cerita saya, ya.

BELAJAR SEJARAH.

Semua ini bermula pada tanggal 20 Oktober 1945.

Waktu itu kemerdekaan Indonesia sudah berhasil direngkuh oleh Bapak Soekarno dan seluruh rakyat Republik Indonesia. Nah, waktu itu Sekutu datang ke Semarang dengan dalih ingin mengambil tawanan perang dan tentara Jepang yang dipenjara di Benteng Pendem, Ambarawa. Nah, soal penampakan benteng Pendem, tunggu tanggal main saya bersama teman saya yang lain mengunjungi penjara dengan bangunan keren itu. *lewati

Nah, ternyata kedatangan Sekutu diboncengi oleh NICA. Saya baru tahu kalau Sekutu ke Ambarawa naik motor. Karena orang Indonesia baik hatinya, setelah Sekutu berjanji untuk tidak mengusik kedaulatan RI, Gubernur Jawa Tengah pun bersedia menyediakan bahan makanan dan segala urusan selama mereka di Jateng. Eh, malah Sekutu yang tadi dibonceng oleh NICA membebaskan tawanan Belanda. Indonesia marah dong, dan mulai terjadi kerusuhan di Magelang. Ibarat kata, Sekutu itu dikasih ati, ngrogoh rempela. Mereka mau dihancurkan gitu kan ya, tapi berkat Ir. Soekarno mereka bisa terhindar dari kehancuran. Eh, mereka malah balik ke Benteng Pendem, Ambarawa. Dan akhirnya dikejar oleh pemuda dan mereka tertahan di Desa Jambu. Sekarang Jambu adalah kecamatan saya... Huahahaha...

Gerakan mundur tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

Nah, kayak gini juga Sekutu sempat menduduki dua desa di sekitar Ambarawa dan pasukan yang dipimpin oleh Letkol Isdiman berusaha menyergapnya. Sayangnya, Letkol Isdiman gugur waktu itu. Usut punya usut, tempat meninggalnya Letkol Isdiman itu ada di depan SD saya. Itu mengapa berdirilah tugu kekar di depan SD saya, Tugu Isdiman.

Singkat cerita karena Sekutu terus menerus ngerogoh rempela dan melakukan aksi perlawanan, maka terjadilah perang Ambarawa dari tanggal 12-15 Desember 1945.

And the winner of this war Goes Toooooo..... Republik Indonesiaaa... *sujudsyukur

Rakyat Indonesia mampu mengurung Sekutu dari segala arah dan mulai memojokkan Sekutu. Begitu sudah terkurung, hancurkan. Dan kita menang!!

Nah, maka dibangunlah Monumen Palagan Ambarawa sebagai simbol untuk mengenang sejarah pertempuran Palagan Ambarawa, dan harinya pun diperingati sebagai hari Infanteri. Yeah!

Yang menarik di sini adalah ada juga pesawat Mustang Belanda yang ditembak jatuh ke Rawa Pening. Banyaaaaaaak sekali ada kendaraan, tank, senjata laras panjang, dan juga relief yang menggambarkan peperangan antara Rakyat Indonesia melawan  Sekutu.

Katam.

See? Ambarawa adalah kota bersejarah, bahkan Ambarawa pernah ditulis dilaporan Inggris serupa,

“The battle of Ambarawa had been a fierce struggle between Indonesian troops and Pemuda and, on the other hand, Indian soldiers, assisted by a Japanese company….” Yang juga ditambahi dengan kalimat, “The British had bombed Ungaran intensively to open the road and strafed Ambarawa from air repeatedly. Air raids too had taken place upon Solo and Yogya, to destroy the local radio stations, from where the fighting spirit was sustained…”

Kalau tertarik baca halaman lengkapnya, silahkan diklik sumbernya :


-------------------------------------------------

Dan hari itu saya bersama keempat teman saya menapak tilas perjalanan bersejarah tahun 1945. Dimana kah kita saat itu? Kemungkinan sedang antri giliran di ‘sana’.

Errrr...sebenarnya kunjungan saya ini sudah terjadi cukup lama, 6 bulan yang lalu!!

Tepatnya, 12 Desember 2012!!!!

Tapi belum basi khan??? Belum khan??

Kali itu saya ‘dolan’ bersama ketiga kakak angkatan dengan satu pacar dari salah satu kakak angkatan yang menjelma menjadi seorang fotografer.

Saya menduga, pacarnya yang juga teman saya satu angkatan itu mempunyai prinsip, “Sebaik baik pacar adalah pacar yang bermanfaat untuk pacarnya.”

Oke sip.

Siapa saja kitaaaa????




Ehmmm...ini terjadi 6 bulan yang lalu, yang mana ehm....manusia itu ada kalanya berada dalam proses serupa kalau huruf U itu ada di titik nadir lengkungannya gitu ya. Ehm...maksutnya adalah...ehm....itu how I dressed up as a muslimah ibarat bikin surat lamaran pekerjaan tetapi bahasanya itu tidak sesuai dengan EYD. Ejaan Yang Disempurnakan.

Biasalah remaja, saat radar neptunusnya kesamber bledek a.k.a petir, tiang pemancarnya kadang ikutan kongslet. *abaikan
-------------------------

Pukul 8 di pagi hari kita sudah stand by di parkiran Palagan. Palagan dulu dan sekarang tentunya mengalami banyak perubahan. Apalagi, untuk mendukung program Wisata Jawa Tengah 2013, pemerintah melakukan beberapa renovasi di beberapa spot wisata di Jawa Tengah. Salah satunya adalah Palagan. Pun sekarang Palagan berlantai halus kayak pahanya ceribel. Dan cat cat menghiasi di sekeliling arealnya. Daebak!

Pertama saya mengunjungi sana adalah 19 tahun yang lalu. Waktu itu saya bersama Ibu saya dan waktu itu saya masih unyuk, sekarang juga masih –m-unyuk kok.




Dan tanpa menjelaskan panjang dan lebar seumpama luas persegi panjang, saya tampilnya foto foto ini sebagai pemuas nafsu dahaga bagi yang ingin tahu Monumen super sejarah ini seperti apa.

Ini foto fotonya, pastinya beserta foto kita berlima. Ingat, 6 bulan yang lalu.

1. MUSEUM ISDIMAN
















2. KERETA API KUNO










3. AREAL MONUMEN PALAGAN










4. DI DEPAN PATUNG DAN RELIEF










kita mengakhiri perjalanan dengan mampir sebentar di Stasiun Kereta Api, Ambarawa.

Untuk bisa mencapai destination ini sangat sangat mudah. Bagi kamu yang dari Salatiga, cukup naik Bis Sukses, Esto, atau Sari dan bilang turun di Palagan, tepat sebelum terminal terakhir mereka dengan hanya merogoh kocek tidak lebih dari 2000 saja untuk mahasiswa, dan 3000 untuk umum. Untuk kamu yang dari Semarang bisa naik bis Palagan, Minas, atau angkot kecil serupa koldisel (nulisnya gini nggak sih?) dengan merogoh saku sedalam 5000 saja.

Hap! Begitu turun, kamu sudah ada di depan areal monumen.

Jangan tanya kalau dari Kalimantan Selatan caranya gimana ya? Saya pun belum pernah melakukannya.

Terimakasih untuk mbak Chan, Mbak Eko, Mbak Ambar, dan Irwan yang telah bersedia berbagi pengalaman bersama, berpose sedemikian banyak dan rupa. Semoga di lain kesempatan kita bisa jalan jalan lagi. Ke pantai? Ke kota lain? Kapan???

Dan semangat menggapai bintang! FIGHTING!!!

Nah, sekitar 4 tahun yang lalu saya juga pernah berkunjung di sana bersama para sahabat saya, Pinqueenz. Saat itu beberapa dari kita belum mengukuhkan tekad untuk bisa menjadi hijaber seperti sekarang. Hehehehe

Setelah ini saya akan mengajak Anda untuk meniti sejarah yang lain di Benteng Pendem, Ambarawa.

Yeah!

11 comments:

  1. waahhh...udah lama mey..tapi gak basi kok bagi pembaca yang haus informasi...hehehe..

    kereenn museumnya...masih tersimpan semua peralatan perang bahkan pakaian para pahlawan ya mey...
    ditempatku ga ada museum mey...
    jadi gak ada yang bisa diceritain...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu juga lagi haus informasi kan Rita?? hehehehe...

      iya, dan ini juga habis direnovasi gitu Ta jadi makin cakep ni museumnyaaah hehehe..
      wah ya udah ke Jawa aja Rita..heheheh

      Delete
  2. superb dek meykke cantik :*
    ayo kapan kitorang mbolang lagi , hehhehe ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeeyyyy, aku cantiiiik..hehehe, makasih mbak Nchan!

      ayo Miss Nchan kita bolang lagiiii....:D

      Delete
  3. uweeww jalan2 mulu nih kak, :D
    waahh bagus bnget bisa liat peninggalan sejarah begitu yak, hhmm sayangnya tempat duduknya udah dicoret2 begitu,,uhhhuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini udah lama Kok Va, iya nih jalan jalan mulu abis tinggal skripsi doang dan banyak nganggurnya gitu Va...jane mau jalan jalan ke pulaumu juga tapi beyuuum mampu..hehehehe

      Delete
  4. Enak banget besar dikota yg banyak sejarahnya. Pasti heroik banget. Desa jambu. Meskipun terdengar agak gimana gitu tapi saksi kalo belanda gak bisa ngapa-ngapain sama indonesao. Merdeka.

    Pengen banget ngerasain naik kereta api kuno. Tapi sayang banyak yg fandalisnya keterlaluan gak kenal tempat.

    Bener bener jalan jalan bersejarah

    ReplyDelete
  5. emang agak gimana gimana Bay??? @.@
    bener banget Bay, tuh liat ducoret coret seenak jidat kek begitu..ckckckc.merusak sejarah itu mah,

    :D

    ReplyDelete
  6. kereeenn, asyik yah disana ada tempat bersejarah kyk gituan, dikotaku ada sih tp gak sebagus disitu ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, iya alhamdulillah Dian :3
      emang kota manaaa????hehehe

      Delete