Friday, 17 May 2013

Mengambang Di Waduk KedungOmbo, Sragen.


Sejauh mata menyapu, hamparan air dengan ombak minimalis berkilat kilat diterpa sinar mentari siang. Jauh di batas pandang, kapas langit putih bersih berarak arakan. Bertumpu di geladak depan paling ujung, menyambut angin sepoi sepoi, dan ujung jilbab berkibar berjuntai...Tinggal berdiri lalu menelentangkan tangan ke samping rata rata air...Pas. Kalau di Titanic, Rose dan Jack lalu berasyuk masyuk, kalau saya tinggal nyebur. Dah...tamat.



Hap!! Jam menunjukkan pukul 2 kurang 8 menit ketika kita melangkahkan kaki ke Waduk Kedungombo, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen (± 29 KM dari Solo atau ± 31 KM dari Sragen). 

Setelah menghela nafas dan menunaikan sholat di mushola terbuka di area Waduk, kita melanjutkan perjalanan kedua kita. Untuk bisa menapakkan kaki di sini bukannya tanpa tantangan. Jalannya subhanalloh cenderung inalillah. Uma yang dibonceng Agam berasa seperti naik kuda binal. Jalannya rusak sangat parah dengan aspal yang hancur berkeping keping. Dugaan saya jalannya gagal move on.

“Waa!! Agam! Aaa..Waa...Waa!!Agam Aaa!!” Agamnya stress.

Saya yang dibonceng Angga menyerahkan sepenuhnya nasib saya padanya. Sedikitpun saya tak bergeming. Berkata kata pun tidak. Entah kenapa, saya malah mengantuk.

Alhamdulillah dengan cukup 3.500 rupiah per tubuh, kita bisa sepuasnya menikmati kilahan air sejauh mata memandang. Luarrrr biasa!

Kebahagiaan serasa memuncah muncah melihat air yang memuncah muncah seperti ini. Luasssss sekali. Ombo!! Jelas ombo, kawasan Waduk Kedung Ombo mempunyai area seluas 6.576 Ha yang terdiri dari lahan perairan seluas 2.830 Ha dan lahan daratan seluas 3.746 Ha. Waduk yang mulai dibangun pada tahun 1980 dan selesai pada tahun 1991 ini terletak di 3 (tiga) wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Grobogan. Waduk Kedung Ombo dibangun pada pertemuan Sungai Uter dan Sungai Serang yang terletak di Dukuh Kedungombo, Desa Ngrambat, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Daebak!!

Tanpa ba bi bu, kita langsung memasang badan dan...cekerek!!




Pengunjung yang didominasi para remaja dan pemuda pemuda dimabuk cinta terlihat menyemarakkan kawasan waduk. Keluarga keluarga pun juga terlihat di beberapa sudut. Tidak lupa para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di sekitar bibir waduk bagian atas.

Jauh di sana tampak jembatan merah bermuara pada sebuah bangunan di samping kiri waduk. Andai akses untuk ke sana tidak ditutup, berfoto di tengah jembatan akan membawa sensasi tersendiri.

Penuh antusias kita berpose berlatar belakang jembatan dengan lautan air tawar berwarna coklat susu Bendera.







Karena matahari semakin terik dan kita tidak sabar menyambangi kapal dan ikut berkeliling waduk, kita segera turun.




Uma yang mempunyai pengalaman buruk dengan benda terapung ini sedikit takut. Syukurnya, dia bisa menguasai rasa takutnya dan mengambang bersama kita.

“Kapalnya berapa pak?”

“10ribu mbak..”. Takjub! 

Perkiraan kita biaya naik kapal bisa mencapai 30ribu, dan ternyata semua itu bisa dilakukan hanya dengan mengiklaskan selembar rupiah bergambar Sultan Mahmud Baharuddin II!! Sebagai traveller penganut paham backpacker hati saya melonjak lonjak.

“Horeee...muyaaaah!!!”

And here we go. Serombongan keluarga juga ikut ambil bagian, mengambang bersama kami. Yang membuat kami semakin takjub adalah sang ‘kapten’ kapalnya.

Serupa ini.



You cannot judge the book just by looking at the cover, indeed!!! Pelajaran hidup number 37.

Tubuh seminimalis itu mampu melajukan kapal ke tengah sebelum mesin kapal mengambil alih. Keren sekali!
Dan kita ada di barisan tengah.




Di tengah perjalanan, saya melihat ada bapak bapak naik dan duduk di geladak depan kapal. Pikiran saya langsung berkonflik.


“Mey, mumpung Mey! Cobain Mey!”

“Duh, malu..banyak orang, dan juga atut..”

“Tsaaaah..Mey Mey...kapan lagi coba. Mumpung ada kesempatan, nanggung banget! Tinggal jalan bilang, “amit..amitt..”, naik dan merangkak ke ujung, duduk, dadah sama kamera, beres perkara.”

Agam mengamini mimpi saya.

Saya bersama Agam, partner perjalanan saya yang paling bermuka ceria menunduk dan merangkak naik di geladak kapal.




“Seph, rene..sini..kapan lagi Seph, mumpung!!! Enak lho berayun ayun menggempur ombak di sini Seph! Ayoooo!!”

Giliran Uma berkonflik batin.


Dan akhirnya, kedua kalinya dia bisa menguasai rasa takutnya. Dengan begitu, berakhir pula rasa takutnya naik kapal.

Well, once you feel scared with something, the only way out of it is just face it!!! Once you succeed, no more afraid, no more fear. Pelajaran hidup nomor 59.



Lalu, kemana Angga?? Kemana dia??? Dan kita mendapati Angga sedang serupa ini. Angga, semangat!!!!



Dari pertengahan perjalanan sampai hampir menyentuh bibir waduk lagi, saya jadi keasyikan duduk di geladak kapal paling ujung. Dari sini saya bisa merasakan ayunan kapal menghempas air berombak. Langit yang biru cerah seakan menggambarkan suasana hati saya dan ketiga hati teman saya.

Di tengah waduk kami mendapati semak semak yang menyembul, Ada pula bedeng dengan banyak bangau bertengger di bambu bedeng. Bedeng serupa rumah sederhana yang biasanya di bagian bawah difungsikan untuk ternak ikan. Yang paling menawan adalah pohon yang berdiri sangat tegar di tengah waduk. Well, dulunya waduk ini memang daratan dengan dengan 37 desa di 7 kecamatan yang dihuni sekitar 5628 keluarga. Lalu, karena proyek inilah rumah sebanyak itu ditenggelamkan. Itu mengapa masih ada pulau pulau kecil bermunculan di tengah waduk, dataran tinggi tempo dulu.






Sekitar 30 menit kita mengapung, kita harus kembali ke habitat asal. Daratan.

Lagi, si ‘kapten’ cilik mengendalikan laju kapal dan menyandarkan kapal ke bibir waduk.



Dan berakhirlah hembusan angin waduk, terpaan sinar mentari terik, ayunan gelombang air waduk, dan sapaan burung bangau di tengah waduk.

Tidak hanya wisata air seperti ini, Waduk KedungOmbo juga menyuguhkan tempat mengail ikan, wisata kuliner ikan bakar, lalu ada juga pacuan kuda bernama Nyi Ageng Serang. Dan bagi kamu yang ingin melewatkan malam di Wadung juga bisa mencoba kegiatan homestay, menginap, menyelami kehidupan para penduduk, dan merasakan sensasi 'Jika Aku Menjadi' di rumah rumah penduduk sekitar waduk. Tidak hanya itu, di Waduk KedungOmbo pun telah dicanangkan untuk semakin dibangunnya potensi pariwisata. Just wait!!





Bunyi ‘klutuk klutuk’ menggema, saatnya menyantap kudapan yang ada. Hanya saja, kami memilih untuk makan di luar dan hanya menghabiskan segelas es degan sambil memuaskan mata mengeksplorasi setiap sudut waduk KedungOmbo sambil bercengkrama tepat di bibir waduk.

Es degan terasa nikmat tiada tara kalau diminum saat seperti ini.

Pukul 3. Saatnya pulang.

Kami melambaikan tangan pada Waduk.

“Kami pulang dulu yaaaa....terimakasiiii...you made our day!”

Kembali, kami harus menerjang jalanan gagal move on, meniti aspal, melewati jalan bertepikan hutan, dan kembali ke Salatiga dengan hati puas. Sekerat kenangan tentang Waduk Kedung Ombo bersama teman teman yang mengasyikkan menjadi hiasan tersendiri di bulan Mei.

Terimakasih! Ayo kita jalan jalan lagi, sebelum masa menggapai asa mencabut kesempatan yang ada.

Sepulangnya dari Sragen, nafsu jalan jalan saya semakin membludak.

- Mengitari Goa Pindul dengan mengambang bersama ban
- Berkeliling kota Jogja naik TransJogja
- Melihat kemegahan perayaan Waisak di Candi Borobudur
- Berarum Jeram
- Menikmati sunset di tepi pantai –sambilngesot- dan camping di tepi pantai.
- Naik flying fox
- Naik Banana Boat lalu jatuh di air.
- Berendam di bawah air terjun
- Lihat sunset di gunung Bromo dan Srikunir, Dieng.
- Menikmati suasana luar negeri di Kawah Putih
- Menemui Gili Trawangan dan Karimun Jawa.
- Menyapa Raja Ampat.

Aaaaaak, semakin mengada ngada. Kalau dibayangkan sekarang rasa rasanya mustahil.

Lalu, apakah...saya....bisa....mengatamkan...segala...hasrat...terpendam..saya?? Nantikan jawabannya sesaat lagi. Entah kapan..

-to be continued if God’s willing-

Aamiin.

References :

36 comments:

  1. Happy Traveling... wah senangnya bisa terus ber-advanture ria.. ini bisa termasuk kategori mempromosikan daerah juga mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih cc Ghea!:D

      hehehe, iya ayo ayo semuanya main ke siniii...biar rame, seru banget lo mumpung muda masih banyak waktu dan energy :D

      Delete
  2. beeeh... mbak seorang Mbalang (Mbak-mbak perualang) sejati nih...

    bukti kalo cewek berhijab gak selalu pasif...cakep dah, gue aja kalah...hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wehehehehe, iya, bener banget..mau pasif gimana, adanya malah hiperaktif..hahahaha

      Delete
  3. asem, foto pas galau jare. hahahah itu sebenere aku lagi menikmati hembusan angin dan riak air mey. :p
    anyway, di Dieng adanya Sikunir meyk bukan Kemunir. Hohoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, alibi tidak diterimaaaa...:p
      Ah, aku maluuuu..abis ini edited!!!:D

      Delete
  4. mantap keren banget pemandangannyaa gilee

    ReplyDelete
    Replies
    1. hooh Pino, ga sia sia lagi ke sana menerjang jalan sebegitu rusaknya :3

      Delete
  5. asik yah, tp itu gak mabuk laut mey naik perahu? kalo di papua itu namanya kole-kole, dan tiap gue naik gituan di jamin isi perut naik semua -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggak Yan, itu tu asik bangeeeeeet Yan!:3 waduuuh, eman eman ya mabok laut gitu :( waaah, berarti aku kemarin naik kole koleee..asik!:D

      Delete
  6. wuiih keren2 gambarnya mbak,
    mbak meyke ini kyaknya traveller sejati yah, jalan2 mulu nih kayaknya, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, makasih Willy..Aamiin maunya sih begitu Wil, jadi traveller sejati terus bisa muter muter alam Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini :3 Doakan yaaaa....:D

      Delete
  7. ati2 kecemplung :D main di air mbak e

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, nggak kok nggak kecemplung..khan udah berdoa sebelum berangkat kemarin..:3

      Delete
  8. tunggu dulu..
    kalo mbaknya jalan-jalan terus ngeblognya kapan??
    masa sih make hape??
    gak mungkin ahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, kan jalan jalannya waktu siang nulisnya waktu malam, jadi pas..nggak tidur -______-

      Delete
  9. kerennn!!! jadi pengen.... ikan bakarnya hehehe...
    tapi itu pohon yang ditengah waduk, kira2 dalam waduknya berapa meter yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Triyan!!:D tsaaaah...emang keliatan bahenol banget gitu ya ikannya :3
      nah itu dia gue juga nggak tahu, coba di google Yan @.@

      Delete
  10. ahhh perjalanannya keren loo :D mauu ikutt

    ReplyDelete
  11. kok di samarinda nggak ada waduk ya :|
    tapi mungkin karena ada sungai sih hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh ya? wah aku juga pingin bisa menginjakkan kaki di Samarinda nih Kuh..kapan ya..hehehehe

      Delete
  12. wuidiihhhh, keren bnget. gue belom pernah jalan'' kyak gtu. kyaknya lo enak bnget yak jlan'' mlu -________-, emang mental'' backpaper itu smua harus seerba murah, bner ga ??

    itu bneran ada phon d tgah waduk ??? subhanallah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, iya nih alhamdulillah mumpung ada kesempatan gitu... iya bener banget, pergi sejauh jauhnya, sebahagia bahagia nya dengan modal seminimal minimalnya!

      Delete
  13. seru banget yaa..jadi ngiri nih. aku ntah kapan bisa traveling lagi..
    :(

    serba murah ya disana, hhkapan2 ajak aku dong :D

    btw blog ini pakai font defaultnya apa ya? aku suka fontnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya seru luar biasa lah deh Yan..hehehe..ayo segerakan rencana travellingmu :3

      iya, murah banget, makin bahagia travelling di sini. hahaha, oke cini cini cama akyu :3 hahahaha

      font apa ya, ada kok di setting cari aja Yan, aku lupaaa..:(

      Delete
    2. yaa ntar kalau liburan traveling lagi deh :D

      font yang dipakai buat nulis postingan ini maksudnya..mungkin udah bawaan template kali ya..hehe

      Delete
    3. hooh :D

      iya, font nya namanya chewy Yan :D

      Delete
  14. waaaaaaaaaaah, keren. itu kok bisa ada pohon di tngh -tengah waduk ya? gmn bisa tuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa...Alloh Maha Besar ya Vas...:)

      Delete
  15. Blog sebagus ini kok dibilang abal-abal sama pemiliknya sendiri lagi. hadeehh:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, soalnya yang lain cakupannya udah sampai ke luar negeri kk...doakan biar makin bagus kk/ :D

      Delete
  16. memang begitu indah tetapi di dlm keindahan itu terdapat kenangan yg mendalam di blik ini semua banyak jerit dan tangis sebelum terciptanya keidahan yg hanya sesaat, tak ada yg lebih indah dibandingkan mu ya Allah. tafakkurlah

    ReplyDelete
  17. Di Sragen ada waduk kedung ombo juga to, aku kira cuma ada di Grobogan. Apa jangan jangan ini tempat yang sama?

    ReplyDelete