Friday, 24 December 2010

Lost in Semarang, were we?



21 Desember 2010.
Hari ini aku dan teman temanku berencana untuk berkunjung ke Semarang, Citraland tepatnya. Sebenarnya rencana ini sudah jauh jauh hari kita pikirkan, namun karena masalah masalah teknis, missal nggak punya duit, duit untuk keperluan lain, duit abis sebelum tanggalnya, atau pun duit tiba tiba ludes, akhirnya baru sekarang kita bisa ke Semarang.

Pagi pagi, sekitar jam tujuh aku sudah sampai di Posnet, warnet milik kampusku. Aku nggak perlu bayar tiap ngenet karena setiap 1 tahun aku sudah membayar biaya ngenet yang digabung dengan uang kuliah, 60 jam untuk dua semester. Hari itu, bisa dikatakan hari berperang, rebutan kelas idaman yang akan menentukan kesuksesanmu sekitar 6 bulan ke depan. IP juga sangat bergantung pada hal ini. Biasanya, kelas berdosen favorit akan langsung penuh setelah beberapa detik SIASAT dibuka. Benar saja, kelas kelas idamanku yang dosennya enak bukan kepalang, terutama soal nilai called murah biji sudah penuh terisi, aku segera mencari kelas lain yang sama waktunya sehingga tidak akan tabrakan dengan jadwal lain yang sudah rapi aku susun jauh jauh hari. Alhamdulillah, jadwal jadwal sudah di tangan, sumringah jelas terlihat di wajahku dan juga dua temanku. Walau pun tidak seperti yang kita harapkan, setidaknya tidak satu pun kelas yang tidak bisa kita ikuti semester depan, dan hanya dua kelas yang berbeda di antara kita. We are still on the track, hopefully, we can graduate as soon as possible!! Amien….

FINISH.

Berbunga bunga sudah, dan eventually, we are going to SEMARANG…..
Oke, jujur saja aku tidak pernah gaul sampai ke Semarang. Oke, sebenarnya juga emang aku nggak gaul. Nggak pernah ke mana mana karena selain nggak ada temannya juga nggak ada sarananya.

Setelah naik bis lumayan jauh, CRING! 18ribu untuk 3 orang.
Kita mulai bingung sampai ke Semarang, mulai menerka nerka mau turun dimana. Biasanya aku menjamah Semarang karena entah diajak si tante ke tempat makan unik yang berada di atas air, pemandangannya bagus banget, dan es krimnya enaaaak, namanya aku lupa, kalau nggak salah kampong laut, atau keperluan lainnya yang Cuma duduk, nggak mikir atau biasanya tidur, tau tau udah sampai. Dan ini kali pertama ke Semarang, Cuma bareng temen temen dan naik ANGKOT.

Kita mulai bingung tapi nggak panic. Kalau emang nggak tau ya udah, duduk aja di bis ini sampai bis kembali lagi ke Salatiga. Gampang sekali, bukan??

Kita bertiga malah cekikikan di bis, merasa buta Semarang. Oia, kenalkan teman temanku, Inggit Octavia, anak ungaran,berkulit paling putih di antara kita bertiga, berambut lurus sebahu hasil rebonding, dan gayanya tomboy gimana gitu, hobynya pakai sneaker dan benci pakai flatshoes atau pun baju baju bertema feminine. Yang kedua, Garwidha Rafwani, asli Purwodadi, pakai kacamata kemana mana, suka bedakan agak tebal, baik hati banget, kita suka nitip badan di kostnya tiap jam kosong kelewat panjang dan sorenya masih ada kuliah lagi. Kita kadang liat film bareng di kostnya dan dia suka kalau ada adegan agak syahdu (baca:saru). Eits, bukan berarti kita suka liat begituan, tapi terkadang film film Barat kesukaan kita semisal Benjamin Button, Dear John, atau film lawas Romeo and Juliette khan ada adegan begitu.

Nah, yang ketiga adalah Meykke Santoso, kadang agak gemblung dan punya keinginan yang kadang agak konyol, seperti naik gethek (kapal mini biasanya digunakan nelayan untuk cari ikan atau kalau di Rawa Pening untuk ngambil enceng gondok, biasanya buat kerajinan tangan kalau udah kering) di Rawa Pening atau sungai Tuntang. Waktu dia membicarakan hal ini pada sahabatnya yang lain, Dany, lalu dany menjawab :”isih pingin nikah ra kowe??” (masih pingin nikah nggak kamu??). waktu ngajak pacarnya, Danto, Danto menjawab:”petingkah!”. The plan is successfully failed. Actually, that’s me.

Oke, bis makin melaju, lama nian kita berada di bi situ, sekitar sejam. Si kenek yang daritadi malah ribut dengan sopirnya soal jam jam an, soal nyalip nyalip bis lain, dan lain sebagainya, said “Tugu Muda Tugu Muda…”

Entah kita ini berasal dari planet mana, sampai Simpang Lima pun kita fikir sama dengan Tugu Muda. Embarrassing ra uwis uwis. Aku emang buta soal Semarang, si Inggit yang beberapa hari yang lalu udah ke CL liat Harry Potter terbaru yang aku fikir agak melek soal Semarang pun ternyata rabun parah sekali. Tiba tiba kita turun, setelah melihat keadaan sekitar, barulah kita sadar. It’s not Simpang Lima, saudara….

Si Wida anak Purwodadi angkat bicara PD sekali,
Santai, kita jalan ke sana, dan kita segera sampai, sahabat….
Dia jalan dengan penuh kePDan.
Melewati Lawang Sewu, aku yang juga suka hal hal mistis dan bertekad untuk bisa melihat makhluk gaib semacam mbak kunti, Om ponco, dan sesamanya mulai punya ide.
Saudaraku, sudah, kita ke Lawang Sewu saja.”
Inggit aku tarik tarik. Dia nggak demen. Saat itu Lawang Sewu sedang dalam proses renovasi, bapak bapak bergelantungan dimana mana. Ngecat.

Mau masuk ke Lawang Sewu dek? Masuknya 10ribu…” kata bapak bapak berkemeja lengkap dengan celana hitam yang berkain licin dan bersepatu hasil semiran istrinya tadi pagi.

Aku optimis.

Pemandunya 30ribu

Kita keluar dari areal Lawang Sewu.
“Teman, santai, kita akan segera sampai….tenanglah…”, seakan Simpang Lima 100 meter lagi ke depan.

30 menit kemudian….

Keringatku menganak sungai dimana mana, panasnya Semarang memang menyiksa. Pantas saja teman teman yang kuliah di Semarang suka nulis status,
Adwuhh, Semarang panas beuttzzz
Rasanya pingin minum Wida yang tadi sangat PD bilang kita akan sampai, ternyata jalan jauh sekali pun nggak nyampe nyampe. Tersesat atau salah jalan di Serawak, atau London, atau New Delhi sih masih tersesat yang berkelas, kalau orang yang tinggal di kabupaten Semarang, dan tersesat di Semarang sih, ecek ecek bangeeeeet. Unfortunately, that’s us! Poor us…

Akhirnya kita naik angkot kecil warna biru telur bebek sampai Simpang Lima, depan CL. Liat tulisan Citra, senyum tersungging di bibir.

Tron, we are coming!! Liat trailernya di TV1 bikin aku pingin liat. You must see!!

Cring!15ribu untuk satu tiket. That’s cheap, we like it!!
Pukul 1 PM finally kita bisa liat kedahsyatan high technology dalam film ini. Sumpah, keren abis!! Pemain utamanya, ganteng abiss!!
2.30 kita keluar, cari makan. Soto Lamongan yang satu porsi banyak sekali ditemani dengan es teh segar sekali menjadi akhir perjalanan kita, aku pikir tadinya. Kenyang sekali, dan….
CRING! 7.500 untuk satu porsi soto lamongan dan satu gelas es the.
Nah, sekarang masalahnya adalah….bagaimana kita pulang???
Kemana kaki ini akan melangkah?? Kea rah mana kita akan melaju?
Gelap gulita. Nasib anak Salatiga di kota Semarang.
Akhirnya kita tanya bapak tukang becak.
“Naik angkot kayak gitu terus turun di Dr. cpto, di MILO terus naik bis jurusan Ambarawa, mbak…apa naik becak aja??”
“itu bukan ide yang bagus, wahai bapak…kita sudah tidak napsu untuk berwisata, rumah terbayang di pelupuk mata.”
Si Wida, pulang ke Purwodadi, kita berpisah.
Hanya aku dan Inggit. Di sepanjang jalan berderet deret kios yang menjual beraneka ragam barang mulai dari aksesoris, tas, ikat pinggang, dan lainnya sebagainya. Semarang Great Sale. Nggak sempet lah kita liat liat, walau aku yang hobi window shopping sebenarnya pingin mampir dulu sebentar, siapa tahu ada yang klik di hati. Tapi liat tampang Inggit, aku urungkan niatku.
Kita naik angkot biru telur bebek itu, dan…kita tidak tau MILO itu dimana. Kita menerka nerka, mungkin MILO itu ada pabrik MILO di depannya, atau mungkin ada iklan MILO besar sekali di samping jalan, atau Inggit menerka ada kedai yang jualan MILO di depan jalan. Buntu. Kita akhirnya tanya bapak bapak berkacamata. Tersesat terkadang menyenangkan, karena banyak orang baik bertebaran di jalan.
Nanti sampai di MILO, ada perempatan, jalan ke selatan sedikit, sudah ada bis bis, tinggal pilih mau bis yang mana.
“git, selatan tu mana?”
“meneketehek.”
“Oke, jawabanmu sangat membantu”
Sampai di perempatan, di seberang jalan kita melihat MINAS! Kita turun dari angkot si biru telur bebek itu.
Segera kita menyeberang, dan MINAS akan tinggal landas sebentar lagi.
“Git, MINAS mau pergi, Git!Kita harus mencegahnya, kita tidak mungkin membiarkannya pergi!”
“Kita akan menyusulnya, Mey!”
CRING!5ribu sampai ke Ambarawa.
It was awesome!! We will go there again, and we will not be lost there AGAIN, because we have already knew the track and we have a willing, seperti Ikal dan Arai yang menaklukkan Paris dan akhirnya menaklukkan Benua Eropa hanya bermodalkan nekat, keberanian yang tidak terhingga dan juga kostum putri duyung(Just read the masterpiece of Andrea Hirata and you will know how he can hypnotize you with magic words in every line he writes.), kita juga akan menaklukkan Semarang, mall mall di Semarang especially sebelum akhirnya menaklukkan India, tempat tinggak ShahRukhKhan, idolaku.
To be continued, just wait until kita, 3 mahasiswa ceria dan baik hatinya berpijak di tanah SEMARANG bersama sama, next time!
Salam cincau!

No comments:

Post a Comment