Aliran Rasa Bahtera Matrikulasi (Kelas Matrikulasi #Batch8)


Senang sekali rasanya saat tahu kalau aku bisa bergabung di Institut Ibu Profesional di akhir tahun lalu. Pasalnya, beberapa kali aku baca artikel dari teman teman Blogger tentang kegiatan IIP ini dan menurutku bisa menjadi guidance kita sebagai seorang istri juga seorang Ibu yang lebih baik lagi. Oiya, nanti aku ceritakan pengalamanku saat mendaftar IIP ini ya di artikel selanjutnya.

Singkat kata, akhirnya aku bergabung dan setelah lulus tahap Foundation atau mengetahui secara mendalam tentang IIP ini, aku memilih untuk bergabung di Institut dengan kelas pertama yaitu Matrikulasi Batch #8. Di kelas ini, kami diibaratkan menjadi seorang pelaut yang akan mengarungi samudera bersama sama. 

Sebelum berlayar, kami diberi tiket dengan NIM kami sebagai anggota IIP yang nggak boleh disebarluaskan plus paspor yang bisa dibuat seciamik mungkin. Untuk paspor, jangan lupa untuk di-share di media sosial/google drive dan disetorkan linknya di form yang sudah disediakan sebagai bukti siap berlayar bersama.


Nah, setelah paspor dan tiket ada di tangan, kami juga harus terus menemukan harta karung sebagai bekal untuk terus mengarungi samudera sampai tujuan nanti. Untuk bisa mendapatkan bekal, kita diwajibkan mengerjakan tugas, lalu mempublishnya di media sosial. Setor link, bisa dibilang. Bagi siapa yang tidak bisa mengerjakan tugas sebelum deadline, maka harus kembali ke pelabuhan dan nggak bisa ikut mengarungi perjalanan selanjutnya. So, this is so tight!

Apa saja bekal itu?



1. Kerang Istimewa


Ini adalah misi kami yang pertama dalam mencari harta karun/bekal untuk berlayar. Untuk bisa mendapatkan kerang istimewa ini kami harus mengerti dan memahami tentang mengapa IIP itu baik, benar dan bermanfaat untuk kami.



Akan disediakan template untuk kemudian kita isi atau bisa juga memakai template yang lain. Sama seperti sebelumnya, kami harus menyetorkan link tugas kami yang sudah kami upload di media sosial ke dalam form untuk selanjutnya kami mengecek keberhasilan kami secara mandiri.

Viola, begitu kami sukses melaksanakan misi ini, kami selangkah lebih dekat dengan petualangan mengarungi samudera plus melanjutkan perburuan selanjutnya, yaitu

2. Mutiara Istimewa


Mutiara ini ternyata bersembunyi di dalam kerang yang telah kami temukan sebelumnya. Untuk bisa membuka kerang dan menemukan mutiara istimewa, kami harus kembali menyelesaikan misi, yaitu mengetahui dan memahami tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang nggak boleh dilakukan/ prinsip prinsip berkomunitas di IIP.



Serunya, kami harus menebak teka teki silang untuk mengetahui hal hal yang nggak boleh dilakukan saat berkomunitas. Selesai dengan teka teki silang, kami kembali mengisi template dan mempublishnya di sosial media. Begitu kami menyetorkan link, maka kami semakin dekat dengan petualangan selanjutnya. Eh, masih ada satu bekal lagi, yaitu

3. Kompas Peradaban


Ini adalah misi ketiga kami, teman. Untuk bisa mendapatkan kompas peradaban ini, kami dibekali dengan CoC (Code of Conduct) atau landasan dan tata tertib mengenai kewajiban kewajiban yang harus diakukan oleh anggota, pengurus maupun widyaswara. Kami harus terus membumikan CoC dengan tetap beracuan pada bekal pertama ( Apakah hal ini baik, benar, dan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain).
Sebagai seorang siswa, kami harus bersikap bermartabat, bertanggung jawab, tidak melakukan plagiarisme, dan lain sebagainya. 


Yeayyy, misi ketiga sukses dilaksanakan dan akhirnya kami mendapatkan Kompas Peradaban.

Belum berlayar saja rasa rasanya saya sudah begitu mendapatkan banyak insight tentang bagaimana seharusnya bersikap. Seperti contohnya saat saya ingin melakukan sesuatu hal, saya lalu berpikir,

"Apakah hal ini benar, baik, dan bermanfaat untuk dilakukan?"

Jika dirasa nggak, ya sudah mulai ditinggalkan. Atau saat lidah rasanya ingin nyinyirin pemerintah, kemudian kembali tersadar.

"Ah, alih alih terus menyalahkan orang yang sudah berusaha untuk negara ini, lebih baik aku juga ikut andil membantu sesama. Berdonasi, berbagi sembako untuk tetangga, memberikan semangat untuk para tenaga media dan lain sebagainya."

Dan itu benar benar aku lakukan. Setiap tindakan, perbuatan, bahkan ucapan itu harus benar benar dipikirkan dampaknya untuk orang lain. Contohnya banyak kan. Hanya karena salah berucap, nggak pikir panjang bercerita tentang aib orang lain lalu menyebutnya ikan asin atau memancing orang untuk menceritakan aib orang lain dengan kata kata nggak pantas, seorang Ibu harus mendekam di penjara dan terpisah dari anaknya. 

Faktanya, sebagai seorang Ibu, kitalah yang membentuk peradaban. Mau jadi apa anak kita, semua tergantung kita. Mau jadi pembangkang atau pun penurut, semua ada di tangan kita. Mau jadi soleh atau pun tidak, besar kecil pengaruh ada dari dalam diri kita sebagai seorang Ibu,

Jadi, aku pribadi benar benar ingin belajar untuk bisa menjadi istri dan Ibu yang jauh lebih baik dari aku yang sekarang. PR ku nggak cuma itu, aku juga harus menyembuhkan diri dari inner child yang membelenggu, menata mental untuk bisa menguasainya, terus menanamkan nilai nilai positif supaya bisa berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih positif dan baik lagi begitu menyelesaikan semua misi yang diberikan kelak.

Ah, nggak sabar pingin terus belajar di kelas Matrikulasi ini bersama teman teman baru yang juga memiliki niat baik yang sama, tekat bulat untuk terus berkembang dan mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga yang dicinta. InshaAllah.

Semangat ya, teman teman penjelajah! :)


4 comments

  1. Selamat ya mbak Meyke,semangat melanjutkan materi berikutnya...

    ReplyDelete
  2. Barakallah, Teh. Mudah-mudahan penjelajahan selanjutnya lancar jaya, ya 😊

    ReplyDelete
  3. Seperti biasa, tulisan-tulisan IIP selalu enak dibaca. Unik-unik dengan caranya masing-masing. Semoga sukses mengarungi lautan ilmu dengan kompasnya ya mba.

    ReplyDelete
  4. Ini tuh semacam kelas parenting gitu ya, Mbak?

    Kok seru banget ya pakai paspor, kerang, dan mutiara segala. Aku membayangkan IIP ini sebagai komunitas pemberdayaan orangtua khususnya ibu dalam menjadi dirinya sendiri agar dapat menjadi ibu yang profesional. Gitu nggak sih kira-kira?

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)