Menikmati Sore di Bomisai dan Pantai Lampu Satu, Merauke - Papua


Sepanjang perjalanan kami menuju distrik Sota; distrik di ujung timur Indonesia dimana tugu 0 km Merauke-Sabang berada, kami bisa menyaksikan hutan dengan tanaman yang beraneka ragam, rawa rawa eksotis hingga sabana luas yang terbentang sepanjang mata memandang . Tak jarang juga kami mendapati musamus musamus atau rumah semut yang menjulang tinggi tersebar di banyak titik di sisi kanan dan kiri.

Tak hanya itu, beberapa kali kami menemukan rumah rumah suku pedalaman Papua yang berdiri ala kadarnya di tepian rawa atau pinggiran hutan. Ternyata, sebagian besar kawasan yang kami lintasi masih termasuk dalam kawasan yang dilindungi pemerintah bernama Taman Nasional Wasur.

Source : daftar.co

FYI, seperti dilansir dari antaranews.com, Taman Nasional Wasur memiliki kekayaan dan keunikan luar biasa secara ekologi, sosial dan budaya yang membentang pada kawasan seluas 413.810 hektare (ha). Potensi faunanya tercatat 80 jenis mamalia, di mana 34 spesies telah teridentifikasi dan 32 spesies di antaranya merupakan satwa endemik Papua.

Taman Nasional Wasur juga menjadi surga bagi 403 spesies burung, dengan 74 jenis di antaranya merupakan burung endemik Papua dan 114 spesies termasuk yang dilindungi.

Source : superadventure.co.id

Taman Nasional Wasur di kawasan paling timur Indonesia ini merupakan Ramsar Site (Situs Lahan Basah) yang ditetapkan sejak 2006 berperan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia, serta telah menjadi anggota East Asian Australian Flyway (EAAF).

No wonder, it’s so remarkable! Ditambah dengan jalan beraspal yang kini sudah direnovasi dan makin mulus.

Beruntung lagi karena Pace mengajak kami turun sejenak untuk melihat balai Taman Nasional Wasur yang bernama Bomisai dari dekat. Jadi, nggak hanya lewat saja, kami juga bisa mengabadikan momen di tanaman pandan Raksasa yang langka dan balai yang juga terlihat unik.

Baca juga :
Berpose di depan balai yang terlihat unik dan asri 

Ini dia pohon pandan raksasa!

Ayah dan Julio tepat di depan kawasan Taman Nasional Wasur yang juga arah jalan ke Sota 
Sayangnya, balai ini terlihat nggak terawat karena rumput rumput yang dibiarkan menjulang tinggi, beberapa fasilitas yang dibiarkan mangkrak dan ada burung kasuari yang juga ada di dalam area konservasi.

Puas melihat lihat, kami kembali tancap gas menuju pantai yang hanya berjarak sekitar 7 km saja dari rumah saudara Pace di Mopah Lama. Pantai Lampu Satu, namanya. Jelas nama pantai ini terinspirasi dari sebuah mercusuar yang berdiri tegak tak jauh dari pantai dan hanya ada satu lampu di puncaknya. 

FYI, pantai yang terletak di Kampung Buti ini memiliki bentangan pantainya yang landai dengan garis pantainya yang relatif panjang dan dipagari pepohonan kelapa. Pasir di Pantai Lampu Satu boleh jadi tak seputih mutiara dan fasilitas bagi wisatawan masih tergolong minim. Tapi tetap menarik minat wisatawan sekitar, terlebih saat sunset.

Keindahan pantai Lampu Satu saat semua


Karena kami berkunjung ke sana di Minggu sore, kami langsung disambut banyak kapal parkir, mobil dan motor pengunjung plus para keluarga yang juga ingin menghabiskan minggu sore dengan sekedar menikmati pemandangan sunset atau bermain pasir dan air.

Julio, anak kami jelas ingin dua duanya. Tak hanya melihat lihat pantai yang baru dua kali dia kunjungi sepanjang hidupnya, kali ini dia juga ingin mencicipi sensasi bermain air dan pasir di tepi pantai. Beruntung, ada Ayah Julio yang dengan semangat langsung mengajak Julio jalan menuju ke bibir pantai dan melepaskan Julio ke satu kubangan air laut. Yes, karena saat itu air pantai masih surut, kami nggak bisa bermain ombak yang terlihat jauh di tengah sana. Para pengunjung terutama anak anak kecil sudah sangat puas bermain air di kubangan air laut yang terbentuk di beberapa titik, termasuk Julio dan ayahnya. 

Ayah langsung semangat ngajakin Julio mainan air 
Selagi kami bermain air dan pasir, saudara Pace yang lain asyik menggelar karpet dan menikmati snack khas pantai seperi cilok dan jagung bakar sambil bercakap cakap. Ah, walau pantainya jauh dari ekspektasi karena pasir pantai di Merauke cenderung hitam dengan air berwarna coklat, kami sudah sangat bersyukur bisa melewati sore bersama di sini.

Keseruan keluarga Pace menikmati sunset di tepi pantai sambil makan cimol dan jagung bakar.
Terutama saat bisa mengajak Julio. Salah satu misi terbesar dalam hidup saya sekarang adalah bisa memberikan pengalaman pengalaman perjalanan Yang bisa mengajarkan banyak hal ntuk Julio. Saya ingin mengajak Julio melihat banyak binatang, melihat bintang bintang, mandi bola sepuasnya, menyentuh salju, belajar berdoa di depan Kakbah, dan banyak lagi.

“Julio, Ibu selalu berdoa Julio selalu sehat, tumbuh dengan sehat dan penuh cinta, menjadi anak yang soleh,dan membawa kebaikan untuk sesama. Aamiin.”


Dan agaknya doa Ibu langsung diijabah karena tiba tiba Ayah Julio punya ide jalan jalan ke Jayapura saat nemenin Julio mandi bola di Mall Oren dan langsung pesan tiket seketika itu juga! 

Tunggu kisah seru kami di Jayapura ya!

 Galeri Perjalanan kami : 

Kali pertama Julio main air di pantai! 

“Yah, tadi aku liat cilok di sana yah.”
“Ya udah ayo ke sana Ayah Ada 5ribu ini”




Memakai noken rajutan khas Papua


Bersama keluarga di Merauke 


13 komentar

  1. indahnay, bangga menjadi orang indonesai dengan alam yang indah

    BalasHapus
  2. Asyiknya bisa traveling ramai-ramai sama keluarga. Lelahnya perjalanan, terbayar dengan keindahan dan keunikan tempat wisata yang dituju. Pantainya indah banget dan penasaran sama pohon pandan raksasa itu. Apa di dekatnya, kecium bau pandan?

    BalasHapus
  3. Wah,indah banget di Bomisai. Resortnya asyik, ya. Suka banget saya lihat pantai dan lautnya. Lembayung senja juga bagus viewnya. Keren

    BalasHapus
  4. Juliooo... Bagi ciloknya donh.. Hehe. Asyik ya yang abis main di pantai. Sehat ya nak

    BalasHapus
  5. kak, masya Alloh, saya menikmati sekali pemandangan di artikel ini. foto-fotonya cantikkk sekali <3 paling cantik yg di featured image, kak Meykke terlihat imut cantik sekali masya Alloh <3 _ <3 teirma kasih ulasannya kak

    BalasHapus
  6. Masya Allah cantik banget pemandangannya mbak, memanjakan mata banget

    BalasHapus
  7. Pemandangannya masih alami bangett mba. Tanamannya juga aneh-aneh, representatif banget buat keanekaragaman hayati. Matahari di pantainya juga cantik. MasyaAllah. Salam buat Julio gemess, have fun di sana ya dekteh :)

    BalasHapus
  8. Subhanallah... Merauke itu bagus dan masih asri ya Mba. Kapan bisa ke sana juga nih. Pingiiin.

    BalasHapus
  9. Bagus amat pantainyaaaa... Masya Allah. Ini agak unik sih, liburan ke Papua. Kan ya jarang-jarang orang begini. Tapi bagus banget sih emang

    BalasHapus
  10. MasyaAllah indahnya negeri kita yaa... luar biasa Mbak Meykke udah nyampe aja di Tugu 0 Kilometer Merauke-Sabang ya... itu sunset di Pantai Lampu Satunya memukau syekaliihh. TFS Mbak

    BalasHapus
  11. Semoga keindahan alam ini selalu kita rawat dan lestarikan. Karena nggak hanya untuk manusia aja, bermanfaat pula untuk tumbuhan dan hewan di sana

    BalasHapus
  12. Pantainya kereeeen,, duh indah banget panorama pantai sun setnya. asyik ya mba bisa wisata bersama,, jadi pingon wisata ke pantainya,, :)

    BalasHapus
  13. Masya Allah, luar biasa indahnya. Semoga rakyat Indonesia bisa menjaga dan melestarikan keindahannya.

    BalasHapus

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)