Innerchild dan Empat Tahapan Berdamai dengan Masa Lalu



“Aku tahu ini salah. Tapi tiap kali anakku rewel tuh bawaannya tanganku gatel pingin nyubit gitu. Refleks aja gitu. Jadi langsung flashback pas dulu Ibu suka main tangan sama aku.”

“Dulu, aku lihat sendiri sedihnya Ibu pas tahu Ayah selingkuh. Sekarang, aku susah sekali percaya sama laki laki. Gimana aku bisa nikah ya?”

“Aku tuh paling takut sama kondisi baru. Pinginnya di zona aman. Udah gini ya udah gini aja, takut gagal.”

“Aku sampai sekarang juga nggak pernah PD ngelakuin sesuatu.”

Pernah nggak sih teman teman memandang segala sesuatu atau punya reaksi terhadap sesuatu yang dipengaruhi masa lalu, kayak misal cara orang tua memperlakukan kita atau lingkungan memperlakukan kita gitu?

Aku pribadi banyak sekali kejadian masa lalu yang membekas, susah hilang dan kadang langsung mempengaruhi cara berpikir dan cara bersikap aku sampai saat ini. Tiba tiba muncul udah kayak melihara monster dalam tubuh. Kalau udah baru deh nyesel. Tapi besoknya dilakuin lagi dilakuin lagi, dilakuin terus.

Tak ingin menularkan rantai pola asuh yang sama dan melukai orang lain karena dirinya sendiri terluka tapi tak berdarah, jadi aku rajin banget ikut kulwap yang membahas tentang parenting, metode pengasuhan dan pengendalian diri. Dan aku baru saja ikut kulwap tentang innerchild plus bagaimana cara berdamai dengan masa lalu. Narasumbernya adalah Ibu Jayaning Hartami, S.Psi, M.Psi.T


Baca juga :


Ada yang baru pertama kali denger innerchild nggak? Aku yakin pasti teman teman udah pernah dengar karena pembahasan ini juga menurut ku lagi banyak diperbincangkan ya.

APA ITU INNERCHILD?

Innerchild adalah bagian dari kepribadian kita sebagai orang dewasa yang berisi kenangan dari masa kecil kita. Baik berupa pengalaman, emosi, kebiasaan, dan sebagainya.

Kadang kita nggak sadar tentang apa yang kita alami di masa lalu gitu ya, tapi ternyata ada bagian bagian kebiasaan atau pengalaman yang membentuk sifat dan karakter kita sekarang, bisa jadi sangat memperngaruhi perilaku, pola pikir, maupun cara kita mengambil keputusan.

Contohnya,

 “Aku tuh paling takut sama kondisi baru. Pinginnya di zona aman. Udah gini ya udah gini aja, takut gagal.”

Setelah ditelisik, ternyata si mbak ini dulunya saat masih kecil memang dididik oleh orang tua yang gaya berpikirnya pesimis. Belum dikerjain udah pesimis duluan.

Pas balita, “Eh jangan naik. Nanti jatuh lho.”
Pas SD, “Udah nggak usah ikut lomba itu. Paling kamu juga kalah.”
Pas SMP, “Udah daftar SMP yang ini aja, kalau yang itu kamu belum tentu lolos.”

Well, apa yang terjadi? Saat dewasa si mbak tumbuh menjadi pribadi yang pesimis juga. Kalau dia nggak concern terhadap dirinya sendiri, dia juga akan menularkan budaya pesimis ke anaknya. Begitu terus sampai tujuh turunan. Sedih khan?

Begitu juga dengan anak anak korban kekerasan orang tuanya; ditempeleng, ditampar, disabet ikat pinggang, diseret sampai terkencing kencing, diinjak. Bukannya tidak mungkin dia menjadi orang tua yang sama seperti orang tuanya dulu khan?

Fenomena ini pun ternyata ada istilahnya, lho. Namanya ghost of parenting ; berbagai hal yang mempengaruhi cara parenting kita, yang merupakan “hantu” dari masa lalu yang pernah kita alami saat masih kecil dulu.

Memori memori masa kecil macam ini yang dinamakan innerchild. Apakah bisa disembuhkan? TIDAK. Innerchild nggak bisa disembuhkan karena memori itu sudah terjadi, melekat dalam tubuh dan ingatan kita. Tapi, kita bisa berdamai dengan masa lalu dan memutus rantai setan itu.

Memang sih innerchild ini nggak serta merta keluar tiap saat. Misalnya sebagai istri dan ibu. Kalau anak lagi ceria dan suami bisa diajak kerjasama sih kita sangat oke. Nah, begitu anak rewel atau ditambah lagi suami Cuma marah marah dan menyalahkan gitu, maka innerchild itu akan muncul. Bisa jadi kalau dulu kita sering lihat Ibu kita suka minggat, kita pun akan punya kecenderungan yang sama; pergi dari rumah saat marah. Saat kita normal sih kita tahu itu adalah perbuatan yang nggak baik, bisa menyakiti pasangan dan anak. Lah tapi di saat terjepit dan marah, justru reaksi minggat itu yang menjadi refleks pertama kita.

Yes, cara bertengkar dengan pasangan kita saat ini , bisa jadi kita lakukan sama persis seperti yang dulu kita saksikan terjadi pada orang tua kita. Serem khan?

Itu mengapa kita harus memutus rantai setan itu, supaya apa yang kita rasakan dulu juga nggak dirasakan oleh orang orang tersayang kita. Ingat, orang yang tersakiti cenderung akan menyakiti juga.

4B, 4 Tahapan untuk berdamai dengan masa lalu

1.Berani Mengakui

Langkah pertama dari segalanya adalah kita berani mengakui bahwa emosi negatif ini adalah hal yang salah dan harus dihentikan.

Kita harus berani mengakui dengan jujur, termasuk jujur dalam menganalisa diri sendiri; darimanakah pola pola negatif ini kita pelajari? Karena bisa jadi bukan dari orang tua tapi dari lingkungan. Misalnya sekarang kita nggak pernah merasa PD karena ternyata dulu kita adalah korban bullying.

Atau sekarang kita dengan mudahnya melempar barang karena ternyata dulu seringkali lihat bapak kita suka ngobrak abrik rumah saat marah.

2. Berani Mengungkapkan

Setelah menemukan apa yang menjadi innerchild kita, kita harus berbagi cerita kepada orang yang kita percaya untuk mencari emotional support.

Pemateri menyampaikan, bagi yang sudah menikah hendaknya bercerita kepada suaminya. Lalu, dukung juga suami untuk mengungkapkan hal yang sama. Nah, semakin aware suami istri dengan innnerchild pasangannya, tentunya akan membuat mereka semakin memahami apa yang berpotensi menjadi ‘jegalan’ dalam konflik yang terjadi dalam rumah tangganya. Lalu, bisa berdiskusi untuk mencari solusi bersama sama.

Jika dirasa sangat berat, kita juga bisa meminta bantuan dari tenaga profesional seperti psikolog atau mengikuti trauma healing dan sebagainya.

3. Berani Memaafkan

Menurut pemateri, ini adalah tahap paling berat dari keempat tahap. Biasanya semakin kita tahu innerchild kita maka semakin kita marah terhadap mereka yang menyebabkannya.

Nah, cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah reframing.

Misalnya, ayah kita adalah tukang pukul. Sejak usia kita tiga tahun sampai remaja sering sekali dipukul, ditendang, diseblak, diseret dan dimaki maki. Nah, alih alih selalu memandangnya sebagai pelaku, coba kita geser sedikit cara pandang kita. Bahwa sesungguhnya ayah kita adalah korban. Korban dari kakek nenek kita terdahulu yang juga berlaku kasar. Orang tua kita yang menciptakan pola pola negatif itu pun sesungguhnya hanya mengulang apa yang mereka terima dari generasi sebelumnya. Hanya saja Ayah kita terjebak di rantai setan tak terputus itu karena beliau nggak punya ilmunya. 

Jadi, sesungguhnya kita ini sama sama korban. Kasihan khan Ayah kita? Dengan memaafkan ayah kita, hati jadi lapang dan satu langkah lebih maju untuk berdamai dengan masa lalu.

4. Berani Move On

Nah, setelah berhasil menganalisa dan mengenali innerchild kita, lalu berbagi dengan orang terpercaya plus memaafkan penyebabnya, sekarang saatnya kita move on dan menciptakan refleks baru saat pemicu muncul.

Misalnya nih, innerchild kita akan muncul saat anak rewel rewel terus. Saat anak nangis dan berteriak , biasanya reaksi kita adalah mencubit maka sekarang harus punya strategi baru. Misalnya, langsung memisahkan diri dengan anak dan berwudhu.

Lakukan metode ini terus menerus, berulang ulang, sampai menjadi refleks baru kita saat mengalami permasalahan yang sama, menggantikan yang dulu diisi oleh innerchild kita.

Sepertinya mudah walau aku tahu pengaplikasiannya pasti susah. Etapi demi keluarga tersayang, orang orang terkasih kita harus bisa menjadi the best version of us. Salah satunya adalah bisa berdamai dengan masa lalu dan mengendalikan innerchild kita.

Bisa juga kompromi dengan suami/istri supaya nggak sama sama menjadi pemicu. Misalnya,

“Ayah, aku paling nggak bisa nahan marah kalau Ayah berkata kasar atau lempar sesuatu. Yang ada aku pasti berkata lebih kasar dan lempar barang lebih banyak. Jadi, jangan begitu ya...”

FYI, ini bukan aku yang lagi ceramah lho ya. Ini aku dapat dari kulwap dan semoga berguna untuk para pejuang innerchild lainnya yang sekarang sedang berjuang juga untuk bisa berdamai dengan masa lalu. Karena alangkah indahnya saat anak anak kita bisa tumbuh dengan bahagia dan tanpa luka. Tak perlulah mereka susah susah membasuh luka macem kita nih. Biar fokus saja menciptakan kebahagian kebahagiaannya di kemudian hari.

Karena sama seperti memori pedih, memori indah pun pasti akan bisa menular ke generasi selanjutnya. Saat kita bisa menciptakan keluarga penuh cinta kasih, mampu mengasuh anak dengan penuh kasih sayang tanpa cubitan atau tamparan, dia pun pasti akan mampu memperlakukan orang lain/pasangannya kelak dengan cara yang sama. Oh betapa indahnya.

16 comments

  1. Wow. Artikel ini membuatku ternganga. Ternyata ada yang namanya innerchild ya. Aku jadi kepikiran instropeksi diri, apa ya innerchildku. Etapi satu hal yang sudah kutemukan itu, aku punya ortu yang pesimistis. Dulu aku jug sering bertanya-tanya kenapa aku sempat alami susah ambil keputusan. Ternyata akarnya di sini ya. Baru setelah aku tinggal terpisah ortu, aku lebih berani ambil risiko dan lebih bold. Thanks udah sharing ya, Mbak...

    ReplyDelete
  2. Huff.. Ngeri2 seram memang ya kalau udah soal innerchild. Secara, siapa sih ortu yg perfect? Kawatirnya, justru yg negatif yang terus melekat. Emang harus bisa mengontrol diri, ya

    ReplyDelete
  3. Hmmm, mbak, sejujurnya aku juga punya masalah seperti itu... Emosi negatif dalam diri aku terhadap suatu masalah itu tinggi banget... Pengen melepas, tapi masih maju mundur nggak tau caranya, mungkin tips dari mba mulai aku jalankan... tapi... ak pun harus menimbang banyak hal... Mba punya referensi buku terkait topik ini??

    Makasih sekali artikelnya...
    Jangan lupa follow back blog-ku ranselmungil ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku nggak ada referensi buku yang khusus membahas ini sih mbak, biasanya aku ikut kulwap dan hasil kulwap itu aku jadikan tulisan seperti ini. Mbak bisa ikutan program Bengkel Diri mbak untuk bisa tahu lebih dalam dan praktekkan gitu. Bisa lihat infonya di @bengkel_diri di IG.

      Semoga membantu ya mbak

      Delete
  4. Tahap memaafkan itu yang ternyata sulit ya mbak, harus terus di-recall. Kadang kemarahan atas kejadian masa lalu itu suka kembali muncul. Dulu saya diasuh dengan tangan, sekarang saat saya jadi orang tua, sejujurnya terkadang dorongan untuk mencubit atau memukul itu suka muncul. Namun, saya ingat gimana dulu rasanya dan bagaimana sekarang saya melihat kedua orang tua saya. Saya enggak mau anak2 mengalami hal yg sama dengan saya.Itu yang mendorong saya untuk terus bebenah diri sebagai orang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kita memang harus memotong mata rantai "setan" itu. Semangat mbak!

      Delete
  5. Setuju banget nih Mba, mau mengakui dan Move on dari masa lalu, susah tapi harus mau dicoba dan yakin bisa. Makasih tips nya Mba

    ReplyDelete
  6. ini berguna buat yang masa kecilnya sering kena bully gitu kah mbak? soalnya bullying zaman kecil itu dampaknya besar banget di masa depan anak

    ReplyDelete
  7. "Karena sama seperti memori pedih, memori indah pun pasti akan bisa menular ke generasi selanjutnya." Paling suka kalimat ini, mengena sekali.

    ReplyDelete
  8. memaafkan dan menerima mmg salah satu kunci dr bayang2 inner child y kak. masih hrs bljar ttg ini 💪🌟 terima kasih ulasanny kak

    ReplyDelete
  9. Keren mba tulisannya. Terima kasih atas informasinya. Memang berat untuk merubah yang sudah mendarah daging, namun bukan berarti tak bisa. Semangat Bun, semoga kita bisa lebih baik lagi dalam mendampingi buah hati kita ☺💕

    ReplyDelete
  10. Baru tahu kalau yang kayak gini namanya "innerchild". Kebetulan kemarin sempat juga dibahas sepintas tentang "kenangan masa lalu" ini di WAG. Duh, semoga kesalahan masa lalu itu tidak menjadi warisan untuk anak cucu kita kelak.

    ReplyDelete
  11. Yang paling penting berani memaafkan dan berani move on kalau berdasarkan pengalaman pribadiku hehehe

    ReplyDelete
  12. Dulu aku sempat punya masalah dengan hal ini. Susah banget buat memaafkan masa lalu. Tapi setelah ikut kelas di IIP dan sharing di group, jadi lebih paham. Dan perlahan bisa ikhlas. Sekarang lebih plong lho mbak rasanya

    ReplyDelete
  13. Tahap pembersihan inner child ini memang ga mudah ya mbak, aku pun masih terus belajar. Tapi aku ingat, dlu pernah janji sebelum menikah, klo aku punya anak, aku hanya akan ambil hal-hal yg bener aja dari pola asuh orang tuaku, gak mau pakai yg negatif-negatif. Memang gak semudah itu, tapi yg penting ada ikhtiar dan kita sadar diri akan haal itu.

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)