ELTA IV Papua-Papua Barat (Part 3)


Hi guys, setelah beberapa waktu liburan dan pulang kampung akhirnya saya dapat menyelesaikan bagian yang ketiga ini dimana kalian akan menemukan kisah perjuangan kami sebagai peserta ELTA, para master trainers (MT) dan tentunya koordinator kami yang begitu hebat dan penuh tanggung jawab. Pengalaman di program ELTA yang ke-4 ini takkan pernah terlupakan dan sudah tersimpan dengan baik dalam memori saya. 

Sesuatu hal terjadi dan itu membuat kami harus menjalani kegiatan di dua tempat berbeda. Sedih sekaligus senang, mengapa hal itu bisa terjadi?

Let's check this out!

Ya tentu saja, setelah beberapa minggu (sekitar 3 minggu) menjalani program ELTA di Manokwari, Papua Barat, tanggal 30 Januari saya, beberapa teman dan MT berangkat menuju Denpasar, Bali. Saat itu kami dibagi menjadi 2 kloter penerbangan (tanggal 29 dan 30 Januari). Memang sedih sekaligus senang, mengapa?


Sedih karena kami harus meninggalkan kota Manokwari.


Bukan tanpa alasan kami harus meninggalkan kota Manokwari, kota yang menurut saya begitu indah karena hamparan alam yang begitu asri dan surga buah-buahan (especially, durian, rambutan, dan masih banyak lagi). Kami harus berjuang melewati masa sulit ketika satu per satu teman kami menderita gejala penyakitmalaria. Penyakit ini memang sangat endemik di daerah tropis terutama wilayah timur Indonesia. Bila tidak ditangani dengan cepat oleh dokter/tim medis, maka nyawa bisa menjadi taruhannya. Jarak tempuh antara asrama dan rumah sakit juga cukup jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit dengan mobil. Saya mengingat dengan jelas ketika salah satu teman saya Demta harus sampai dirawat inap di RS AL Manokwari. 

Kejadian ini sungguh membuat geger para peserta ELTA. Namun dengan sigap (baca= gercep, gerakan cepat) para MT langsung mengarahkan kami agar melakukan upaya preventif dan melakukan komunikasi mengenai kondisi kami kepada Ms. Reny Mulyaningsih selaku koordinator program. Tidak membutuhkan waktu yang lama setelah koordinasi yang dilakukan tim ELTA, dalam beberapa hari tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Manokwari akhirnya datang melakukan rapid-test malaria kepada seluruh peserta dan master trainers. Hasilnya, beberapa dari kami positif terkena malaria. 

Kehadiran teman-teman di kelas pun berkurang, akibat dari beberapa teman yang mengalami gejala seperti demam dan sakit kepala, bahkan ada yang sampai berkurang nafsu makan. Walau demikian, para MT tetap berjuang memberikan ilmu kepada kami. Guys, di saat tersulit seperti itu kami saling menjaga satu sama lain, we support each other. 

Ms Reny Mulyaningsih adalah koordinator, yang menurut saya, sangat sigap. Beliau segera menyampaikan kondisi kami kepada pihak Australia Awards Indonesia (AAI) selaku penanggung jawab beasiswa pada program ini. Kemudian beliau mengusulkan agar kami dipindahkan ke IALF Bali untuk melanjutkan program. Meski harus berkali-kali menyampaikan kondisi kesehatan kami, melakukan koordinasi dengan AAI dan pihak IALF Bali, dan setelah beberapa hari pengobatan dan hasil uji laboratorium menunjukkan hasil negatif. Kami bersiap-siap untuk pindah ke Denpasar.        

Senang karena kami harus tinggal selama lebih kurang 2 bulan di Denpasar.


Begitu Ms Reny menyampaikan bahwa kami harus pindah ke Denpasar, seluruh peserta pun riang gembira. Suara horeeeeeeee... pun menghiasai atmosfer ruangan saat itu. Senang tentunya, karena kami bisa menjauh dari para plasmodium sp. yang kapan saja bisa menimbulkan gelaja malaria dan kami bisa belajar bahasa Inggris di IALF Bali. Tambahan lainnya adalah Bali merupakan destinasi wisata bagi turis mancanegara. So, kami bisa belajar langsung dari para native speakers. 

Dengan koordinasi yang sangat baik, pihak IALF Bali (melalui ibu Agung Sudiani) membantu kami mendapatkan rumah sewa yang dekat dengan kampus IALF. Tidak seperti di Manokwari, selama di Denpasar kami harus mengatur semua perencanaan keuangan kami seperti makan, akomodasi dan lainnya. Pihak ELTA saat itu memberikan allowance sebesar  Rp 2.750.000/bulan. Jadi, saat di Manokwari kita dimanjakan dengan asrama dan makanan  sehat bergizi yang tersedia 3x sehari. 


Senang boleh saja, tapi kita harus tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Saat belajar di IALF pun kami harus mengikuti kelas tambahan yang sempat tertunda di Manokwari.

---------------------------------------------------------------------------

Kisah perjuangan kami di ELTA 


Sebagai peserta ELTA kami diharuskan bisa mandiri dalam mengatur waktu dengan baik selama program berlangsung. Ya betul sekali, memang menjalani sesuatu diluar kebiasaan kita terkadang begitu sulit, sulit keluar dari kebiasaan-kebiasaan yang sudah membatu dalam diri. Misalnya, mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan MT, membiasakan diri berkomunikasi dalam bahasa Inggris, atau bangun pagi untuk menghadiri kelas pukul 08.00. Jadi, di program ELTA ini begitu banyak hal yang dapat merubah diri saya ke arah yang lebih baik. Bagaimana, mau juga kan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya?
"Hidupmu akan berubah lebih baik jika kamu bersedia mengubah dirimu sendiri." (Juproni, 2016)

Perjuangan sebagai peserta ELTA

Barangkali hal yang paling berat dirasakan oleh seluruh peserta ELTA adalah bagaimana bisa membagi waktu dengan baik selama program berlangsung. Akan tetapi semua itu bisa dilalui dengan mudah meski dengan proses yang berbeda-beda dari tiap individu. Siapa saja yang terlibat di dalamnya? Mereka adalah teman-teman ELTA yang lainnya dan juga para MT. Dari mereka saya belajar banyak, belajar untuk bisa tepat waktu, tidak menunda pekerjaan, belajar untuk lebih mengapresiasi pencapaian orang lain dan masih banyak lagi. 
Teman-teman yang sudah berada di depan kelas sebelum pukul 08.00.

Seperti yang sudah saya tulis di part 2, hadir tepat waktu itu penting sekali.


Mereka sedang berbagi pengalaman di bidang masing-masing,
berbagi tips dan trik belajar dan banyak hal tentunya.
(Windy dan Ester masih asik berdiskusi di pojok kiri belakang)
Kalau yang ini, kami (mewakili bidang sains dan kesehatan)
juga berdiskusi. (Eva, Yenlin, Saya, dan Evi) 
Kalau ini, mereka yang mewakili bidang pendidikan,
ekonomi, sosial dan politik.
(Helmi, Demta, Ray, Abi, Haniel, dan Prayudhi)

Memang pengalaman yang luar biasa dan sangat berharga yang pernah saya dan teman-teman miliki. Selain saling mengenal profesi antar teman, kami boleh berbagi tentang pengalaman mereka bekerja di institusinya. Misalnya saya dapat mengetahui bagaimana menjadi seorang pegawai bank melalui kak Vanny, berbagi ilmu kimia dengan Maya,  hal-hal apa saja yang dipelajari bila kuliah ilmu hubungan internasional dari RahmaHelmi dan Abi, bagaimana bisa berkomunikasi yang baik ketika menjadi penyiar radio dari Elko, bagaimana seharusnya mengembangkan pariwisata di Indonesia, khususnya di Papua-Papua Barat dari Sherin, bagaimana pentingnya edukasi HIV-AIDS pada masyarakat dari kak Prayudhi, bagaimana manjadi MC (Master of Ceremony) yang handal dan menarik dari Johan Albert (Piche) dan bagaimana cara menerapkan sistem mekanisasi pertanian yang handal dan efektif untuk meningkatkan produksi pangan dari kak Jefrry (dan masih banyak lagi dari teman-teman yang lain tentunya). Pokoknya dari hasil diskusi bersama mereka, saya banyak belajar ilmu baru yang tidak saya ketahui sebelumnya.
"Pengalaman adalah guru terbaik". (Anonim) 

Perjuangan kami menjadi peserta ELTA mungkin tidak semulus daun pisang. Saat berada di Bali kami mendapat kabar duka bahwa ayah dari kak Hana, telah berpulang ke rumah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga kak Hana harus pulang, kami pun merasa kehilangan sekali. Kak Hana adalah wanita yang tegar, beliau ikhlas melepaskan kepergian ayahanda dan berusaha kembali mengikuti kegiatan ELTA di Bali. Sungguh perjuangan yang sangat hebat, bisa jadi saya pun tidak kuat menghadapinya.


Teman-teman menemani kak Hana ke bandara untuk pulang

Saya selalu merindukan mereka setiap saat.


Dan inilah mereka yang telah membimbing kami.

Sejatinya, keberhasilan yang diraih oleh peserta ELTA sangat diperngaruhi oleh para MT yang telah mendedikasikan dirinya untuk mengajari dan membentuk karakter kami menjadi pribadi yang selalu ingin belajar, belajar dan terus belajar.

Ms. Endah Martini 


Banyak sekali pengalaman hidup saat menjalani kuliah S2 di Flinders University, Adelaide, South Australia, yang dibagikan oleh Ms. Endah ketika mengajar kami di kelas. Mulai dari bagaimana membangun kepercayaan diri, bersikap yang baik terhadap teman-teman, bagaimana kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan orang lain dan menguatkan keyakinan kita akan impian yang ingin diraih. 

Saya selalu merasa kurang dengan kemampuan saya sebagai English learner. Entah dalam hal berbicara, atau menulis selalu saja ada permasalahan yang saya keluhkan.  Saat itu saya menghadapi pre-tes IELTS perdana dan jreng....jreng....jreng...jreng....  Nilai writing tidak memenuhi standard pencapaian (writing task 1 dan 2 tidak selesai), berasa seperti terpapar badai Catherina level 9.5 dari 10.😭 Saya betul-betul sedih sekali saat itu dan merasa gagal, gal, gal.

Ketika berkonsultasi dengan beliau mengenai hasil pre-test, saya merasa down(bukannya lebay ya guys, ini memang kejadian nyata). Pertama, saya merasa gagal. Kedua, saya belajar bahasa Inggris dari level yang paling dasar (jika ada level di bawahnya dasar, mungkin saya berada disitu). Namun dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Ms Endah memberikan arahan dan dukungan sehingga saya bisa bangkit kembali menjadi pribadi yang kuat, terus berusaha dan yakin atas kemampuan diri. Dua hal dari beliau yang masih teringat jelas dalam memori saya yaitu:
"I know you can overcome the difficulties. If you know you can do it, then you can Alfrets".
"I'm pretty sure you'll be in Australia soon, You have a very specific specialisation." 
Banyak yang bilang "kata-kata adalah doa", dan berkat doa beliau juga, InsyaAllah pada awal bulan Januari I'll be in Australia



Ms. Rini Irmayasari


Sapaan akrab untuk beliau adalah Ms. Maya. Master trainer yang satu ini punya ciri khas untuk mem-boosting our level of English dengan cepat, particularly in listening and speaking (In detail, you'll be able to use English grammar properly). Dimata saya, beliau merupakan veteran trainer karena telah bergabung sejak ELTA pertama kali diselenggarakan. Saya punya cerita yang lumayan menegangkan dengan beliau. Begini ceritanya...


Setiap beliau masuk ke kelas untuk mengajar, ada saja hal yang bikin saya deg-degan yaitu saat dimana kami disuruh untuk mencari pasangan speaking (mungkin hal yang biasa dilakukan para master trainer yang lainnya). Akan tetapi belajar bersama Ms. Maya dapat memacu adrenaline kita dan memberikan sensasi tersendiri. Awalnya saya merasa takut apabila berpasangan dengan beliau sebagai partner speaking (hal ini sering terjadi karena jumlah peserta di kelas kami ganjil), karena saya merasa diawasi mulai dari awal hingga akhir kegiatan speaking. Ketakutan saya sering bertambah hari demi hari, sampai pada akhir dimana saya sadar betul bahwa kami di program ELTA ini sedang belajar, belajar untuk tidak hanya dapat memahami bahasa Inggris dengan baik tetapi juga belajar untuk menjadi pribadi yang berani melawan rasa takut untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Finally, I could overcome my difficulties.

Ms. Maya memiliki jiwa travelling dan senang berbagi pengalamannya, misalnya pengalaman tentang daerah baru yang beliau kunjungi. Saat berpergian ke suatu daerah, beliau selalu menyempatkan diri berkunjung ke berbagai tempat seperti tempat wisata, pasar, coffee shops, dan lain-lain. Kopi adalah separuh jiwanya beliau. Pesan yang diingatkan oleh beliau untuk saya adalah;
"Carilah pengalaman yang banyak, travelling-lah kemana saja untuk membuka wawasanmu tentang dunia". (Rini Irmayasari, 2016)

Oh ya hampir lupa, ini mungkin akan sangat berguna bagi saya dan para pembaca. Ms Maya, yang adalah lulusan S2 Master of Linguistics di Australian National University, pernah berpesan bahwa
"jika nanti bersekolah ke luar negeri, senantiasa menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi dengan siapa saja (tetangga, teman, dosen) dan you, Alfrets, please use your time wisely (be on time, and never try to postpone your assignments)"  (Rini Irmayasari, 2016)
Sungguh beruntungnya saya pernah belajar banyak ilmu dari beliau.


Ms. Tisha Rumbewas


She was my supervisor in ELTA IV PPB program. Ms. Tisha, begitu sapaan akrab beliau, adalah lulusan program S2 ilmu Kimia, Faculty of Science, Health and Medicine, di Wollonggong University. Meskipun dalam perjalanan karir beliau banyak bergelut dengan bidang sains dan penelitian obat-obatan alami, namun beliau sangat mumpuni dalam bidang pengajaran bahasa Inggris, beliau adalah owner dari Sagu Foundation (suatu lembaga pendidikan bahasa Inggris) yang berlokasi di Jayapura, Papua.

Ms. Tisha merupakan pembimbing yang ramah serta tegas. Beliau memiliki konsep pembimbingan dimana saja dan kapan saja (asal tidak mengganggu waktu penting beliau). Tidak harus di kelas, rumah makan atau cinema pun bisa menjadi tempat konsultasi kami dengan beliau saat program ELTA ini. 


Kegiatan bimbingan kami (trainees) dengan Ms. Tisha di ruang diskusi

Seluruh kegiatan pembimbingan dengan kami selalu dicatat oleh beliau, apa evaluasinya, apa saja kendala yang dihadapi peserta ELTA selama program berlangsung dan bagiamana tindakan yang harus dilakukan agar para peserta terbantu dalam proses mencapai tujuan program ini. Bagi saya sebagai salah satu peserta bimbingan, Ms. Tisha selalu mendukung dan memotivasi kami untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. 

Secara periodik diluar kegiatan mock test IELTS wajib yang diadakan pada program ELTA, Ms. Tisha punya cara tersendiri untuk meningkatkan nilai kami. Walau harus berkorban moril dan materiil, beliau tidak memperdulikannya asal para peserta bimbingannya mendapatkan hasil terbaik. Ms. Tisha selalu berpesan kepada kami untuk terus berusaha, meski harus berkorban banyak hal karena hasil yang kita dapatkan akan sesuai dengan usaha yang dilakukan, begitu nasihat beliau kepada saya.

Ms. Tisha punya banyak pesan khusus untuk saya namun yang begitu berkesan, yaitu
"Jadilah pembelajar sejati, mau belajar dari kesalahan yang diperbuat dan pantang untuk berputus asa". (Tisha Rumbewas, 2016)

"Ms. Tisha yakin Alfrets bisa. You are such a good English learner". pesan ini disampaikan menjelang mock dan real IELTS test (Tisha Rumbewas, 2016) 

Mengenai pembelajaran sikap yang beliau tanamkan kepada saya adalah
"Never underestimate other people, because they may know more than you. So, be a good learner and learn something from them". (Tisha Rumbewas, 2016)  

Memang di program ELTA ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa (which is more than I expected).


Mr. Dave Sipayung


Mr. Dave Sipayung, beliau saya nobatkan menjadi the happiest teacher dalam program ELTA IV PPB. Why??? karena beliau selalu tersenyum dan sulit untuk marah, dan kalaupun marah cara marahnya juga sangat ramah. Oh, betapa ku merindukan semua guru TK, SD, SMP dan SMA seperti beliau. Mr. Dave menjadi salah satu master trainer yang handal dalam manajemen kelas dan juga banyak memberikan games seru untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris kami. 

Mengapa manajemen kelas dan games? Hal ini bukan tanpa alasan, sebagai seorang guru saya melihat upaya yang dilakukan oleh beliau dalam membagi waktu dengan jenis kegiatan agar pembelajaran di kelas menjadi lebih interaktif dan kadang hiperaktif....hahahaha. Iya saya pernah menyontek lembar kegiatan belajar yang sudah beliau coret-coret dengan angka-angka, dimana 5 menunjukkan 5 menit dan seterusnya. Misalkan waktu melebihi dari target, beliau memiliki alternatif kegiatan kelas agar tujuan belajar tercapai. Kemudian, games menjadi salah satu senjata pamungkasnya. Memang betul adanya, games bila diterapkan dengan proporsi yang sesuai maka akan sangat membantu para peserta dalam meningkatkan capaian belajar.

Dua hal tersebut memang dikuasai beliau sebagai master trainer. Menjadi salah satu lulusan S2 Master of Early Childhood Education di Melbourne University, beliau tidak pernah patah arang untuk senantiasa mengkolaborasikan ilmu yang diperoleh dengan kondisi belajar para peserta ELTA saat itu. 

Sama halnya dengan Ms. Maya, kak Dave sangat suka travelling dan mengabadikan moment ketika beliau berada di tempat wisata (misalnya di pantai) atau kumpul bersama kerabat dan keluarganya. Namun ada hal yang serupa dengan saya, kami berdua sama-sama suka kuliner, ner, ner. Pokoknya makan....

Memang tidak ada pesan khusus yang beliau sampaikan kepada saya, namun bila saya boleh merangkumnya intinya belaiu ingin kita menjadi orang yang senantiasa bahagia, tidak bermusuhan satu dengan lainnya, saling berbagi dan membantu sesama meskipun hanya ilmu yang dapat dibagikan. Thanks kak Dave, for everything that you have given to us.


Ms. Janet Julia

Ms. Janet Julia atau yang sering disapa Ms. Janet, adalah lulusan S2 di Waikato University, New Zealand. Beliau adalah master trainer yang datang menggantikan Ms. Endah beberapa minggu sebelum program ELTA berakhir. Sosok yang begitu ramah dan penyabar ini juga selalu mendorong kami untuk terus belajar menggapai cita-cita meski harus melewati rintangan yang cukup berat. 

Saya sangat mengapresiasi usaha beliau untuk datang dari Jayapura ke IALF Bali dan menggantikan Ms. Endah yang saat itu harus kembali bertugas di kantornya. Teknik belajarnya pun asyik dan menyenangkan seperti metode Prof. Yohanes Surya, GASING, Gampang Asyik dan Menyenangkan. Meski di awal pertemuan saya agak kurang paham tetapi seiring berjalannya waktu, proses belajar mengajar pun menjadi sangat menyenangkan.

Ms. Janet juga berbagi pengalamannya ketika menjadi mahasiswa S2 di New Zealand. Menurutnya, hal pokok yang mesti dimiliki oleh pembelajar adalah selalu bertanya kepada orang yang ahli bila kita kurang paham terhadap apa yang dipelajari. Meski singkat belajar dengan beliau tetapi saya sangat bersyukur.


Ms. Reny Mulyaningsih


Ms. Reny adalah koordinator program ELTA IV PPB. Santun dan ramah kepada siapa saja yang ingin bertemu dengan beliau. Hampir 2 dekade, pekerjaan sebagai manager program pelatihan bahasa Inggris telah diemban oleh beliau. Oleh karena itu, dapat saya katakan bahwa program ELTA IV PPB tahun 2016 sukses terlaksana dengan baik.

Menjadi seorang koordinator tentunya bukan pekerjaan yang mudah. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan beliau agar kegiatan kami ini terlaksana dengan baik. Salah satunya adalah melakukan koordinasi dengan pihak Australia Awards Indonesia (sebagai pemberi bantuan program) ketika kami harus dipindahkan ke Bali dari Manokwari. Dengan penuh tanggung jawab sebagai koordinator, saya dan teman-teman sangat salut dengan apa yang dilakukan oleh beliau.

Tidak hanya sebagai koordinator program, apabila salah satu master trainer berhalangan hadir untuk mengisi kelas maka beliau mengambil alih menggantikan posisi sebagai trainer kami. Perkara yang senantiasa teringat oleh saya ketika diajari beliau:

Punctuality is very important. 
Bukan hanya sekali dua kali saja hal ini disampaikan oleh beliau disela-sela mengajar. Hal ini penting karena budaya tepat waktu sangat sulit bagi kebanyakan orang Indonesia. Beliau menginginkan kami ketika nanti kuliah di luar negeri agar berusaha beradaptasi dan mempelajari budaya bangsa lain dengan baik.

Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika bekerja dengan para native English dan atau hal-hal lain sehingga kami menjadi lebih semangat dalam belajar dan mengejar impian kami yaitu bisa memperoleh beasiswa ke luar negeri. Thank you Ms. Reny.

-----------------------------------------------------------------------

Penutup dan Harapan penulis

Well guys, dengan mengikuti program ELTA begitu banyak manfaat yang dapat kita terima. Nah, tentunya jika teman-teman bisa terpilih menjadi peserta ELTA maka setelah program selesai seyogyanya kita bisa memberikan dampak positif bagi orang sekitar kita dengan membagikan ilmu yang diperoleh, misalnya berbagi informasi mengenai hal-hal yang sederhana dan bermanfaat.



Saya saat menerima sertifikat karena telah menyelesaikan pelatihan
selama 3 bulan dengan baik.

Harapan saya adalah semoga teman-teman yang berada 6 wilayah yang menjadi target kegiatan ELTA agar dapat ikut berpartisipasi mendaftar program ini. Ilmu yang didapat akan sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.  

Sebenarnya banyak sekali hal yang terjadi selama 3 bulan kami mengikuti kegiatan ELTA IV PPB ini, namun saya menuliskan pokok penting sehingga pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca dapat dimengerti dengan baik.

Dan dalam kesempatan ini saya (mewakili seluruh peserta ELTA IV PPB) mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak Australia Awards dan seluruh Tim ELTA. Apabila ada kekeliruan dalam tulisan ini, mohon saya agar diberitahu ya. Terima kasih.


Keep smiling keep shining. 


Salam sukses selalu, 

 





References:
1. http://www.juproni.com/2016/09/kata-kata-mutiara-berubah-menjadi-lebih.html
2. Koleksi foto pribadi. 

18 comments

  1. Ceritanya panjaaang, tapi seru..
    Senang sekali bisa berada dlm komunitas positif dg orang-orang yang menyebarkan aura positif dlm kehidupan kita. Sukses selalu buat ms.Meykke & mr. Alfret..

    ReplyDelete
  2. kereeen mbak. kapan-kapan mamoir ke kampungku. Kokas namanya. wilayah papua barat

    ReplyDelete
  3. Semangatnya membuat saya takjub, terimakasih

    ReplyDelete
  4. Maasya Allah luar biasa banget pengalamannya. Semoga saya pun bisa mengikuti jejaknya mba..semoga berkah dan bermanfaat ilmunya

    ReplyDelete
  5. Wah sangat keren sekali perjuangannya, salut deh

    ReplyDelete
  6. wih keren banget mba, masyaallah. saya dari dulu pengin banget ke papua, penasaran sama raja ampat, hihi. tapi belum kesampaian. seru pastinya tiga bulan di papua. sukses terus ya mba.

    ReplyDelete
  7. Berkesan banget ya mba, semakin banyak pengalamannya semakin banyak juga ilmu2 baru yg dimiliki. Apalagi, singgah di tanah papua sampe 3 bulan, pasti banyak sodara baru juga yg didapat. Good luck ya mbaa

    ReplyDelete
  8. Enak nih mba pelatihannya di monokwari dan bali. Jadi pengin belajar bahasa inggris agar bisa daftar.

    ReplyDelete
  9. Dari dulu selalu pengen ke Papua, tetapi selalu khawatir dengan malaria-nya.

    ReplyDelete
  10. keren mbak, banyak cerita yang aku dengar tentang keindahan papua, semoga suatu hari nanti diijinkan tuk bisa mengunjunginya...sukses selalu buat mbak dan suami ya :)

    ReplyDelete
  11. Suamiku dinas di manokwari udah setahun, tapi keluarga di Jawa
    Karena menghindari malaria
    Secara anak masih kecil bgt
    Malaria emng enggak bisa disepelein mb
    Mana rsny juga jauh
    Sedih sih kalau lihat fasilitas d sana masih minim

    ReplyDelete
  12. Wow... Senang banget bisa ikut program seperti ini. Banyak banget keuntungan yang didapat. Yang jelas...pengalaman adalah yang aling berharga ya. Good luck, semoga ilmunya bermanfaat

    ReplyDelete
  13. Seru banget bisa kumpul sama berbagai org dari berbagai latar belakang

    ReplyDelete
  14. Jadi ingat impian masa SMA pengwn ikut pertukaran pelajar ke Australia. Qadarallah belum kesampaian heheheee

    ReplyDelete
  15. saya senang sekaligus sedih bersamaan membaca kisah ini. Panjang tapi padat bergizi. Senang melihat teman-teman, terutama mbak meyke bisa mendapatkan kesempatan mereguk ilmu yang bermanfaat sekaligu bisa travel education. Sedih, berkaca pada diri sendiri bahwa saya bikan siapa-siapa tetapi pegalamannya membuka cakrawala baru saya. nano-nano.

    ReplyDelete
  16. Di papua memang rawan penyakit malaria. Saya selama di sana juga benerapa kali kena malaria... btw dari Manokwari pindah ke Denpasar, jadi makin seru ya pengalaman suami mbak Meykke belajar di ELTA ini dan akhirnya bisa menyelesaikannya dengan baik.

    ReplyDelete
  17. Seru dan keren nih program ELTA. Semoga akan yg trlibat sprti mb Mey bisa menerapkn ilmuilmunya kps sesama. Aamiin

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)