Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)


Hi guys, alhamdulillah saya akhirnya bisa menyelesaikan tulisan ke 2 ini dengan sedikit kesabaran sambil mengingat-ingat setiap kejadian di masa itu. Masa di mana saya memulai membenahi impian saya, di saat beberapa orang menganggap apa yang ingin saya raih itu ibarat mimpi di siang bolong dan di saat itu pula banyak yang memberikan semangat dan dukungan. Banyak sekali hal yang saya alami ketika menjadi peserta ELTA IV Papua-Papua Barat (PPB) dan hal yang paling berharga adalah kami (para peserta ELTA) menjadi keluarga bagi satu sama lain.

"Biarkan semua berlalu dengan indah, tidak perlu menanggapi perkataan orang yang tidak bermanfaat. Hidup adalah anugerah yang perlu dinikmati dan disyukuri. Ambilah manfaat dari setiap pengalaman hidup dan senantiasa berfikir positif, cerdas pikiran dan perasaan",begitu pesan saya untuk diri sendiri saat itu.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan sahabat-sahabat terbaik yang dengan ikhlas mendoakan perjalanan hidup saya (seperti orang pidato ya, hihihihi.....maaf ya).

Let's continue to the real story....


2. Persiapan Keberangkatan

Setelah mendapatkan email dari tim ELTA Papua-Papua Barat, saya diharuskan mengisi form dan menandatangani surat perjanjian/ kontrak dan mengirimkannya kembali. Intinya adalah surat kontrak itu berisi kesepakatan antara kita sebagai peserta ELTA dengan pihak penyelenggara. Ini tentunya sangat penting karena kita akan melewati fase belajar bahasa Inggris selama 3 bulan. Segala urusan yang berkaitan dengan tujuan ELTA akan berhasil dan sinergi dengan adanya kesepakatan diantara kedua pihak. Kurang lebih isi perjanjian sebagai berikut.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

ELTA akan:


  • menyelenggarakan pelatihan English Language Skills Upgrading dan IELTSPreparation secara intensif selama 12 minggu,
  • menyelenggarakan tes IELTS untuk seluruh peserta pelatihan setelah program ELTA,
  • menanggung seluruh biaya kursus dan bahan pelajaran yang dibutuhkan peserta,
  • menanggung uang saku peserta sesuai ketentuan,
  • mendorong dan membimbing peserta dalam pengisian formulir pendaftaran program beasiswa S2 Australia Awards.

Peserta akan:


  • wajib hadir tepat waktu karena kegiatan dimulai pukul 08.00 - 16.00 selama 5 hari per minggu selama 12 minggu, 
  • tidak absen tanpa seizin Pelatih atau Koordinator Program ELTA,
  • wajib menyelesaikan semua tugas kelas dan soal-soal latihan yang diberikan oleh Master Trainer,
  • menggunakan fasilitas yang disediakan agar bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan nilai IELTS peserta minimal 1 jam per hari,
  • bertanggung jawab penuh selama mengikuti program serta mengindahkan etika sopan santun dan saling menghormati,
  • bebas dari tugas/pekerjaan lain dari tempat kerjanya atau tugas apapun yang dapat mengganggu kelancaran program ELTA,
  • dan berupaya untuk melamar program beasiswa S2 Australia Awards setelah program ELTA selesai. 

Wow, amazing. I never thought that I could experience this program. I hope you can take a part of this program as well, especially for those who live in the six targeted provinces. 

Akhirnya waktu itu tiba, setelah semua kontrak dikirim saya pun mengajukan permohonan kepada pimpinan untuk tidak bertugas selama kegiatan berlangsung dan jreng...jreng...jreng ... saya telah keluar dari zona nyaman dan telah mengambil kesempatan untuk belajar lagi.
"Belajarlah dan terus belajar, meski telah menjadi seorang guru kamu harus terus belajar alfrets", hati kecilku bicara.
Memang sebagai warga yang budiman kita harus terus belajar, kita bisa belajar dimana saja, kapan saja dan dari siapa saja. Entah kenapa kini saya begitu puitis sekali ya, memang sastra adalah satu satu ilmu yang saya senangi. (padahal kalau ditanyain mengenai tokoh sastra hanya Chairil Anwar yang ada dalam ingatan, jujur saya sangat sulit mengingat yang lainnya hahahahah......)

Tanggal 7 Januari 2016 semua pakain dan perlengkapan untuk mengikuti kegiatan telah dimasukkan dalam tas. Keesokan harinya (8 Januari) saya pamit dan minta doa restu kepada keluarga dan para sesepuh di sekolah tempat saya mengabdi sebagai guru. Sejujurnya sedih juga mengingat saat itu, karena meninggalkan anak-anak (yang baik hati, yang rajin, yang malas) yang dari mereka saya telah belajar banyak hal, termasuk menjadi pribadi yang sabar. 
"Tidak penting dari siapa kita belajar tentang ilmu kehidupan, siswa di sekolah juga adalah aset untuk kita agar bisa menjadi guru yang baik." (Alfrets, 2017)
Semua doa dan dukungan telah terkumpul, tanggal 9 Januari saya berangkat ke Manokwari. Namun, sebelum sampai di kota tesebut saya harus melewati wilayah Jayapura yang penuh kenangan (ini kota dimana saya menempuh pendidikan sarjana). Karena pesawat tidak bisa langsung dari Merauke - Manokwari, saya harus menginap semalam di Jayapura.   

Sebenarnya beberapa hari sebelum keberangkatan ke tempat pelatihan, saya telah menghubungi teman yang lolos menjadi peserta ELTA. Perkenalkan Eva dan Evi (si kembar) dan saya menyebut mereka berdua- My Twins dan Abinus Sama (Abi). 

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Eva, Evi dan Alfrets (at Sentani Airport)
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Abi dan Alfrets

dan......perjalanan pun dimulai....yeeeeeeee

Mereka bertiga sangat baik dan mudah bergaul, meski saat itu kami baru pertama kali bertemu. Keluarganya twins juga sangat baik, bahkan saya diberi dukungan doa dan mereka menitipkan pesan agar saling membantu selama tinggal di Manokwari. Saya pun telah resmi menjabat menjadi kakak angkat twins sampai saat ini. Abi juga adalah pribadi yang baik, percaya diri dan kritis. 

Bagaimana bisa saya mengenal Abi? 

Pertemuan dengan Abi di ruang tunggu bandara memang terjadi di luar dugaan. Awalnya saya dan twins sedang asik berdiskusi tentang pekerjaan, seketika mata kami tertuju pada seseorang yang sedang menyapa dua peneliti dari Polandia. Ia terlihat begitu aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris sekedar menanyakan apa yang kedua peneliti itu kerjakan. Kami pun begitu kagum, kepada orang yang baru dikenal ia begitu percaya diri berkomunikasi, di saat itu pun saya langsung berpikir - Apa bisa saya melakukannya dengan lancar dan begitu percaya diri? (hati kecilku berkata,"ya alfrets you can do that, believe in yourself")

Pengumuman pun ditujukan kepada kami agar segera naik ke pesawat. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 60 menit antara Jayapura - Manokwari. Setibanya di bandara Rendani, Manokwari, kami melihat orang yang tadi di ruang tunggu bandara Sentani, Jayapura dan segera menyapanya, ternyata dia juga adalah salah satu peserta ELTA. Ya, Abinus Sama. Kami pun akhirnya saling mengenal satu sama lain.


3. Masuk Asrama


Setiba di Manokwari, saya dan twins bergegas ke asrama Badan Diklat Provinsi Papua Barat yang berlokasi di Jl. Andai. Asrama yang cukup jauh dari pusat kota Manokwari, ya mungkin tujuannya agar para peserta bisa fokus belajar dan tujuan kegiatan bisa terlaksana dengan baik. Bangunan asrama putra dan putri terpisah dan cukup nyaman dan ada fasilitas AC jadi peserta gak bakal kepanasan. Pokoknya di set agar akomodasi nyaman bagi peserta. Oh ya, kami juga diberi kontak Koordinator Program ELTA apabila ada hal penting yang perlu didiskusikan. Inilah kami di asrama.

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Sebagian peserta ELTA IV PPB 2016 berada di depan asrama

Saya dan Haniel Uopmabin (yang memakai baju hitam) adalah room-mate, dia berasal dari kabupaten Pegunungan Bintang. Setelah mengenal satu sama lain dan hari semakin sore, kami bersiap-siap untuk beristirahat di kamar yang telah dibagikan oleh tim ELTA karena besoknya adalah Opening Ceremony

4. Acara Pembukaan Program ELTA


Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Acara Pembukaan ELTA IV PPB
Senyum sumringah para peserta ELTA IV PPB terpancarkan karena telah resmi menjadi bagian dari program yang begitu super ini. Saat itu kami berjumlah 27 orang, hal ini dikarenakan beberapa peserta tidak bisa ikut bergabung dengan berbagai halangan. Pada acara pembukaan tersebut turut hadir perwakilan pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat, manajer IALF (Indonesia Australia Language Foundation) Bali (Ibu Caroline Bentley), perwakilan AAI (Ibu Nindya), Koordinator Program ELTA (Ibu Reny Mulyaningsih), dan para Master Trainers (MT) yang hebat (Mr. Dave Sipayung, Ms. Endah Martini, Ms. Tisha Rumbewas dan Ms Rini Irmayasari). Para trainer inilah yang bertugas memberikan pelatihan bahasa Inggris secara intensif kepada kami dan yang membuat saya kagum adalah mereka semua merupakan alumni Australia Awards. 

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Peserta dan  Tim Penyelenggara Program ELTA IV PPB
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Koordinator ELTA IV PPB, Ms Reny Mulyaningsih, memberikan sambutan.
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Peserta ELTA IV PPB mengikuti Opening Ceremony

Setelah acara selesai, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan dibimbing oleh masing-masing MT. Saya beruntung sekali bisa dibimbing oleh Ms. Tisha Rumbewas, kenapa??? karena beliau selain master dalam pengajaran bahasa Inggris, beliau juga alumni Kimia. Itulah yang membuat saya merasa excited. Mungkin beberapa teman lain juga mengalami hal yang sama, tapi kita juga bisa banyak belajar dari para MT lainnya.   

5. Pelatihan Dimulai

Seluruh peserta dibagi menjadi 2 kelas yaitu A dan B.

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Abi, Alfrets, Yandri, Erfal, Eva, Elsi, Denisa, Vanny,
Ester, Maya, Haniel dan Helmi (Class A)
(Hesti dan Demta tidak ada difoto ini)

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Elko, Kukuh, Windy, Grace, Pedro, Riris, Piche, Sherin, Prayudhi,
Hana, Nelis, Rahma, Evi, Raymond dan Jefrry (Class B)

Masing-masing kelas diberi proporsi materi latihan yang sama jadi kami tidak perlu khawatir. Yang perlu kami lakukan adalah datang tepat waktu ke kelas dan menerima pelajaran dengan baik.

You know guys, 

"Tardiness, under any circumstances, is unacceptable." (Prof. Alan Turing)


So, be punctual. Berusaha untuk senantiasa tepat waktu dalam setiap kegiatan. Ok  


Kesulitan dalam belajar dan cara menghadapinya.


Teman-teman, tahukah kalian di awal pelatihan saya begitu sedih mengingat dasar keterampilan bahasa Inggris saya yang tidak begitu bagus. Bahkan untuk membedakan apa itu part of speech saja saya tidak mampu. Misalnya, ketika ditanyakan apa perbedaan adjective dan adverb. Aku pun bingung menjawabnya, tapi karena sudah bertekad untuk menjadi pembelajar yang baik maka saya pun berusaha menemukan cara untuk bisa memahaminya dengan cepat. 

Bagaimana caranya? 

Saya menuliskan kalimat dalam bahasa Inggris dan mulai mengelompokkannya ke dalam tabel: noun, adjective, verb, adverb, pronoun, preposition, determiner, conjunction dan interjection.
Memang membutuhkan waktu, namanya juga belajar ya kan. 

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Belajar mandiri, berusaha semaksimal mungkin.

Tidak hanya secara mandiri, kami juga belajar secara berkelompok. Ketika mengalami kesulitan di kelas, kami bertanya satu sama lain. Ya, we made a lot of efforts in order to be a good English learner

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Helmi, Bu Ester, Kak Vanee dan Demta ( from Class A)
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Kak Jefrry, Pedro, Kukuh, Eva, Riris dan Raymond (from Class B)

Kesulitan lain yang saya hadapi adalah masih belum mampu menjawab pertanyaan dengan kalimat lengkap dan logis. Misalnya, Alfrets, why do some people like extreme sport? Saya hanya menjawab dengan kalimat simple, it is because they want to have experience. Mungkin iya dan menurut saya benar, namun saya seharusnya memberikan sedikit penjelasan mengenai hal tersebut ya contoh seperti; "Probably, extreme sport can give us an extraordinary experience and they like to challenge themselves".  Sayangnya saat itu saya belum bisa menyampaikan jawaban dengan baik dan logis. 



Keluhan-keluhan dalam belajar pun saya bagikan kepada para MT. Mereka begitu baik mendengarkan kesulitan yang saya hadapi. Tidak hanya itu saja, ketika pembelajaran di kelas terasa bosan mereka menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang sangat menarik dan tentunya menyenangkan. So, kesulitan yang dihadapi para peserta menjadi berkurang dan motivasi belajar semakin meningkat. yeye lalalala......


Metode belajar mengajar yang asik dan menyenangkan, namun penuh tantangan.

Menjadi peserta ELTA, memang kita dituntut agar bisa secara mandiri untuk belajar. Setiap peserta memiliki metode yang bermacam-macam dalam meningkatkan semangat belajarnya, namun proses belajar di dalam kelas sangat menentukan pencapaian belajar kita. Tentu saja, para MT telah merencanakan pembelajaran dengan baik, termasuk bagaimana mereka menguasai berbagai metode-metode pengajaran sehingga kelas terasa asik dan menyenangkan. Apa saja yang terjadi? mari simak bersama. 
(Saya hanya merangkum beberapa saja).

Diskusi kelompok
Tentunya belajar bahasa Inggris tidak hanya dengan menghafalkan kosakatanya saja, tetapi bagaimana kosakata tersebut bisa diucapkan dengan benar, ya kan. Setiap hari kita disarankan menggunakan bahasa Inggris di kelas maupun di mana saja selama mengikuti program ini, nah diskusi kelompok yang disisipkan dalam materi sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan listening dan speaking para peserta ELTA. Selain itu kegiatan ini membantu para peserta menjadi semakin percaya diri dalam menyampaikan opini dan berkomunikasi secara umum.

Permainan (Games) yang seru
Games sangat efektif diterapkan di dalam proses pembelajaran. Banyak manfaat yang diperoleh peserta selama program ini karena games yang diberikan bukan sembarang games.  Semua skill dalam bahasa Inggris bisa ter-upgrade karena kegiatan ini. Pokoknya seru sekali sampai saya lupa games apa saja yang sudah saya dan teman-teman ELTA alami. hihihi, ngeles ....padahal emang lupa.

Pembelajaran sikap
Di dalam kelas, kami tidak hanya diberi materi akademik saja untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris. Hal penting yang diberikan adalah bagaimana bersikap yang baik tidak hanya untuk diri pribadi tetapi juga untuk orang lain, terkadang MT menyampaikan pengalaman hidup mereka ketika kuliah di Australia (atau pengalaman kerja/organisasi) sehingga para peserta bisa mengambil pelajaran darinya. 
Nah yang menjadi tantangan adalah secara periodik peserta akan diuji apakah materi yang diberikan telah dipahami dengan baik atau belum yaitu dengan mengikuti pre tes IELTS. Kami dibayangi perasaan was-was bila nilai tidak mencapai target yaitu nilai IELTS overall 5.0, tapi semangat yang membuat kita bisa melewati semuanya dengan baik. Oleh karena itu, jangan pernah lupa dengan slogan maju terus pantang mundur ya, hihihi.    
----------------------------------------------------------------------------------------------

Rutinitas kami di pagi hari mulai dari sarapan - masuk kelas - istirahat - masuk kelas - istirahat (makan siang/sholat) - masuk kelas - balik ke asrama - istirahat (kerja PR) dan tidur. Saat akhir pekan kami lewati dengan kegiatan pribadi, ada yang mengunjungi pantai, ada yang ke rumah kerabatnya, ada yang beribadah ke gereja dan ada yang berolahraga. Intinya, seru guys bisa menjadi peserta ELTA.

Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Makan malam bersama
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
ELTA IV PPB Family Gathering
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Olahraga dulu guys, biar sehat
Welcome to ELTA IV Papua - Papua Barat (Part 2)
Teman-teman dan Ms Tisha Rumbewas beribadah ke gereja

Hari demi hari telah terlewati dengan baik, sampai pada akhirnya terjadi sesuatu .........(to be continued)

Nantikan cerita lainnya di part 3 ya.

2 comments

  1. Wa'alaikumsalam ... Gimana sih Mbak cara buat ikutan ELTA? ITu wilayahnya memang di Papua atau sesuai pilihan kita? Aku belum paham, deh. Belajar sambil terjun praktek kah di sana? Maafkan aku yang kudet ini, euy ...

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)