[ODOP 2018 #3] : Kolak Labu Hangat Suam Suam Kuku


"Sayang, can you help Ibu please?"

"Yes, Ibu?"

"Ambilkan mangkuk plastik untuk Julio dan Ayah, ok?"

"Okay, Ibu."

Lalu, anak periang empat tahun itu dengan langkah ringannya mulai berjalan menuju dish rack dan mengambil tiga mangkuk plastik plus tiga sendok. Dengan hati hati dia kemudian meletakkan tiga piring itu di atas meja makan, sejajar dengan kursi yang sering kami duduki tiap kali makan bersama.

"Sayang, kok tiga mangkuk?"

"Another one is for you, Ibu.."

Aku hanya tersenyum sambil mematikan kompor dan memindahkan satu panci ukuran sedang dari atas kompor ke atas meja makan.

"Ibu dan Ayah hanya butuh satu mangkuk, sayang..."

Sejak Julio masih di kandung badan, bahkan jauh sebelum tanda tanda kehadiran Julio muncul lewat garis merah berjumlah dua, suamiku selalu gemar makan di satu piring saja untuk berdua. Seringkali suamiku tanpa canggung memberikan suapan demi suapan, semata mata agar istrinya yang tubuh macam papan gilasan baju ini sedikit lebih berisi. Hehehe...

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan itu artinya Ayah Julio; suamiku akan segera pulang dari kampus. Aku melirik ke layar HPku. Widih, 16 derajat di luar. Ayah Julio pasti sedang jalan kaki pulang dari kampusnya di Bedford Park. Sebentar, Bedford Park? Terdengar asing, bukan?

Sudah hampir dua tahun ini kami sekeluarga menetap di Adelaide; kota kosmopolitan Australia Selatan sekaligus menjadi kota paling terkenal nomor 5 se-Australia. Aku dan anak laki laki pertama kami sedang bertugas menemani Ayah tercinta; Ayah Julio selama dia menempuh S2 di salah satu kampus di Adelaide.

"Assalamualaikum..."

Tuh khan, suamiku datang. Baru juga diomongin.

"Ayah is comiiiiing.. Waalaikumsalam Ayah.." dengan serta merta Julio berlari ke arah pintu dan memutar kunci dua kali.

"Julioo....Ibu masak apa hari ini, sayang?" Julio langsung memeluk ayahnya dan sekarang dia sudah diapit oleh kedua lengan Ayahnya. Mereka segera melangkah masuk.

"Ibu is cooking a special food for you, Ayah..." Mereka berdua sudah berdiri di samping meja makan.

"Wah, ta'jil hari ini apa Ibu?"

"Hmm...pokoknya pas banget buat menghangatkan badan Ayah. Ini diaaaa...." 

"Ayo ayo Julio, kita siap siap. Sekarang sudah pukul 5.15 pm. Lima menit lagi kita akan berbuka puasa..." Ayah mendaratkan Julio di kursinya lalu membuka tutup panci.

"Waaaah...kolak labu kuning...Ini kesukaan siapa Julio?"

"Ayaaaaaah...."

"Iya, benarr....sekarang Ayah ambilin buat Julio dulu yaaa... Makan yang cukup biar sehat, sayang."

Lima menit kemudian alarm waktu berbuka untuk Adelaide berbunyi dan itu tandanya kami bisa segera menikmati ta'jil bersama.

"Ayah, pray first...ok?"

"Sure, Julio...."

Kami segera duduk, mengitari meja makan, saling berhadapan dan merapalkan doa bersama. Di sela sela berdoa, rasa bersyukur terus membumbung. Rasa syukur untuk selalu menikmati momentum puasa bersama dengan orang orang terdekat, orang orang tersayang yang Allah titipkan untuk melengkapi hidupku. Rasa syukur akan suami yang terus mengayomi dan memberi tauladan yang baik untukku dan anak kami, rasa syukur untuk kehadiran buah hati yang menjadi pelengkap rumah tangga kami, sumber kebahagiaan  dan penambah rasa syukur yang kian meletup letup.

"Let's eat Ibu, Julio..."

"Yes, Ayah...."

Udara super dingin di luar terbayar sudah dengan kolak labu hangat yang langsung disantap oleh suami dan anakku. Ta'jil kali ini aku namakan "Kolak Labu Hangat Suam Suam Kuku".

Kehangatan tidak hanya tercipta dari kolak labu buatanku, tapi juga dari dapur kecil ini.

"Ayah Julio, I love you.."

#RWCODOP2018 #onedayonepost 





1 comment

  1. Hai mbk mey. Sudah lama tdk kesini. Apa kabar mbk? Hehe. Baca cerpen ini jadi pengen hangatnga kolak labu. Makasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)