Tuesday, 5 June 2018

10 Tips Memenangkan Lomba Storytelling



Bukan cerita biasa. Story telling lebih dari sekedar menceritakan mitos, legenda, cerita rakyat atau fabel. Dalam kompetisi story telling, ternyata banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa keluar dengan menyabet juara 1 atau at least ambil bagian menjadi salah satu pemenangnya. 

Tahun ini (Tahun ajaran 2017/2018) saya berkesempatan untuk melatih dan mendampingi anak anak SD Islam, Alam dan Sains Al Jannah untuk berkompetisi dalam lomba Story Telling. Ada empat kompetisi yang kami ikuti, yaitu : LIA Cibubur English Competition 2017, Margonda Fest 2017, Al Ma'ruf  Story Telling Competition 2017 dan yang keeempat adalah Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.
Alhamdulillah, dari keempat kompetisi, Al Jannah mampu menjadi juara kedua di LIA Cibubur English Competition 2017 dan menjadi juara pertama di tiga kompetisi lainnya, yaitu Margonda Fest, Al Ma'ruf Story Telling Competition dan Story Telling Competition in MTS N 7 Model Jakarta 2018.



Penampilan Nevan di LIA English Competition dan merebut juara 2 


Penampilan Ahna di LIA English Competition dan merebut juara ke-3

Dan dari pengalaman pengalaman yang ada, ternyata berlomba Story Telling tidak sebatas hanya menghafal narasi lalu bercerita di depan juri dan penonton. Lebih dari itu lho, bu. Ada banyak hal yang harus diperhatikan supaya anak murid kita bisa tampil memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik.

Nah, kali ini saya akan menulis tentang tips/ hal hal yang harus diperhatikan dalam kompetisi story telling. Check this out!

1. Memilih murid

Agak sulit menentukan siapa yang akan maju untuk kompetisi story telling, terlebih biasanya ada kuota tertentu dari masing masing kompetisi. Atau bila berbayar, sekolah hanya menentukan jumlah tertentu untuk lomba itu. Misalnya untuk lomba di MTS N 7 Model Jakarta, sekolah hanya menunjuk satu perwakilan saja. Artinya, kita hanya punya satu peluang saja tanpa cadangan. Alhamdulillah, kita tetap bisa membawa piala kemenangan. Ada beberapa kriteria dalam memilih kandidat lomba ; kemampuan Bahasa Inggris, level percaya diri anak, antusias mengikuti lomba, kerja keras dalam berlatih dan peran orang tuanya. 

Di lomba lomba seeprti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan, terlebih orang tua yang juga mampu menguasai Bahasa Inggris. Latihan bisa lebih maksimal di rumah, bukan? Dan juga orang tua yang bisa diajak kerjasama perihal kostum. Dari keempat lomba itu, semua kostum dibeli atau dipinjam oleh orang tuanya masing masing. Dukungan moril dari mengantar anak dan ikut mengabadikan momen juga teramat berarti karena anak menjadi lebih percaya diri dan semangat. Alhasil, bisa menang deh :)

2. Memilih Cerita. 

Yang paling penting dalam story telling adalah cerita yang dibawakan. Sebelum kita menentukan judul cerita, kita harus menjawab pertanyaan pertanyaan berikut ini.

- Apakah cerita kita sesuai dengan tema?

- Apakah ide cerita kita menarik/spesial/tidak pasaran?

- Apakah cerita kita mengandung moral value?

Hal pertama yang kita perhatikan adalah tema dari lomba. Kita harus teliti benar benar saat membaca syarat lomba, terutama dengan tema. Biasanya setiap lomba akan mengusung tema yang berbeda, misalnya lomba di LIA Cibubur tentang makanan tradisional, berbeda dengan tema di MTS N 7 Model Jakarta tentang fabel, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga kompetisi dengan tema yang lebih dari satu, semisal folklore, fable dan fairytale.

Pernah saat mengikuti Technical Meeting di salah satu lomba ada salah satu guru dari sekolah lain protes perihal tema. Tema yang telah ditentukan adalah folklore (dan sudah dituliskan di website pendaftaran) , tetapi beliau sudah terlanjur berlatih bersama murid muridnya cerita bertemakan fabel. Jadi, jangan sampai salah ya, pak karena kesesuaian tema juga menjadi salah satu kriteria penilaian.

3. Teknik dan gaya bercerita

Teknik dan gaya bercerita berkaitan dengan gerakan tubuh (gesture) selama membawakan cerita seperti gerakan tangan, kaki, dll.

Selama mengikuti dan mengamati para peserta lomba, ada dua teknik yang bisa digunakan saat bercerita. Yang pertama adalah dengan menggunakan puppet atau boneka dan yang kedua adalah bermain peran atau si pencerita sendiri yang menjadi puppetnya. Ada juga yang menggunakan kedua duanya.

Tapi, saya pribadi lebih suka bercerita dengan memerankan peran itu sendiri daripada hanya menggunakan puppet. Mengapa? Karena dengan memerankan peran itu sendiri, gerakan tangan dan kaki pasti akan lebih bebas da ekspresi wajah akan lebih terlihat. Dan jelas ini menjadi kekuatan dari story telling itu sendiri. Ambil contoh Diajeng saat dia memerankan Owl dalam ceritanya yang berjudul "The seven witted fox and the one witted owl". Alih alih menggunakan dua puppet berbentuk burung hantu dan serigala, dia memilih menjadi owl (dengan kostum yang sesuai). Dia juga bisa menggunakan atribut lain seperti senjata mainan saat dia berganti peran menjadi para pemburu. Nah, Diajeng bisa mengeksplorasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan lebih baik.

Penampilan Diajeng di Story Telling Competition SD Islam Al Ma'ruf dan berhasil menjadi juara 1

4. Intonasi

Intonasi berkaitan dengan cepat lambatnya pembawaan cerita. Intonasi juga berperan mengundang penonton untuk tertarik dengan cerita yang dibawakan. Dengan intonasi yang sesuai; tidak terlalu lambat dan terburu buru, para penonton bisa mengerti isi cerita dan tidak bosan mendengarkannya. Jelas intonasi saat story telling sangat berbeda dengan intonasi saat membaca buku atau membaca UUD 1945, bukan? Intonasi yang pas, lalu dikolaborasikan dengan gerakan tubuh akan mampu menarik perhatian penonton.

Ini adalah contoh intonasi yang digunakan oleh Ahna dan mampu menjadi juara Harapan 1.

Baca juga : All About The Three Storyteller Winners (Part 1)

Penampilan Ahna di Al Ma'ruf Story Telling Competition dan mampu membawa pulang juara Harapan 1

5. Interaksi dengan Audiens

Ini berkaitan dengan bagaimana peserta mampu menarik perhatian penonton selama membawakan cerita. Untuk berinteraksi dengan penonton, kita bisa menggunakan sapaan dan pertanyaan. Sapaan yang paling umum misalnya,

"Assalamualaikum wr wb."

"How are you today? Now I'd like to tell you about the Legend of Roro Jonggrang."

Nah, bisa juga kita memberi pertanyaan seperti yang dilakukan oleh Nevan dan Diajeng, semisal

"Have you ever heard about Roro Jonggrang?" atau bisa jadi dengan menanyakan tempat folklore itu terjadi.

"Have you been to Jogjakarta?"

Dengan melibatkan penonton, story telling menjadi lebih interaktif deh :)

6. Suara

Ini adalah salah satu unsur paling penting ya, Pak. Suara berkaitan dengan jangkauan suara peserta selama membawakan cerita, apakah mampu didengar audien atau tidak. Bagaimana penonton bisa megerti isi cerita kalau suaranya saja tidak terdengar, iya kan? Tapi bukan berarti harus teriak teriak juga karena bisa ngos ngosan dan nafas jadi tidak beraturan. Akibatnya, intonasi menjadi tidak terkendali.

Tapi untuk yang bersuara kecil, jangan khawatir. Ada beberapa perlombaan yang memakai speaker untuk para pencerita, kok. Jadi, kita bisa save energi deh. Tapi, kalau kebetulan tidak ada speaker (biasanya dilakukan di dalam ruangan), kita harus bersuara dengan lebih lantang dan keras.

7. Penampilan dan atribut

Salah satu unsur yang paling penting dalam kompetisi yang saya amati adalah kostum. Kostum sangat mampu mendukung kelekatan cerita itu sendiri. Misalnya Nevan memakai kostum tradisional saat bercerita tentang makanan tradisional ; Rendang.

Atau ambil contoh pengalaman Diajeng. Saat mengikuti lomba di Margonda Fest, tidak ada yang spesial dengan kostumnya. Pada saat itu dia membawakan cerita berjudul "Roro Jonggrang". Padahal saat itu kualitas berceritanya menurut saya lebih bagus dari peserta lain. Tetapi kostum yang dipakai hanya baju batik dan kurang mendukung isi cerita. Nah, di kesempatan kedua, yaitu di Al Ma'ruf Story Telling Competition, mama Diajeng bela belain membeli sayap burung hantu berikut topengnya di online shop dan bahkan di hari H, Diajeng memakai make up dan tampil sangat menawan. Serupa ini.

Dengan kualitas story telling yang sama tapi berpenampilan yang lebih niat, Diajeng mampu meraih juara 1!
Baca juga : All About the Three Story Teller Winners (Part 2)
Atribut juga menjadi faktor pendukung yang membuat cerita menjadi semakin hidup. Atribut yang digunakan bisa jadi senjata (yang tampak di bawah kaki Diajeng di atas) untuk peran pemburu, bisa juga puppet atau boneka, jaring jaring dan poster.

Selain itu, kita juga bisa menggunakan backsound lho, Bu. Untuk membuat situasi lebih dramatis dan lebih hidup, Nevan menggunakan backsound saat berlomba di MTS N 7 Model Jakarta (videonya ada di bawah). Karena dia bercerita tentang Lutung Kasarung; cerita rakyat Sunda dari Jawa Barat, dia menggunakan backsound musik tradisional Sunda. Alhasil, situasi menjadi lebih dramatis.

8. Ekspresi

Pencerita yang baik adalah pencerita yang mampu menghidupkan masing masing karakter dalam ceritanya. Dan salah satunya adalah dengan memainkan berbagai macam ekspresi; untuk meyakinkan audien selama membawakan cerita. Misalnya, muka menjadi garang saat adegan marah, atau muka menjadi sedih saat adegan serupa.

Ingat, bercerita bukan hanya menghafal dialog dan naskah semata, tetapi juga menghidupkan cerita seolah olah itu benar benar terjadi. Tidak mungkin kita bercerita tentang Malin Kundang yang dikutuk oleh Ibunya dengan wajah berseri seri, bukan?

Ini adalah contoh saat Nevan bermain ekspresi saat menceritakan Lutung Kasarung dan berhasil membawa pulang juara 1 :)


Penampilan Nevan di Story Telling Competition in MTS N Model 7 Jakarta dan berhasil menjadi juara 1

9. Ketepatan Waktu

Ini berkaitan dengan lama waktu yang dihabiskan selama pembawaan cerita, apakah melebihi batas maksimal atau tidak. Ini juga faktor yang harus diperhatikan ya, Pak. Hampir semua lomba mengatur waktu story telling dari 5 menit sampai 7 menit. Bila peserta menghabiskan waktu kurang dari batas waktu atau melebih batas waktu, maka akan diberikan pinalti yang biasanya berupa pengurangan nilai. Time keeper juga akan berjaga untuk memberikan kode warna sesuai waktu yang sudah dihabiskan.

Misalnya,

a. Rambu warna hijau untuk mulai bercerita
b. Rambu warna kuning setelah waktu mencapai lima menit
c. Rambu warna meraha setelah waktu 7 menit.

Bisa jadi bila waktu sudah habis, panitia akan menghentikan peserta. Widihhh...

Nah, cara yang paling efektif dan sudah terbukti adalah kita harus berlatih dengan merekam murid kita. Dengan begitu kita bisa tahu berapa menit yang dia habiskan untuk bercerita sekaligus bisa menjadi bahan koreksi bila masih ada kekurangan.

10. Rajin berlatih dan Berdoa

 Dan ini adalah cara yang paling mutakhir. Tak ada juara tanpa latihan ya, Bu. Saat lomba kemarin, kami berlatih hampir setiap pagi. Tetapi ada juga yang agak kurang berlatih karena waktu yang mepet. Di sini peran orang tua sangat dibutuhkan karena mereka bisa berlatih dengan lebih bebas di rumah. Biasanya saya akan merekam mereka untuk mengetahui waktu yang dihabiskan sekaligus mengkoreksi hal hal yang dianggap masih kurang atau gerakan yang masih bisa dielaborasi. Video itu nanti saya kirim ke orang tua dan orang tua bisa membantu memberikan penilaian.

Yang terakhir adalah berdoa. Doa mampu menguatkan hati yang rapuh dan melancarkan segala harapan yang ada. Jadi, terus berdoa dan berusaha ya, Pak. InshaAllah usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Itu tadi adalah 10 cara/tips untuk bisa memenangkan Lomba Story Telling. Semoga berguna untuk persiapan kompetisi berikutnya ya :)





No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)