Monday, 4 July 2016

Catatan di Penghujung Ramadhan


Lebaran tinggal lusa gaes, udah beli baju belum? Yang merantau udah pulang kampung belum? yang udah kerja udah siap siap bagi angpau belum? Yang masih jomblo udah punya teman hidup belum? Belum?? SAMA. Pertanyaan terakhir emang agak agak kamfre* gaes. Yang namanya jomblo mah yang berarti belum punya teman hidup. Tapi, kali ini gue nggak akan bahas tentang teman hidup. Gue akan membahas tentang ujung bulan Ramadhan kali ini. 


Lusa udah Lebaran. Apakah gue udah pulang kampung? BELUM. Di saat yang sama saat gue nulis ini, teman SMA gue lagi seneng senengnya berkumpul bersama, bukber seperti tahun tahun sebelumnya. Tapi gue sekarang lagi ada di Jco, minum kopi sendirian sambil liat jalan dan nulis ini, di jarak 500 kilometer. Gue tersisa sendirian di kost sekarang dan untuk menghalau kegalauan yang ada, jadilah gue ke Jco depan Plasa Cibubur. 

Ini adalah kali ketiga, tahun ketiga gue puasa sendirian, jauh dari keluarga. Tapi, dibandingkan tahun tahun sebelumnya, gue sudah lebih sigap menjalani puasa kali ini. Yang biasanya gue bisa lupa sahur sampai 5 kali, tahun ini cuman sekali doang. Yang biasanya buka puasa gue keteteran, tahun ini gue udah punya langganan catering. Begitu gue pulang kerja, gue tinggal ambil ke rumahnya dan nggak perlu galau pilih menu dan antri lagi. 

Puasa kali ini gue udah expert! Dan puasa kali ini gue juga melakukan hal baru; hal yang baru pertama kali gue lakuin sepanjang hidup gue. I'tikaf. I'tikaf adalah berdiam diri di masjid selama semalam sampai Subuh di 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan demi mengejar Lailatul Qadr (turunnya Al-Qur'an). 

"Terus ngapain aja mbak di masjid?" Gue bertanya ke Mba Tuti; eks teman sekost.

"Ya bisa macem macem, Mik. Bisa baca Al-Qur'an, baca buku, merenung, dan tidur."

Dan dengan alasan gue ingin merenungkan tentang hidup gue ini, gue bertekad ikut i'tikaf. Dan demi kenyamanan gue dalam tidur merenung, gue sampai bawa bantal dan selimut ke masjid. Kurang niat apa coba. 

Di sana gue baca Al-Qur'an, sholat sunnah, merenung dan tidur. Salah satu yang menjadi bahan renungan gue adalah tujuan selanjutnya hidup gue. Apakah pada akhirnya gue akan terus ada di kota ini? Kapan gue pindah kerja? Apa rencana gue lima tahun ke depan? Apa lagi inovasi dalam hidup gue yang bisa gue lakukan? Tiga tahun gue menjalani hidup begini-begini-aja kayaknya udah cukup. Tahun ini seharusnya menjadi tahun perubahan dalam hidup gue. Dan hal itu yang menjadi diskusi panjang gue di masjid. 

Di Ramadhan ini gue banyak menilik flashback hidup gue; berasa kayak nonton cuplikan film yang dipilih secara acak. Gue banyak berpikir tentang apa yang telah gue lalui selama ini, tentang banyak hal yang terjadi dalam hidup gue, tentang rasa sakit yang pada akhirnya bisa gue tolerir, tentang kubangan masa lalu yang akhirnya bisa gue tinggalkan, tentang hal hal baik yang terjadi di hidup gue yang harus gue syukuri dan juga tentang hijab yang sudah gue kenakan selama enam tahun terakhir tanpa adanya perubahan yang signifikan. Dan gue yakin, gue akan jadi pribadi yang lebih baik!

Okaaaaay, dan besok pagi gue akan berangkat pagi pagi ke stasiun Senen! Gue akan pulang dan bertemu dengan keluarga serta teman teman gue di kampung halaman. Gue akan merayakan Idul Fitri di kampung gue! Yeayyy!!

Semoga Lebaran tahun ini memberikan berkah untuk kita semua gaes, biar hidup kita bisa lebih baik dan penuh barokah. Aamiin...

Xoxo,
Meykke Santoso 


1 comment:

  1. kayaknya pengalaman puasa menjadi anak perantauan sudah khatam yaa. bahkan tahun ini bisa lebih santai dibanding tahun-tahun sebelumnya. keren kak mey!

    aduhh, i'tikaf di masjid itu memang media perenungan yang dahsyat sekali. apalagi kalau dilakukan di 10 malam terakhir bulan ramadhan seperti itu.

    ReplyDelete