Friday, 22 April 2016

Undangan Mantan


"Ningrum habis liat undangan pernikahan mantannya di facebook." Aku tertegun. Aku tahu kalau Ningrum akan lebih daripada hanya sekedar tertegun. 

Aku segera melongok ke depan. Mata Ningrum tiba tiba penuh semburat merah dengan banyak kaca; berkaca kaca. Bibirnya bergetar getar dan hidungnya memuai menjadi sebesar jambu air. Wajahnya memerah. Melirik sedikit ke bawah, jari jarinya yang menggenggam HPnya mendadak menggigil. Hatinya, kawan....seakan dikenai bom seeksplosif bom Hiroshima dan Nagasaki yang diledakkan secara bersamaan, bertubi tubi.

"Samsul dan Melinda" Tertulis meliuk liuk di layar HP Ningrum, terus meliuk dan menancap ke jantung hati Ningrum.

"Udah...khan namanya juga emang kalian udah pisah..." Aku mencoba membuka percakapan yang justru meruntuhkan pertahanan Ningrum. Dia tiba tiba menunduk, memangkukan kepalanya di tangannya sedemikian rupa. Dia terisak. Siapapun yang membaca ini juga akan tahu apa yang terjadi.


Ningrum sedang mengidap cinta yang sulit. Bukan, cinta tak pernah sulit. Dia hanya sedang mengidap cinta yang menyulitkan dirinya sendiri. Cinta yang tidak bisa dikenai tombol on dan off, pause dan stop. Cinta yang hanya di semburkan untuk melukai dirinya sendiri. Dan pada akhirnya kenyataan harus menampar wajahnya, melukai sekujur hatinya.

"Dia tak lagi mencintaimu. Dia mencintai hati yang baru."

Siang itu airmata Ningrum meruah ruah bak semburan lumpur Sidoarjo. Entah apa yang dia tangisi. Apakah dia menangisi mantannya yang begitu cepat menemukan ruang teduh yang baru, atau justru dia menangisi dirinya sendiri yang masih bergumul dengan kubangan tak kasat mata yang bernama 'masa lalu penuh cinta'. Dan hanya cinta milik dia yang tinggal sendirian.  

Perpisahan sebenarnya bukan hal yang mengerikan. Yang lebih mengerikan dari sekedar perpisahan adalah cinta yang tersisa. 

"Ini bukan hanya sisa." Airmata Ningrum menjawab apa yang aku pikirkan. Cinta yang dia miliki ternyata bukan sisa, kawan. Karena dia memang tak pernah menghabiskannya. Tak pernah mencoba.

"Cinta itu mengerikan". Ah, rasa rasanya tidak adil bila aku berkata begitu. Cinta adalah kodrat illahi yang paling suci. Cinta adalah hal paling berharga di sekujur dunia dan Galaksi Bima Sakti. Cinta adalah ikatan paling hakiki. 

Ningrum masih saja meluluhlantahkan hatinya, menjadikannya serpihan kaca, lalu menikam dirinya sendiri bertalu talu. Dia lalu akan menangis semalaman, dan berlanjut di malam malam berikutnya. Cintanya sendiri yang menikam hatinya begitu dalam, mengoyak ngoyak setiap pecahan hatinya, menjadikannya pribadi yang rapuh. Dia termakan masa lalu, yang bahkan pelaku masa lalunya pun sudah berjalan gagah menjemput bidadarinya. 

Bukankah ini ironis? 

Entah cinta macam apa yang sedang mengendap di hatinya, yang membuat pelupuk matanya tak pernah mengering, yang membuat hatinya melepuh.

Bukankah ini tragis?

Cinta yang dulu menyatukan dua orang manusia, pada akhirnya menerbangkan seorang dan menenggelamkan seorang lainnya. Menghujani warna pelangi pada seorang dan menghujani sembilu penuh pilu pada seorang lainnya. Menciptakan hidup yang baru pada seorang dan mengakhiri harapan hidup yang baru pada seorang lainnya.

Ningrum pada akhirnya hanya bisa meratapi harapannya yang berakhir nihil, menangisi kenyataan yang berakhir hambar dan menyelami hatinya yang penuh dengan empedu masa lalu. 

Memang seharusnya kita bunuh saja masa lalu. Kita akhiri semua yang memang sudah berakhir. Kita kubur dalam dalam. Hingga pada akhirnya di suatu pagi yang cerah, Ningrum bisa membuka mata. Tepat di pelupuk matanya, sepasang mata lainnya masih tertidur pulas. Sepasang mata yang tidak akan pernah berpaling dari manik mata Ningrum. Sepasang mata dengan sepasang lengan yang siap sedia menghadapi hujan bersama Ningrum. Sepasang mata dengan sepasang paru paru yang siap menghirup udara yang sama, dengan sepasang kaki yang selalu sederap seiya sekata. Cinta yang menghidupkan hidup. Cinta yang menyunggingkan senyum dan menyejukkan hati. Cinta yang mendinginkan tanpa membiarkannya menggigil sendirian.

Maka, cinta akan menghidupkan hidup manusia. Maka, cinta akan menemukan tempatnya seperti burung menemukan tangkai pohon dan ikan menemukan karang karang. 



3 comments:

  1. Nyesek juga ya dapet kado dari mantan kalo kita belum bisa ngelupain. Apapun keadaannya tetep kita harus melupakan mantan. Toh dia juga udah pasti ngelupain kita kan. :)

    ReplyDelete
  2. Hehe.. Tak ada salahnya menyisakan cinta di masa lalu. Tapi tak berarti harus berhenti mencari yang baru.

    Terimakasih ceritanya, Mey. Yang galau-galauan kaya gini selalu bisa gue nikmati.

    ReplyDelete