Wednesday, 4 November 2015

"Aku juga punya rasa,punya hati"


“Dorrr!!!”

“Eh setan setan setan!” Gue terperanjat seketika. Hampir saja gue lompat dari pohon saking kagetnya. Kunti kalau ngagetin emang nggak liat liat keadaan. Dia mah suka gitu orangnya.

“Iye, gue emang setan. Kenapa?” Kunti lalu duduk di sebelah gue sembari menatap ke arah yang sama. Seorang gadis sedang ngobrol mesra dengan seorang cowok yang kalau diliat dari tahi lalatnya, mereka umurnya hampir sama.

“Owh, lo mau beraksi lagi sehabis ini?”

“Hah?? Beraksi apaan?” Perasaan gue nggak pernah atraksi apa apa.

“Lo pikir gue nggak tahu kalau selama ini lo yang suka matahin dahan tiba tiba atau nimpuk cowok cowok yang ke rumah Lintang pake buah durian?” Gue tersedak ludah sendiri saking kagetnya.

“Gimana lo bisa tahu?”

“Hiiiiiiihihihihihi...Hiiiiiiiiihihihihihi” Kunti malah ketawa.

“Ihhh!! Diem ah! Nakutin tauk!!” Makanya orang orang takut sama Kuntilanak. Gue aja yang sama sama setan suka merinding tiap Kunti ketawa. Suaranya kayak tikus kecepit pintu darurat pesawat terbang.

“Malam ini lo mau ngapain lagi?”

“Gue mau pamitan.”


“Setelah semua yang lo lakuin buat dia??” Pertanyaan Kunti sekonyong konyongnya melemparkan ingatan gue ke belakang. Entah sudah berapa kali gue menggagalkan malam mingguan Lintang. Pernah suatu ketika seorang cowok datang ke rumah Lintang. Dia terlihat sangat trendi memakai kemeja yang lengannya digulung sampai siku bersanding dengan bawahan jeans bolel. Rambutnya model spike sempurna dengan gel yang menyebar ke segala penjuru arah mata angin. Sedangkan gue? Gue cuman pake kolor warna item kagak pernah ganti. Rambut gue juga hanya seikat. Gue tampak seperti Upin.  Di situ kadang gue merasa sedih. Malam itu gue tahu dia bakalan ngapelin Lintang. Itu nggak bisa dibiarkan. Dia memarkirkan mobilnya dan sedang akan beranjak turun saat gue menahan pintu mobilnya. Di hitungan ketiga, gue tiba tiba sudah ada di depan kaca depan.

“BAAAAAAAA!!!!!” Gue menyeringai dan memperlihatkan gigi gue yang nggak pernah gue sikat sejak tahun 1987.

Sekonyong konyongnya cowok berjambul trendi itu kaget dunia akherat.

“SEEEE SEEEE SEEEETTTTTTT!!!”

“SETAAAAANNN, Oncom!!” Yaelah bilang setan aja susah amat.

“HUAAAAAAAAAAA!!!” Dia cepat cepat menyalakan mesin mobilnya dan menghambur pergi. Gue liat Lintang menatap kepergian cowok itu dengan penuh keheranan. Cowok itu nggak pernah datang ke rumah Lintang lagi. Namun, sebulan kemudian seorang cowok berbeda datang ke rumah Lintang. Namanya David. Gue tahu dari percakapan via telpon Lintang dan David menjelang magrib. Saat itu gue sedang main di kamar Lintang. Terkadang gue bersyukur menjadi setan. Gue bisa melihat sosok yang gue suka kapan pun yang gue mau. Gue juga bisa menunggu Lintang bangun. Biasanya dia akan bangun pukul 5 pagi. Dia akan menggeliat sebanyak lima kali lalu tangannya akan menyambar sebuah HP yang dia letakkan tepat di bawah bantalnya. Dia akan masuk ke jejaring social bernama PATH dan menekan tombol bangun. Lalu, semua teman PATH nya akan tahu kalau dia sudah bangun. Walau gue habis pikir  tentang alasan apa perlunya Lintang update status dia bangun jam berapa di PATH, tetapi dia nggak pernah absen nulis di PATH. Lalu, dia akan membersihkan ilernya dan menyipitkan matanya dengan rambut yang diacak secara teratur.

“Cekrek!!” Dia mengabadikan wajahnya dengan bibir dimonyongkan menyerupai bebek dan kembali memosting fotonya di PATH dengan caption, “Selamat Pagi Duniaaaaaaa...”. Lintang memang anak alay jaman sekarang. Tapi, gue tetap suka. Bahkan, gue tahu betul setiap jam 2 dini hari Lintang mulai mengorok sembari menciptakan pulau berbentuk pulai Kalimantan setengah jadi. Gue lebih mengerti Lintang daripada semua cowok yang pernah datang ke rumah Lintang. Malamnya, gue kembali menggagalkan kencan Lintang bersama David.

“Tapi, sengerti apapun lo sama dia, dia nggak bakalan ngertiin lo.” Suara Kunti membuyarkan lamunan gue.

“Iya. Malam ini gue akan bilang ke dia.”

“APPAAAA???? Lo ini udah setan, gila lagi! Gimana bisa??”

“Apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh cinta?” Kunti gumoh setelah mendengar apa yang barusan gue lakukan. Iya, malam ini gue akan mengatakan ini kepada Lintang. Malam ini gue nggak akan nakut nakutin calon pacar Lintang. Gue udah insaf dan tobat nasuha. Gue akan kembali ke jalan yang benar.

Maka, saat Lintang duduk di balkon sembari minum kopi setelah calon pacarnya pergi,  gue menyiapkan diri. Gue memakai gel rambut biar rambut gue bisa tertancap sempurna di kepala. Gue juga ganti kolor dengan warna pink yang menandakan gue sedang jatuh cinta. Tak lupa gue berdo’a agar semuanya berjalan lancar. Gue mulai bergelantungan di dahan pohon dan meloncat di balkon. Gue tiupkan angin agak kencengan dikit biar kayak di film film horor. Di film horor yang sering gue liat, tiap ada angin kenceng berarti ada setan.

“Tumben nih anginnya tiba tiba kenceng...” gumam Lintang.

“Lintang....” Gue mencoba memanggilnya. Lintang celingukan sambil memegang belakang lehernya. Bulu kuduknya meremang. Gue jadi gamang.

“Lintang....” Di panggilan kedua Lintang mulai takut. Dia buru buru akan masuk ke rumah saat gue tiba tiba sudah berdiri di pintu kamarnya. Tercenganglah Lintang saat pertama kali dia ngeliat gue. Matanya membelalak dan wajahnya seketika pucat.

“Tu...Tuuuuu...Tuuuuuuu.....” Lintang kelabakan.

“Tumit??” Gue nanya

“Bukaaaann!!”

“Tukang kayuu???”

“Bukan bukaaaaannn!!!”

“Tumbal??”

“Bisa jadi bisa jadiiii!!!!”

“TUYUL????”

“Iyaaa!!! TUYUUUUUL...MAMA ADA TUYUUUUUUUUL....” Lintang menghambur ke dalam. Seketika keadaan rumah menjadi kalut karena Papa dan Mama Lintang segera memanggil Ustad, sedangkan Lintang terus menangis ketakutan. Hati gue teriris. Gue gagal. Kunti menatap gue dari kejauhan dengan tatapan kasihan. Gue dan Kunti harus cepat cepat pindah sebelum Ustad datang dan menggrebek kita. Emangnya gue setan apaan pake digrebek grebek segala. Sebelum menghilang, di balik pohon beringin Kunti sempat berbisik,

“Yul, Cinta tak harus memiliki..”

 Gue sadar cinta gue kepada Lintang tak akan pernah berakhir bahagia. Toh kita memang tak akan pernah bisa bersama sampai kiamat sekalipun. Sejak saat itu, gue mencoba untuk move on.

“Kunti, besok gue akan pergi ke Jakarta.”

“Hah?? Ngapain?”

“Gue mau move on. Dan untuk bisa move on, gue harus pergi yang jauh..”

“Tapi khan di sana nggak ada pohon...”

“Gue bisa tinggal di lampu taman.”


Cinta akhirnya memberi gue keberanian untuk hijrah ke Jakarta. Cinta yang tak bisa gue miliki akhirnya mengantarkan gue untuk bisa memiliki apa yang sebelumnya nggak gue miliki, yaitu tempat tinggal baru. Lampu Taman Waduk Pluit.

14 comments:

  1. Tinggal di Lampu Taman Waduk Pluit lebih indah ya :)

    ReplyDelete
  2. hahaa... ada ada aja.
    bikin ketawa baca ni tulisan

    ReplyDelete
  3. Heheiheiie senyum simpul nih saya

    ReplyDelete
  4. Yang baca ini Insha Allah bisa ketawa dan nangis berbarengan, apalagi sekarang ini kebaperan lagi hitz-hitznya. Wkwkwkwkwk
    Cinta emang buta, tapi kadang cinta bisa bedain yang mana honda jazz dan mana honda beat. :D
    Bahkan ini cinta beda alam, bukannya dapet pujaan hati, tapi malah doi nangis ngeri.

    Ceritanya keren!!

    ReplyDelete
  5. njir ni setan hebat banget bisa tahu umur dari tahi lalat

    lucu ya, kisahnya si tuyul , tapi karena gambarnya pocong saya kira awalnya ini pocong

    btw, ganti template nih mbak

    ReplyDelete
  6. hehe maksa banget si tuyulnya. Pasti setelah ini banyak setan yang ngikutin jejaknya. Kalo beneran gitu kira-kira yang naksir aku siapa ya. mmmm

    ReplyDelete
  7. Walopun udah berjuang ngehalang-halangin gebetannya Lintang tetep aja si tuyul harus nyerah sama keadaan yaa :D
    bahkan untuk sekedar ngasih penjelasan aja sampe Tuyul dipanggilin Pak Ustadz segala, kasian :')

    Emang kadang yang namanya cinta harus sadar diri sih...
    semoga di lampu taman waduk pluit Tuyul bisa menunaikan misinya untuk move on dari Lintang :D

    ReplyDelete
  8. wkwkwkkw pecaaaaah....
    Tadinya gue pikir ini tokoh utamanya pocong, karena ada gambar pocong soweran pula. Tapi di tengah kok ada keterangan koloran, wak wah, antimainstream bener ini anak. :D
    Lucuuuuu. Lanjutin gih xiixix

    ReplyDelete
  9. Lagi dengerin lagunya Isyana Sarasvati yang Tetap Dalam Jiwa. Cocok nih sama ceritanya.

    Kocak kak ceritanya, sudut pandang yang berbeda. Virus BAPER udah sampe ke setan juga, gak cuma anak2 manusia yang kena virusnya. Keknya tuyul spesial pencuri uang, bukan pencuri hati.

    ReplyDelete
  10. Pecah kak mey... Telor gue pecah... Gak jadi masak telir gegara baca tulisan kak Mey...

    Ternyata Baper udah nyampe dunia setan, ya kak. Gue jadi kaget juga kalo ini bener-bener ngerusak dunia Terserahlah persetanan. Soalnya entar kalo ada setan yg mau nakutin orang, karena pernah jadi mantan. Tiba-tibaa nangis di tengah jalan. Ketabrak motor mati keduakalinya... Hahahaha

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...