Friday, 5 June 2015

Ini Soal Temen KOST 12 (Ayo KONDANGAN!!)


Ya. Perjuangan gue dan teman kost Katelia Raya Syariah untuk bisa melihat Esmeralda; salah satu personil kita bersanding di pelaminan belum selesai sampai di sini. Jam menunjukkan jam 10.30 saat kita selesai membidik momen dan bergegas pergi. Karena letak penginapan dan rumah Esmeralda yang cukup jauh, gue dan teman teman akhirnya memutuskan untuk kondangan sekalian pulang.

Lo tau khan arti dari kondangan sekalian pulang?? Ya, gue akan kondangan sambil membawa serta tas rudal gue. Gue udah dandan cantik cantik khan, gue pake baju sehalus sutra yang menjuntai sempurna dengan jilbab yang kalau gue liat liat lagi lebih mirip kayak kopyah milik Aa’ Gym dengan pulasan eye liner yang menukik menantang bulu alis beserta pemulas bibir yang lebih tebal dari biasanya, dengan bawahan wedges setinggi lima centimeter agar tubuh gue lebih tinggi kayak tiang lampu taman Waduk Pluit, ehh...bawa bawa tas segede rudal Rusia yang gelendotan di punggung gue. Mana harus bawa kado untuk Emeralda yang kalau diliat liat lagi orang jadi bingung. Itu kado apa kresek sampah? Di situ kadang gue merasa senang, karena sebentar lagi gue akan foto sama pengantin baru, Esmeralda.

Ini mau kondangan apa mau minggat sebenarnya?

Semua barang udah dibawa, sekarang gue dan teman teman harus cari cara bagaimana bisa menggapai tempat resepsi.

Rencana semula berdasarkan petunjuk dari Esmeralda : Nanti teh naik angkot aja, murah atuh dari penginapan sampai tempat resepsinya cuman 50ribu aja pasti mau. Kamu sewa aja angkotnya buat berempat.

OK! Let’s do it! Pertama tama, gue dan teman teman menghadang angkot. Nah, dapett!!

“Mang, ke Kadungora, Mang. Ini alamatnya. Kita mau sewa sampai rumahnya. Sabaraha?” Setelah mengucapkan kata sabaraha gue bangga. At least, gue tahu bahasa Sunda walo hanya tiga suku kata.

“Sabaraha.”

“Kumaha damang.”

“Bodo teiiiiiingg!!”


“Owh, ini jauh neng...ya..150ribu lah.” Lah, kenapa jadi triple begini??

“Hahh, kok mahal? 50 lah mang..” Mungkin karena kita pake baju pesta dikiranya dompet kita tebel. Harusnya kita nyamar dulu pake seragam SMA.

Harusnya gue ganti baju dulu macam ini.

“Abang, adek mau ke Kadungora, bang...mau sekolah.”

“Owh, iya dek. Sini abang anterin...”

“Berapa bang?”

“Buat adek, abang rela dibayar berapa aja. Abang ikhlas.”

Indahnya dunia ini.

Tapi, gue takut kalau gue dan teman teman pake seragam SMA, orang orang nyangka kita nggak pernah naik kelas. Muka sama baju nggak singkron.

“Ya udah 75 ribu, bang...”

“Nggak bisa neng, Kadungora itu jauhh...”

“Ya udah, 100 lah mang...plissss...”

“Jauh neeeng...150ribu.”

“Ahh, mendingora mang.. Larang men jan...”

“Mendingora dimananya Kadungora neng??”

“MENDING ORA USAH!! LARANG ANGKOTE, PAKLEEEEEEKKK!!!"

Gue emosi. Pak sopir emosi. High heels Marimar juga emosi. Nggak jadi. Tapi, ternyata sopir itu loyalitas dan kekompakannya sangat luar biasa. Begitu dia jalan, dia ketemu angkot yang berlawanan arah, mereka berhenti dan membisikkan sesuatu. Nah, angkot yang ke atas jalan, dan bertemu lagi ke angkot yang ke arah bawah atau Kadungora, mereka ngrumpi dulu. Begitu gue berhentiin angkotnya, pak sopir udah menunjukkan raut muka mencurigakan.

“Kadungora neng??”Buseet!! Ini sopir apa dukun?

“Iya bang..”

“Ayo, 150ribu neng..”

OK Fine!! Mereka para angkot Garut telah bersekutu dan menyerang Charlie Angel Syariah. Mereka telah bisik bisik tetangga.

“Noh, lo liat empat cewek pake baju coklat kayak nasi goreng di sana. Mereka mau ke Kedongora, tapi nggak mau bayar 150ribu. Kalo lo sampe ngangkut tuh eneng eneng di bawah 150ribu, persahabatan kita berakhir sekarang juga!!Tapi lo harus ati ati. Sandal mereka gede gede, apalagi yang pake tas item gede, sandalnya kayak bambu runcing.”

“Oke, bro.”

--

Karena frustasi, gue dan teman teman gue memutuskan untuk naik dokar a.k.a delman!! Gue rasa kita emang butuh sedikit udara segar. Naik dokar di sini jelas sangat mengasyikkan karena udara tak terlalu panas dan no pollution. Beda cerita kalo gue naik delman di Jeckardah sana. Seneng kaga, disrempet KOPAJA iya.

“Woyyy!! MINGGIR WOYYY!! KOPAJA MAU LEWAAATT. TABRAK NIHHH TABRAKKKK!!!”

Naudzubillah,ngebayangin aja bikin gue merinding disco. Kopaja emang gitu, nggak ngertiin perasaan koda.

Akhirnya, gue, Marimar, Barbara dan Casandra nyanyi dulu biar soy.

“tuktiktaktiktuktiktaktiktuuuuukk...ku duduk di muka supaya baik jalannyaaaaaa....”

Terakhir kali gue naik dokar macam begini tuh saat gue di Bandungan-Ambarawa, kota kecil asal gue di Semarang sana. Di sana, udara lebih sejuk dengan pemandangan yang lebih amboy. Gue benar benar kangen pingin pulang. Tapi, setidaknya kerinduan gue akan Ambarawa sedikit terobati dengan ide brilian Barbara ini. Iye, dia yang dengan penuh semangat mengajak kita naik dokarr!!

“Udah, kita udah dimusuhi sama angkot se-Garut. Ini adalah jalan satu satunya. Naik dokarr!!”

“Tapi mbak, kita khan masing masing bawa tas segede gaban, emang muat??”Casandra interupsi.

“Muat neeeng...muat..” Abang dokar siap menjemput rejeki.

“Tapi, kita udah cantik begini, mana pake wedges dan heels, masa naik dokaaar??” Marimar protes.

“Laaaah!! Lo ga tau Cinderella yang sepatunya aja kaca begitu naik apaaa??”

“Ya itu khan kereta kencana mbaaaaak...Ibu peri yang bikin..kereeeen...berlapis emas..” Gue sekarang mengajukan orasi.

“Apa kata pepatah Bahasa Indonesia bilang yang pake rotan rotan itu coba??” Barbara bersikeras.

“Tak ada rotan, akar pun jadi??” Gue menebak.

“Tuh, lo pintar. Itu artinya..tak ada kereta kencana, kereta seadanya pun jadi...DOKARRR!!NAIK!!”

Akhirnya, keempat putri abal abal naik kereta kencana ala ala. Dan kita semua bahagiaaaaa... Naik dokar itu tenyata seru bangettt!! Walopun naiknya susah karena rok merumbai kemana mana, mana pake sepatu hak tinggi semua udah macam kayak main akrobat begini, tapi sensasi tersendal sendal kuda emang asik!! TUK TIK TAK TIK TUK!! Lo tahu kita bayar berapa? Dua puluh ribu!!

Kereta kencana kita

tampak grouvi



tampak depan kanan

tampak depan kiri


Belum belum...ini belum selesai. Kita harus tetap menyewa angkot. Hanya saja di bawah, angkot yang ini tidak sama dengan angkot yang tadi karena berbeda trayek ato jurusan. Setelah melakukan negoisasi dan Marimar berkedip sebanyak lima kali, sopir menyetujui untuk mengantarkan kita dengan membayar 80ribu! Let’s goooo!!

Rok sehalus sutra udah disetrika dengan sepenuh jiwa, laaah...buat beginian... T.T
AKHIRNYAAAA, SODARA SODARAAAA!!! Setelah menempuh perjalanan begitu jauh dan berliku liku, kita berempat bisa sampai juga di pernikahan Esmeralda. Setelah makan dan menunggu, akhirnya kita bisa begini!!


Sumpah, gue nggak ngerti bapak bapak ngapain mana pake nylempit2 ke sana.



Tapi, sayangnya Esmeralda tak mengenakan jalinan bunga di pundaknya seperti pernikahan adat Jawa. Upaya untuk minta bunga sirna sudah.

“Makasih yaaaa...udah dateeeng...Kapan nih pada nyusul??”

“Doain aja Esmeraldaaa...” Jawaban mainstream kompak keluar dari mulut kita.

Karena bagi gue, menikah adalah keputusan paling besar umat manusia, melebihi keputusan mau makan siang pake apa, kuliah dimana, atau ambil jurusan apa. Kayak temen gue, begitu dia kuliah dan dia sadar kalau jurusan yang dia pilih salah, dia bisa ganti fakultas sampai ganti universitas. Lah kalau menikah??

Apa iya kita harus menua dengan pilihan yang salah?? Apa iya kita harus berbagi hari tanpa berbagi hati?? Menikah buat gue bukan barang main main. Ini akan menentukan kemana arah sisa hidup kita. Ini akan menentukan cara hidup kita selanjutnya. Ini akan menentukan segala sisi kehidupan yang kita punya.

Bahkan, kata orang menikah bukan melulu soal “Aku cinta sama kamu, yuk kita nikah!”. Karena cinta bersifat hormonal dan sementara. Sekarang cinta belum tentu lima, sepuluh, lima belas tahun kemudian masih memendam rasa cinta yang sama walo kata Ed Sheeran :

And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23"

Tapi, rasa saling menghormati, menghargai dan rasa saling memiliki serta komitmen untuk terus hidup bersama yang bisa menyatukan hati sampai mati. Begitu kata pak Mario Teguh atau akan gue rangkum di pelajaran hidup nomor 78 :

“Jangan menikah hanya karena cinta. Cinta bersifat hormonal dengan rentan waktu sementara. Rasa saling memiliki, sifat saling menghargai dan komitmen untuk terus bersama dalam suka duka adalah alasan mengapa sepasang kakek nenek masih saling bergenggaman tangan di akhir perjalanan”

Jam 2 siang kita harus pulang karena harus kembali ke Jakarta. Namun, begitu keluar dari resepsi, kita rapuh.

“Lah, kita kan nggak mungkin duduk 4 jam di bis pake baju macam ini?” Marimar bingung. Gue bingung. Tas rudal bingung.

“Ya udah, kita sholat dhuhur sekalian ganti baju gimana? Tuh mushola?” Barbara memberikan ide.

“Bar, tapi musholanya kaca semua...” Casandra sedih. Kita menatap nanar masa depan. Namun, kegamangan kita di tengah jalan menarik simpati seorang Ibu ibu, tetangga Esmeralda.

“Teeeeh...ganti baju di sini aja..sekalian sholat juga bisa...”

“Orang Garut baik baik ya...” Ucap gue sambil memanjatkan syukur ke hadirat Alloh.

Begitu kita ganti baju, kita harus jalan sampai jalan raya sejauh kira kira 500 meter di tengah mentari yang bersinar garang. Namun, sebelumnya gue dan teman teman berfoto di sawah dulu karena di Jakarta nggak ada sawah, adanya emol. Liat noh muka mukanya girang semua. Makelum, di Jakarta jangankan sawah...liat tanah aja susah. Aspal semuaaaaaaa!!










---
Di bis menuju perjalanan pulang gue banyak berpikir. Tentang masa depan. Tentang mengumpulkan niat yang masih berserakan. Tentang meluruskan tujuan agar menuai keberkahan. Mana pake hujan segala di sepanjang perjalanan. Khan gue jadi galau. Gue jadi duduk tak bergeming tepat di pinggir jendela, memandang tetesan bulir air yang mengalir turun meninggalkan uliran berkelok kelok. Ditambah lagu lagu mellow yang menyeruak dari speaker bis Primajasa.

Dan perjalanan menuju Garut usai sampai di sini. Dalam hidup gue, ini adalah kali pertama gue melakukan trip bersama teman jenis lain, yaitu teman kost. Suatu hari nanti, lima atau sepuluh tahun lagi mungkin salah satu dari kita bisa mengecap persahabatan kita saat masih muda.

Casandra : "Lha, ini lho nduk...dhulu waktu mamah masih mudha..."

Anak : "Oh...lha inhi siapha yhang bhibhirnya merah bhanget??"

Casandra : "Ithu Marimar, dhia emang yhang phaling pinther dandan... Ithu khan mamah minta dia makanya bhibhirnya sama warnanya.."

Anak : "Oh...lha itu yhang difoto malah ngeliatin perut?"

Casandra : "Olha ithu...themen mamah yhang suka rebutan wajan, kamar mandhi, sama suka ngejar ngejar kecoak terbhang sama gagang sapu ijuk. Mukul kagak, teriak iyaaaaak. Namanya Mercedes. Katanya sekarang udhah punya anak lima..."

Anak : "Laaaah...mamah nggak pingin adhek lagi?"

Casandra : "Ya nanti rembugan dulu sama papahmu..."

--






12 comments:

  1. asik ceritanya seru mbak... asli...dari awal ngebaca jadi kecanduan pengen baca smpe selesai...tulisan sepanjang itu berasa singkat aja karena menarik...
    hehehehe... bdw asyik ya ke kondamgan naek dokar.
    tp lain lubuk lain ilalang ya, klp ditempatku yg kota kecil kaya gni,, pasti dipermalukan ky gtu. pdhal kan asyik perjalanan ky gtu :(
    sedihnya saya tinggal di kota kecil :(

    ReplyDelete
  2. Ice cubes See makes contemporary together with different fashionable pieces on their set. For those who confer with other type one can find similar continual variations however , utilizing Ice cubes you will get to look at different rolex replica uk on every occasion. Any creators for Ice cubes structure an item different together with alluring to your users. Ice cubes works with producing different colourings together with different variations thrice a good tag heuer replica. Consumers will present terrific working experience utilizing Ice cubes, mainly folks that consider shifts on their layout occasionally. For those who abide by Ice cubes then a appearance will not ever get hold of ancient, as you may can be different all the time everyone dress in any Ice cubes see. Some form of consideration together with care process meant for tag heuer replica uk pieces comprises this particular guidelines. For example other job for ornate art together with systems, a good chanel replica entails rare maintenance together with care. There's lots of regions over the see the place dirt and grime, body system essential oils together with other fatty fibers build-up, which include amongst the one way links over the accessory, the neighborhood connecting to the fact and also bezel, together with surrounding the Cyclops aperture. Regarding frequent take advantage of, you will realize appears these types of dirt and grime fibers for your breitling replica. Anytime these types of fibers are noticed, any see will have to have a maintenance mainly because discussed down the page:

    ReplyDelete
  3. pengalaman yang menari mbak. Emang kadang tukang angkot ngeselin, saya sudah bosan sekali naik angkot dan sudah hafal berbagai jenis kelakuan sopirnya. Saya sudah nggak ingat rasanya naik andong. Waktu itu saya pernah naik, agak takut juga, tapi menyenangkan. Menikah memang bukan persoalan mudah. Membutuhkan kehati-hatian. Karena menikah itu sekali untuk seumur hidup. Sawahnya indah, sawah memang membuat hati ini adem dan tenang. Suasana di desa itu sejuk dan menyenangkan :)

    ReplyDelete
  4. waduh, dokar...rasanya gimana tuh ya
    seumur-umur juga nggak pernah liat kuda jadi penasaran.

    Angkot emang gitu tuh, suka ngeselin, saya pernah diminta ongkos dua kali lipat padahal awalnya si kernet setuju ongkosnya dikurangin sedikit.

    dan itu, setuju banget ama kata-katanya pak Mario Teguh... :)

    ReplyDelete
  5. Aaaaak asik banget gaya ceritanya. Apalagi pas bilang Charlie Angels syariah! kampret kok kepikiran sih hahahha

    Wih asik ya naik dokar, tp difotonya kok gak ada pak kusirnya ya. apa jangan jangan kalian yang bawa sendiri kusrinya gitu haha

    Btw kapan nyusul esmeralda nih?

    ReplyDelete
  6. Adat jawa rupanya ada ya lempar-lempar bunga gitu ya, tapi kan esmeralda itu kan orang sunda?

    Seru gitu ya kalau baca ceritanya kak meyke selalu diselipin humor-humor ringan yang membuatku tertawa diatas penderitaan kak meyke. Nggak bisa ngebayangin deh kalo datang ke sebuah kota tapi malah dibenci sama kang angkot sekota gara-gara nawarnya kebangetan

    Anaknya udah kritis tuh mau minta dedek lagi

    ReplyDelete
  7. Aje gile 150rebu plus 80 rebu, emang sejauh apa sih tempatnya dari tempat kalian nginep? Duit segitu bisa bandung - jakarta naek travel hahaha

    Tapi iya sih, tukang angkot kan suka gitu ngerampok penumpang yang kelihatannya bling bling. Kalau di kota ada isitilah kampungan, mungkin di kampung da isitilah kotaan hha

    Btw, itu gambar sawah yang belakangnya ada gunung mengingatkanku dengan gambar gunung yang suka ku bikin pas SD hha

    ReplyDelete
  8. Wah Kak Mey kapan ke Garuuuut? Kenapa gak lanjut ke Garut Kota-nya mampir ke rumahku haha. Itu Kak Mey nyewa angkot ke Kadungora dari mana kok mahal ya 150?

    Aku pengen ketawa-ketawa sendiri baca kamu naik delman (oh ya di Garut ini namanya delman) dan empet-empetan di angkot pake baju kondangan. Udah gitu bawa tas gede pula. Ya ampun Kak, itu bener-bener unik banget. Seru!

    Iya dong, pasti kesenengan ya nemuin sawah dan pemandangan seger lainnya? Lain kali coba ke Garut lagi ke tempat wisata yang lain Kak, nggak nyesel deh :)

    ReplyDelete
  9. HUwaaaa...

    Ini cerita panjang bener, yak. Kalau gak salah waktu itu baca episot sebelumnya, yang salah bis itu, yak? Yang muter-muter? Ternyata melakukan perjalanan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman, hampir sesulit menjawab pertanyaan 'kapan nyusul' yang begitu mainstream.

    Wkwk. Asli. Kalau aku yang jadi amang-amang supir angkot, ngeliat cewe-cewe berbaju kondangan plus dengan kaki-kaki berjinjit, semua tujuan yang disebutkan akan aku jawaab jauuuuhhhhhhhh, hak hak hak.

    Tapi, endingnya seru. Apalagi yang foto-foto di sawah, asli! Keren! Jarang banget ada sawah yang pas bener di belakangnya keliatan gunung segede itu. Jadi pengen!!

    ReplyDelete
  10. Asli Panjang Bener Sampe Panas Mata Gak Ngedip2

    ReplyDelete