Thursday, 23 April 2015

Ini Soal Temen KOST 9 (Casandra Hilang)



Bagi kami berlima ; Casandra, Barbara, Marimar, Esmeralda dan gue sebagai Mercedes, kumpul makan malam bersama di luar membawa pengaruh yang sangat besar untuk persahabatan kami. Walau pun kami berbeda suku, toh selera makan kami hampir sama. Esmeralda, keturunan Sunda dimana seblak tercipta jelas seiring sejalan dengan Marimar, asli Padang dimana makanan Padang berasal. Mereka gemar menyantap kudapan pedas. Pun gue peranakan Jawa 100% dimana pecel merajalela. Namun, agaknya Barbara dan Casandra sedikit berbeda. Mereka nggak begitu suka pedas. Bahkan, lidah Casandra sangat sensitive terhadap bahan makanan yang mengandung cabe. Ini bisa dilihat saat kita makan seblak bersama di ruang tamu, asli bikinan Esmeralda.
Sumpah!! Seblak bikinan Esmeralda pedessssnya kayak ditabok sandal Swallow

Casandra ngambil seblak satu lapis, minumnya bisa berlapis lapis. Gue khawatir, bisa bisa selesai makan seblak, bukannya kepedasan Casandra malah jadi mirip sapi glonggongan. Beda cerita lagi soal Barbara. Aktivitas Barbara yang sungguh nggak bisa dihilangkan adalah hobinya mengonsumsi kopi hitam setiap pagi.

Gue : “Bar, kok nggak kopi sachet aja sih, yang lebih enak gitu...khan sekarang banyak rasa rasanya, tinggal pilih mau merk apa. Yang ada granulenya juga ada...”

Bar : “Nggak, gue lebih suka kopi item.”

Gue : “Kenapa?? Khan pahit?”

Bar : “Justru itu..dari kopi gue belajar sesuatu...”

Gue : “Minum kopi kok pake belajar segala. Belajar apa?”

Bar : “Belajar untuk mampu menikmati kepahitan.............hidup.”

Gue terhenyak, dan gue merenung sepanjang malam. Hasil dari renungan gue semalam suntuk, ini boleh dicoba. Paginya gue minta kopi itemnya Barbara.

Bar : “Lah, tumben sekarang kamu mau kopi item?”

Gue : “Iya, gue juga pingin belajar.”

Bar : “Kenapa??”

Gue : “Siapa tahu setelah minum kopi ini, gue bisa menikmati setiap cekatan pahit yang melekat di sanubari karena luka luka menganga di tiap tiap dinding hati..”

Gue liat Barbara geleng geleng kepala.

Bar : “Waaah...kalau itu berat...” Akhirnya gue ngemil kopi bubuk milik Barbara. Tapi, aneh. Sepahit pahitnya kopi bubuk yang gue kecap di lidah tak bisa menggantikan kepahitan yang berasal dari hati terkeping yang kepingannya di batas lebur, melebihi bubuk. Namun, sejak saat itu, gue mulai gemar minum kopi hitam sampai sekarang. Gue mulai meninggalkan kopi Torabika dengan granule. Karena apa? Tak perlu minum itu pun hati gue udah penuh dengan granule. Granule of dust, butiran debu. Gue mah gitu orangnya, apa apa jatuhnya baper.

Kopi racikan Barbara menemani gue nulis setiap pagi.
--

3. Dimana Casandra Berada??


Di kumpul ketiga ini, sebuah tragedi terjadi. Sore itu sepulang kerja gue dan Marimar pergi ke sebuah kampus, dimana Barbara bekerja. Biasanya Casandra juga berkumpul bersama kita dahulu. Namun, karena dia juga harus gathering bersama senior seniornya di sebuah bank, tempat dia bekerja, Casandra rencananya akan menyusul.

Barbara : “Makan makan bulan ini, kita di Duren Addict aja, samping Mitra Keluarga situ. Deket, enak, tempatnya baru dan lumayan murah!!” Barbara memberi saran. Kita berlima memang pecinta durian sejati. Ahh, bahkan kita juga pernah pesta durian. Saat itu durian sedang musim musimnya. Banyak penjual dadakan di pinggir jalan yang menjual durian, salak, dan duku. Harganya pun aman. Durian bisa dibandrol mulai harga 10ribu sampai 50ribu.

Marimar : “Kita iuran beli duren yuk! Ada tuh di samping pom bensin sebelum masuk jalan tol dekat Johnson Mall situ. Muraaaahhh!! Nih gue juga abis beli di situ.” Akhirnya kita iuran 20ribu per orang. Namun, masalah baru muncul. Hari sudah malam dan siapa yang rela beli keluar?

Gue : “Udah sana Casandra, lo aja yang beli. Khan motor lo yang lebih gampang dikeluarin.” Gue lihat motor gue terhimpit motor Casandra. Dia nggak bisa banyak bergerak.

Casandra : “Ihhh, maleeeesss... lo aja.”

Marimar : “Ya udah, kalian berdua aja sana berangkat.”

Gue : “Tapi khan yang tau tempatnya lo, Mar..Lo aja sama Casandra.”

Casandra : “Lo aja, Mik!”

Gue : “Nggak, pokoknya lo!”

Casandra : “Looo!!”

Gue : “Looooooooooooooooooo!!!” Gue udah mulai pasang kuda kuda. Lama lama gue gigit juga nih orang.

Barbara : “Kalau kayak gini mulu, makan duren kagak, yang ada kalian malah tawuran. Udah, kalian batu kertas gunting aja. Tapi, Marimar tetep ikut buat jadi penunjuk jalan.” Akhirnya gue dan Casandra suit. Gue sembunyikan jari jari gue di balik leher. Mata casandra memicing ke arah gue, seakan ingin membaca pikiran gue. Mata gue juga gue buat sedramatis mungkin. Bola mata gue gede gedein kayak peran antagonis di sinetron di scene,

“Akan aku racuni diaaah!!!” Mata gue yang emang udah gede gue balik balik atas bawah kiri kanan kayak penari Kecak.

Barbara : “Kalian harus sportif!! Yang kalah jangan tinggi hati dan yang kalah harus legowo. Bukankah hidup ini penuh dengan kalah dan menang, berhasil dan gagal??”
Sebelum Barbara memberikan siraman rohani lebih jauh, gue dan Casandra segera mengibaskan tangan kanan masing masing ke depan dengan sekali hentakan. Nafas gue tercekat!

Gue : “gunting!!”

Casandra : “ker...ahh!!”

Yesss!! Gue menangggg!!! Gue segera berdiri dan melakukan selebrasi. Terimakasih ya Rabb!! Akhirnya dalam naungan awan hitam pekat, Casandra dan Marimar pergi membeli durian. Gue sempat dadain Casandra dari balik jendela.

“Ati ati bebebb....”

 Lima menit kemudian, hujan mengguyur Jakarta. Mereka kehujanan. Tapi aneh, saat pulang wajah mereka tampak berseri seri. Senyum lebar dengan mata berkilatan. Mereka pulang membawa lima buah durian!!! Kita akan pesta poraaaaa!! Kita akan mabuk bersamaaaaah!! Kartini masa sekarang macam kita jelas bisa buka duren sendiri. Esmeralda segera mengambil tempat untuk membelah duren duren itu. Dia membolak balik sebuah duren, mencari garis potong! Lalu, hanya dengan bermodalkan pisau dapur, dia menusuknya, lalu menyayatnya sedemikian rupa dari ujung ke ujung. Bertumpukan lutut, Esmeralda menekan dua sisi duren dengan cengkeraman tangannya.

Marimar : “Esmeralda, FIGHTIIIIINGGG!!!!”

Gue : “Gue yakin lo pasti bisaaa!!!”

Tubuh tiang lampu monas kayak kita cuman bisa jadi pemandu sorak. Esmeralda mengumpulkan titik berat tubuhnya beserta tenaganya di telapak tangannya.

“SATU!!! DUAAAAA!!! TIGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

KLEEEEEK!! Dalam sekali hentakan tangan, duren terbuka sempurna.

"ALHAMDULILLAAAAAAAAAAAAAHHH!!!" Bersama kita sujud syukur ke hadirat Alloh SWT karena akhirnya kita (dengan pembagian tugas Esmeralda buka durennya sisanya membantu doa dan dukungan) bisa membelah durian. Yah, maklum kita mah serumah isinya wanita semua. Mau ada kelabang, tikus, angkat angkat kulkas ya kita sendiri yang ngerjain. Pun membelah durian kita harus bisa mengandalkan diri kita sendiri. Itu mengapa kita harus jadi kartini masa kini yang kuat!! 

“KITA MULAI PESTA KITAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!” Esmeralda memberikan komando. Sedetik kemudian kita melumat duren hingga bersih. 

"Ih, enak bangeeeeetttt!!"

"Nihhh, yang ini lebih enak, lebih pahit dan kuning!!"

"Waaaah, ini yang paling enak nih. SUMPAH, ENAK BANGEEETTTT!!"

Di tengah pesta, Casandra bercerita tentang alasan mengapa dia begitu bahagia malam itu.

Cas : “Gue bahagia dong sama Marimar.”

Gue : “Kenapaaa??”

Cas : “Tau nggak, karena Marimar, kita dikasih bonus satu!! Coba tebak harganya berapa???”

Esmeralda : “Berapaaaa??”

Cas : “25ribu!!!”

Gue : “Buseeet, kenapa bisa begitu?? Orang kita aja belinya yang 20ribu, kenapa bonusnya 25 ribu??? Terus kalian udah makan 1 buah di sana?? ”

Cas : “Udah dooong!! Ini semua berkat Marimar.”

Gue mengerti. Di antara kita, Marimar adalah wanita yang dianugerahi paras paling cantik. Begitu dia tersenyum, laki laki pasti akan deg degan. Dan begitu Marimar berkedip satu kali, laki laki pasti akan memberikan bonus 1 duren seharga 25ribu. Super sekali!!

Malam itu, kita berpesta pora sampai mabuk. Mabuk durian.

----
Dari sensasi durian yang masih melekat di lidah itulah, kita memutuskan untuk mencoba olahan durian ditambah strawberry, bisa ditambah brownis, bisa ditambah keju, macem macem. Pukul 7 malam tanggal muda di bulan Maret sepulang kerja, gue, Barbara, Marimar dan Esmeralda sudah siap sedia. Kita sudah duduk manis di kedai yang baru saja dibuka beberapa minggu yang lalu itu. Kita tinggal menunggu satu bocah absurd, Casandra. Lewat grup BBM dia memberi kabar.

Cas : “Aku berangkat sekarang ya. Dari kost. Abis dari Mall Ciputra gue pulang dulu tadi. Ngecharge HP 15 menit."

Gue : “oke.”


Perjalanan naik motor dari kost kita menuju kedai ini hanya sekitar 5 menit. Bahkan, jalan pun sampai walau memakan waktu sekitar 15 menit. Namun, 15 menit berlalu kita belum melihat tanda tanda penampakan Casandra.

Cas : “Dimana sih kedainya? Aku udah abis nglewatin Mitra nih! Tapi nggak ada apa apa!”

Bar : “Masa sih?? Sebelum Mitra, Casandraaaa....Kedainya juga gede gini.”

Cas : “Aku putar balik lagi. Tungguin aku di tepi jalan Bar.”

Bar : “Bentar ya gaes, gue nungguin Barbara dulu di tepi jalan...” Barbara inisiatif untuk keluar kedai dan menunggu Casandra di  tepi jalan.

Waktu berlalu sampai 15 menit berikutnya dan gue liat dari kejauhan Barbara masih teronggok di tepi jalan. Casandra tak kunjung datang. Padahal kita sudah memberikan instruksi yang sangat jelas. Pertama, kedainya ada tepat sebelum Mitra Keluarga, di sisi kiri jalan kalau kita berangkat dari kos. Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 dan kita sudah foto bertiga sepuas puasnya.



Akhirnya, Barbara masuk lagi ke dalam kedai.

Barbara : “Gimana sih Casandra? Orang dari tadi udah ditungguin juga bilang mulu nggak ada. Masa iya ga bisa liat gue di situ. Tuh, malah BBM kayak gitu.” Gue mencium gelagat kurang baik dari Casandra. Gue khawatir dia belum minum AQUA hari ini. Dia mah gitu orangnya. Kita segera membaca BBM terakhir yang dikirimkan Casandra.

“Gue udh nunggu lama nih di sbelum Mitra. Adanya cmn bengkel. Apa jangan jangan kalian makannya di kedai dalam bengkel??Gue udh muter 3 kali. Batere gue tgl 5%. Cpetan dmn!” 

"Lah dia pikir kita mau ngemil shock bracker sama busi motor pake kedainya di bengkel segala." Barbara kzl.

Dan begitu gue telpon, HP Casandra udah anfal. Harapan kemunculan Casandra lenyap dan akhirnya kita menikmati es duren tanpa Casandra. Di foto pun jelas hanya empat orang.



Puas berbincang panjang tentang kehidupan dan berfoto demi serpihan masa yang terabadikan, akhirnya kita pulang. Di dalam kos, motor Casandra sudah terparkir malang melintang dengn jumawa. Segera gue sisipkan Sera* di antara motornya dan tembok.

“Sera, kamu harus kuat ya...Jangan banyak gerak di sini. See you tomorrow..” Gue mengelus elus kening Sera yang warnanya mulai sedikit memudar karena tiap hari kepanasan.

“Casandraaaa!!” Gue memanggil nama Casandra yang kamarnya tepat di depan kamar gue. Namun, tak ada jawaban. Sejurus kemudian, gue denger Casandra mengobrol pelan di gagang Hpnya. Ah, mungkin dia marah. Padahal sebenarnya gue pingin tanya.

“Casandra, kamu tadi emang sampai mana sih? Jangan jangan kamu sampai Jonggol???” Tapi, gue segera mengurungkan niat gue. Gue takut dia keluar kamar bawa baling baling kipas angin. Malam itu, Casandra tak lagi keluar kamar. Dan misteri Mitra jelas belum terpecahkan.

---
Sehari setelahnya, malam hari....

Malam harinya seperti biasa kita duduk di ruang tamu sambil nonton TV. Emosi Casandra tampaknya mulai stabil. Dia juga ikut duduk bersama. Ini saat yang tepat, batin gue.

Barbara : “Ahh, kemarin enak San..duriannya enak ditambahin keju...”

Gue tau ini akal akalan Barbara untuk mengarah ke situ. Dia memakai taktik pancingan.

Gue : “Iya, San...enak banget. Lo kok bisa nggak sampai sebenarnya lo dimana? Jangan jangan lo sampai Jong...” Barbara buru buru melototin gue. Dia nggak mau ada pertumpahan darah malam itu.

Casandra : “Huft...tau nggak sih..gue sampai muterin tiga kali tapi tetep aja nggak nemu kedainya. Lo tahu mana jalananan macet, batere gue sekarat dan gue capek.”

Marimar : “Tapi kayaknya nggak ada bengkel deh sebelum Mitra.”

Esmeralda : “Iya khan sebelum Mitra ya kedai Durian Addict itu..bengkel dimananya ya?”

Gue mencium gelagat kurang beres. Kayaknya Casandra benar benar belum minum AQUA.

Gue : “Casandra, Mitra kamu Mitra apa?”

Casandra : “Ya Mitra Sepuluh lah, depan kantor kamu khan??”

Esmeralda, Barbara, Marimar, Gue : “WHAAAAAATTTTTTTT???? MITRA SEPULUH????”

Casandra : “Lah, emang mitra apa??” Wajah Casandra innocent sekali.

Barbara : “Pantesan gue tungguin sampai uang kos naik juga nggak bakal ketemu kitaa!! Lo mah jauh di sana, di depan kantornya Miko. Orang ini Mitra Keluarga, ini Rumah Sakiiiiit!! Mitra Sepuluh mah toko bahan baku bangunaaaaannn!!! Subhanallooooh!!"

Gue buru buru tepok jidat ngeliat kelakuan Casandra yang nggak sembuh sembuh. Jarak kost ke Mitra Sepuluh dengan motor sekitar 15 menit kayak tiap hari gue berangkat kerja. Mana dia muterin Mitra Sepuluh sampai tiga kali malam malam. Mau dia muterin Mitra sepuluh tujuh kali sambil lempar jumroh juga nggak bakal ketemu yang namanya Duren Addict! Malam itu sebuah misteri terkuak. Ternyata pemahaman kita tentang Mitra jauh berbeda.

Dari satu hal bisa menjadi dua hal di dalam dua otak orang yang berbeda. Mungkin itu sebabnya sering terjadi kesalahpahaman di dunia ini, karena satu hal yang sama dipandang dengan kacamata yang berbeda. Seperti halnya Mitra di otak kita versus Mitra di otak Casandra. Mungkin saat dia membaca BBM, dia mulai lelah hingga Keluarga di akhir kata Mitra menjadi tak terbaca. Mungkin dia halusinasi. Dia mah gitu orangnya. 

Tapi nggak papa, namanya juga manusia. Tempat salah dan lufa. Alhamdulillah sekarang Casandra udah beli AQUA segalon galonnya. Setiap hari kita juga masih berbagi, dari berbagi cerita, kegalauan, garam dapur sampai terasi buat bikin sambal. Dan gue makin betah tinggal bersama. Gue bersyukur ketemu mereka. Tapi, di makan malam selanjutnya gue ngambek. 

*tobcontinued





11 comments:

  1. gue baru tahu kopi hitam tu bisa ngilangin sakit hati yang ditinggali oleh mantan yang telah nyakitin kita, kenapa bos di kantor gue marah nggak jelas ya pas minum kopi hitam, Apa mungkin dia lelah hahahahahahah, besok gue cobaah minum kopi item siapa tau aja bos gue nggak di marah-marah nggak jelas lagi. AMIN

    ReplyDelete
  2. wahahahha filosofi kopinya dapet. mulai besok, gue juga mau coba minum kopi pahit, manatau paitnya kopi bisa menandingi pahitnya hidup gue. hoho

    coba aja dari dulu kalian minum AQUA, pasti ga bakaln kayak gini ceritanya...

    ReplyDelete
  3. Udah panik padahal Cassandra ngilang ke mana.. ahahaha...

    ReplyDelete
  4. ternyata dalam semua kehidupan kita dapat mempelajari sesuatu walaupun simple kopi pahit adalah filosofi yang baru w tau dari orang galau kaya km ni
    haha

    ReplyDelete
  5. Kak, di atas ada tulisan yang typo, sengaja atau gimana? Kalimatnya ini "Barbara : “Kalian harus sportif!! Yang kalah jangan tinggi hati dan yang kalah harus legowo.."

    Aku sering banget ngomong tentang kopi itam ke pacar, tapi doi tetap aja gak mengerti dan selalu bilang "HIH!!" kalo aku berbicara tentang pembelajaran kehidupan dari pahitnya segelas kopi. Kesalahpahaman memang sering terjadi, ditambah nama tempat yang mirip - mirip.

    Ah, sepertinya cerita berikutnya bakal menarik. Apa kak Meykke yang lupa minum Aqua jadi harus ngambek? Ntahlah, kita tunggu saja :D

    ReplyDelete
  6. Filosofi kopi tentang kehidupan dari berbabra mantep juga ya. minum kopi pait belajar untuk membiasakan merasakan kepaitan dalam hidup ini. :D

    Casandra casandra... ada aja ya nih tingkah anak ini, kayanya bener si casandra gagal fokus gara-gara belum aqua. suruh dia minum agua aja segalon sama galonnya, biar gak gagal fokus lagi. :D

    pesta duren wah kayanya enak bener ya, Ke lima wanita hebat nih, bisa membelah duren sendiri.

    ReplyDelete
  7. Ahahahah

    Eh by teh way, itu seblak apa kerupuk sih? Kok kayak kerupuk ya? Tapi kok gak digoreng? Gak mekar malah basah gitu. Heran gue

    ReplyDelete
  8. Jadi kopi hitam bisa mengajarkan kita tentang kepahitan hidup? Wih, harus coba nih. Soalnya bisanya gue minumnya yang pahit-pahit mulu. Jadi, yang pahit dibikin pura-pura manis deh. :(

    Pada suka durian ya? Kalo gue pribadi sih nggak suka. Nyium baunya aja udah enek. Mau muntah. Nggak kebayang eh gimana kalo gue makan.

    ReplyDelete
  9. Haduh, aku gak suka kopi hitam, aku mah sehitam-sehitamnya kopi bakal aku kasih gula biar manis, gak suka yang pahit. Cukup hidup aja yang pahit, jangan ditambah sama minum yang pahit :')

    ReplyDelete
  10. ahaha, cewek kalo uda akrab gtu ya. kompak banget. sama2 suka duren lagi. tapi, tetep harus jaga kekompakan. terutama disaat ada tragedi semacam salah paham itu. Mungkin ada baiknya Casandra sering2 minum aqua. kalo perlu jualan aqua. biar selalu punya stock utk dminum jadi konsentrasi gk buyar.

    asik bgt pesta durennya. jadi mendadak pengen duren ni . aha

    ReplyDelete
  11. Kak Mei kamu masih ngekos di kosan yang duul, kah? Kenapa sekarang orang-orangnya kok jadi pada baik ya? Apa karena orangnya udah baru? Ah apapun alasannya, syukurlah kamu udah nemunin temen-temen yang baik. Cerita kamu jadi ingetin aku dan temen-temen juga yang penggila durian dan rela nembus ujan demi dapetin segelas es duren beragam topping. Eh kok curhat haha.

    Aku sempet kesel baca cerita Casandra. Masa udah muterin 3x tapi nggak nemu-nemu sih. Eh taunya dia salah pemahaman. Hahahahaha. Pengen rasanya ikut nepokin jidat temen kamu itu Kak :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...