Sunday, 22 February 2015

Sampai di Sini


Aku...
Menapaki tangga dengan lantai yang terus berkicau
Sampai pada kebun dengan gesekan daun ilalang yang mengirim beribu tanya
Dengan angin yang menghembuskan sejuta asa
Lihat, mentari berkilatan karena menginginkan jawab
Bunga menemukan benang sari atas putik yang terus mencari
Aku telah sampai di sini..

Pohon pisang bertunas satu dan lebah tengah mengolah madu
Bunga Desember menjadi banyak dan bahkan seekor ayam beranak pinak
Kacang hijau berkecambah tak peduli ada hati yang tengah bernanah
Aku telah sampai di sini..

Bunga teratai, bunga anggrek dan serumpun bunga lily mengulum senyum
Bertautan tak ingin pisah, memukau terlampau indah
Bunga bangkai goyah
Aku telah sampai di sini...

Terkepung jalinan waktu yang terus berhitung
Tak peduli beku tak kunjung cair
Bara tak kunjung padam
Dan luka tak kunjung hilang

Teronggok di hingar bingar
Dalam semua yang tengah menggelegar
Aku menggaungkan diam
Diamku bukan berarti emas,
Aku hendak berkemas dan malah terhempas
Kandas dan melemas
Dan kini aku telah sampai di sini...

Aku baru melangkah di kebun dengan kicauan burung dan bisikan ilalang
Burung, bisakah kau berkicau tentang langit yang membiru atau awan yang memutih saja?
Seperti saat dulu kita berkalung dasi biru?
Ilalang, bisakah kau berbisik tentang betapa kuatnya kau dihempas angin buritan saja?
Seperti saat dulu kita sering melihat drama Korea bersama?
Mereka menyodorkan jawab dengan nada serupa,
“Kita telah sampai di sini...

Baiklah.
Kita memang telah sampai di sini..
Walau duri menyelimuti tepian hati,
Kita lihat saja apa yang akan terjadi,
NANTI.

                                                                                                                Transyogi-Cibubur , 22.2.2015
                                                                                                                22:06
                                                                                                               




12 comments:

  1. Fokusnya ke
    Transyogi Cibubur. Jadi di cibubur yak?

    ReplyDelete
  2. Jadi inget mesti nonton film korea bareng dia..

    ReplyDelete
  3. Ya, kita lihat apa yang akan terjadi. :D

    ReplyDelete
  4. Tepi hati di selimuti duri
    sangat sakit atuh
    ini pusisinya tentang sakit hati yaa :(

    ReplyDelete
  5. Kak Mey, ini puisinya jadi bikin galau.. hehe
    berasa kayak menanti sesuatu yang ngga pasti, dan yang bisa dilakuin cuma pasrah aja.. aku nangkepnya siy gitu kak hehe

    ReplyDelete
  6. Gue lagi galau. Baca tulisan galau jadi galau kuadrat deh. "Kok curhat."

    Meski telah sampai di sini. Tak jarang engkau melupakan sejenak kekesalan disala lalu. karena waktu dan asa selalu tau, bahwa kita akan bertemu. "Giman, biasa aja, ya."

    Maaf, Pangeran mah, apa atuh..

    Tapi keren puisinya. Mendayu-dayu.

    ReplyDelete
  7. No comment buat puisinya, diriku gak mudeng, maklum otak second, baca hal hal yang puitis cuman bikin kepalaku berasap aja hhe

    Btw, headernya unyuh sekaleh bu guru hha

    ReplyDelete
  8. Kurang paham sama intinya, tapi kayaknya ini lagi galau-galauan :'D

    ReplyDelete
  9. baiklah kita udah sampai disini.. abis itu mau ngapain? :)))

    bagus mey puisinya, gue nggak begitu ahli dalam dunia perpuisian tapi tau lah dikit2 mah haha..

    ReplyDelete