Thursday, 15 January 2015

Mengintip Lukisan Sarat Makna milik Affandi, Museum Affandi - Jogjakarta


Gue berdiri mematung. Tepat di depan gue tergantung lukisan berdominasi warna hitam, kuning dan merah dengan sedikit guratan hijau di sisi kanan bawah. Gue terus mengamati setiap lekukan warna yang berkelok kelok, berputar putar, seperti cacing kepanasan. Terhitung sudah hampir 2 jam tapi boong gue tak bergeming di sebuah lukisan itu. Mata gue memicing, sedikit menerawang apakah gerangan yang dimaksut pak Affandi. Sesekali kepala gue berotasi ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ini adalah gambar tipu tipu seperti yang marak di media sosial, misalnya gambar yang kalau dilihat sepintas mirip kuda, begitu dibalik upside down ternyata mirip dua nenek cabe cabean. Tapi hasilnya kali ini adalah nihil. Gue masih menduga duga, apakah ini gambar pertarungan sengit dua komplotan cacing pita dan cacing pipih di dalam perut? Apakah ini gambar pisang yang akan matang sehingga berwarna merah walau gue sendiri ragu apakah pisang bisa berwarna merah atau tidak. Apakah......ah, lukisan atau kehidupan ternyata membawa makna yang senada. Susah dimengerti. Ngertiin lukisan aja gue tak mampu apalagi ngertiin kamu, iya...kamu #huek

lagi serius banget nih gue!!

“Kamu vertigo, Meyk?” Angga datang saat kepala gue goyang goyang.

“Nggak.... aku hanya ingin mengerti apa di balik semua ini, Angga...”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Ini lukisan apa ya?”

“Badai pasti berlalu..”

“He?? Bukan, ini bukan soal hidupku...ini lukisan apa...”

“Badai pasti berlalu...”

“Angga!! Ini tak lucu...”

“Aduh, Meyk. Susah ngomong sama kamu. Ini lukisannya judulnya Badai Pasti Berlalu!!! Nooooh liaaaaaaaaaaaaaaaaattt!!!”

Judul Karya : Badai Pasti Berlalu
Tahun Pembuatan : 1971
Ukuran : 137cm X 92cm
Media : Oil on Canvas

“Owh, ada judulnya toh?”

Angga : #meregangnyawa

Dan gue nggak pernah menyangka kalau arti dari sebuah lukisan sedalem ini :


Makna dari lukisan Affandi yang berjudul "Badai Pasti Berlalu ini" mengisahkan perjuangan manusia yang sedang mengarungi samudera luas untuk mencapai suatu tempat yang akan dituju, sebagaimana manusia dalam hidup ini terus berjuang untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dan dalam perjalanan tersebut banyak sekali rintangan, mulai dari ombak badai yang kecil hingga besar, namun setelah ombak dan badai berlalu, secercah matahari memberikan sinarnya, membawa mereka hingga suatu tempat tujuan yang mereka inginkan. Dari kisah mereka bisa diambil falsafah kehidupan, dimana mereka berhasil mengarungi samudera luas, karena memiliki sebuah tujuan pasti dan keinginan yang besar untuk meraih apa yang mereka inginkan, mereka gigih berusaha dan tidak pernah menyerah, mereka tidak perduli sebanyak apapun , sebesar apapun badai dan ombak menghadang, mereka menghadapinya, karena ombak dan badai pasti akan berlalu, berganti dengan indahnya sinar matahari, menuju tempat impian mereka.

Begitu juga makna dalam kehidupan, manusia seperti mengarungi sebuah samudera kehidupan, Manusia disimbolkan dengan Perahu, harapan disimbolkan dengan Matahari, Kehidupan disimbolkan dengan lautan Samudera, rintangan, masalah, ujian dalam kehidupan disimbolkan dengan ombak dan badai. Setiap manusia memiliki arah tujuan kehidupanya masing-masing, bahkan memiliki cita-cita atau impianya masing-masing, hanya manusia yang memiiliki arah tujuan hidup yang pasti, gigih berjuang dan tidak pernah menyerah, yang akan bisa sampai pada suatu tempat kehidupan yang manusia tuju, sesuai dengan yang mereka inginkan (sukses), meski badai dan ombak kehidupan datang silih berganti, tidak pernah menyurutkan niat mereka untuk mundur, lari atau bahkan menyerah. Mereka selalu mempunyai secercah harapan diatas harapan yang disimbolkan dalam lukisan sebagai Matahari, mereka mempunyai keyakinan akan apa yang mereka lakukan, bahwa badai dan gelombang dalam perjalanan kehidupan mereka akan berlalu, mereka akan sampai pada suatu tempat kehidupan seperti yang mereka inginkan, dan mereka yakin bahwa impian mereka akan terwujud.

Mereka disebut sebagai pejuang kehidupan, yang menjadi manusia hebat di masa depan, saat mereka sukses melalui ombak dan badai kehidupan, dan bisa membuktikan bahwa mereka bisa, mereka akan menjadi simbol manusia sukses untuk manusia yang lain. Itulah makna falsafah kehidupan yang dalam, yang dilukiskan oleh sang pelukis maestro legendaris Affandi dalam sebuah karya seni tinggi bergaya abstrak.


---

Apa khan gue bilang. Setelah gue, Mbak Vica dan Angga puas menikmati buanyaaaak pesawat dan juga sudah katam putar putar sambil bilang,

“Pesawat pesawaaaaaaaaaat..... I feeel freee” sambil melakukan gerakan maju mundur capek di Museum Dirgantara, kita harus move on karena kata Pelajaran Hidup nomor 89 :

“When you finally move on, something better comes along.”

Begitu kita move one dari Museum Dirgantara, beuuuuhhh....sesuatu yang spektakuler akhirnya datang menghampiri kita. Nih tempat eksotis dan penuh seni abiss!!! Setelah kita tak tau arah dan naik taksi kita rasa adalah yang terbaek dan menghabiskan sekitar 30ribu, akhirnya kita sampai di pintu gerbang sebuah museum. Dan bagi gue, ini adalah museum paling menguras otak yang pernah gue datangin.

Cling!!! Rp. 20.000 gue ikhlasin. Dan gue benar benar ikhlas kalau untuk mendapatkan pengalaman penuh inspirasi seperti ini. Gue dan Angga juga ngiklasin 20ribu yang lain untuk ijin motret motret karena memang setiap sudut museum ini pantas untuk diabadikan.



Well yeah, kita di sini. Museum Affandi, di pinggir sungai Gajah Wong, atau di Jalan Laksda Adisucipto Nomor 167 Yogyakarta (Jalan Solo Km 5,1). Museum Affandi adalah adalah museum yang menyimpan hasil karya pelukis Affandi. Museum ini menempati lahan seluas 3.500 m2 yang terdiri atas bangunan museum yang terdiri dari empat galeri beserta bangunan pelengkap seperti tempat pembelian tiket, dua studio, dan bangunan rumah tempat tinggal pelukis Affandi dan keluarganya. Rumah Affandi ini mempunyai atap berbentuk daun pisang, dan terdiri dari dua lantai dengan lantai bawah untuk ruang tamu dan garasi sedangkan lantai atas yang sebagai kamar pribadi Affandi. Sekarang rumah ini berfungsi menjadi Café Loteng yang dapat dikunjungi pengunjung.Pembangunannya dilakukan secara bertahap serta dirancang sendiri oleh Affandi.

Nah, waktu gue liat pertama kali tuh atap, gue bertanya tanya. Kenapa harus daun pisang? Kenapa nggak daun lontar, daun ketela rambat, atau pun daun bunga putri malu? Ternyata, everything happens for a reason memang benar adanya. Ceritanya, dulu pada zaman penjajahan kalau nggak salah, beliau sakit tifus sampai kedinginan dan hampir meninggal. Selama sakit beliau dibungkus dengan daun pisang hingga akhirnya sembuh. Yeayyy!!

Begitu dapat tiket juga brosur yang menceritakan tentang biodata Affandi, kita langsung merangsek ke Galeri 1.

tengok kanan dengan mobil kuning milik Affandi

tengok kiri dengan kursi unik dari ukiran kayu

tengok depan, huaduuuh!!!

Galeri 2
Galeri 3

Keren!! Tidak hanya lukisan abstrak, tetapi di sini juga ada foto foto saat Affandi mendapatkan penghargaan. Bahkan, Affandi juga melukis Ibunya, istrinya dan keluarganya. Gue rasa Affandi juga suka jalan jalan karena beberapa lukisannya melukiskan tempat tempat di luar Jogjakarta, serupa Bali, Jakarta dan juga luar negeri. It’s damn coooooool!!!!! Bahkan, di galeri 1 ini dipamerkan mobil Colt Gallan berwarna kuning ngejreng.

Begitu keluar, tepat di sebelah kiri adalah pusara terakhir Affandi dengan istri keduanya. Affandi benar benar tidak ingin berpisah dengan karya karya dan rumah tinggalnya.

Pusara milik Affandi dan Maryati
Ukiran abstrak keren di sebelah pusara Affandi dengan penampakan abstrak

Galeri kedua, ketiga, sampai keempat menyimpan hal yang sama. Lukisan lukisan dan juga karya eni lainnya serupa patung. Di salah satu galerinya juga dipasang layar dan tempat duduk untuk mengenal lebih dalam sosok Affandi lewat film dokumenternya. 

Inget lukisan, gue jadi inget Ayah gue. Andaikata sekarang gue bisa ngajak Ayah gue ke sini, Ayah gue pasti suka banget karena dia memang mencintai dunia seni seperti seni lukis dan seni musik. Dikira dulu kalau gue disuruh nglukis sama guru SD sampai SMA gue, gue sendiri yang ngelukis?? Kagaaaaak. Ayah gue yang ngelukisin. Gue mah apah atuh, nggaris aja nggak lurus apalagi ngelukis. Ayah gue juga gemar main keyboard. Tiap kali gue di rumah, gue disuruh nyanyi dan Ayah gue mejetin tut keyboard biar kayak di kondangan. Gue rasa nanti saat gue menikah, gue nggak perlu manggil solo organ. Ayah gue juga nggak betah lama lama duduk mana diliatin orang. Pas banget! Lah, gue mah  apa tuh napas aja nggak ada pitch controlnya. Cuman, bakat nulis gue adalah seni yang diturunkan dari Ayah gue. Dulu waktu Ayah gue pacaran sama Ibu gue, Ayah gue pandai –ngibul- merangkai kata kata indah, misalnya

“Walau pun dunia berhenti berputar, kau akan terus berputar di pikiranku.”

Surat suratnya pun sampai 1 ember. Ahh, kapan kapan gue harus ngajakin Ayah gue ke sini!!

Sekarang, gue mau foto foto yang banyak dulu buat gue kasih liat ke Ayah begitu gue pulang.

lucu lucu ngeri

Angga lagi serius abis ngeliat ayam tarung.

Kalau lagi liat lukisan terus mulai capek, bisa banget duduk dulu.

Nah, puas ngeliat semua galeri, bisa banget kita ke gardu pandang. Di sini kita bisa melihat sungai Goa Wong mengalir dengan deras kayak susu bendera rasa coklat. Gue jadi aus. Dan seperti biasa, gardu pandang warna hijau ini sangat sayang kalau hanya dilewatkan begitu saja tanpa begini.
1...2...3...CHESEEEEEE!!!!!

Yoga dulu biar sehat.
Andaikate masa depan bisa keliatan dari sini.




Nahhh, kalau aus dan uang udah abis...jangan berkecil hati. Tukarkan tiket lu ke warung di dalam areal museum. Gratis!!! Lu bisa pilih mau minuman halus atau soft drink, atau eskrim. Bisa banget juga lu beli postcard dengan cover karya karya Affandi yang spektakuler. 

bersama post card seharga 5ribu saja per biji!!

Gue beli 2. Lukisan Eiffel dan lukisan kapal di lautan. Dan post card Eiffel gue kasihin ke Ita buat oleh oleh.

Lalu, Siapakah Ita??

Apakah gue pernah ketemu sebelumnya?”

Apakah yang akan gue perbuat bersama Ita???

Tunggu aje yeeeee.....

Abis ini untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue akan ke pantai jam setengah lima pagi!!! Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue akan nginep di rumah orang yang baru pertama kali ketemu!

ke pantai jam setengah 5 pagi!!!


Dan akhirnya, perjalanan seru bingit gue bareng Angga harus diakhiri untuk sekarang. Tapi gue yakin, gue dan Angga masih punya buanyaaaaaaaak perjalanan yang lainnya selagi kite masih muda!
Terimakasih buat Angga dan Mbak Vica untuk trip mendadak-tapi-sangat-menyenangkan nya! See you all so soon!! :D


http://travel.detik.com/read/2011/10/15/205258/1744904/1025/museum-affandi-museum-unik-dari-yogyakarta

12 comments:

  1. asiknyaaa, di banjarmasin masih jarang ada tempat-tempat yang kayak museum gitu, apalagi yang isinya lukisan-lukisan gitu.
    ntar kalau ada kesempatan ke jogja lagi mau deh ke situ hihi
    oh iya, kamu suka koleksi postcard juga ya? atau cuma beli aja waktu disana? kalau suka koleksi postcard kapan-kapan kita kirim-kiriman yuk hehehe

    ReplyDelete
  2. Jujur ya Meyk, kalo ditanya arti itu lukisan aku juga gak bakal ngerti hahahaha
    ternyata judulnya badai pasti berlalu dan maknyanya pajang bangeeeeeeeeetttttt!!!

    Meykke mah apa atuh, seorang blogger yg jago nulis dan banyak jalan2nya
    Meykke mah apa atuh, seorang yg suka narsis di instagram
    Meykke mah apa atuh, jago bahasa inggris

    Oh iya ide bagus kalo papa km mendirikan organ tunggal aja, tar aku nyumbang nyanyi deh hahaha

    btw seneng liat Meykke jalan2 ke museum liat lukisan gt
    Aku mah apa atuh, jarang jalan2nya

    ReplyDelete
  3. akhirnya lo bisa jalan2 juga
    bisa ke pantai juga, bisa narsis juga

    meskipun (jujur) gue suka pusing lihat lukisan abstrak, tapi di tiap lukisan emang mengandung makna yang bahkan ga bisa ditangkap secara kasat mata ketika pertama kali ngeliat

    ReplyDelete
  4. Bener dah, kalau gue yang ke sono, bakal pusing gak paham sama lukisan abstrak ._.

    ReplyDelete
  5. Arti lukisan "Badai Pasti Berlalu" panjang amat kak Mey.
    Kakak enak, jalan-jalan terus.
    Gue kapan ya ? #mikir sambil gigit jari

    ReplyDelete
  6. Arti lukisan, ya. "Badai pasti berlalu." Sepertinya panjang sugguh kak mey.

    Ini moment jalan2 kak mey ke sekian kalinya yang Pangeran Wortel liat. Cuman, bisa melongo..

    ReplyDelete
  7. Gue heran.. lo jalan2 mulu idupnya :|

    Affandi kayaknya produktif banget yak.. bisa ngelukis segitu banyaknya.. sampe2 punya museum pribadi yang keren abis gitu.. lebih kerennya lagi pusaranya juga ada di lokasi setiap karyanya...
    Gue yakin.. semasa hidupnya Affandi pasti mendedikasikan hidupnya untuk seni.

    Btw... gue jadi penasaran lo ngomong baru pertama ketemu sama Ita... siapa sih dia? :|

    ReplyDelete
  8. Wuiiihh kereeen lukisannyaaa :D
    Maknanya nggak kalah luar biasa... dalem...

    Seru yaa jalan-jalannya!

    Btw, Ayah aku juga yang dulu kalo ada tugas seni dari sekolah, beliau yang bantuin. Bhahaha :'D

    Walaupun postingan ini panjang, tapi nggak ngebosenin loh. Suka deh kak! :D

    ReplyDelete
  9. Sehabis dapet bocoran di bawah gambar lukisan abstrak itu kalo judulnya "Badai Pasti Berlalu" dan baca maksud dari lukisan itu. Gue langsung naik ke atas lagi dan liat lukisan abstrak itu pasat-pasat. Mana yang lautnya, kapalnya, mataharinya. Haduuuuuh dan beribu tanya masuk di kepala. Seni itu memang sulit dimengerti ya.

    Beeeeeh. Ayah nya kak Meyk kereeeeen. Soalnya gue jarang atau bahkan hampir gapernah ketemu pria (cowok itu kan utk yang masih labil ya) yang suka seni, apalagi menulis. Sekali ketemu, eeeeeeh kisahnya memilukan. Lah ini malah curhat.

    Pengen banget bisa kek kak Meyk, jalan-jalan seru begitu. Sama temen apalagi. Apadaya rutinitas begini. Hiks.

    ReplyDelete
  10. Abis ke musium kapal terbang belum puas juga, ya.. nambah ke museum di mana dinding-dindingnya terpasang pigora dengan kanvas yang terlukis banyak sejarah dan filosofis serta seni yang sangat dalam karya Affandi. Kayaknya liburan akhir tahun kak meukeu bener-bener jadi ajang bales dendam setelah rutinitas dan produktifitas di tahun 2014..

    Btw aku entah kenapa lebih fokus sama bagian Ayah kak meukeu yang nyuratin Ibu kak meukeu sampe suratnya seember :| Andai kata jaman dulu udah ada twitter, mungkin ayah kak meukeu udah jadi selebtwit tuh. Hahahaha...

    Dan.. siapakah ita? -_-

    ReplyDelete