Monday, 18 August 2014

BAHAGIA ITU MOVING ON!!

Di dalam hidup ini semua orang pasti ingin bahagia. Hanya saja makna ‘kebahagiaan’ untuk orang orang pasti berbeda. Ada yang mencapai bahagia karena bisa beli sesuatu yang diidam idamkan sejak lama, bahkan membelinya dengan cucuran keringat sendiri. Ada yang bahagia bila sudah bertemu dengan orang orang yang bisa menerima dirinya apa adanya, seutuhnya. Ada yang bahagia kalau sudah menginjakkan kaki di negeri impian dengan begitu banyak moment yang dibekukan lalu dibawa pulang. Ada juga yang merasa bahagia saat bisa membantu sesama. Macam macam.

Bagi gue sendiri, makna bahagia adalah saat gue bisa MOVE ON. Tenang, moving on bukan melulu soal hati yang lari lari mengelilingi lingkaran yang diciptakan sendiri. Moving on bukan melulu soal “I have no choice except moving on since staying here is impossible” *ngelapingus

Moving on yang gue maksud saat gue bisa maju ke level yang lebih tinggi, ke pencapaian yang sebelumnya belum pernah gue raih dan ke tangga yang lebih menukik. Kate iklan rokok, GO AHEAD!!

Tanpa berpikir panjang pun gue sudah tahu apa yang telah membuat gue bahagia, bahagia sekonyong konyong koder. Ini bahkan moment yang sudah gue idam idamkan sejak gue berusia 5 tahun, saat tante gue juga dibalut kebaya berwarna hijau daun pisang dengan rambut tergelung sempurna ditambah jubah hitam bersamaan dengan topi hitam yang gue kira waktu itu “ih, bagus!! Topi kok ada bandulnya!”.

Dan moment terindah gue adalah : WISUDA!!

tentang sejarah....

muka gue udah kayak pensil sejak kecil, bersama tante
Dari kecil gue memang sudah hoby sekolah. Pernah suatu ketika tante gue mengajak gue beli bubur di depan sekolah. Lalu, tiba tiba gue meronta ronta dan menangis terbahak bahak.

“Pengen tetolaaah, engen tetolaaah...” Begitu kira kira bunyinya. Tante gue panik. “Apa yang terjadi dengan anak ini??” Gue baru menginjak umur 2 tahun dan gue ingin sekolah. Saat itu di desa gue belum ada semacam playgroup. Bahkan, TK pun masih alpa. Anak anak harus menunggu sampai umur 6 tahun dan langsung duduk di kelas 1 SD. Akhirnya karena gue tak kunjung normal, Tante gue sejak saat itu menitipkan gue ke SD dengan satu pesan.

" Ike, tapi tante nggak nemenin. Ike sendiri!!"

Gue kipas kipas. Yeahhh, cekulahhh!!!

Suatu ketika, pembagian raport tiba. Semua teman teman yang ngomongnya sudah nggak cedal maju ke depan dan mendapat raport. Gue merasa terdzolimi, ibarat kekasih jelas gue kekasih yang tak dianggap! Gue pulang dengan megap megap.

“Atu laoleh epoooot...Atu laoleh epooooooooooooooooootttttt...” Lu bisa cari terjemahannya di Google Translate lho, jangan sungkan sungkan.

Lalu, keesokan harinya gue juga dikasih sebuah buku yang kata bu guru bilang,

“Ini Raportnya Meykke ya...”.

Sejak saat itu keinginan gue untuk bersekolah semakin tinggi, hingga Ayah gue mencarikan TK di tempat lain. Gue mendekam di TK selama dua tahun karena belum cukup umur untuk move on. Waktu berjalan dan gue berkembang. Akhirnya gue bisa menjejaki bangku SD dan rajin main lompat tali, sundamanda, juga bekelan. Sayangnya, sejak gue kelas 3 SD dan gue pindah dari SD sebelumnya, gue tak pernah lagi bisa menyabet peringkat satu karena ada seorang anak laki laki yang rambutnya keriting selalu mengungguli gue. Kalau anak keriting berinisial ZA membaca postingan ini bisa lho bereaksi di komen.

Tahun merangkak, dan gue terus move on ke SMP, SMA dan akhirnya menjadi anak kuliahan yang gue idam idamkan sejak dulu. Salah satu alasan kenapa gue pingin kuliah adalah karena gue pingin duduk di kursi lipat dengan baju yang ganti mulu tiap hari. Itu khan seru!!

and I'm moving on!!

Dan makna wisuda buat gue bukan hanya soal melenggak lenggok di panggung dengan memakai high heels yang latihannya sebulan. Bukan pula dibidik di tangga untuk dibawa pulang dan dikenang. Bukan soal ‘ini lhoooo, gue hebat khaaaaaaaaaaaaaaannnnn!! Cihuyyy!”

Wisuda buat gue lebih dari sekedar itu. Wisuda buat gue adalah pencapaian yang di dalamnya penuh keringat, usaha, kerja keras, air mata dan insomnia. Gue harus melangkahkan kaki sejauh 25 kilometer setiap hari demi menyerap ilmu. Gue harus pulang jam 8 malam karena setelah selesai kuliah gue harus ngajar, mencari tambahan. Sampai rumah jam 10 dengan sendi yang rasanya mau copot. Ayah gue harus memutar otak demi biaya yang terus mengalir, demi kursi lipat. Gue harus belajar di bis saat akan test yang diakhiri dengan tarian kepala maju dan mundur kayak penari ular kesurupan. Tau tau waktu bangun kebablasan. Lalu nari ular di pinggir jalan. Gue harus menggendong backpack yang isinya hampir mirip sama orang mau minggat daripada orang mau kuliah. Gue bawa laptop berikut chargernya, tempat minum 1,5 liter, tempat makan, buku setebal Al-Qur’an, tempat pensil, dompet, alat lenong, sampai payung saat musim hujan. Gue juga harus observasi sebanyak 20 kali lebih saat skripsi. Saking niat dan semangatnya, skripsi teman teman gue cuman di angka 20 lembar, skripsi gue hampir menyentuh angka 50 lembar. Tapi, gue meyakini satu hal yang menjadi Pelajaran Hidup Nomor 37 gue : ‘EVERY EFFORT WILL PAY OFF!!” Semua mimpi harus diperjuangkan, dan semua perjuangan pasti akan terbayar!!

Bersama teman teman gue, gue melenggang syahdu beralaskan high heels bludru warna hitam yang latihannya sebulan ke sebuh panggung. Di sana sudah menanti pak Rektor.

“Meykke Alvia Yuntiawati, Spd” Suara indah itu menggema di penjuru ruangan. Ada Ayah, Ibu, dan dua adek gue yang sedang melihat gue di kursi lantai dua.

sah??? saaaaaah...S.Pd :D

“SET!!” Hanya dengan sekali hentakan Pak Rektor memindahkan bandul topi gue dari kiri ke kanan.

“Saah???” “SAAAAAH..” Ibarat ijab qobul, saat itu SAH berdebam menyeruak di segala penjuru. Sebelum sah menjadi istri orang, gue sah menjadi Sarjana Pendidikan!! Gimana nggak bahagia???

Kupu kupu berterbangan di perut gue dengan seri terus berkerlip di tiap pori wajah gue saking bahagianya. Ini bahagia banget ini!! Gue bahagia sebagai seorang anak karena gue bisa membuat orang tua gue bangga. Semua kucuran keringat mereka sedikit demi sedikit gue bayar dengan langkah demi langkah keberhasilan gue, salah satunya adalah menyandang S.Pd, sama seperti apa yang diharapkan oleh kedua orang tua gue. Gue bahagia sebagai seorang mahasiswa yang bisa lulus tepat waktu dan mencapai terget yang gue set di awalnya. Gue bahagia sebagai seorang wanita karena gue membuktikan pada diri gue sendiri wanita pun jelas bisa menggapai bintangnya di langit dan mulai meniti ke dunia yang lebih luas. Itu makna bahagia yang terus menyelubungi kalbu gue penuh penuh.

Dan yang bikin gue sampai sekarang merasa nggak percaya adalah IPK yang gue dapat sama persis seperti apa yang gue targetkan. Setiap semester gue selalu menulis target nilai tiap matkul berikut target IP semester dan IPK. Dan angkanya is exactly the same!!!



Pelajaran Hidup no 23 : “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu. Berusahalah dan mimpi akan berpindah tangan dari dipeluk Tuhan menjadi dipeluk lengan. Angan menjadi kenyataan!!”

Dan hari itu gue menyabet Predikat : CUMLAUDE. Jangan salah, di awal kuliah gue tergolong anak kuliah yang biasa biasa aja, sering pilek nggak jarang mimisan. IP gue pertama cuman di ambang tiga. Itu pun sambil megap megap idung kembang kempis tak terhingga.

Perjuangan gue selama kurang dari 4 tahun terbayar lunas!! Apa yang gue takutkan di awal perjalanan serupa,

“Duh, Bahasa Inggris tuh khan omongannya bule. Bentuk lidah aja beda, emang gue bisa??”

“Duuuh, bahasa Indonesia aja masih belepotan apa gue bisa bahasa Inggris??”

“Bisa nggak ya lulus tepat waktu. Kalau nggak bisa, biaya lagi...biaya lagi...”

“Duh, berat badan gue kok makin menyusut, bisa lulus nggak ya?”

Setelah gue turun dari tangga panggung dengan menggenggam Ijazah di tangan dan menggenggam S.Pd yang disematkan di nama gue, gue sangat sangat percaya.

“Bisa atau nggak bisa adalah urusan keyakinan. Saat gue yakin gue nggak bisa, maka gue nggak bisa. Dan saat gue yakin gue bisa, maka apapun yang terjadi pada akhirnya gue BISA.” (pelajaran hidup nomor 11)

20 JULI 2013, SETAHUN YANG LALU

Cerita selengkapnya, cuyyy! di SINI



15 comments:

  1. Sungguh sebuah pelajaran hidup. MEmberikan banyak pencerahan dan juga menjadi inspriasi bagi kita semua Terutama yang saat ini masih menyantang status sebagai MAHASISWA/MAHASISWI untuk bisa menarik hikmah, pelajaran berharga dan suri tauladan di sini. Bagi DUnia KErja pun sudah tidak sabar untuk menanti kalian. Semoga bisa dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri, dan bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Selamat WISUDA ya. Sudah menjadi SARJANA

    ReplyDelete
  2. Gua bisa ngebayangin gaya lu ngomong waktu masih kecil, Mbak. Ngakaak :D
    Dan gua juga gak butuh google translate, karena dulu gua juga gitu kok wkkwk :D

    Bahagia banget pasti waktu Pak Rektor memindahkan bandul topi dari kiri ke kanan. Gua denger ceritanya aja merinding, apalagi lu Mbak yang di posisi itu. Semoga suatu saat gua bisa ngikutin jejak lu Mbak. Bisa lulus dengan cumlaude :)

    Oh iya, itu ada tulisan Pelajaran Hidup ke 37, Pelajaran Hidup ke 23, dan Pelajaran Hidup ke 11. Itu menurut lu sendiri atau gimana Mbak? ada urutan dari angka 1 juga?
    Gua penasaran dan pengen baca semua urutan tentang Pelajaran Hidup-lainnya :D

    ReplyDelete
  3. gue sempet senyum pas cerita SD, masih umur 2 tahun tapi pengen sekolah akhirnya pas pembagian rapot gak dikasih rapot. di PHP sejak kecil ternyata :v
    baru tau kalo situ udah wisuda, manggilnya mbak dong..
    setuju sama quote terakhir, kalo kita yakin untuk bisa pada akhirnya pasti bisa.

    ReplyDelete
  4. Cie cie... yang wisuda...
    The best moment in my life sih dikasih kamera DSLR secara cuma-cuma #ngarep
    mba, kok iklannya semua kamera... bikin ngiler nih -.-

    ReplyDelete
  5. Aaaa, tulisan kk meykke insfiratif banget. perjuangan banget buat kuliah ampe 25 km dgn tas orng yg lbih mau minggat ditempuh. salut deh! Alhamdulillah impiannya kecapai y kk. Sarjana pendidikan :)

    Meykke kecil lucu banget yaah. umut dua tahun udh mau sekolah. nggak dikasih raport malah nangis. trus itu apaan coba? nangis terbahak-bahak. haha.

    setelah baca ini jd semangt buat gapai cita2, makasi kk :D

    ReplyDelete
  6. itu dari kecil udah ngebet sekolah, gue aja pas minggu pertama masum SD udah males sekolah, ampe gue di 'usir' dari rumah hha

    wisuda itu baru awal doang, kehidupan setelah wisuda ini yang berat hha

    ReplyDelete
  7. Kak, aku nggak nemu arti bahasa itu di gugel translet. Itu artinya paan coba? Apaaaa? :(

    Aih, aku jadi nggak sabar mau cepet luuls juga. Pengen ngerasain momen bahagia naik ke panggung, salaman langsung sama rektor deelel itu sambil diliat orang tuaku langsung. Mau cumlaude jugaaa :')

    Jadi awalnya kamu mahasiswi biasa-biasa aja ya? Sama ini aku pun gitu Kak. Aku kadang suka pesimis, bisa nggak ya mencapai target. Mungkin nggak ya. Tapi, dari pelajaran hidup yang kamu bikin, aku yakin aku pasti bisa. Aku harus bisa :))

    Ah inspiratif banget kisahnya!

    ReplyDelete
  8. ah mbak!!!
    ini inspiratif bangeeeet~
    memang ya wisuda tu serasa pecah bisul deh #apaan
    jadi segala usaha dan sakitnya semasa kuliah tercapai sudah :')

    aku juga mau wisuda pakai selendang cumlaude :') ah pasti bangga ya..
    sama sih mbak, aku juga awal2 IPK nya biasa aja, malah pesimis banget. Tapi mulai sekarang mau bikin target per semester biar terus naiiiiik naiiiiiikkkkk yeaahhh :D

    postingan mbak bikin semangatku berkobar hueheheh

    ReplyDelete
  9. Pelajaran Hidup no 23 : “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu. Berusahalah dan mimpi akan berpindah tangan dari dipeluk Tuhan menjadi dipeluk lengan. Angan menjadi kenyataan!!”
    Ini hal yang kusuka. Apakah berbagai catatan nomor pelajaran hidupmu sudah terangkum dari dulu atau baru-baru ini?
    Sesuatu yang khas Meykke, riang dan optimis padahal sebelumnya sempat berdarah-darah. Ehm, selamat ya, tangguh amat. Gak cengeng kayak akyu, hihi.
    Lihat foto mamamu, kayaknya beliau terrmasuk insan periang juga, gak kayak ayah yang serius berfotonya.
    Ini postingan yang menginspirasi, agar yang baca pun jangan lekas patah arang, berdarah-darah dalam perjalanan hidup itu mutlak penting.

    ReplyDelete
  10. kereen nih artikelll bikin gue mirinndinggg sebagai seorang cowok, gue merasa gagallll haha :') ini kayak baca buku edensor deh inspiratif banget gue juga harus semangat gue harus dapat IPK 3 juga doain kak :) ini artikel harus masuk kandidat menang :D

    ReplyDelete
  11. Boleh tepuk tangan dulu nggak sebelum komentar? Haha.

    Ceritanya menginspirasi banget. Sebagai mahasiswa, yg juga merasakan beratnya perkuliahan, saya juga membayangkan wisuda itu seru dan seru banget. Duh, jadi pengen cepet2 lulus ini.. Haha. Terima kasih buat semangatnya yg secara ga langsung dioper ke saya. Terima kasihhh.

    ReplyDelete
  12. weeeiih, kak mey dari kecil udah ngebet aja ya sekolah.
    aku malah gak mau sekolah tau sekolah itu susah, heheu

    ceritanya nginspirasi banget kak.
    apalagi yg tentang ip dan ipk yang sesuai sama harapan.
    aaah, selamat ya kak.
    semester ini ip aku turun nih, doakan semester depan bisa naik yaa.
    hehehe, malah curhat :D

    ReplyDelete
  13. Wisuda itu memang saat-saat untuk move on!
    Makasih udah berbagi cerita ini kak.
    Inspiratif banget. :)

    Kemarin saya baru wisuda pre-university. Rasanya juga gado2 dan dengan balutan kebahagiaan yang luar biasa.
    Akhirnya Undergraduate juga :D

    ReplyDelete
  14. inspiratif sekali,pelejaran hidupnya keren-keren mbak,semangat sekolahnya luar biasa sekali lho mbak,,

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...