Wednesday, 14 May 2014

Menginjak Tanah Jogja!

Ini adalah cerita bertajuk travelling yang dulu sempat saya tulis untuk lomba menulis bertema senada. Sayang, tulisan saya belum bisa menarik hati para juri. Jadi, daripada teronggok tanpa pembaca, silahkan dibaca kakaaaak...:)
dibuat 4 Desember 2013!

By Meykke Santoso

“Seph, pokoknya begitu skripsi gue menandakan gejala habislah gelap terbitlah terang, gue benar benar akan memulai travelling gue, Seph. Gue akan travelling keliling...... Jogja!” Kala itu gue mengikrarkan janji gue pada diri sendiri, juga pada Umami, salah satu sahabat gue yang berkuliah di salah satu universitas negeri favorit di kota Gudeg itu.

Sudah lama gue memendam hasrat untuk bisa memulai perjalanan gue. Bukan, bukan sekedar piknik atau one-day trip. Tapi, benar benar travelling. Dan kota istimewa itu gue pikir bisa menjadi permulaan langkah gue untuk bisa menjadi traveller.

Tapi untuk bisa mengabulkan permintaan ini bukan sesuatu yang mudah. Tidak tanggung tanggung, gue berencana untuk stay 3 malam 4 hari di sana.

“Seph, gue akan travelling di Jogja selama 3 malam 4 hari seph... Gue akan nggunain semua gaji part-time ngajar gue.”

Berhubung gue bukan orang yang minta sesuatu main nunjuk langsung jadi, gue harus berusaha keras dulu ngumpulin duit. Gue ngajar begitu getol dari pagi sampai sore, demi lembaran uang yang akan mengantarkan gue ke kota itu.
Bukan hanya itu, gue juga harus menyiapkan plan atau schedule dari mulai hari pertama, hari kedua, dan juga hari ketiga. Bersyukurnya gue di jadwal Uma yang padat, dia bersedia untuk menjadi tour guide gue.

“Seph! Lo jadi tour guide gue begitu gue sampai di Jogja, pleaseeee....” Gue mengiba. Tanpanya, gue pasti akan menjadi butiran debu di Jogja. Demi merampingkan pengeluaran, kost Uma juga satu satunya harapan gue untuk bermalam.

“Iye, I’ll take you wherever you want!”

Gue bahagia bukan kepalang. Gue mulai search di Jogja tentang destinasi destinasi keren yang harus gue datangi,


“Wisata menarik di Jogjakarta”

“Tempat Wisata di Jogjakarta”

“Pantai pantai eksotis Jogjakarta.”

Gue pikir untuk para wisatawan yang akan travelling ria di Jogjakarta, ada satu destinasi yang sangat tidak boleh hukumnya untuk dilewatkan.

Pantai!!

Pantai di Jogjakarta menyuguhkan panorama cantik yang memukau mata. Bahkan, traveller bisa memanjat bukit karangnya dan melihat air berkilah kilah dari puncak bukit. Pantai di Jogjakarta juga kaya akan biota alam. Pasirnya yang putih bersih juga membuat traveller ingin berlama lama duduk sembari melayangkan pandang ke laut lepas dan menunggu tibanya sunset yang romantis di batas magrib.

Ah, memikirkannya saja gue udah benar benar ngiler. Gue search macam macam pantai di Jogjakarta. Jelas ini harus tertata rapi. Dan begitu sampai di Jogjakarta, gue harus mengamalkannya. Semua destinasi yang gue pingin, harus gue jabanin.

Dan akhirnya gue berhasil nyusun run down setelah beberapa jam berjibaku di depan laptop dan tanya sana sini.

Jumat, 21 Juni 2013
20.00               Makan malam di Restoran Korea D’Jang Geum
21.00               Taman Pelangi
Sabtu, 22 Juni 2013
07.00               Berangkat menuju Goa Pindul
13.00               Pantai Indrayanti
Minggu, 23 Juni 2013
08.00               Museum Vedenburg
11.00               Keraton Jogjakarta
15.00               Tamansari
20.00               Minum SSS (Susu Sapi Segar)

Kenapa gue nggak menyisipkan Malioboro sebagai penutup travelling gue? Banyak yang bilang kalau kurang lengkap rasanya datang ke kota Jogjakarta, tapi nggak mampir ke Malioboro untuk sekedar membeli kaos berirama “I Love Jogjakarta” dengan gambar kereta keraton, sepeda onthel, atau becak. Tapi gue? Gue sudah meyakinkan diri untuk travelling, bukan belanja. Melihat ombak menjilati bibir pantai di batas magrib dengan pantulan mentari emas yang membuat kilahan air berkilatan rasanya jauh lebih berkesan dibandingkan memborong selusin gantungan kunci wayang, cincin batu warna warni atau tas anyaman. Jadi, gue mencoret Malioboro dari list perjalanan gue. Gue tidak boleh tergoda.

Sebelumnya gue emang baca baca tentang artikel para traveller ulung di blog mereka.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan melakukan travelling, apalagi travelling perdana. Salah satunya adalah menyusun jadwal. Nggak lucu banget udah capek capek ngumpulin uang, udah ke kota tujuan tapi masih bingung mau kemana. Dan akhirnya malah tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Jadi, gue berkomitmen untuk melakukan travelling ini se-smooth mungkin. Demi....

Kedua, gue juga nulis apa apa aja yang harus gue bawa. Ini juga penting. Gue tulis semua dari baju yang akan gue pake ke pantai, yang buat ke Keraton gue nantinya pakai rok batik, semuanya gue rencanakan secara matang dan bijaksana.

Gue juga ngitung berapa duit kira kira yang akan gue keluarin. Bukannya apa apa, untuk modal menginap 3 malam 4 hari ini gue cuman mampu membekali diri dengan lembaran uang merah merekah sebanyak 3 lembar saja. Gue harus benar benar mengencangkan ikat pinggang sekencang kencangkan.

H-3 gue mulai heboh. Dan bukan hanya gue, orang tua gue pun ikutan heboh.

“Ke, HP selalu on.”

“Ke, kalau udah sampai Solo, kasih kabar..”

“Ke, jangan sampai ketinggalan kereta.”

“Nanti di stasiun Lempuyangan langsung SMS Uma..”

Dan sederet wangsit lainnya.

Gue Cuma bisa manggut manggut sambil duduk dengan takzim di sebelah Ayah yang pagi itu nganterin gue ke terminal Bawen.

“Loh, katanya mau ke Jogja? Kok malah ke Solo? Bukannya Solo dan Jogja ada di arah yang berlawanan? Bukannya dari jalan depan rumah juga bisa langsung cus ke Solo naik bis Safari Royal dengan bermodalkan 40 ribu?”

Justru ini letak keseruan yang ingin sekali gue rasakan. Rumah-Solo-Jogja adalah ibarat segitiga sama sisi ABC. Rumah gue yang ada di sudut B memang sangat bisa oh bisa langsung menuju C, hanya saja karena gue ingin rute yang lebih menantang dan berbeda, gue dari B, menuju A terlebih dahulu, dan akhirnya berakhir ke C. Gue ingin naik kereta api.
Begitu sampai di terminal Bawen, gue dengan begitu bersemangat turun dari mobil Ayah. Usai berpamitan, gue menunggu bis yang akan mengantarkan gue ke kota Solo. Bis Safari Royal Patas. Tak menunggu lama, gue bisa merasakan empuknya seat bis Patas dan dengan patas berlabuh ke kota Solo. Untuk pergi ke Solo, gue memakan waktu sekitar dua jam dan di perjalanan gue makan bermacam macam roti karena lapar. Setelah sempat tidur sambil kepala berayun ayun di udara dengan begitu syahdunya,akhirnya sampai juga gue ke terminal Tirtonadi.

Gue udah sampai di sini, dan sekarang tinggal bagaimana menuju ke stasiun kereta api dari terminal ini.

“Apakah lu tau dimana stasiun kereta api berada?”

Pertanyaan bagus.

Jelas dong.....nggak.

Karena ini kali pertama gue akan naik kereta api dari Solo menuju Jogja, jelas gue nggak ngerti stasiunnya dimana. Bahkan, gue juga nggak begitu paham gue harus ke stasiun apa. Gue pikir, di Solo cuman ada satu stasiun saja. Ternyata....

“Pak, kalau mau ke stasiun dari sini kemana ya pak?” tanya gue ke bapak bapak yang melayani tiket untuk masuk ke ruang tunggu di terminal.

“Stasiun apa mbak?”

“Stasiun di Solo, pak..”

“ya apa?”

“Adanya apa pak?”

“Stasiun balapan apa purwosari?”

“Uhm, stasiun yang ada kereta Prambanan Ekspress-nya yang ke Jogja yang tiketnya 10ribu, pak..”, ucap gue dengan lugunya.

“Owh, Balapan? Itu nanti ke kanan, terus ke kiri mbak.”, ucapnya sambil melayani para pembeli lain.

Gue sambil jalan begitu memeras otak gue tentang teka-teki jalan yang diberikan bapaknya. Itu ke kanan terus ke kiri adalah petunjuk paling absurd yang pernah gue terima. Akhirnya bertemulah gue ke tiga polisi yang sedang berjaga. Begitu mendapatkan petunjuk dari mereka, gue bisa melaju ke stasiun Balapan dimana Didi Kempot mengutarakan kota Solo sing dadi kenangan, kowe karo aku, naik ojek dengan membayar 10ribu rupiah.

This is it!!

Stasiun Balapan ada di depan mata gue. Dengan semangat 45 gue langsung menghambur ke dalamnya, dan mencari loket kereta Prameks bertuliskan 10ribu rupiah saja. Ya, it is true!!
Harga tiket kereta Prameks dari Solo menuju Jogja dengan waktu tempuh sekitar 2 jam adalah 10 ribu saja. Biaya ini sama dengan biaya yang gue keluarin untuk naik ojek dari terminal Tirtonadi menuju stasiun Balapan. Oh my!

Begitu gue beli tiket super murah itu, gue kemudian masuk ke area ruang tunggu di pinggir railway.

Datang terlalu awal satu jam jelas jauh lebih baik daripada terlambat 1 menit. Walau pun cuma satu menit, kalau terlambat, just say good bye to the train. Ketinggalan kereta.

Sambil menunggu kereta yang pasti akan segera tiba, otak gue sudah menimang nimang sejuta rencana tentang liburan di Jogja. Ini adalah kali pertama gue bertandang ke Jogja dalam waktu yang lama, dengan rute yang berbeda, dan tanpa ditemani siapa siapa. Bisa dibilang, solo travelling. Hanya saja yang solo cuman proses berangkatnya aja. Nggak papa, namanya juga usaha. Dan sensasinya berjuta juta lebih berbeda!!

Nah, kereta datang. Gue harus dengan sigap naik kereta sehingga bisa memilih seat yang terlihat paling nyaman. Gue pikir kereta semurah ini pasti tidak akan nyaman, mungkin agak kotor dan penumpang akan berdesakan. Dan pikiran gue itu...salah. Bahkan, gue dengan nyaman bisa duduk di gerbong khusus wanita. Iya, semua penumpang yang ada di gerbong itu adalah wanita.

Tut...tut...tut...

Kereta pun mulai melaju.

Sekitar 2 jam gue duduk di salah satu seat di depan jendela gerbong. Beberapa kali kereta meluncur membelah lembaran sawah yang tampak mulai menguning. Kereta berhenti sekitar dua kali untuk menambah penumpang, dan akhirnya...here I go!

Gue sampai di stasiun Lempuyangan dan sangat siap untuk menjelajah kota Jogjakarta.
No, gue nggak selamanya sendiri. Seperti yang gue bilang, akan ada sahabat gue sejak SMP yang akan menemani gue kali ini. Tak menunggu lama, Uma akhirnya tiba. Hari sudah sore dan kita memutuskan untuk istirahat sejenak ke kostnya.

Seperti tidak ingin menyia nyiakan waktu, setelah mandi gue dan Uma bersama sahabat gue yang lain bernama Ellen berencana untuk makan malam. Lagi lagi, ini tidak biasa.

Setelah sempat tersesat dan menerobos jalanan malam, akhirnya kita sampai di salah satu resto yang menjual masakan Korea seperti Bulgogi; daging sapi bercampur bumbu dan sayuran, kimchi, dan masih banyak lagi. Sebagai penggemar drama Korea, kurang sedap rasanya kalau kita belum pernah mencicipi apa yang mereka makan di drama itu. Berbekal dengan alasan itu akhirnya kita menghabiskan malam di D’Jaenggeum Resto. Malam ini belum selesai sampai di sini. Setelah mengenyangkan perut, seperti rundown yang sudah disepakati, kita akan bermandikan cahaya di Taman Pelangi, sebuah taman yang dibangun di sekitar museum Jogja Kembali dengan bepuluh puluh lampion cantik yang bertaburan cahaya. Ini jelas bukan lampion biasa. Dari lampion dengan bentuk bermacam macam bintang laut, lampion bunga, sampai lampion berwujud tugu muda ada di sini. Bahkan, lampion raksasa burung garuda pun dengan gagah ikut menyemarakkan taman Pelangi. It was just totally awesome!! Dan Taman Pelangi menutup hari pertama gue di Jogja dengan begitu cantik.

Ah, hari kedua! Semenjak subuh gue bangunnya udah nggak santay banget. Gimana mau santai?? Gue kali ini akan ke suatu tempat yang saking pinginnya, udah gue masukin ke salah satu dream destination gue!! Gue akan menghanyutkan diri memasuki mulut gue, berjalan bermodalkan ban di sela sela stalakmit dan stalaktit yang berjuta juta usianya, lalu gue akan meneruskan perjalanan dengan melarungkan diri di sungai hanya dengan sebuah ban!!

“Umamiiii, let’s go!!”

Begini ceritanya emang kalau dua umat manusia ingin berlibur dengan hanya mengantongi ucapan bismillah dan sebuah alamat tanpa mengkatamkan pengetahuan tentang bagaimana ke alamat itu.

“Ma, ini ke kanan apa ke kiri yak?”

“Uhm...ke kanan aja..”

“Kok bisa gitu?”

“Feeling, mey...” Begini ini kalau perempuan. Memutuskan jalan juga pakainya feeling, jadilah kita selama beberapa jam hanya lurus dan berbelok tak berujung. Hingga pada akhirnya,

“Mbak, mau ke Goa Pindul ya mbak?”

“Kok tau? Masnya cenayan yah?”, ucap gue tertahan. Ternyata, dia tahu sejak kita tanya kepada seorang bapak bapak yang merupakan penduduk di sana tentang keberadaan goa yang lagi booming ini.

“Nggak mas, makasih...kita mau ke sana aja..”, ucap kita bersikukuh untuk jalan tanpa mengikutinya. Bukannya apa apa. Gue ingat pesan Ayah di rumah. Jangan mudah percaya orang di jejalanan. Bahaya! Dan kini gue dan Uma mencoba amalkan.

“Sumpah mbak, saya nggak minta apa apa. Nanti saya dapat bagian sendiri dari agennya, mbak.. Kalo nggak percaya mbak boleh panggil polisi buat nangkep saya! Demi Alloh mbaak....”, ucapnya sambil terus mengejar kita. Gue dan Uma mulai kalang kabut antara kita nggak tau lagi ini sampai di mana karena semakin ke pedalaman dan juga kegalauan yang muncul akibat kemunculan mas mas dari nowhere ini.

“Udah Mey, coba kita nurut aja. Nanti kalo ternyata tempatnya mulai mencurigakan, kita kabur.” Uma akhirnya mengambil keputusan sambil terus menyetir.

Dengan mengucap basmallah, akhirnya kita mengikuti mas mas penunjuk jalan yang agak maksa.
Violaaaa,


Ini adalah mimpi menjadi nyata! Dan tidak sampai di situ, gue dan juga Uma setelah menempuh medan mencekam di jejalanan penuh batu kapur, kita juga bisa melangkahkan kaki ke sebuah pantai antimainstream bernama Pantai Pok Tunggal. Soal pemandangan? Jangan ditanya.... Kilahan air berkilatan terbentur sinar matahari keemasan di ujung senja memberikan sensasi tersendiri. Desiran ombak beradu dengan angin memberikan sentuhan alam yang begitu menakjubkan semua indra. Berkat Uma yang so wow banget melajukan motor dari pagi sampai senja, gue bisa menangkap semua kenikmatan ini.


Dan well, di tepi pantai, di ujung magrib bersama dengan kilatan air menjilati telapak kaki, gue membuka lengan lebar lebar seraya berkata,

“Thanks God, my first travelling is damn awesome!!”


4 comments:

  1. Gue belum pernah ke Jogja jadi baca ceritanya aja :D

    salam,
    blogger juga^^

    ReplyDelete
  2. Aaaakkkk luar biasa banget Kak! Keren. Dengan modal seadanya, tanpa belanja, ngirit uang yang penting bisa travelling... It's so amazing pokoknya.

    Apalagi waktu pergi sendiri dan kebingungan nyari stasiun. Akhirnya selamat juga. Terus semangat dilanjut di hari kedua, ditutup sama view pantai yang indah. Aduh... Aku mau juga travelling gitu. Sayangnya... aku masih ngandelin uang orang tua. Nggak mungkin rasanya :(

    ReplyDelete
  3. Sumpah. keren....
    Pengen banget gue nyoba travelling kaya begituan. kapan2 kalo pergi lagi ajak gue ya...
    hahaha. emang siapasih gue... kwkwk

    ReplyDelete
  4. kak Meykeee Goanya bikin envy, pengen bangeeettt >.<
    Aku tadi sempet bingung kok bisa safari dari abwen-solo 40rb? ternyata patas toh, mahal juga ya, biasanya aku dari terboyo sampai solo cuma 20rb loh *ini curhat* pantainya juga kereeen, aku belum pernah nyicipin pantai jogja, tapi kalo ke taman pelangi udah :D

    ReplyDelete