Friday, 18 April 2014

Anak Muda, MERANTAULAH!!!




Setiap pagi, sesaat setelah mengerjabkan mata dan mendapati jawaban atas pertanyaan,

“Aku dimana???”

“Owh iya, aku di kamar kost, aku dalam rantauan..”

Aku mematikan alarm dengan nuansa musik yang cenderung menidurkan daripada membangunkan. Pelan aku merentangkan lengan, membuang jauh jauh lengan lengan ke udara, mencoba menyusupkan udara di setiap jengkal tubuh dan melenturkan sendi yang sejenak lelap.

Aku pandangi pantulan sepasang mata yang masih terlihat sayu dengan sedikit gumpalan tepat di atasnya, berikut hidung yang menganga ke bawah setelahnya dan sesungging senyum yang melekat di bibir ala kadarnya.

Lalu, aku akan mendapati pertanyaan terpantul bertubi tubi.

“Kenapa aku di sini, Ke??” Aku pandang lekat lekat bangun oval berdaging yang kini sedikit menggumpal di kedua sisinya.

Buseeettt!! Dia!! Iya, dia menggerak gerakkan kepalanya, lalu sesaat kemudian bibirnya bergerak gerak diikuti dengan dengungan bermakna, bernama kata kata.

“Karena kamu merantau, Mey...” Ucapnya fasih. Matanya melihat ke dalam mataku lekat lekat, dan aku memandangnya tanpa kerjab, seakan terhirup di kedua pupil bulatnya yang jernih mengkilat.

“Kenapa aku merantau, Ke?”

“Karena kamu akan meninggalkan lingkaran dengan kadar rasa nyaman meruah ruah dan melihat sisi lain dunia fana. Kamu akan mendapati dirimu terbangun di kota asing, terlingkupi oleh kumpulan daging bernyawa asing. Kamu akan linglung serupa butiran debu di awalnya, dan mau tak mau kamu terus memeras otak dan keringat untuk bisa berpadu padan"

“Lalu apa yang akan aku dapatkan?” Pertanyaanku serupa menantang. Dia tersenyum simpul lalu menskak mati tepat di retinaku.

“Kamu akan lebih kuat. Di awal bahkan mataku pun terkuras bukan? Hati terasa nelangsa menghadapi kenyataan bahwa tak ada lagi “Nduk, makan dulu...”, “Nduk, bangun udah pagi nanti telat...”, “Nduk,mau makan sama apa?”, “Nduk, ini uang jajanmu..””


Aku terpekur. Setiap pagi tidak ada lagi meja bertutup saji. Setiap pagi tidak ada lagi yang sesekali mengetuk pintu kamar. Setiap pagi tak ada yang menanyai ingin makan apa atau sekedar mengaduk segelas susu. Yang ada meja kecil dengan seperangkat teko listrik dan magic com yang bila tidak diisi dengan tangan sendiri, selamanya tidak akan mengepul. Yang ada hanya angan angan tentang makan beli dimana dengan apa. Kembali aku membenamkan pandang ke matanya yang terlihat begitu teduh di pantulan kaca.

“Merantau membuatmu mandiri, yang bila dijelaskan tidak hanya sekedar mandi sendiri, Mey... Merantau membuatmu lebih kuat menghadapai hari dari menyingsingnya fajar hingga terbenamnya matahari di batas senja yang menggantung, seorang diri”

“Tapi, Ke..ada saat saatnya ini benar benar melelahkan..” Aku mencari pembenaran untuk melemparkan keluh penuh peluh, bercucuran menganak pinak.

“Iya, aku tahu. Ada saat dimana kepalamu terasa begitu berat, lalu nafas tersengal sengal dengan tenggorokan yang tercekat setiap saat. Ada saatnya dahimu mendidih dengan hawa dingin yang membalut dari ujung rambut hingga kuku kaki. Dan saat kamu bangun dengan badan mendidih di luar dan menggigil di dalam, yang kamu temui hanya empat sisi tembok dengan seonggok HP. Ada saatnya kamu akan beranjak dengan badan terhuyung huyung ke Indomaret sekedar membeli parasetamol berikut madu dan obat penahan angin yang sedang akan masuk, sudah masuk sedikit.”

“Iya, Ke. Tahukah kamu betapa menyiksanya saat itu?” Aku lalu dengan semangat menceritakan kepadanya.

Saat itu aku baru sebulan menjejaki tanah rantauan, sendirian. Pulang kerja leherku terasa menyengat. Lalu, pelan tapi pasti dia merambat ke dahi, tangan dan kaki. Aku demam. Bahkan, bertahun tahun walau aku sering terserang angin yang masuk, aku tak pernah demam. Lalu, saat itu demam merajai badan. Di dalam empat sisi tembok aku tercenung dengan dahi mendidih dan kepala berdenyutan. Yang aku tahu,

“Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri.”

Pun Injil mengamini dengan mengatakan,

“Tuhan hanya akan menolong orang yang mau berusaha” (bila salah tolong dibenarkan)

Aku lalu berjalan terhuyung huyung ke Indomaret.

“Mbak, ada obat penurun demam?”

“Yang gimana mbak?”

“Yang bisa nurunin demam mbak...”

“Iya tahu yang bagaimana mbak?”

“Pokoknya bisa bikin orang demam jadi nggak demam.”

“Untuk usia berapa mbak?”

“Udah gede mbak...”

“Ini ada mbak, untuk usia 11 tahun ya?”

“22 mbak....”

Seolah aku ingin menghujani dengan kata,

“Mbaaaaaaaaaaaaaakkkkk, aku dueeeemaaaaaammmm mbaaaaaaak!!! Aku cuman pingin beli pil, salonpas apapun mbaaaaaaaaakkkkk....paringono suabaaaaaarrrr”

Untungnya, Indomart selalu bertatap muka dengan Alfamart. Akhirnya ku temukan pil pil dengan bungkusan berwarna biru.

Setelah beli makan, aku menyuapi diri sendiri lalu menelan bulat bulat pil peredam demam. Aku tidur sejenak, dan terbangun karena dahiku kembali mendidih. Kata bungkusnya, bisa diminum kembali bila demam kembali menyerang. Lalu dengan disertai bismillah aku meminum kembali dan kembali tertidur. Di kegelapan malam aku kembali terbangun. Negara api menyerang, sekujur badan serasa terbakar. Aku terduduk dan mencari jalan keluar. Aku bertapa barang lima menit. Aku segera menyambar HP dan menuju ke dunia maya, hingga akhirnya aku minum air sebanyak banyaknya, lalu aku minum madu pula dan juga tidak menyelimuti tubuhku yang menggigil terlalu hangat, nanti hawa panasnya tidak bisa segera enyah. Semua telah tergores dengan cantik di Google.

Lalu, keesokan harinya aku hanya menggelayut manja di kasur dengan alasan sakit. Setelah cuci muka, aku melangkah pelan pelan mencari dokter di dunia antah berantah ini.

Aku menceritakannya dengan meletup letup.

“Lalu, apa yang kamu dapati setelahnya, Mey?” Dia memicingkan mata, mencoba mengorek pelajaran.

“Ternyata aku bisa juga, Ke... Aku tak menyangka aku sekuat itu. Walau kadang di kala malam mataku meruah dengan kepala yang berat. Walau terkadang aku membenamkan kepala dalam dalam ke bantal dengan hati penuh gumpalan. Pada akhirnya, semua orang, termasuk aku bisa.”

“Bukankah batu kali sekali pun bila dipoles bisa menjadi furniture megah berharga mewah?” Dia tersenyum penuh arti.

“Tapi Ke....” Belum genap kata kata aku lontarkan, dia sudah memenggal bulat bulat.

“Tapi terkadang kangen menggelayut? Tapi terkadang rindu bertalu talu merasuki kalbu? Tapi terkadang ingin mengkatamkan segala rasa dengan melangkah pulang dan terhalang kenyataan?”

Aku menatapnya penuh takjub. Aku pikir dia ini cenayan. Lalu, dia kembali berkelakar.

“Tapi, bukankah dulu kamu bilang bosen di rumah. Pingin berpetualang ke luar rumah?? Bukankah dulu kamu seringkali berkelahi dengan adik adikmu, lalu membanting pintu berikut umpatan umpatan?”

Kembali aku tercenung.

Perjumpaan yang sudah lama aku rindukan membuat keluargaku, Ayahku yang sering beradu argumen setiap malam, Ibuku yang melonterkan omelan karena tidurku menginjak subuh demi drama Korea, lalu adik adikku yang seringkali membuat kamarku serupa kapal pecah terasa berharga setengah mati. Merantau membuat kehadiran mereka begitu mempesona. Lalu, aku sadar sesadar sadarnya arti dan harga sebuah keluarga. Rindu membuat sosok mereka begitu mewah.

“Kini, jarak membuat mu mengucap syukur bertalu talu. “Terimakasih atas keluarga yang begitu mempesona kehadirannya”, begitu ucapmu, bukan?”

“Ke, aku juga memaknai harga teman begitu mahal menawan...”

“Merantau membuka pintumu lebar lebar akan ‘teman teman’ yang rupa rupa warnanya serupa balon. Hingga kamu mengerti betapa berharganya teman temanmu yang selalu berteriak semangat di daun telingamu, terserap hingga akar akar kalbumu dan terbenam di tiap tiap sendi tubuhmu. Merantau membuatmu sujud berkubang syukur akan teman temanmu yang mengulurkan tangan tanpa balutan pisau ataupun pistol. Merantau dan bertemu ‘teman teman’ banyak rupa membuatmu sadar bahwa kamu telah mempunyai sahabat sahabat sejati tanpa belati.”

Aku menatapnya dengan binaran melingkupi sekujur mata.

“Kamu benar, Ke... Merantau telah memberiku banyak hal. Merantau telah menguatkan sendi sendi tubuhku, dan urat urat hatiku. Merantau telah menambahkan kadar ketahanan di dalam kalbuku. Merantau telah menguatkanku dari segala sisi.”

Maka,

Merantaulah selagi muda, dan dengan bahu tegak mengarah pada plakat “Welcome to the jungle. Danger!”

Merantaulah selagi muda, dan kau akan menyadari keluargamu begitu mempesona di pelupuk hati karena tak bisa tergapai di pelupuk mata

Merantaulah selagi muda, dan resapi hingga tetes terakhir segala sedu sedan hingga otot trisep bisepmu terasa berkembang. Merantaulah dan jadilah sosok yang kuat.

Merantaulah selagi muda dan temui rupa rupa manusia. Maka, kau akan sadar betapa sahabat sahabat yang ditinggalkan begitu menyimpan jutaan harga. Dan betapa bersyukurnya memiliki sahabat sahabat sejati tanpa belati.

Merantaulah dan menangislah. Karena tangisan itu akan kembali menjadi senyuman kepuasan di ambang senja.

Merantaulah selagi muda dan kecap kecup mesra pahit manis kehidupan, untuk bekal sampai di akhir jaman.

Merantaulah dan buka lengan lebar lebar.

Merantaulah, anak muda! Hidup yang sebenarnya ada di sini.

Merantaulah hingga cita cita dan mimpi berubah posisi dari dipeluk Tuhan menjadi dipeluk tangan. Dari angan, menjadi kenyataan.

Merantaulah hingga temukan cinta untuk melabuhkan hati dan kaki.

“Ke, terimakasih untuk sambutan di pagi cerah walau sedikit gerah..” Aku mengulum senyum pada akhirnya. 

Kata katanya bila aku telaah memang benar adanya. Aku yang baru menapakkan kaki di tanah rantau 7 bulan jelas tidak tahu apa apa tentang ini.

Aku beringsut dari pantulan itu. Aku beringsut dari cermin yang selalu menyapa sepanjang pagi.

“Terimakasih Tuhan, hidupku memang tak selalu mudah...Tanah Rantau ini tak selalu bersahabat. Tetapi, selagi Tuhan memeluk jiwaku, semangat akan terus bertalu talu...”




16 comments:

  1. merantau membuat hidup semakin hidup, banyak pelajaran yg kita dapatkan melalui jalan rantau
    hidup anak rantau

    ReplyDelete
  2. Setidaknya ini yang gue dapet selama merantau:

    Semanja-manjanya, semalas-malasnya, seseorang akan berubah setelah di perantauan, karena dipaksa sama keadaan. Kedaaan dimana jauh dari orang tua, jauh dari orang yang bisa diharap.
    Merantau memaksa orang bodoh jadi pintar, pemalu jadi pemberani, pendiem jadi banyak bicara, lagi-lagi karena dipaksa sama keadaan.
    Simpelnya, sesoarang akan berubah ketika dia berada ditingkat paling rendah dan tak ada seorangpun selain dirinya sendiri yang mau merubah dirinya.

    Btw, gue udah bijak belom, Mey?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini melengkapi tulisannya kak Mey. Gue baru tau ternyata merantau bisa bikin orang jadi bijak.

      Delete
  3. wah keren sekali kakak.
    gak kebayang nanti jika aku kuliah lalu merantau jauh dari keluarga akan kebayang seperti apa. Kadang saat keluarga di depan mata, mereka tampak seperti biasa yang memang selalu ada. Tapi kalao keluarga tak ada di depan mata, keluarga tampak seperti berlian yang di cari :3 hiihi

    ReplyDelete
  4. Dengan merantau, kita akan tahu sejauh mana kita berjalan menghadapi dunia fana yang keras seorang diri. :)

    ReplyDelete
  5. Aaaaaaaa tulisannya kak Meyke keren! sekarang enggak pake gue lagi yak? ihiy.

    Iya, aku juga pengin merantau. Tapi itu tergantung, kalo keterima snmptn bakal merantau, kalo enggak, ya enggak merantau -_- merana deh, jadi enggak bisa ngerasain mewahnya keluarga yang padahal kadang nyebelin. Ah, aku harus merantau.... banyak yang enggak bisa aku pelajari kalo enggak terjun ke masyarakat seorang diri.. aku harus merantau.

    ReplyDelete
  6. dengan merantau bisa membuat kita wawasan kita terbuka gak kayak katak dalam tempurung ,,bisa lebih membaur dengan orang - orang baru , suasana baru dan bisa mengetahui ketahanan kita jauh dari kampung halaman. nice post mey :)

    ReplyDelete
  7. Keren kak Mey!!!

    Aku dari dulu pengen banget merantau. Karena terkadang aku lelah dengan suasana rumah, tapi aku sadar saat aku jauh dari keluarga. Suasana rumah yang membosankan itu yang membuatku rindu. Kalo aku sendiri belum termasuk kategori merantau sih, cuman aku udah terbiasa bagaimana rasanya jauh sama orang tua :"). Bedanya kalo merantau sih kan kita berada di tempat yang kita belum tau apa-apa tentangnya, sedangkan aku biasanya masih ditempat yang udah aku tau atau masih sama keluarga selain orang tua.

    Sometime, aku pengen benar2 merantau. Karena aku ingin menjadi lebih mandiri dari biasanya :D

    ReplyDelete
  8. aku gagal merantau. karena memang kuliahnya di Surabaya, dan itupun cuma sejam dari rumah, pulang-pergi, ngga nge kos. banyak perubahan2 yg aku liat dari teman2 yang merantau, aku juga pengen bisa merantau. merantau ke tempat yang jauh

    ReplyDelete
  9. ini suara anak rantau.

    pasti kangen banget dengan orang-orang terdekat kan, yang biasa ketemu langsung. dari adu argumen, omelan, tingkah laku saudara pasti akan dikangenin.
    tapi mereka semua pasti bangga, karena ini sudah menjadi pilihan anaknya. jadi buktikan aja kalau di perantauan akan pulang dengan kesuksesan.
    bisa menjadikan kita lebih mawas diri, bertanggung jawab, dan madiri kan akhirnya.

    ReplyDelete
  10. Merantau emang bisa mengubah seseorang ke sisi positif maupun negatif, tergantung masing-masing pribadi dan lingkungan perantauan.
    Kalau aku sendiri emang baru menyadari betapa berharganya keluarga setelah merantau, jadi lebih sayang ama keluarga. Bertemu teman2 diperantauan yang bisa menjadi sahabat suka duka dan sekaligus keluarga.
    Nice post kak mey :D

    ReplyDelete
  11. Aduhh... jadi ingat mama paapaa.... dirumah.... hiks hiks hiksss

    Merantau itu emang udah takdir dari tuhan buat kita2 yg udah di tentuin bakalan jadi orang sukses...banyak hal yg berubah dari diri kita di perantauan,,, tentunya ke hal2 yg lebih baik lagi dong..

    Pernah jg kok sakit ampe...sendiri dikamar.. ampir sekarat karena ngga ada yg rawat,, untung ada teman kos yg inisiatif bawa aku ke rumah sakit.. dan yup aku kena demam berdarah... alhasil di rawat inap..

    Jadi curhat deh tuh hehe

    ReplyDelete
  12. waaa...meykke inspiratif bangett...
    iyasih...mau nggak mau, merantau itu bisa ngubah kita jadi orang yang mandiri dan tanggung jawab....
    dan kangen keluarga itu udah jadi bumbu2nya..hahaha
    bener..paling susah kalo pas sakit...gimanapun kudu bisa ngerawat diri dan ngurus diri sendiri walopun sakit...

    ReplyDelete
  13. aku masih ingat sama sedikit status mbak mey dulu....dulu banget....pas zaman purba....aku simpen di Hp...sayangnya hp nya sekarang udah beralih tangan....

    "merantaulah, maka kamu akan mengerti makna cinta dari keluarga dan orang-orang yang kamu cintai"

    kalau nggak salah sih begitu...

    hah...hidup dalam perantauan memang enak nggak enak...tapi harus betah....harus ada perubahan menuju titik yang lebih baik....


    hidup merantau....

    hidup the raid #salam

    ReplyDelete
  14. merantau ya?
    boleh dicoba kayaknya :D

    ReplyDelete