Wednesday, 12 March 2014

PUTIH ABU ABU MAHA BERWARNA!!



“Meykke!!! Gerbangnya sudah ditutup, Meykke!!!”

“Apppahhhh????” Gue lari tunggang berlevel langgang. Rok gue jelas jelas gue singsingkan demi interval langkah yang teruntai maha lebar. Dengan kaki berparas gagang korek api gue menyelusuri pelataran ruko ruko untuk menuju gerbang maha dahsyat yang sudah menciut sepanjang 10 cm saja.

“Meykke, cepattt!! 3 detik lagi gerbang akan ditutup!” Teman gue yang lebih cekatan dalam hal berlari sudah ada beberapa centimeter di depan gue. Dengan keringat menganak pinak karena kalau sungai udah mainstream, gue terus melajukan kaki jangkung gue.

“Paaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!” Ucap gue seraya menggapai jeruji pagar yang sekejab akan ditutup. Dengan muka datar, pak Satpam mengijinkan gue masuk. Happ!! Sekali lompat menembus kelebaran pagar yang hanya menganga 10 cm sedangkan saat posisi miring kelebaran gue hanya 7,5 cm saja, gue langsung berhasil. Akhirnya gue bisa meretas jalan demi sebuah ilmu hari itu. Dengan langkah tergopoh gopoh gue berlari kecil karena kalau besar udah capek ke dalam kelas XII IPA 3!!


Gue megap tak terkira saat sudah berhasil mendaratkan pantat gue yang minimalis di bangku sekolah.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Alasan kenapa ‘telat’ adalah semacam langganan buat gue adalah salah satunya rumah gue yang dibilang terlampau jauh. Kata Ayah gue, jarak rumah ke sekolah sejauh 25 km.

Dulu, saat gue masih kelas 1, gue beranjak dari rumah jam 5.30!! Ayam tetangga masih berkokok bersahut sahutan dan fajar belum menyilaukan sepenuhnya. Bahkan, teman teman gue yang lain pasti sedang mandi. Gue??? Dengan seonggok tas bergelayut di punggung, sepatu menancap erat di kaki dengan uang bersemayam di kantong sudah siap sedia meniti jalan sepanjang 25 km!! Ibarat kata, gue siswa luar kota. SMA gue ada di kota Salatiga, dan gue tinggal di kota Ambarawa. Ya, anggap aja kota.

Gue harus jalan turun dulu dari rumah gue menuju sekolah, kemudian dilanjutkan naik angkot selama sekitar 20 menit menuju pusat kota. Nah, di sana gue harus nunggu bis yang mengantarkan gue ke sekolah idaman gue ini. Perjalanan bis memakan waktu sekitar 45 menit!! Jadi, kalau gue berangkat pukul 5.30 maka gue akan hadir di sekolah pada pukul sekitar 6.35.

Hari merangkak, bulan berjalan, tahun berlari. Semakin ke sini, merasa sudah menjadi senior, yang semula gue mulai melangkah pagi pagi buta, pada akhirnya gue beranjak pada pukul 6!!

“Assalamualaikum!!”

“Ikeeee, nggak makan dulu???” Ibu gue berteriak dari balik dapur.

“Nggak, nggak ada waktu..” Secepat kilat gue mengikat tali sepatu dan hendak berlari. Lalu, gue masuk kembali.

“Buuuk, sangu...” Gue sampai lupa minta sangu. Gerbang sekolah sudah menari rumbai di pelupuk mata gue. Dan pada akhirnya, dengan keringat menjalar jalar, muka lusuh tak karuan, bedak berhamburan dan bau badan mengalami pergolakan gue berdiri di ambang sekolah. Pagar dengan jerujinya yang megah menatap sadis ke gue.

“Rasainn lu!!” Dia bilang...

“Apaan lu??? Sini maju kalau berani!!!”

10 menit berikutnya pagar terbuka. Pak Satpam tanpa kumis mulai memberikan komando untuk segera berbaris. Dia melirik lirik ke kanan dan ke kiri, dari bawah ke atas.

“Kalian kalau berangkat sekolah aja telat, besok mau jadi apaaa??? Haaaa?????”

“Kamu?? Kenapa telaaat???” Dia bertanya kepada satu murid di ujung barisan yang memakai baju tak disetrika dengan rambut berdiri menatap langit.

“Telat bangun pak...”

“Cari mati nih anak...” Batin gue. Gue mulai menyusun alasan alasan logis termaafkan.

“Saya harus memeras susu dulu pak. Saya harus membantu Ibu saya dulu sebelum berangkat sekolah. Tapi, sapinya ngambek nggak mau ngasih...” Oke, ini garing. Bahkan, di desa gue satu biji pun nggak ada yang punya sapi.

“Jam saya mati pak, saya pikir sekarang masih jam 6 ternyata udah jam 7 toh pak??” Ini kelewat bego.

“Pak, bis saya mogok di jalan, pak. Tau sendiri bis ESTO khan tinggalan Belanda sekarang udah tua tua pak, pada rusak di jalan...” Tapi, pak satpam tau kalau variasi bis Ambarawa-Salatiga tidak hanya bis ESTO, tetapi bis SARI, SUKSES, dan REJEKI SUBUR.

“Pak,di Ambarawa maceeet paaak...katanya ada truk mogok.” Gue pikir alasan terakhir adalah alasan paling logis.

Maka, saat giliran ditanya, gue menjawab serupa dengan muka seunyuk mungkin.

“Maaf pak, tadi di Ambarawa macet pak...ada truk mogok di tengah jalan..”

“Lho?? Bukannya kemarin udah macet?? Kok macet tiap hari?? Kok truk mogok tiap hari??”

Aduh!! Gue lupa kalau gue udah pake tuh alasan buat telat edisi kemarin!! Gue seharusnya lebih bijaksana menyikapi kebohongan dan menyiapkan lebih banyak amunisi alasan yang kreatif. Gue tertangkap basah. Mata gue mendadak melirik ke kanan, kiri, atas, bawah saking bingungnya. Sebentar lagi gue bakalan ayan di tempat. Gue menunduk sedalam dalamnya.

“Ini pasti mimpi!!! Ini pasti mimpi!!” Gue mengerjab ngerjab beberapa kali, dan gue tetap berdiri penuh kegalauan di depan pak Satpam.

“Ini kenyataan, Meykke...”

Sejurus kemudian, gue disuruh ke kantor untuk mencatat nama gue, dan alasan kenapa gue terlambat.

Beberapa kali nama Meykke bertahta di buku keterlambatan itu.

Meykke, anak Ambarawa yang harus mengarungi jarak 25 kilometer berlangganan telat. *sigh

--

Itu hanyalah segelumit kisah kisah bodoh gue semasa SMA. Bagi gue, SMA begitu menghadirkan miliaran warna buat kehidupan gue.

Kita masih berkutat di buku Matematika, IPA, IPS dan lainnya. Dunia belum sekejam sekarang. Gue masih berlenggak lenggok mengenakan rok selutut yang saat kelas tiga gue modifikasi menjadi sedikit di atas lutut dengan pangkal di ujung pinggul. Lalu, seragam atasan gue kecilin hingga tulang rusuk gue berbayang. Gue ngerasa keren sekali. Gue juga hobi memakai bando yang gue beli bersama teman teman di depan sekolah.

Teman teman....Ah, gue jadi kangen sama mereka semua. SMA mengantarkan gue pada cerita manis luar biasa. Teman teman sekelas gue saat kelas 2 dan 3 adalah teman teman sekelas yang begitu kompak. Selama dua tahun kita menimba ilmu bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan tes pun berkolaborasi dengan sempurna.

Banyak moment kita lewati bersama, dari sekedar ngerumpi bersama di depan kelas dilanjutkan foto foto, beli jepitan rambut bersama, makan biting pedes dan gorengan bersama di belakang kelas, sholat Dhuha berjamaah, dan masiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih banyak lagi.

Setiap hari kita membawa tempat makan lalu kita makan bersama di dalam kelas. Saat ada yang ulang tahun, maka teman teman akan mengkoordinasi untuk membelikan kue dan kita kasih kejutan manis tiada tara. Di akhir kebersamaan kita juga hobi berfoto dengan guru guru seusai pelajaran. SMA adalah putaran dunia paling indah bagi gue. Teman teman yang tulus, pengalaman yang begitu seru, tawa yang tergelak gelak setiap hari, dan cerita yang pasti tidak bisa dilupakan sampai gigi gue tanggal semua.

MOMENT MENGHARU BIRU...

Moment mengharu biru yang masih lekat gue ingat adalah saat kita sudah ada di ujung waktu. UAN di ambang mata, dan sekolah menggelar serupa pengajian bersama dengan banyak pesan dari bapak dan Ibu guru. Banyak sekali pesan yang dilontarkan oleh guru maha bijaksana gue.

“Banggakan orang tuamu, gapailah cita citamu...”

“Jangan lupa sebelum mengerjakan UAN, minta do’a dari Ayah dan Ibu... Do’a orang tua adalah do’a yang paling manjur..”

Gue mengepalkan jari dan berjanji dalam hati saat itu. Teman teman gue diam beribu bahasa, mencerna dan meresapi setiap suku kata berikut maknanya dari mulut guru gue. Bahkan, beberapa di antara temen gue sudah mulai pilek mendadak dengan raut wajah begitu merah.

Usai pengajian atau kultum, kita berjalan keluar dan bersalaman dengan semua guru yang sudah berbaris mengarah ke pintu keluar. Dan begitu bersalaman, tangis kita berderai derai, meledak ledak. Gue pun begitu. Entah kenapa rasanya seperti ada bongkahan semangka yang membesar dan akan keluar, menggumpal. Yang gue pikirin saat itu bukan hanya tentang UAN yang menakutkan, juga tentang perpisahan yang mengakhiri tawa dan gelakan gue bersama teman teman gue ini. Tiga tahun terasa hanya selumat waktu dan perpisahan terlihat begitu nyata namun menyiksa. Gue pilek mendadak seperti yang lain sambil mencium tangan guru satu per satu. Gimana guru?? Jangan ditanya... Mereka pun juga mbrebes mili saking terharunya.

Sampai di kelas, suasana begitu sepi. Teman teman gue duduk di bangku masing masing dengan tatapan kosong. Mukanya mendung berpetir. Gue pun sama. Duduk diam membisu. Tiba tiba, dari arah belakang seorang laki laki kekar yang adalah teman gue mengeluarkan suara suara mencurigakan.

“Hek hek hek..” Kira kira begitu bunyinya. Gue sedikit melirik, ternyata pipinya sudah banjir. Gue liat dia galau maksimal. Tak seberapa lama, teman yang lain pun mengeluarkan suara yang senada. Satu, dua, tiga, empat, dan semakin banyak mendesir desir dengan mata memerah dan hidung yang terus kembang kempis. Karena tak tahan, gue menunduk dengan tangan yang menopang kepala gue di atas meja, dan mata gue berderai derai. Pada akhirnya, kita menangis berjamaah di kelas. Ujung masa SMA yang penuh haru dan sedih. Masa SMA yang penuh kisah manis dan pahit. Ibarat kopi, kita kopi susu premium dengan krimer melimpah ruah, pahitnya hanya setahi lalat.

Bagi gue, masa masa sekolah paling berkesan adalah masa SMA. Di sana gue mengerti arti persahabatan, arti kekeluargaan, arti untuk bisa bertahan, dan arti untuk bisa memeluk impian. Tidak hanya itu, di SMA gue mulai mengerti arti mencintai. Gue berasa gaul.



Seisi kelas dengan jaket kebesaran!!
pose begitu dulu keren bingitttt!! Pose meniup kecup!!

Pose seusai upacara dengan muka unyuk maksimal.

Selepas Batik Day dengan dekorasi kelas super asoy sampai nyewa gerobak ronde berikut tukang rondenya!!

Saat jalan sehat biar umur panjaaaaaaang semuanyaaaa....


Tanpa berkelakar panjang lebar, bidikan masa masa di atas sudah begitu bercerita, bukan??

Tapi, hidup harus terus berputar, dan masa kemarin bergulungan menjadi kenangan.

Gue bersyukur bisa mengenyam masa masa SMA bersama teman teman gue, menghabiskan tiga waktu bersama dengan setumpuk pengalaman berharga yang tidak bisa terbeli dengan apapun. Dan saat kamu sudah bekerja, maka kamu akan menyadari betapa teman sekolah dan teman bekerja begitu sangat sangat sangat sangaaaaaaatttt berbeda.

Teman SMA yang menjalin persahabatan dengan begitu tulus, muka hanya satu, dan jarang menghunus.

“Masa masa paling indah....kisahkasih di sekolah...”

Dan kita telah tumbuh dewasa, bahkan beberapa di antaranya sudah mengentaskan diri serupa ini. Tapi, teteeeepp...kompaaak, semoga sampai kakek nenekk!!


"Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway “sekalian ulang tahun blog, ulang tahun Ichsan dan 2 bulanan buku #AyamSakit"
 







17 comments:

  1. setuju banget ! masa SMA itu masa yang paling indah :) biarpun sekarang terpisah jauh, masih tetep bisa komunikasi kok. Buktinya gue dan temen2 gue masih tetep bisa saling canda. walaupun di dunia maya doang, lewat grup Whatsapp hahaha :D

    ReplyDelete
  2. Waduh jadi pengen balik lagi kemasa SMA hehehe..
    Aku juga dulu waktu SMA sering ngerasain yang namanya telat,kalo di SMAku dulu kalo telat disuruh bersihin sekolah,payah banget emang....-_-

    ReplyDelete
  3. haiii.....meyke kayaknya saya pernah ke sekolah kamu #sok kenal :) ,,, maaf kamu SMA berapa ya?? kayak dejavu gitu rasanya

    ReplyDelete
  4. gue baru tu ternyata kak meike ini dianggil ibunya "ike" hahaha... sekolahnya jauh banget sih, emang di ambarawa nggak ada SMA apa? berangat sampe jam 5 pagi -_- itu mamang somay juga baru nyaiapin engkol..

    bahasa ambrawanya 'jajan' itu 'sangu' yah, sama kek di sini. sangue bu :D

    ReplyDelete
  5. hihi seru memang pengalaman SMA dulu, saya dullu malah cukup beberapa kali terlambat dan akhirnya dihukum nyabutin rumput. terus juga males untuk ikut keg. organisasi :)

    ReplyDelete
  6. kalian sekelas kok berasa banyak banget ya....ramee...
    iyasih masa SMA emang masa paling indah...nggak berasa yah sekarang udah gede semua..bahkan udah ada yang nikah....

    ampun deh..sampe 25km gitu..kalo aku sih mending ngekos deh..hahaha

    ReplyDelete
  7. Hidup dalam sebuah asrama....dengan dilingkari setumpuk aktifitas wajib sehari2...tak terasa 4 tahun berada dalam sebuah lingkaran yg kadang kita sebut dengan penjara suci,sebuah pondok pesantren modern setara SMA disanalah tempat gw mengukir semua kenangan2 indah bersama sahabat yg kini sudah berubah menajdi saudara :D
    merasakan SMA hanya 3 hari yaitu saat UN doang,tp inilah hidup,walaupun kadang orang menganggap gw beda,karena tidak merasakan indahnya dunia SMA,tp inilah jalan yg gw ambil :)
    Postingannya mengitkan gw akan indahnya masa2 itu ... walaupun agak sedikit berbeda hehe

    ReplyDelete
  8. 25KM itu jauuhh bingiittt! Kenapa gak pindah sekolah yg lebih deket aja kak, ups di ambarawa gak ada sekolah ya? #ehh *dikeplak*

    Iyasih masa SMA emang nganenin.. Haha.. Tapi ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Ayuk kita melangkah bersama menuju pelaminan #Loh!

    Ka mei, itu sekelas atau sekampuuuunngggggggggg! Banyak bangettt!!! (Kelasku juga dulu gitu sih, ada 40 murid) Hahaha xD

    ReplyDelete
  9. Wah lengjapnbanget ceritamya mey... Foto-fotonya bikin terharu . Banyak banget foto barengnya. Aku dulu gak sebanyak itu. Dan foto bareng di nikahan itu jg ruaammee bangett... Bener-bener kompak yaaaa...... Jadi agak kangen sama masa-masa sekolah

    ReplyDelete
  10. kisah kasih di sekolah :)

    emang masa puti abu-abu itu adalah masa yang paling indah dalam hidup. kita melewati tiga tahun dengan sahabat2 yang sangat menyenangkan, belajar hal-hal baru, mulai dewasa dan mulai menemukan cinta monyet, banyak lah pokonya.

    sebentar lagi gue juga akan mengakhiri masa putih abu-abu gue.

    ReplyDelete
  11. Apaaahhh? 25 km kaakk? Jauh banget itu kak ya ampun keren banget menempuh jarak sejauh itu. Kenapa nggak ngekos aja tapi?

    Hiks, bacanaya terharu ya. Emang masa-masa SMA itu paling indah. Temen-temennya kompak pake banget. Apalagi saat ujian.

    Aku sempet dilema waktu menjelang UN. Di satu sisi pengen naik tingkat juga. Tapi di sisi lain nggak mau pisah sama temen-temen. Apalagi yang udah jadi sahabat. Kakmey gitu juga nggak?

    Setuju banget sama kata terakhir. Temen-temen SMA dan sekarang itu beda jauh banget kak:((

    ReplyDelete
  12. Kompak banget itu kelasnya kak Mey :') Sedangkan waktu zaman gue memakai seragam putih-abu di tahun 2009-2012, gak ada sekompak itu. Mereka berkelompok. Ya yang pinter sama pinter, yang bodoh pun begitu. Kaya - miskin jelas terlihat. Bihiks :'(

    Tapi tetep gue ngerasain kalo memang temen sekolah jauh lebih berbeda ketimbang temen kerja. Temen sekolah amat sangat tulus, beda teman kerja. Malah kalo gue bilang, temen kerja itu nusuk dari belakang. Iyaaa. Kejam banget

    ReplyDelete
  13. Bener banget! Masa SMA itu masa-masa yg paling indah :') Aaa... Kangen masa-masa itu TwT

    ReplyDelete
  14. langganan Esto? #eh
    satpame galak men, Sapari ya? Nek Tugiyani ketoke ora galak :))
    Sampeyan angkatan tahun pinten?

    ReplyDelete
  15. kerennnnn, gue terharu baca endingnya.....
    calon juara nihhh,
    moga menang yaaaa :D

    ReplyDelete
  16. Selamat dah menangin GA-nya Ichsan Ramadhani, ya Mbak Meyke. Busyet sekolah jauh banget, tapi yang penting berkesan. Gue ke sekolah sering jalan kaki sampai sekira 3 km kurang lebih untuk ke mulut jalan raya. Lalu disambung naik sado. Asyik banget jalan pagi meski capek, napas ngos-ngosan, dan sepokat cepat jebol solnya.
    Iya, masa SMA atau SMU itu paling ngesenin. Ada seabrek cerita yang siap gombrang-gombreng. ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...