Wednesday, 7 August 2013

Ingat Malam Takbiran, Ingat...


Alhamdulillah, finally....

Time flies soooooooooooooo fast, pals!

Kayaknya baru kemarin kumandang takbir mengangkasa luas seantero negeri, sekarang pun lagi..

Juga, riuh rendah suara “duorrr!!!plesss!!ciuuuuuu preketeeeeek!!! Diesss!plaaaak!!byurrr!!pyarrrr” terdengar bertubi tubi di sela sela Allohu Akbar.

Dan kalo sudah sampai di titik ini, ingatan saya kembali bergulung ke belakang, saat tinggi saya sekitar 1/3 dari tinggi saya sekarang.

Dulu, malam takbir jauh jauh lebih ramai dan lebih terasa. Tahun 1999, awal saya tinggal di desa ini, saya takjub dengan lampu berkerlipan di sekujur badan jalan membentuk serupa kubah mesjid dengan lengkungan sedemikian rupa dan meruncing di tengahnya.

Bendera bendera beraneka rupa juga tak ketinggalan bertengger di sisi jalan, berpasangan. Nggak pernah bertengkar.

Sehari sebelum malam takbir, para pemuda sibuk bukan kepalang mengumpulkan botol kratingdaeng, sumbu, dan juga bilahan bambu. Banyaaak kegiatan di sepanjang Ramadhan kita lakukan. 

Bahkan, saya pernah bersama teman teman saya mengangkut bambu panjang nan berat dari sisi sungai besar. Kita bawa bambu itu, naik begitu dan baru dicacah cacak oleh pemuda pemuda desa. Juga, kita hias jejalanan desa. Cat warna putih, ember wadah cat, kuas, rafia, batu, dan juga kulit kelapa yang disulap menjadi kuas darurat. Dengan kompak membahana, kita hias jalan desa sesuai RT nya. Kita cat sesenti demi sesenti begitu.

Kita isi botol kratingdaeng yang kita cari di warung warung beberapa hari sebelumnya dengan minyak tanah.

“Iyuuuuh, masak gueh harus ngais ngasi tempat sampah cari botol kek begince???”

“Ogah amir ah gueh, gila ajah tiap hari luluran masa suruh minta minta botol bekas??”

“What????? Lu pikir gueh tukang mungut sampah????”

Dulu belum ada sinetron Indosiar, saudara saudara.

Dulu masih jamannya film India serupa Kuch Kuch Hotahai, atau filmya Suzanna yang bakpao berubah jadi anak ayam, atau Ratapan Anak Tiri yang lagunya,

“Ibu Tiri..hanya cinta..hiks hiks..kepada...hiks..ayahnya saja,,,tapi bila..ayah pergi ku disiksa dan dicaciiii....”

Kita disuruh ngecat jalan, disuruh isi minyak tanah, atau ngikat botol kratingdaeng di bilahan bambu plus memasangnya di pinggir jalan pun kita lakukan dengan hari riang gembira tiada tara.

Dan malam takbir pun tiba.

Ada satu kenangan favorit saya. Di desa saya ini, ada dua macam takbir.

Pertama, takbir jalan.
Dulu, pemudanya banyak dan belum mengadu nasib di pulau seberang atau di luar kota. Mereka membuat serupa ada unta, atau yang kepalanya ditancepin sama kertas dililitin lidi warna warni itu (duh, lupa namanya) raksasa terbuat dari kertas bekas wadah semen dengan kerangka dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa. Lalu, ada juga gerobak untuk mengankut sound system yang kemudian diganti dengan mobil bak terbuka begitu. Dari RT 1 kita keliling sampe RT 6, kalau cuaca cerah sampai di desa tetangga dan mengitari desa itu. Kita mengumandangkan takbir tak kenal lelah sambil membawa lampion atau pun obor dari sebilah bambu dengan gombal di ujungnya sebagai serupa sumbu , diisi dengan minyak tanah. Dilihat dari kejauhan, indahnya luar biasa...Kebersamaannya itu...

Barisannya puanjaaaaaang begitu...

Nanti ada yang menyalakan kembang api, ciuuuu ciuuuu pletak pletaaak...warna warni langitnya..cipratan api warna warni mewarnai angkasa luas..ceileh..

Wah, susah dibayangkan dengan kata kata rasanya itu luarrr biasa...Dulu kita masih kecil kecil. Ada Fita, Mbak Isa, Dek Ina, Mbak Ega juga, banyaaak cowok cowoknya juga.

Nah, udah takbir sesi pertama usai.

Ini yang lebih serrru lagi. Takbir keliling!! 

Kalau ini pake kendaraan, mengelilingi Ambarawa, lalu turun ke Pangsar, terus ke Banyubiru, putar lewat Brongkol...

*walah, itu di planet Bumi sebelah mana Mey?

Dan saya naik apa saudara saudara?????

Avanza? NO

Baleno? NO

Honda Jazz? NO

TRUK PASIR.

“Waaah, ayo ayo ayooo naeeeeeeeeeeeeeeeek...”

Lalu dengan bahagia kita naik truk bersama sama. Berdempetan rapat rapat cowok dan cewek sambil berpegangan pada dinding trus atau pun bahu temannya.

Dulu belum ada youtube, belum ada artis sama vokalis bikin bikin video, atau pun film film Indonesia serupa Kuntilanak Dikeramasin Kolor Ijo. Kita mau dempet dempetan, mau mepet mepet juga tidak ada desiran rasa akibat kontaminasi media elektronik atau pun dampak teknologi. Kita masih...polos.

Nah, udah gitu ya ada yang naik trus, dulu bisa sampe 3 atau 4 truk bermuatan manusia, juga ada mobil mobil bagus, angkotan juga, dan yang paling banyak ada yang naik motor. Kita takbiran keras kerasan sambil melewati jejalanan. Kalau ketemu sama rombongan lain gitu, kita makin keras nyanyinya. Modalnya juga nggak Cuma mulut, tetapi juga alat musik lainnya. Ada drumblek ada lainnya juga.

 Nanti ada Pak Bayan, pemimpin takbiran yang mimpin takbiran pakai toak, kita mengikuti nada dan ketukannya.

Langit langitnya penuh kilatan warna. Cetarrrrr membahana..

Sayanya dan teman teman ketawa sambil bercanda...

Kalau truknya ngerem mendadak atau belok gitu, kita teriak alay...

“Aduuh...aaaak...aaaaak...aaaaaaaaaaaak...” Lalu kita sok sok mau jatuh padahal pingin mepet mepet temennya...

Lalu ketawa berjamaah...

“Huahahahahahahaha.....”

Lain tahun, saya juga pernah takbir keliling diboncengkan motor Ayah saya, pernah juga diboncengkan sahabat saya, Fita...macam macam, karena tiap tahun memang selalu ada takbir keliling. Tahun lalu pun saya malam takbiran diboncengkan motor kakek saya! Tetapi untuk tahun ini, saya nggak tahu. Kalau pun ada, saya sudah pasti nggak ikut. Saya sedang..... masuk angin. -______-

It was unforgettable moment!

Di lain kesempatan juga, saya dan teman teman takbiran di mesjid dan mengudarakan suara cempreng indah kita lewat corong toak mesjid...

Kita bergantian takbiran diiringi okestra tabuhan musik seadanya pake blek dan botol dan kentongan sampai dini hari. Bahkan, pernah sampai jam 3 subuh!! Saya dan teman teman sampai dikirimi cemilan sama tetangga saya.

Kita nyanyi begitu sambil ngemil di mesjid.

And time flies so fast, extremely fast..Rasa rasanya baru kemarin saya baris kompakan bersama teman teman masa kecil, pake jilbab ala kadarnya, lalu bernyanyi mengumandangkan takbir riang gembira.

Rasanya baru kemarin...

Dan sekarang, semua di antara kita sudah beranjak dewasa. Sudah ada yang punya anak, ada yang sudah menikah, atau pun sudah bergelut dengan hidupnya masing masing.

Nevertheless, thanks for Alloh giving me chance to feel such a memorable event ever, altogether with my childhood friends, with all my neighbors, all family.

It was so fabulous moment, never ever forget it!

Dan sekarang, takbir berkumandang di segala penjuru, mengagung agungkan kebesaran Alloh, merasakan malam kemenangan dengan nuansa islam yang kental.

And...


SELAMAT HARI RAYA INDUL FITRI
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, AKHI DAN UKHTI!!

Maapin eaaaaa...


9 comments:

  1. Iya yah, kalau di ingat2, malam lebaran dulu2 itu lebih semarak daripada skrng ini.

    Lampu2 jalan dimana-mana, takbiran keliling kota, ibu2 menjemur kasur, haha...dan sebagainya

    Anyway, selamat idul fitri 1434 H
    Semoga Allah terima amal ibadah kita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, pas malam takbiran ibu ibu menjemur kasur ngapain cc??

      iya, sama samaaa..aamiin ya robbal alamiin :)

      Delete
  2. Wah, seru ya. Kalo di tempatku nggak ada kebiasaan takbir yang aneh-aneh gitu. Sampe sekarang sama aja, orang takbirannya pake speaker masjid. Tapi kembang api sama lah, ada juga di tempatku...

    Anyway, selamat idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. di jekardah gtu ya?? hhehe..

      iya, sama sama...mohon maaf lahir dan batin, fightiiing!!!

      Delete
  3. waduh mbak.. tu mulut gak capek apa.?? dari abis takbir keliling sampe subuh ngumandangin takbir terus... weh weh weh.. Syiaaalluut gue mbak.. gue 2 jam aja udah ngos-ngosan..!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuaduuuuh mas Johan, ya nggak gitu juga kali,,,kan personilnya banyak ga cuma satu biji jadi ya giliran gitu lhooo -_______-

      Delete
  4. jujur aja, gue lebih iri sama di desa-desa yg ada takbir kelilingnya. klo di jakarta, bkan takbir keliling, tapi jalan-jalan sama pasangannya. duh, kan gue jadi galo lgi _ _"

    gue pernah takbiran di kampung gue, dan memang lebih berasa yg kyak gitu dari pada yg di jakarta.

    mohon maap lahir batin yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuaduuuh, untung aku masih di sini ya Mad..behehehe...iya, samak. kalo aku di jakarta waktu malam takbiran pasti jga galauh maksimal.

      iya sama sama, mohon maaf lahir dan batin ya :D

      Delete
  5. wuidih asik banget itu kayanya hahaha :))
    mohon maaf lahir batin ya kak :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...