Tuesday, 16 July 2013

Menikmati Alun Alun Kidul Jogja Temaram nan Membahana

“Aduuuh, lurus terus ya?? Maju berapa langkah lagi???”

“Dengarkan kata hatimu Me...”

“Aduh, aku tiap mau mendengarkan kata hati, salah muluuu...bisa bisa tersesat nih...”

“Ya udah pokoknya terserah kemana mau melangkah...”

Dan akhirnya saya bisa sampai ke sisi sebelah, melangkahi jarak dua pohon Beringin besar yang ada di tengah lapangan.

“Horeeee....aku berhasil!! Aku berhasil berhasil Horayy!!!”

Lalu saya handstand selama 7 menit untuk merayakan keberhasilan saya.

Konon katanya, manusia mana yang berhasil berjalan dengan mata tertutup melewati di antara pohon besar itu tanpa serong atau tertabrak maka dia akan mendapatkan berkah tak terhingga. Dan kegiatan ini ada namanya, saudara saudara. Namanya itu Masangin!!

Dan percakapan saya di atas...uhm....percakapan saya..uhm...khayalan belaka. Karena di dunia nyata, saya belum pernah melakukan Masangin itu. Dengan mata terbuka saja saya sering tersesat dantaktauarahjalanpulang, apalagi dengan mata tertutup. Tidak ada harapan.

Tapi nggak papa, karena untuk kedua kalinyaaaaa....akhirnyaaaa...saya bisa ke sini lagi, di malam temaram cerah ceria membahana luar biasaaaa.

Masih, di sederetan perjalanan Ngejogja ala Koper.

Puas mendaki puluhan tangga menuju puncak gemilangcahaya Borobudur serta mampir sebentar di Candi Mendhut, tibalah kita di salah satu hotel dekat Malioboro.

Selesai mandi dan memoles apa yang perlu dipoles sedikit, saya beserta bulek, Tata, Om, dan Tante melayangkan tujuan ke salah satu ‘pusat peradaban’ yang terletak di belakang kompleks bangunan Kraton Yogyakarta. Nama bekennya, Alkid!

Alun Alun Kidul Jogjakarta!


Alkid ini pun bersimbol, saudara saudara. Simbolnya adalah gajah yang memiliki watak tenang, Alun-Alun Kidul merupakan penyeimbang Alun-Alun Utara yang memiliki watak ribut. Karenanya, Alun-Alun Kidul dianggap tempat palereman (istirahat) para Dewa. Dan jelas kini sudah menjadi tempat ngleremke ati (menenangkan hati) bagi banyak orang.

sumber : Google


“Hari ini khan hari Selasa ada pengunjungnya nggak kira kira Ke?”, bulek bertanya di sepanjang perjalanan ke sana, takut tidak ada pengunjungnya.

“Waktu kemarin aku ke sini sama temenku juga ruame banget kok Bulek.”

Dan sesampainya di sana, kira kira pukul 10 malam, waduuuh...mau parkir pun sampai macet, saudara saudara!

Kalau sudah berada di bundaran jalan yang mengelilingi lapangan itu, banyak sekali mobil kayuh dengan pudaran lampu berkerlipan di sekujur tubuhnya plus music yang disetel di masing masing unit. Ingat mobil ini saya jadi ingat Syahrini. Sesuatu sekali...

Karena Tata ingin sekali mengayuh mobil kayuh ini, jelas saja hal  pertama yang kita lakukan di sini adalah melakukan penawaran dengan mas yang memberi sewa. Dan untuk tiga putaran, masnya membandrol harga.....aduh saya lupa. Kalau tidak salah 30ribu atau 20ribu. Biasanya saya sangat ingat karena selalu bayar sendiri. Jadi, setelah membayar, biasanya saya melakukan kalkulasi,

“Oke, 30rbu melayang, sisa uang sekian...besok masih harus ke sini dan ke sana, makan tiga kali nggak usah mahal mahal, masih harus bayar tiket masuk, uang brarti tinggal segini, malioboro lewat aja, pulang BBM naik jadi bayar segini.”

Nah, kalau ini...setelah tahu harganya, langsung saya lupakan saja... Jadinya saya lupa.



Sebenarnya naik mobil kayuh bercahaya ini bukan hanya idaman Tata seorang. Saya bahkan sudah mengidamkannya sejak bulan Januari. Waktu itu, saya bersama teman teman saya juga menghabiskan malam hari di sini. Saya dan ketiga teman perempuan saya juga ingin sekali naik mobil kayuh ini.

“Ayo ayo habis makan ronde naik ayo naiiiiik...”, saya bersemangat!

Dan semenit kemudian...

“Bresssss......wussssss...bresssssss....” Orang orang yang sebelumnya tercecer di manamana, perlahan raib menyelamatkan diri dari guyuran hujan.

Sayanya syedih. Dan Januari itu, saya tidak bisa mengatamkan keinginan saya untuk naik mobil kayuh.

“Ayo lho numpak ayooo...”

“Udan Mek...udan...”

Tapi, sekaraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang......



Kalau yang lain waktu lewat gitu ya, musiknya waaah..Rihanna! yang satu Justin Bieber!! On fire on fire!! Yang naik mengayuh sambil kepalanya geleng ke kanan dan ke kiri mengikuti detak lagu.

Lah, ini....

“Sepanjang...jalan kenangan..kita slalu bergandeng tangan..sepanjang jalan kenangan...”

Sebagai kaum minoritas melawan bulek, Om, dan tante yang memang sudah separuh baya, saya hanya bisa memandang kiri dan kanan saya yang penuh sesak umat manusia muda mudi dengan takzim.

Banyak sekali anak anak mahasiswa yang duduk di tikar tikar pinggir lapangan sambil menyeruput ronde, bajigur, roti bakar, atau batagor sambil bercengkerama. Mungkin membicarakan masa depan mereka. Mau ngelamar dimana, pingin dilamar siapa...Mungkin...

Ada juga yang duduk hanya berdua, yang perempuan meletakkan kepalanya di pundak lelakinya, lalu menghitung bintang bersama dan membicarakan masa depan mereka....

Ya gitulah. Banyak pokoknya.

Katam naik kereta, kita mengarah ke pinggir lapangan, tapi nyeberang dulu. Ronde dan jagung bakar adalah pilihan yang tepat untuk disantap sambil melihat keramaian alun alun. Dan jangan salah, bukan hanya penjual,  pengunjung, penyewa saja yang ada di sini.

Nooooh...



“Akyu tak mau kalau aku dimadyuuu..ah ah ah...Akyu..ah ah..”, lalu menari dengan memakai kebaya dan caping. Perpaduan yang unik sekali.

Ada juga mas mas mbak mbak yang mengadu nasib di tengah tengah hiruk pikuk alun alun.

Ada juga bertebaran mbak mbak cantik berbaju putih...bukan...bukan..bukan kuntilanak, enak aja!

Ini benar benar mbak mbak cantik dengan mini dress berwarna putih mengedarkan rokok sambil membawa catatan untuk dijual. Dan mbak mbak ini memberi warna tersendiri. Banyak lah yang ada di alun alun ini.

Puas menyantap jagung bakar, kita ingin mencoba sepeda tandem. Saya pernah mencoba 2 kali, dan keduanya gagal karena kita kurang harmonis menyelaraskan kayuhan. Dan untuk kali ketiga saya.....

BERHASIL!!!



Dengan dipandu Om yang ada di sepeda paling depan, Tata di tengah, dan saya di belakang karena sepeda ini rangkap 3! Kalau tidak salah 30ribu secapeknya.

Dan akhirnya saya bisa naik sepeda tandem! Berkeliling lapangan Alun Alun. Di malam yang temaram. Gratis!! Indah sekaliii....



Menghabiskan waktu di sini benar benar sampai lupa kalau waktunya habis. Belum belum jam sudah menunjukkan pukul 12 dini hari. Dan walau pun pengunjung semakin berkurang, tetap saja masih ramai. Apalagi kawula mudanya, sampai subuh apa ya....

Dan perjalanan hari pertama ini ditutup dengan makan di lesehan pinggir jalan yang tercecer dimana mana di Jogja sana.

Lalu, besok ngapain yaaa.... @.@

References :



19 comments:

  1. aku belum pernah ke jogja, mbak'e huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. kurang lebih sama, belum pernah.

      itu bencongnya melestarikan budaya indonesia, pake kebaya. aww awww aww..haha

      Delete
    2. ya kalo gitu aku doakan biar jadi pernah cc..hehehe..

      itu bukan kurang lebih,tapi emang sama persis, belum pernah. behehehe..

      Delete
  2. Jogja kereen... naik mobil kayuh lagi hahahaha

    ReplyDelete
  3. asyiikkk jalan-jalannya mbakkk.. sy juga belum pernah ke jogja nih.. oia.... makasih yah komentarnya kemarinn ttg font blogku hehe btw cc itu apa???

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya asiiik nih Zhie..hehehe..iya, sama sama :D

      cc itu dulu aku tau itu waktu masih jamannya ngegame sih ya kek apa ya, kek miss gitu apa ya..kalo cewek cc kalo cowok kk. hehe

      Delete
  4. itu mobil kayuh bercahaya juga booming di pontianak, mau naiknya juga kudu antri, keren ya jogja, pengen banget kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku pingin naik yang di Pontianaaaaaak!

      Delete
  5. Ga bosen posting Jogja ya, Meyke. Saya juga ga bosen kalau ke sana lagi dan lagi. Hehe. Alkid emang ga ada duanya tuh. But, ngomong ngomong yang lagi jalan matanya ditutup itu atasnya banyak orbs yak? Tahu kan orbs? Makhluk yang ga kelihatan itu loh. Udah ah, ntar malah ditanyain panjang lebar saya. ^___^V

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya i know orbs mbak..hehehe..tapi keknya itu cuman debu berterbangan yang kena cahaya blitz gitu mbak..hehe

      Delete
  6. argh.. ternyata Alun" juga mempunyai prilaku yah, baru tau akyu..

    kalo mobil kayuh itu diAlun-alun Lamongan cuma anak-anak kecil doang mbak yang naik,, anak-anak gede udah pada gengsi mungkin.. tapi ga tau sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena aku masih kecil, jadi aku nggak gengsi Jon :D

      Delete
  7. ah elo ngingetin gue ama jawa, di bandar lampung enggak punya alun - alun soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kakak Rinem, aku juga pingin ke bandar lampung, kakak! haha

      Delete
  8. ini orang blognya jalan2 mulu XD
    di jogja sampe kapan toh? kerasan bangeet XD

    ReplyDelete
  9. banyak yg bilang jogja asik tempat2 wisatanya. iya gue pernah dengan tempat yg jalan dengan mata tertutup itu. pingin kesana :')

    ReplyDelete