Friday, 31 May 2013

UAN Matematika SMA



Besok pengumuman kelulusan tingkat SMP. Pengumuman buat adek gue, Nicken. Dan ngomongin soal pengumuman, menyeret memory gue ke ehm....*ngitung 7 tahun yang lalu, waktu gue masih unyuk.

Waktu SMP, kala itu, gue yakin lulus. Gue bisa ngerjain setiap soal yang ada, dan saking semangatnya pun gue janjian sama sahabat gue, Uma buat nyatet jawaban di kertas coretan dan nanti kelar test kita cocokkan. Matematika.

Piye seph? Punyamu mana?” Gue menghampirinya di depan ruang serba guna yang terletak di samping pagar masuk sekolah, persis di depan lapangan basket dengan pagar jaring besi yang melingkarinya.
Spontan dengan muka berseri dia membuka lipatan kertas kumal dengan coretan angka berserakan dimana mana.

“waaaah, beda 2, seph...”

Yah, at least, kemungkinan semua jawaban selain dua itu mencapai kebenaran adalah besar.

Dan benar saja, kita bisa melenggang anggun meninggalkan bangku SMP dengan mengantongi segepok nilai yang bisa kita buat modal menggapai bangku SMA yang kita impikan. Dan singkat cerita, kita berdua bisa masuk ke SMA idaman kita.

Nah, ini akar persoalannya. Asal muasal gue sekarang bisa ada di titik ini.


Melaju ke kelas dua, saat gue berdiskusi tentang masa depan gue dengan Ayah di ruang tamu,

“Pak, aku apa ke kelas bahasa aja ya Pak? IPA berat ik pak..”

“Nehi. Mending IPA aja. Baru kalau IPA nggak bisa tergapai, pilihan kedua adalah bahasa. Nanti kalau kamu masuk Bahasa, seleksi ke universitasnya susah.”

Naiklah gue dan menginjakkan harapan gue ke kelas IPA, dengan harapan gue bisa mendapat banyak peluang mendaftar ke universitas dengan lebih banyak pilihan fakultas atau jurusan.

Dan kenyataannya??

Dengan terseok seok gue mengikuti setiap perubahan kadar keasaman suatu zat yang namanya kayak kode captcha sampai menghitung suatu bilangan angka yang kalau diintegralkan akan melahirkan bilangan angka baru yang lain. Kenapa hidup begitu rumit.

Setiap hari gue bersama sahabat sahabat gue pergi pagi buta naik bis berjejalan mengarungi panjang jalan tak kurang dari 25 km dan pulang mendekati magrib karena les tambahan serupa Kimia, Biologi, Fisika, dan Matematika.

Dan kelas tiga menghadang. Dan langkah gue menghitung bilangan semakin tertatih tatih. Ya, matematika, kimia, dan fisika adalah tiga pelajaran yang sarat akan angka. Dan dari ketiganya, Matematika adalah rajanya.

Raja segala penderitaan yang ada.

Matematika nggak pernah ngertiin gue. Dia selalu memberikan masalah yang susah gue pecahkan. Kenapa dia harus diakar tiga, lalu dibagi dengan bilangan yang juga berakar –tunggang-, lalu masih dikalikan angka berpangkat serupa pejabat?? Kenapa???

Kenapa kita harus menghitung suhu campuran kalau dua cairan dipertemukan dengan suhu asal yang berbeda. Lalu pada akhirnya suhu mereka menemukan titik akhir, dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah dan dikaruniai anak yang lucu lucu.

Kenapa kita harus menghitung kadar keasaman suatu zat sampai harus menghafalkan puluhan code captcha beserta bahasa manusianya?

Kalau tidak karena para sahabat gue dan teman sekelas gue yang menyenangkan, masuk sekolah itu serupa momok buat gue. Berkubang dengan rumus yang mati matian harus gue hafal, lalu gue aplikasikan sedemikian rupa.

Dan puncaknya adalah waktu UAN. Kalau semasa SMP, gue bisa membuat hanya dengan satu kali berhitung, bah! Ini... boro boro sekali hitung langsung dapat, bahkan rumusnya pakai yang mana aja gue nggak nemu. Gue ubek ubek pikiran gue, gue pilihin setiap folder, tapi foldernya berantakan, berserakan!

Parahnya lagi, seumur umur dari SD gue nggak pernah duduk tepat di depan guru pengawas. Dan UAN SMA dimana gue menempelkan pantat gue? Ya, sejajar, tepat sejajar di depan guru pengawas. Hanya berjarak sekitar 50 cm saja. Bahkan, guru pengawas gue juga pasti tahu dalam semenit gue kedip berapa kali!

Jelas gue nggak bisa minta pertolongan siapa siapa. Hanya kepada Alloh gue mengadu dan berserah diri. Gue lihat soalnya, gue cermatin.

“kerjain yang bisa dulu, lompati yang susah..”, gue ingat pepatah sakti mandraguna bekal guru gue.

Gue lompat, lalu lompat, lalu lompat, akhirnya gue mainan lompat tali. Lebih dari separo gue lompati. Rasanya gue mau mati. Gue noleh baru 45 derajat dihitung dari posisi meghadap ke depan sempurna aja guru gue udah batuk batuk tiga kali keras sekali.

Kalau gue bisa milih hari yang paling bikin stress sepanjang gue menuntut ilmu adalah hari itu!

Dan lo tau apa yang gue lakuin setelah gue ngumpulin kunci jawaban??

NANGIS. Ya,gue nangis.

Beberapa teman gue mencoba

“Uwes Mey...nggak papa..bisya bisya..”

Dan tiap gue inget kalau gue melingkari hanya dengan berdasarkan pada kemana jari berpijak alias melingkari bebas, air mata gue kayak grojogan sewu, menetes berlinangan dimana mana.

Bahkan, ada sekitar 5 soal yang saking kepala gue sakit rumusnya aja gue nggak nemu, serupa mau ke Salatiga nggak bawa dompet, gue nggak baca lagi soalnya. Tinggal gue lingkari dengan kaca berkaca kaca.

“Seeeeph......huaaaaaaa...”

Rerumunan teman gue keluar, gue melihat Uma berjalan dari kejauhan, gue langsung...

Peluk dia kayak teletubbies. Si Uma yang syok campur malu campur kasian menyambut pelukan gue dengan nyengir nyengir. Ini jelas patah hati telak, bahkan ini rasanya lebih nendang daripada patah hati sungguhan (kayaknya sih). 

Dan emang gue marasakan gejala yang tidak wajar sehari sebelum UAN Matematika digelar. Gue nggak bisa tidur, dan belajar pun gue nggak bisa konsen. Jam 2 dini hari , gue bangunin Ibu gue bilang gue nggak bisa tidur. Setelah sholat tahajud, gue baru bisa tidur!

Dan benar saja, gue akhiri test hari itu dengan beruraian air mata. Gue nangis lamaaaaaa banget di depan kelas. Nggak peduli diliatin banyak temen sewaktu pulang. Hati gue terberai berai, lebih dari berkeping keping, bahkan setiap kepingannya tidak bisa dibagi lagi menjadi dua. Sudah level sel.

Setelah UAN, gue nggak doyan makan. Sampai gue ingat siang siang, gue makan sama sayur kangkung, dan tiap gue mau nelen, gue mau muntah. Sampai segitunya. Ini bukan lebay, ini kenyataan.

“Piye Mbi, lulus semua kan?”

Tiap hari gue SMS in temen gue yang anaknya salah satu guru di SMA itu.

Finally, LULUS 100 %. Dan rasanya gue sujud syukur pake dress warna item waktu itu! Dan nilai gue sangat minimalis. Kalau kala itu tidak ada soal bonus 2 atau 3 gitu gue lupa, entah apa jadinya hidup gue.

“Oke fine. Gue selamanya nggak akan bertemu dengan segala bentuk Matematika. NEHI!”

Gue mengukuhkan niat. Teman teman gue yang pada heboh mau ikut SNMPTN, gue Cuma nyeker nyeker tanah. Gue benar benar nggak kuat kalau harus berhadapan dengan matematika. Ini sebangsa trauma. Dan gue....hanya daftar satu universitas. Gue nggak pernah ikut test apa pun setelah test Matematika itu. Gue give up, lalu melambai lambai pada kamera. Ada tulisan dibold merah, ‘perhatikan bayangan ini’ dengan ditemani tanda tanya yang juga diwarna merah.

Gue pernah mendaftar kebidanan di salah satu sekolah kebidanan milik negara di Semarang, dan apa yang menggagalkan niat gue??? Apa??

Tidak lain dan tidak bukan adalah Matematika yang bertengger menjelma meliuk meliuk diakhiri dengan lingkaran serupa ibu hamil ENAM. dan gue dinyatakan gugur.

“Bisa keterima di salah satu universitas udah alhamdulillah..”, pikir gue pasrah cenderung berhenti berharap dan menunggu datang gelap sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat.

Teman gue move on  ke kota kota besar, gue masih stay di kota yang sama karena kampus baru gue bersebelahan dengan SMA gue.

Dan di hari itu, gue dan Matematika memutuskan untuk menyudahi hubungan kita yang benar benar melelahkan ini.

Dan memang Alloh Maha Mendesign nasib para hambanya.


Tamat

21 comments:

  1. ecie.... yg g suka matematika... sama dong kyk gua... pas sd - smp sih masih cs an sama mtk tapi pas udah smk ya jauh2an, bagai kepompong *lhoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu matematika menyenangkan, sebelum angka-angkanya bercampur sama huruf-huruf...

      Delete
    2. ahahaha,,,iya, nggak mat nggak hidup, makin ke sini itu makin complicated.haha

      Delete
  2. walaupun angkanya udah bercampur sama huruf huruf, tapi gue masih cinta ama matematika #maksa
    jadi iri sama anak tk. matematikanya tuh cuma 1 + 1 = 2
    bener bener kangen sama masa masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, khan emang semakin besar semakin complicated kitaaa..hehehehe

      Delete
  3. gue yg paling gak suka dgn matematika hahah...

    ReplyDelete
  4. Beeeh...kalo gue jgn kan nyatet jawaban terus di cocokin...ngejawab di lembar jwaban aja gak...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. bilang aja nggak ikut testnya aduh anak hukum :3

      Delete
  5. kenapa ya banyak yg sebenci itu sama mtk? kesian mtk.. #ngelus2 mtk

    gw juga waktu SMA agak payah soal MTK, tapi malah gue berniat masuk jurusan MTK waktu kuliah.. ikut BPUD, tp gak lulus. jadonya ambil PGSD dengan konsentrasi MTK. walopun MTK itu susah, tp gue tetap doyan MTK..

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah, cc Risah emang hebat sekali ya..kalo nggak doyan sama sekali @.@

      Delete
  6. oia mey, blog mu kok jadi banyak iklannya gini? #baru liat dr leppy, kmren dr hp mulu

    mau bisnis di blog ya mey? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini lagi nyoba nyoba gitu cc Risah..hihihi

      Delete
  7. widiiiiiiihhh mbak saking seremnya kah matematika sampai bertemu kembali pun udah ogahh hehe padahal kalau bisa dibilang sekalipun di kuliah gak belajar lagi ama matematika tp dalam kehidupan kita sehari-hari tetap kita gak bakal lepas dari yang namanya matematika..^^ aku berharap suatu hari nanti mbak bisa sembuh dari trauma bermatematika atau setidaknya tidak membenci matematika ... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehehe, komentar mu so sweet banget deh Zhie..jane sih nggak trauma yang gimana gitu sih Zhie..uhm..cuma emang bukan bidangnya aja dan kalo bisa jauh jauh dari matemtika..hehehe

      Delete
  8. Matematika lagi. Tadi juga ada yang ngepost matematika itu, mati. Hehehe.

    Yah, seserius seriusnya kita menghindari matematika, tetap saja kita akan menemuinya di setiap sela waktu. Kamu di sela kuliahmu, bercampur dengan hruf, meyke. Saya di sela kuliah Fiqh Mawaris hitung hitung warisan pake rumus rumus juga. Dan kerja sekarang, ketemu matematika juga ngusahain dateline sesuai jadwal dan perhitungan awal. :)

    Life must go on deh. Tetap semangat dengan matematika. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, makasih ya barisankata katanya cc Linaaa...uhm..iya sih..kalo dalam kehidupan sehari hari ya mau mau aja ketemu matemtika, yang ga mau kalo disuruh ngerjain soal aljabar dan matematikaaa hehehe

      Delete
  9. mataematika itu emang bikin gila , untung un mtk gue 100 *gaya*

    ReplyDelete
  10. mateMATIka itu..... aduh ga bisa diunkapin pake kata-kata kak, mungkin pake angka-angka \(TT.TT)/

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, nggak suka matematika jga ya Ulya..haha

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...