Thursday, 25 April 2013

Review : Sejuta Pelangi Chapter 1




Assalamualaikum...

Alhamdulillah salah satu keinginan gue tercapai. Tanpa harus merogoh dompet, gue akhirnya bisa baca salah satu buku Oki Setiana Dewi. Gue menemukannya di perpustakan Daerah Ambawara. Perpustakaan Daerah is daebak!!!!




Ini adalah buku kedua Oki setelah dia berhasil merebut perhatian pembaca Indonesia yang haus akan pencerahan, just like me.

Dan gue akan segera mengatamkan keinginan gue untuk membaca semua buku Oki Setiana Dewi, yaitu Melukis Pelangi, Sejuta Pelangi, Cahaya di Atas Cahaya, dan Jilbab I'm in Love.

Banyak sekali yang dibahas di buku Oki ini. Bahasanya sangat sangat halus, Oki banget. Umur gue dan umurnya hanya terpaut dua tahun. Dia sudah sedemikian bermanfaatnya untuk orang lain, dan gue belum bisa berbuat banyak bahkan untuk Ayah dan Ibu, dan kedua adik gue. Syedih.

Bila gue baca di resensi, buku pertama Oki menceritakan bagaimana dia berjuang hidup di Jakarta hingga akhirnya terpilih menjadi pemain utama Ketika Cinta Bertasbih, masa kecilnya di Batam, dan juga tentang nadzarnya memakai jilbabnya bila Ibunya sembuh dari sakitnya. Di buku yang kedua ini lebih kepada kumpulan cerita dan kisah hidup orang lain yang Oki saksikan disertai refleksi di setiap ceritanya.


Cerita yang menyentuh buat gue adalah saat Oki menyambangi salah satu yayasan anak penderita kanker. Ada yang menderita kanker mata bernama Feby yang di akhir bukunya Oki bilang dia meninggal dunia. Lalu ada anak lain yang karena kanker harus diamputasi kakinya. Pantang menyerah, dia mengerahkan seluruh kemampuannya. Dia menjual bros bros cantik.

“Yang aku punya adalah tangan utuh yang sehat, maka akan aku maksimalkan tanganku untuk membuat sesuatu yang berguna.” Luar biasa.

Lalu di depan cermin besar gue bercermin, kadang aja gue,

“ah, nggak ada kopi, nggak jadi revisi nunggu besok beli dulu ah.”
“Duh, hati lagi kececeran, males mau ngapa ngapain! Sumpek! Stress!”
“Duh, sumeng! Nggak jadi ngelesin ajah. Bobok imut di rumah.”

Yaelah Cuma karena halangan halangan kecil gue sering loyo semangatnya, seakan akan tanpa kopi elektron elektron otak gue tidak bisa merambatkan sinyal, seakan akan hati kececeran itu menyebabkan otak bumpet dan saluran pernafasan terganggu, seakan akan Cuma sumeng dikasih Kom*k untuk batuk berdahak dan pilek yang warnanya biru saja sembuh membuat kaki susah melangkah. Tipis sekali...

Lain cerita, di bukunya, saat di salah satu panti asuhan anak dengan kebutuhan khusus, dia bilang ada anak yang mata kirinya lebih kecil. Saat dia bertanya kepada pengurus panti asuhannya, dia bilang itu karena saat dia ditemukan, bayi itu ada di kuburan dengan mata kirinya dirubung semut! Bayangkan!!! Ibu dengan jenis setan apa yang mampu dan kuasa membuang anaknya di kuburan!

Baiklah kalau mau dibuang khan bisa di depan panti asuhan, atau di mana yang ramai dan peluang ditemukan oleh orang yang punya hati itu besar.

Ada pula anak yang autis, tidak dapat menangkap rangsangan dari lingkungan luar. Ada juga yang kepalanya membesar mengidap hydrosepallus berusia 8 tahun. Dan mengapa mereka semua di sini?? Karena Ayah dan Ibunya yang menghendaki untuk tidak hidup bersama anak anak seperti mereka. Banyak yang malu, banyak yang menganggap ‘tidak sanggup menanggung derita ini’. Derita apa?? Derita atas anugerah diberikan anak seperti ini. Tanpa bisa membayangkan bahwa derita anak itu atas derita ini berlipat lipat, ratusan lipatan lebih menderita dan sakit daripada yang ‘membuat’ mereka yang bilang tidak sanggup menanggung derita.

Dan berkaca pada apa yang ditulis Oki, gue bersyukur luar biasa. Alloh memberikan tubuh yang tidak ada kekurangan suatu apapun. Dengan wajah ya...ada hidung lubangnya dua, ada gigi 32 buah, ada bibir bisa mengatup, mata bisa melihat, yang kalau organ itu dikumpulkan, walau pun menjadi rupa standard, alhamdulillah masih sempurna...kaki tangan sehat, organ dalam insyaAlloh sehat...otak lumayan encer..Alhamdulillah tidak terkira.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzabku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim <14>:7)

Yang gue tangkap dari buku Oki, yang tidak sempurna saja bisa berkarya, masa yang sempurna berleha leha?

Dan yang gue tangkap dari kepribadian Oki yang luar biasa adalah, dia mengamalkan banyak waktunya untuk bisa menolong orang lain. Mengunjungi lapas anak, mengunjungi lapas wanita, mengunjungi rumah sakit jiwa, mengunjungi panti asuhan, menulis buku motivasi seperti ini, memberikan motivasi islami di televisi, menjadi guru TPA, dan masih banyak lagi.

Gue jadi inget kata guru ngaji beberapa tahun silam saat gue masih SMP dan unyuk unyuk. Beliau berkata yang pastinya juga dikutib dari sebuah hadist yang kurang lebihnya seperti ini.

Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

I gain a lot of inspiration and motivation from her.

Ada dua lagi cerita yang gue suka di buku ini tentang Cinta akan Rosulullah dan Menikah Dini atau Nanti sehubungan dengan Cinta Akan Sesama yang Bukan Muhrim. Nanti.

-be continued-
25.04.2013
9:59



5 comments:

  1. jadi termotivasi nih,,, iri lihat mbak oki yang bisa manfaatkan tangannya untuk menulis danbermanfaat untuk orang lain, saya yang ,enulis dari waktu ke waktu ngga pernah kelar lantaran malas

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama aku juga iri, semoga bisa jadi motivasi, inspirasi biar kita bsa lebih baik lagi, terutama aku yang dikatakan baik aja belum tentu sampe.hehe

      Delete
  2. terkadang kita belajar dari apa yang orang laon tulis untuk memotivasi diri sendiri untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia lain dan tentunya juga dalam pandangan ALLAH :-)

    ReplyDelete
  3. aku enggak cuman berleha2 lho, udah berkarya lewat blog

    ReplyDelete