Wednesday, 24 April 2013

Pelajaran Hidup dari Emperan Toko Baju


“Pulang Bedono, mbak?”

“Bukan Mbak, Kelurahan..la mbaknya?”

“Tapak.”

Pertanyaan singkat itu membuka percakapan panjang kita selama perjalanan.

23.04.2013

Seperti biasa, gue wifian dan berkumpul bareng temen temen kuliah di ruang Access. Gue ngelesin dua jam setelahnya. Pulang ke kost Mela untuk sholat Ashar, dan meneruskan langkah menyambangi jarak 25 km, ke rumah.

Karena lapar, sesampainya di Ambarawa, gue beli gorengan 2000 dapat 4, yaitu tempe goreng dua dan gumpalan daun ketela diselimuti tepung dua. Kenapa nggak makan? Takut kemalaman.

Sudah magrib, sudah sampai di Ambarawa, dan gue dengan cekatan ndlosor di teras sebuah toko pakaian bersama mbak mbak pabrik dan pekerja lainnya yang sedang menunggu jemputan atau menunggu bis.

Dan dimulailah percakapan itu. Hal yang paling menyenangkan buat gue ketika nunggu adalah ngobrol. Mungkin emang dasarnya orang nya suka banyak omong. Dan emang sudah menjadi kebiasaan suka ‘mencoba’ ngobrol dengan mbak mbak yang duduk di sebelah gue, entah di bis, di emperan toko, di teras warung, mau laki mau perempuan. Gue ajak ngobrol, tentu saja tanpa modus. Ngobrol dan berkenalan dan juga bercerita membuat perjalanan menjadi lebih cepat, dan dari situ gue sering mendapat pelajaran hidup yang luar biasa.

Ani. Ternyata itu namanya. Dia bekerja di sebuah salon di Ambarawa, sudah dua tahun, dia bilang.

“Pulang dari SMK mbak?”, tanya dia..


“Bukan, kuliah mbak..”

“Owh...udah berapa tahun kuliah mbak?”

“Kira kira berapa mbak??”, maksutnya gue mau tahu seberapa tua kah gue kelihatannya. Haha..

“Baru masuk ya mbak?”

“Owh, aku keliatan kayak mahasiswa baru masuk ya mbak?”, gue girang bukan kepayang.

Gue semuda ituuuh?? Owh Tuhan terimakasih...sorak sorai batin gue.

“Errr....2 tahun ya mbak??”, dia menerka lagi.

Gue masih saja semuda itu??Kyaaaak..sorak sorai percakapan batin gue mulai menggunakan majas hiperbola.

“Aku keliatan semuda itu ya?”

“La berapa mbak?”

“Aku sudah skripsi mbak, sudah tahun terakhir..”

“Wah, malah tuaan mbaknya ya? Tak pikir tuaan aku...” dia berujar.

It is amazing!! Dia, yang ternyata kelahiran 1994 dengan gue yang kelahiran 1991, bahkan dia berpikir kalau gue ini lebih muda. Subhanalloh, gue bahagia kalau begini caranya.

Lalu percakapan kita mengalir sambil menunggu bis. Dan bis Kartika Sari datang. Tumben tumbenan ini bis kosong mlompong, bahkan kursinya pun masih banyak yang single. Pas.

Biasanya, gue sampai harus berjejalan dengan para pekerja pabrik sampai wajah gue pernah nempel di kaca depannya. Itu ngeri tapi seru.

Dan sepanjang perjalanan, sambil ngemil gorengan, dia mau gue kasih nggak mau sih, kita bercakap cakap.
Tanpa merasa diinvestigasi, dia menceritakan bahwa sejak lulus dari SMP, dia pernah ikut orang berjualan di pasar, dan karena tidak betah, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan menganggur selama setahun. Lalu, tawaran datang dan akhirnya sudah dua tahun ini dia  bekerja sebagai pegawai salon di Ambarawa.

Kita ngobrol mulai dari jenis bis yang sering kita tumpangi,ada Sumeh, ada Tri Sakti yang kondekturnya sering kasar kalau nyusuh penumpang buat geser dan berbagi tempat, sampai pengalaman hampir jatuh saat turun dari bis karena didorong dorong. Kadang gue ngerasa aneh. Kadang, gue sekali bertemu gitu, kita bisa berbicara banyak hal, bahkan hal yang pribadi sekali pun seolah olah kita sudah mengenal lama. Mungkin karena kultur orang Jawa yang ya...bisa dibilang ramah dan suka bersosialisasi.

Berbagi cerita hidup dengan orang lain, bahkan yang baru saja dikenal juga bukan hal yang tabu. Dan pertemuan gue dengan Ani, membuat gue lebih bisa memaknai hidup. Nggak melulu merasa susah atau berkeluh kesah. Atau bahkan merasa sial.

Nggak melulu menatap hal yang menyilaukan mata tetapi juga perlu memandang hal yang meneduhkan hati. Bahkan, itu si Ani, turun dari bis masih jalan menurun, menyeberangi jalan kereta atau rel, lalu naik lagi sangat terjal, lalu memasuki sebuah gapura, dan di gang paling akhir,dia harus berbelok dan baru sampailah. See? Banyak orang yang berjuang dengan hidupnya. Orang semacam kita kalau masih mengeluh kurang ini dan itu agaknya kita tergolong makhluk yang tidak mampu mengucap syukur, tidak mau berterimakasih. Tinggi hati. Tinggi hati karena merasa tidak mujur. Miskin sekali.

“Apa nggak takut ek nanti jalannya?”

“Ya takut mbak, paling takut itu kalau ada preman. Tapi ya gimana, kalau ngga gitu ya nggak pulang, mbak...”

Itu poinnya menurut gue. Rumah jauh dan harus berjalan sedemikian jauh adalah keadaannya, hal yang nggak bisa dihindari. Dan reaksi yang tepat ya memang harus dihadapi. Because, well, it is how life runs! The most important thing is not how the situation is, instead, how we react toward it!!!

Dan Ani membuat semangat gue semakin meletup. Dan gue doakan, Ani, semoga sukses!! Bisa mengasah kemampuannya di salon karena gue pikir bekerja di salon adalah hal yang menjanjikan karena dewasa ini salon bak jamur, ada dimana mana, beranak pinak. Dan gue pikir semakin ke depan, bisnis salon akan semakin bak kacang godog, merajalela.

Hari ini, gue belajar lagi, semangat gue dicharge lagi. Dan akan menjadi betapa tidak beryukurnya gue kalau dalam keadaan begini gue masih terselip rasa ‘kok aku nggak kayak dia? Kok aku harus begini, sedangkan dia tidak? kok??Kok??Kok?? petok petok petok...”

Nehi.

“Jangan menunggu bahagia dulu baru bersyukur, tetapi bersyukur dulu maka kamu akan bahagia.”

“Jangan menunggu hari yang indah dulu baru bersyukur, tetapi bersyukur dulu maka hari hari yang indah akan datang padamu.”

“Jangan menunggu banyak rejeki dulu baru bersyukur, tetapi bersyukur dulu maka Alloh akan membukakan pintu rejeki yang lebar untukmu.”

Itu kata kata mutiara, bukan kata kata gue. Gue nggak sebijak itu. Tapi, gue mencoba meresapi dan menghidupi hidup gue di jalan yang nantinya akan berbuah keindahan. Asik banget. Haha..

Terimakasih, Ani untuk obrolan ringan yang menggetarkan. Semoga Alloh mempertemukan kita lagi suatu hari lagi, dengan keadaan yang lebih baik. Kamu dan aku.
Semangat!!

23.04.2013


4 comments:

  1. satu hal dari artikel ini yang baru gue ketahui (lagi) soal kamu, mey.
    ternyata kamu lebih narsis dari mbak mbak tukang salon. iya gitu mey! ehem *benerin kerah baju*

    ReplyDelete
  2. setuju sama yg ini

    “Jangan menunggu banyak rejeki dulu baru bersyukur, tetapi bersyukur dulu maka Alloh akan membukakan pintu rejeki yang lebar untukmu.”

    ReplyDelete