Sunday, 28 April 2013

My Part-Time Job, NGELESI Seri 2


Hari Sabtu. Weekend. Tetapi sabtu kemarin bukan weekend gue. Ehm, nehi. Itu weekend gue, hanya saja weekend yang gue isi dengan bekerja. Boleh khan pake term ‘bekerja’? Toh bekerja khan melakukan suatu aktifitas yang bisa menghasilkan sesuatu dan juga mendapatkan imbalan.

Pukul 8 Gue sudah siap siap mandi.

2 jam kemudian, gue sudah katam menyelusuri jalan Ambarawa-Salatiga dilanjutkan dengan fotokopi materi, lalu kembali naik angkot nomor 2. Sesampainya di jalan Pramuka, gue jalan sekitar ehm..ya...300 meter.

Yak, gue semangat hari itu. Karena gue ada tantangan baru. Gue akhirnya punya kesempatan ngajar anak SMA, dan itu kelas 3 yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti test Poltekkes. Tugas gue adalah mengantarkan ilmu yang gue punya untuk mereka.


Memang benar, kalau untuk bisa sampai ke level yang kita inginkan, kita harus meniti sedikit demi sedikit. Setapak demi setapak. Selangkah demi selangkah.

Kalau gue melompat kembali ke masa lalu, sekitar setahun yang lalu, saat gue masih menjadi tutor baru di sana, dengan label tutor Inggris, siapa yang pertama gue ajar coba?

ANAK SD.

Bahasa Inggris? Bukan.

IPS.

Sangat awal dulu gue nggak pernah ngajar bahasa Inggris, tetapi ngajar anak SD. Dari mulai kelas 1 belajar baca dan tulis, kelas 2 dengan topik yang serupa, lalu naik kelas 3 bahasa inggris tentang benda benda di dalam kelas, SMP masih bisa dihitung dengan jari. Bahkan sangat jarang. Gue juga ngajar private anak SD yang berkebutuhan khusus.

Lambat laun, gue dipercaya untuk memegang anak SMP. Ada yang suka sama gue ada yang berkebalikan.
Gue anggap, ‘well, it is how life runs. You cannot please everyone. NO matter how hard you try, there will must be people who dislike you.’

Dan selang beberapa waktu, yang dulu nggak suka guru macam gue, sekarang mereka mau diajar gue. 

Dan semakin gue menikmati mengajar bahasa Inggris, kelas SMA pun gue pegang.

Yap. Seperti hari ini. Ada dua anak yang booking kelas bahasa Inggris selama dua jam. Dan karena tutor lainnya berhalangan, gue yang menggantikannya. Ini kali pertama gue ngajar anak kelas 3 SMA. Sewaktu gue ditawari, gue takut. Takut nggak mampu. Dan setelah gue pikir pikir, gue udah mau lulus. Nilai Grammar gue pun bisa dibilang bagus, speaking gue juga kata dosen Public Relation gue, “kalau dipoles sedikit dengan sedikit gesture, you will be excellent speaker!”. Lalu ketakutan macam apa yang sebenarnya gue idap?

Dan gue sanggup. Selama dua jam itu gue dengan sepenuh hati ngajar mereka, dengan penuh antusias.

Nggak Cuma dua jam itu. Dari kesepakatan dua jam itu, Miss nya bilang mau nambah kelas gue dua jam lagi yaitu anak SMP dan anak SMA kelas 2. Oke.

Dan setelah selesai dua kelas anak SMA kelas 3 tadi, Missnya minta tambah satu kelas lagi karena yang seharusnya pelajaran Fisika, tutornya berhalangan hadir.

“Miss, kalau nambah satu lagi tetapi ada jeda sejam lagi nanti jam 4 sampai 5 gimana Miss? Anak SMA kelas 1 Miss?”

“Wah, gimana ya Miss.. kalau digabung sama Senin aja gimana Miss?”

“Oh ya udah berarti nanti sampai jam 3 ya Miss?”

Gue sambil jalan ke kost temen gue buat nitip sholat Duhur sambil mikir keras. Ini keras banget.

Kata Merry Riana dalam bukunya, sabet semua kesempatan yang ada. Jangan sampai melewatkan kesempatan yang datang begitu saja. Bahkan kalau tidak ada kesempatan, ciptakan kesempatan itu.

Gue jadi menganalogikan antara bis sama motor. Jangan kayak motor yang kalau nyebrang nunggu kesempatan kosong dulu, tapi jadilah seperti bis. Dia tidak pernah nunggu kesempatan sepi dulu baru nyebrang, tetapi dia ciptakan kesempatan itu dengan memajukan moncong bisnya dan otomatis mobil lainnya akan mengalah.

Lalu, gue kirim SMS

“Miss yang anak SMA nanti sore sekalian nggak papa Miss.”

“Oke Miss, jadi habis ini jam 1 SMP kelas 2, lalu jeda lagi sejam. Jam 3 anak SMA kelas 2, lalu terakhir anak SMA kelas 1 ya Miss..”

Tebas semua kesempatan, pikir gue. Selagi gue yakin gue bisa, gue lakuin. Dan kalau gue nggak yakin, berbekal ‘You will never know before you try’, akan gue dorong tubuh gue untuk menghadapinya dan rasakan sensasinya. Mengingat nanti dunia kerja itu juga kejam. Katanya.

Singkat cerita hari itu gue ngelesi 5 jam. Dan membayangkan tanggal muda semakin dekat, gue jadi makin semangat.

Di tempat les, gue juga dapat banyak pengalaman, banyak pelajaran.

Murid gue, Nabila. Dia kelas 2 SMP. Sambil ngelesi, kita berbincang bincang. Dari percakapan itu gue tahu kalau dia ternyata atlet lari.

“Duh, Miss maaf agak nggak connect Miss. Lagi capek..”

Kemarin kita belajar tentang tag question serupa ‘Kamu cinta aku, khan?’ dalam bahasa Inggris, “You love me, don’t you?”, Atau kalau kalimat sebelumnya negatif seumpama ‘Kamu nggak benci aku, khan?’ menjadi ‘You don’t hate me, do you?”. 
Kalimat positif akan menampilkan tag question negatif dan itu terjadi sebaliknya.

“Kenapa capek?”

“Habis jogging sejam, kan sabtu pulang awal..”

“Siang siang jogging??”

“Iya, soalnya Mei Juni ini banyak even, Miss. Jadi jam 4.30 aku bangun lalu jogging sampai jam 6. Siap siap sekolah, jam 6.20 berangkat sekolah. Nah nanti sore jogging lagi jam 4 sampai 5.30. Khan kalau senin sama sabtu itu pulang gasik, jadi setiap senin sama sabtu ditambah latihan lari siang jam 11 sampai jam 12.”

Dan otak gue melakukan kalkulasi. Pagi 1,5 jam. Bila senin dan sabtu, maka siang selama 1 jam. Dan sore harinya selama 1,5 jam juga. Total latihan lari dalam sehari 4 jam. Gue jogging 10 menit di pagi hari saja peluh sudah berceceran di jalan dengan hidung yang mekar mekar. Ini 4 jam.

“Eman eman Miss kalau nggak gitu, rencananya Mei mau ke event di Gorontalo, terus juga mau ke Cina, tapi nggak tau bulan apa.”

Dan dengan motivasi dan dorongan atas mimpi nya itu, dia teguh berlari, setiap hari, 4 jam.

Nabila saja mampu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya sebagai atlit lari, gue pun harus sanggup. Mimpi itu memang menghidupkan hidup!!!

Di hari kemarin gue juga mendapat salah satu poin penting.

Dia yang menginginkan lebih memang harus mengerjakan lebih.

Life, here we GO!!

Kemarin, akhirnya jam 7 gue sampai rumah. Gue nggak harus jalan lagi buat nyegat angkot karena murid gue, Anggit nganterin gue sampai Ramayana, dan gue tinggal naik angkot nomor 2 sampai ke Kemiri. Dilanjutkan naik angkot Salatiga- Ungaran, menempuh kemacetan beberapa saat dan sampailah di Terminal Bawen. Lalu, gue naik angkot Semarang-Ambarawa dan turun di sebuah toko baju bernama Pauline, dilanjutkan naik angkot bercat kuning, sampai selamat di rumah.

Dan hidup gue, berwarna.



28.04.2013
14:09

7 comments:

  1. Replies
    1. jangan2 mantan supir bisa ya wkwkwk... analogi nyari kesempatan itu lho, ato jangan2 mantan keneknya :P

      keren, dari mulai anak sd sampe ngelesi anak sma. ntar pada akhir kisah ngelesi anaknya sendiri *eh

      Delete
    2. wekekekeke, karena gue pengamatnya Zim, setiap harinya ngamatin bis gede dan kisah para kendaraan kecil..haha

      Delete
    3. tapi g pernah ngamatin motor gua ... motor gua juga kendaraan kecil lho

      Delete
    4. hahahaha, piye to Zim piyeeee....:p

      Delete
  2. meyke toopppp.. kalo saya, sampai hari ini, belom berani mey ngasih les pelajaran lain selain bahasa inggris semata wayang.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba dicoba mbak..you never know before you tryyyy....
      hihihi..makasih mbak :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...