Thursday, 18 April 2013

MENGGAPAI PUNCAK ANDONG BAB. 2


Assalamualaikum...

Setelah berdoa, mulai jalan menanjak, nyanyi nyanyi dan ngobrol di sepanjang perjalanan, hidung mengembang dan mengepis hand in hand dengan paru paru yang aktif tarik dan buang, setelah meniti tangga bertepi tebing di sebelah kanan dan berdasar sawah sawah, hutan, perumahan, dan jejalanan yang terlihat mini, setelah peluh berjuntai juntai, akhirnya sampai juga kita pada sebuah bukit kecil akan di puncak Gunung Andong. Cerita sebelumnya bisa dibaca di SINI

9.28 AM



Di dalamnya, terdapat satu ruangan dengan tikar tikar, kata Yanta. Jadi, bila kamu ingin mendaki tetapi tidak ingin mendirikan tenda, kamu bisa memanfaatkan tempat inap sederhana nan gratis ini. Dan keesokan harinya pasti akan disuguhi panorama alam yang tak terbeli. Hidup menghidangkan sajian alam yang tak terbayang bila kita mau menyelusurinya. Mendaki gunung Andong membuat saya jadi serupa pujangga.
Bahkan ada sejenis tungku terbuat dari tanah yang dilubangi sedemikian rupa. Keren.


Dan, lagi. Kita berempat mengabadikan moment pertama kalinya mendaki gunung, bagi saya at least. Udaranya lumayan dingin, tetapi karena kita membakar kalori dan menghasilkan panas tubuh, kita tidak merasa dingin yang teramat sangat.



Oh ya, di sana kita juga berjumpa dengan dua bule asal Brazil, dia berteriak pada temannya yang sepertinya masih on the way di bawah..

“Bagaimana di sanaaaaah???”

“Hiduuuuuuuuuuuuuuuup!!”

“Di sini sakit sekaliiiiiiiiiiiiiii”

Yang setelah saya fikir fikir, kemungkinan besar maksutnya begindang.

“Gimana di sanah???”

“Cemunguuuuuuuuuuuuuuth eaaaaa!!”

“Sini capeeeeeeeek beuuuuuth!!!”



Dan beberapa kali kita saling menyapa. Kita mau foto bersama dengannya, tapi malu.


Yasyudah.

Lalu, kemanakah kaki ini akan melangkah selanjutnyaaaa????

Let’s see.




Ini yang Yanta bilang gunung Andong menyimpan geger sapi. You know geger? Punggung. Bentuknya bila dilihat dari puncak, sisi terkiri itu, maka lengkungan eksotis itu akan terlihat seperti punggung sapi.
Sejujurnya, saat kita sampai di tempat inap itu kita tidak tahu kalau puncaknya adalah penghabisan lengkungan raksasa itu. Kita hanya naik , naik, dan naik.

“Yanta, puncaknya itu?”

“Bukan..”

Naik lagi..

“Yanta, itu puncaknya??”

“Bukan, masih ketutupan lereng yang ini..”

“Yanta, puncaknya ini??”

“BUKAAAAAAN, masih nantiiiiiiiiiiiiiii!!!!”

“Yanta,”

“Bukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!”

Lalu kita menyanyi menuju puncak gemilang cahaya dipadu padankan dengan lalala yeyeye. Luarrrr binasa...
Saat kita melangkahkan kaki dari situ pun kita tahunya puncak itu adalah penghabisan dari tanjakan di sebelah kanan. Karena sisanya masih tertutup kabut tebal. Dan kita mulai perjalanan, lagi...

“Pucuk! Pucuk! Pucuk!!”








9.41 AM

Sampai sudah kita ke puncak pangkal dari gunung Andong.

Lelah sekali, tetapi semua rasa lelah, kaki mau copot, gerah campur dingin, semuanya terkalahkan dengan rasa excited.

Ya. Sepanjang perjalanan kita mengobrol hal yang ringan. Lalu menyetel MP3 sebentar untuk meletupkan semangat kita. Mengingat semua sikap bersumber dari otak, maka kita terus menyuplai semangat.

“Ayo, cemunguuuuth eaaaaa!!!”

“Kita pasti BISYAAAA Angga, Agam, Yantaaa!!”

“Ibarat skripsi, ini sedang revisi pertamaaaaah!!”

Dan semangat teredarkan ke seluruh sel tubuh, kaki, tangan, pundak, semuanya. Dan selangkah demi selangkah....

Kumpulan langkah langkah...

Dan sejauh ini kita sampai di ambang ini..








“Yanta, ini puncaknya kan??”

“Bukan, puncaknya di sana, masih tertutup kabut. Nggak keliatan.”

Dia menunjuk ke arah gumpalan kabut dengan pangkal jalan setapak tak berujung dengan bertepikan tebing yang kemiringannya sadis. Hanya saja karena waktu itu sangat tertutup kabut tebal, kita tidak bisa melihat apa yang ada di kanan kiri kita. Apakah ada naganya? Apakah istana Nyi Roro Kidul? Atau ada tujuh bidadari mencari Selendang yang disembunyikan Joko Tarub? Kita tak tahu menahu soal itu.
Lihat saja kalau tidak percaya.



“Ah, amu pasti bercanda....” Saya menelan ludah.

Melihat turunan agak curam yang hanya selebar sekitar 100 sentimeter tebing menganga di kanan dan kiri yang dalamnya tidak bisa dikatakan dengan susunan angka.

Setelah meyakinkan diri sendiri, pikir kita sejauh ini kita telah naik tanjakan curam sampai merangkak rangkak, menyelusuri titian ratusan tangga bertepikan tebing tanpa pembatas, dan pucuk berada di ambang mata. Tinggal meniti punggung raksasa tanpa pembatas ini, kita akan sampai.

Jadi ingat apa kata Merry Riana. Biasanya, bila memulai suatu usaha, bila sudah ada di titik tertatih tatih paling nadir, itu tandanya keberhasilan sudah ada di depan mata. Lalu dia menganalogikan seperti orang hamil. Semakin lama semakin berat, tidur tak enak, dan akan tiba dimana si Ibu akan merasakan sakit yang teramat sangat, mengejan sedemikian rupa, sakit yang paling sakit selama 9 bulan mengandung. Begitu proses itu terlewati, bidadari membuka mata siap meramaikan kancah di dunia yang fana ini. Mengingat lusa saya juga akan melewati masa itu mengingat saya ini kan wanita, sekarang pun pasti bisya! Bisya bisya!!!

9.56 AM

Nah, selangkah lagi menuju ke puncak, ini adalah titik nadir kita. Bila ingin bisa mencapai puncak, kita harus melewatinya.

“Ayoooo, kita pasti BISYA.”




“Kalau takut, ngesot saja.” Yanta memberi komando. Serta merta kita menuruti komando Yanta.

“Siap komandan!” Kita merendahkan tubuh sedemikian rupa, duduk sedemikian hingga, dan tidak hanya kaki yang ternyata bisa untuk berjalan, tumpuan penuh lemak ini juga bisa untuk berjalan. Serupa tidak ada rotan akar pun jadi..

Bismillah mengiringi setiap langkah saya, tarikan nafas saya, dentuman jantung saya. Karena ini adalah musim penghujan, jalanan menjadi licin, dan bila tidak hati hati, waduuuuh...jangan. jalan masih panjang. Masih buayaaaaak mimpi yang ingin saya kecap.



Hanya sajaaa, saat kita mengawali titian punggung ini, kita tidak bisa melihat apa yang ada di samping kanan, kiri atau pun ujung titian ini. Nah, begitu sampai di tengah, Alloh menyibakkan ‘kertas kadonya’.


Menghirup oksigen dan menghembuskan karbon dioksida dari 21 tahun yang lalu hingga hari ini, kali pertama itu saya melihat pemandangan yang sangat sangat sangat sangat sangat menakjubkan. Bahkan, menakjubkan pun tidak bisa mencakup kesan yang terbayangkan.

It was beyond imagination!!!!!! Bahkan, saat meniti jembatan alam itu, saya benar benar tidak tahu bahwa sebelah kanan saya seperti ini.

Eits!!

-to be continued-
Wassalam

12 comments:

  1. masih senang ngeliat liat fotonya. asli, keren keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kukuh, terus pantengin sampe tamat yaaaa:D hehehe

      Delete
  2. waaaaah pemandangannya *speechless*
    kalo saya yg ngedaki di tengah2 kayaknya udah tepar hueueue

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya aku juga waktu di tkp sangat sangat speeechless!!!
      ah, nggak mungkin, aku bisa Alif juga pasti bisa. BISYA BISYA!!!

      Delete
  3. summppahhh gw makin penasaran, masalah gw ngikutin dri awal crta elu, itu klo gw ad disana, mungkin gw bakal benar2 ngesot, gw salut sama lu, cewek sndrian hebat....!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, makanya pantengin terus yak Va:D makasih Va, kamu juga the best!!!menang LBI!! hahaha

      Delete
  4. kayak di bromo. ada jalan yg kecil juga. dilarang dilalui, tapi aku ikutan jalan disana. heheh

    ReplyDelete
  5. wow keyen, kapan2 ajakin dong ka' masak sendirian kesana sih.. enggak sama aku wkwkkw

    punuk sapi tuh lebih mirip jika dibandingin geger sapi... you know punuk? ah, kalo enggak tau berarti gua yg terlalu tau ya

    ReplyDelete
  6. Eh, itu sampingnya jurang bukan sihh...
    Baca bab 2 , makin excited nih,, mau banget bisa gitu

    ayoo, penget liat puncaknya nihhh
    Arggt, ngaak sabar

    ReplyDelete
  7. gimana sensasinya menuju puncak sambil ngesot mey?? :D
    Sepertinya disini ada kombinasi dari Akademi Fantasi Indosiar dengan Dahsyat dan Teh Pucuk... :D

    ReplyDelete
  8. Ini ketinggian kira2 berapa mdpl ya?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...